
Kedua tangannya bertumpu pada lututnya, ia gunakan untuk menangkup wajahnya yang dipenuhi penyesalan dan rasa bersalah. Ia merasakan krisis di dalam dirinya saat ini. Bagaimana,, bagaimana ia bisa mengejar cinta yang sejak dulu ia tanam untuk wanita itu?! Sedangkan bayangan masa lalunya terlalu pahit bagi keduanya! Hingga Eric merasa tidak pantas untuk berada di sisi wanita itu.
Di tengah sembilu hatinya yang menyayat perlahan, sebuah ingatan terbang di atas kepalanya ke masa sebelum mereka meninggalkan kapal besar itu. Eric mengingat sesuatu.
"Hahh!", pria itu melepaskan tangannya dari wajahnya, ia meniupkan nafasnya yang terdengar kasar ke udara.
Ia ingat, saat mereka masih berada di kapal, ketika Eric membuka pintu kamar itu, ayahnya lewat bersama kedua wanita seksi yang sejak tadi memang menemaninya. Ayahnya, Tuan Rogh sempat berhenti sambil menerbitkan senyum simpul di hadapannya. Kemudian ia menahan tangan Tuan Rogh yang akan membuka penutup kepala yang Rose kenakan sambil mencibir jika putranya itu terlalu waspada terhadap ayahnya sendiri.
Eric lalu menyembunyikan Rose di belakang tubuhnya. Tak peduli dengan wajah ayahnya yang semakin mengejek mengira dirinya begitu pelit pad ayahnya sendiri meskipun ayahnya hanya bermaksud melihat wajah wanita yang telah berhasil membuat putranya tertarik. Ketika ayahnya pergi, barulah kini Eric menyadari jika Rose mulai mengalami perubahan. Tangan dingin yang dirasakannya, ternyata sudah bermula dari sana. Mestinya Eric berpikir jika Rose mulia mengalami serangan paniknya setelah bertemu dengan ayahnya tadi.
Pria itu menggigit bibir bawahnya begitu kuat sambil berusaha menggapai tangan Rose untuk ia genggam. Namun nyeri di hatinya mengingat apa yang telah dilakukan ayahnya terhadap wanita itu membuat tenaga di tangannya tiba-tiba menghilang. Tangannya lunglai jatuh ke bawah.
Eric meraup wajahnya dengan kasar. Hatinya masih menginginkan dirinya untuk menggenggam tangan wanita itu sebentar saja, hanya untuk sekadar mengungkapkan permintaan maafnya mewakili ayahnya yang kejam. Namun lagi-lagi tangan itu harus kembali ke sisi tubuhnya.
brak
Pintu kamar rawat itu pun dibuka dengan keras dari arah luar. Rose yang tertidur nyenyak sampai terbangun karenanya. Sambil menyatukan kesadarannya ia berusaha untuk duduk di atas tempat tidur kecil itu. Begitu pun dengan Eric yang terhenyak, akhirnya menoleh ke arah pintu.
Ben datang, ia menerobos masuk dengan segala kekhawatiran di wajahnya. Kemudian Relly menyusul tak lama setelahnya dengan wajah biru di sebelah sisinya. Pria itu tidak malu untuk menutupi lebam di wajahnya itu. Ben memang tidak tanggung-tanggung dalam melampiaskan amarahnya.
Tuan Rogh dan sekumpulan kawanannya yang masih hidup diserahkan kepada pihak interpol yang Ben kenal secara pribadi. Pun ia meminta agar namanya tidak terlibat dalam hal ini. Begitu masalah itu diselesaikan, Ben segera memerintahkan anak buahnya untuk melacak jejak Rose saat ini. Dan begitulah pria bertopi koboi itu sampai di tempat ini setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri dari rekaman cctv pelabuhan Rose yang pingsan sedang dibawa oleh seorang pria muda.
