
"Tuan,,, kau benar-benar keterlaluan! Kali ini aku tidak bisa menerima semua ucapanmu itu!", Rose sudah bertahan untuk tetap tersenyum pun akhirnya kalah dengan perasaan sakit yang membludak di dalam hatinya.
Biasanya ia bisa menerima perlakuan Tuan seramnya itu yang selalu galak dan tegas kepadanya. Tapi kali ini ucapan orang itu benar-benar keterlaluan dan hatinya tidak dapat menerimanya begitu saja. Matanya panas, sangat panas hingga melelehkan air mata yang selalu bersembunyi di dalam pelupuk matanya. Perlahan cairan bening itu jatuh. Namun secepat mungkin Rose menyekanya. Dan secepat itu pula ia berlari menerobos kerumunan orang di belakang orang itu. Ia melewati Ben begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya terlalu sibuk untuk mengusap wajahnya dari air mata yang terus saja terjun bebas di sana.
Ben bergeming di tempatnya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku saat ini. Di dadanya masih bergejolak sisa amarahnya yang tadi, tapi juga sudah terbit rasa menyesal yang dalam setelah melihat setetes demi setetes air mata jatuh di wajah wanita yang ia cintai itu. Tangannya ingin menggapai Rose yang semakin pergi menjauh, tapi terasa tak bertenaga dan malahan hanya gemetar di samping tubuhnya. Ia menundukkan kepalanya untuk melihat hal itu.
"Paman, jahat! Padahal Bibi tidak ingin merepotkan Paman! Kenapa Paman malahan memarahi Bibi?! Kalau ingin marah, marahi saja aku, karena aku yang meminta Bibi untuk mengambilkan aku buah itu!", Bervan buka suara, ikut emosi karena Paman galak itu memarahi Bibinya sampai menangis seperti itu. Ia tidak suka, ia juga jadi merasa bersalah karena semua ini terjadi lantaran dirinya yang meminta Rose untuk mengambilkan buah mangga itu. Anak kecil itu maju sambil membusungkan dadanya yang memiliki nafas pendek-pendek.
"Paman, jahat! Aku tidak suka Paman!", air mata pun tumpah di pipi gembul Bervan. Ia pun menangis tersedu-sedu sambil sesekali menyeka air mata yang tak bisa ia hentikan dengan lengannya.
"Bervan tidak boleh berkata seperti itu!", Bella segera membawa putranya pergi dari sana, tak ingin membuat suasana menjadi lebih kacau lagi dengan jerit tangis anaknya itu. Ia akan menenangkan putranya itu di suatu sudut. Hatinya juga menjadi tidak enak, karena baru sebentar mereka sampai di rumah ini, namun sudah ada masalah datang karena putranya itu.
"Aku akan menyusul Rose dan memberinya pengertian!", ujar Victor kemudian. Ia lalu mengusir semua orang yang masih berada di sana untuk kembali ke tempatnya masing-masing, kecuali Paman Alex.
"Paman, bantu aku menemui anak itu!", pintanya pada pria paruh baya yang selalu membantunya bergerak kemana pun di rumah itu.
"Tapi,, ", Victor menyentuh punggung tangan Paman Alex sebagai isyarat agar laju kursi rodanya dihentikan sebentar. Kemudian ia menoleh ke samping untuk berbicara dengan teman lamanya itu.
"Kali ini kau memang cukup keterlaluan!", ucapnya dingin lalu meminta Paman Alex untuk membawanya masuk ke dalam.
Sebenarnya Victor dilema. Di satu sisi dia sangat tahu sifat Ben seperti apa. Ya memang beginilah sifat asli temannya itu. Dingin dan tak pandang bulu. Siapa pun yang bersalah ia tak peduli, yang keluar dari mulutnya akan tetap sama kejamnya meski itu adalah seorang wanita. Dia tahu jika temperamen temannya itu memang buruk. Dan ia sudah biasa mewajari jikahal seperti ini terjadi.
Tapi di sisi lain, yang kali ini tersakiti adalah adiknya sendiri. Ia tidak bisa menutup matanya yang melihat secara langsung bagaimana hati adiknya itu terluka, ia tidak bisa membiarkan hatinya kecewa begitu saja melihat adiknya menangis sambil berlari seperti itu. Bukankah dia tidak ingin lagi melihat adiknya terluka dan bersedih?!