Kumparan emosi menjadi badai di dalam hatinya saat ini. Tapi semua itu lekas berlalu dengan berita bahwa wanitanya sudah dalam kondisi baik-baik saja sekarang. Namun hal yang membuatnya setengah gila saat anak buahnya menyampaikan melalui sambungan telepon, jika Rose mengalami serangan panik karena traumanya. Dan Ben sangat tahu hal itu. Kecemasan yang ia rasakan membara berkali-kali lipat daripada yang sewajarnya. Ben sangat tahu bagaimana terpukulnya wanita itu karena kenangan masa lalunya.
Perlahan Eric mundur, ia bangun dari posisinya setelah merasakan aura yang mendorongnya untuk menjauh. Dari pandangan matanya, Eric dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah wanita yang semula tidak ada ketenangan di sana, saat ini Rose bisa menemukan rasa amannya bersama pria itu.
"Tuan! Akhirnya kau datang!", isaknya di dalam pelukan Ben yang begitu erat. Ia menangis di bahu lapang pria bertopi koboi itu. Kewaspadaan yang terus ia jaga sampai saat ini akhirnya bisa ia lepaskan dengan begitu mudah. Sudah ada tuan seramnya, jadi ia bisa yakin jika tidak akan ada lagi bahaya yang mengintainya.
"Maafkan aku, Rose! Maaf aku terlambat!", kata pria itu dalam sambil mengusap punggung Rose yang rapuh.
"Tuan!", namun wanita itu merasa bersalah karena tuan seramnya malahan terdengar begitu menyesal. Padahal semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri yang tidak mau mendengarkan siapa pun. Yang sudah ceroboh mengikuti kemauannya sendiri, meskipun tahu bahwa ia sangat minim informasi. Rose mengencangkan bunyi tangisannya sambil meremas kemeja bunga-bunga Ben yang bisa ia genggam.
"Maafkan aku, Rose! Kau pasti sangat ketakutan tadi! Maafkan aku! Maaf! Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Aku janji!", katanya dengan suara parau penuh penyesalan. Pria eksentrik itu terus melampiaskan rasa bersalahnya karena tidak bisa menjaga kekasihnya itu dengan baik.
Rasanya,, semakin jauh saja jarak antara dirinya dengan wanita pujaan hatinya ketika Eric melihat pemandangan ini. Sejak awal Rose menyembunyikan seluruh beban yang mengoyak hati dan seluruh jiwa raganya dari dirinya. Namun sekarang, wanita itu seperti sedang meluapkan semua itu kepada pria yang baru datang ini. Seakan Rose sangat nyaman dan merasa aman bersamanya. Rose tak segan menunjukkan sisi lemahnya ini kepada pria dengan topi koboi. Sedangkan kepada dirinya, Rose terus berpura-pura kuat.
Tatapan mata Eric berubah sendu, meskipun ia tidak mengetahui siapa pria kekar itu, yang jelas dia bukan kakak lelaki Rose. Karena Eric pernah tak sengaja melihat kakak lelaki Rose ketika berada di negera mereka dulu. Jadi saat ini ia bisa menilai jika pria itu pasti merupakan seseorang yang spesial bagi Rose, karena bahkan lelaki itu seakan tahu beban apa yang dimilikinya.
Sekarang ia merasa lantai di kamar rawat itu seperti menolak dirinya untuk terus berada di sana. Perlahan kakinya seperti dibawa mundur ke arah pintu. Namun tatapan matanya tak lekang terus menatap kedua insan yang sedang meluapkan perasaan mereka di atas tempat tidur sana. Eric kemudian menghilang bagai asap, tak bersuara dan tanpa jejak.
Hanya Relly saja yang memperhatikan setiap detail orang itu sejak ia datang. Sejenak ia merasakan keprihatinan pada pria itu. Ekspresi patah hati terukir jelas di wajah Eric. Namun Relly tak dapat berbuat apa-apa, karena apa pun yang terjadi ia akan tetap mendukung bosnya itu. Bosnya yang pernah tidak beruntung dalam urusan cinta, sekarang ini berhak memiliki kebahagiaannya.
"Kemana dia pergi?", gumam Rose bertanya sendiri diakhir tangisannya. Barulah ia menyadari jika seseorang telah menghilang dari ruangan ini.