Sungguh Victor dalam dilema saat ini. Ia tidak berharap akan terjadi hal seperti ini di depan matanya langsung. Lebih baik ia hanya melihat adiknya menangis saja. Daripada terang-terangan melihat adiknya tersakiti secara langsung. Tapi dia tetap harus menorehkan rasa kecewanya terhadap Ben. Agar temannya itu tidak mengulangi hal seprti ini lagi. Temannya itu harus belajar mengontrol emosinya.
Di halaman belakang yang tadinya ramai, kini tinggal menyisakan hanya Ben seorang. Pria bertopi koboi itu masih mematung di tempatnya. Bahkan dia tidak bergerak barang satu senti pun. Tubuhnya kaku, dijerat oleh rasa bersalah yang mendalam lantaran ia telah menyadari apa yang baru saja terlontar dari mulutnya tadi.
Setelah mendapatkan cukup kekuatan, kakinya mundur perlahan. Selangkah demi selangkah, mundur sampai punggungnya membentur pohon mangga yang menjadi saksi bisu kemarahannya kepada Rose tadi.
Lelaki itu meraup wajahnya dengan kasar. Tapi mau bagaimana lagi, memang seperti inilah sifatnya. Kesabaran yang ia miliki memang tidak banyak. Dan Rose sudah menguji kesabarannya kemarin. Jadi kali ini ia tidak bisa lagi menahan amarahnya kala Rose malahan melakukan hal yang sama.
Tapi,, meskipun begitu ia tidak membenarkan sifatnya ini. Karena dengan sifat buruknya ini, hati kekasihnya itu terluka. Biasanya tak ada yang berani mempermasalahkan sifatnya ini karena memang ia adalah yang paling berkuasa di tempatnya. Biasanya juga kebanyakan para lelaki, anak buahnya yang menjadi korban dari kelakuannya ini. Jadi ia tidak begitu menyadari efek buruk dari sifat buruknya ini. Dengan Rose, barulah ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya ini ternyata tidak dapat diterima oleh semua orang, terutama wanita.
Sekarang yang ia harus pikirkan adalah bagaimana caranya untuk membujuk wanita itu agar tidak marah lagi padanya. Ia harus meminta maaf kepda kekasihnya itu. Tapi bagaimana caranya?! Ben mempunyai firasat jika kali ini akan sulit baginya untuk mendapatkan maaf dari wanita itu. Semangat! Ia adalah lelaki yang bertanggung jawab. Jadi bagaimana pun caranya ia harus mendapatkan maafnya.
***
"Sepertinya Rose ada di kamarnya!", suara Bella yang sedang menggandeng tangan Bervan itu menghentikan laju kursi roda yang tengah didorong oleh Paman Alex. Laki-laki yang duduk di kursi roda itu pun menoleh. Nampak Bella dan Bervan datang dari arah depan rumah.
"Bagaimana jika aku yang menemuinya saja? Lebih baik kau beristirahat saja sekarang!", lanjutnya lagi sambil menipiskan bibirnya dengan agak canggung. Bervan yang berada di sebelahnya pun sepertinya sudah berhenti menangis. Namun wajah anak kecil itu nampak masih murung.
Sebentar Victor menimbang, dengan keadaannya yang seperti ini pasti akan merepotkan orang lain jika dia harus mendatangi adiknya yang berada di lantai atas itu. Ia kemudian menghela nafasnya karena merasa tak berdaya. Daripada begitu memang sebaiknya ia serahkan tugas ini kepada Bella saja, yang bisa bergerak dengan leluasa.
"Bervan,,, ", panggilnya agak ragu sambil mengulurkan tangannya ke arah anak kecil itu.
"Bagaimana kalau bermain dengan Pa,,,pa dulu sebentar?! Biar Mama menemui Bibi Rose di atas!", Victor mencoba menyebutkan kata itu dengan wajah khawatir dan ragu, sampai akhirnya ia harus mengatakan panggilan untuk dirinya itu dengan terbata. Tangannya masih terulur ke depan.
Bella diam-dima mengulum senyumnya saat mendengar Victor akhirnya mau mengucapkan kata itu dengan sendirinya. Meskipun masih kaku, tapi tidak apa-apa. Seperti itu saja sudah membuat hatinya senang. Berarti pria itu sudah mengakui Bervan sebagai putranya. Pembicaraan mereka berdua tadi memang terputus karena mendengar suara teriakan Ben dari halaman belakang. Jadilah mereka buru-buru keluar takut terjadi sesuatu yang serius di sana.
"Baiklah! Aku akan bermain dengan Papa saja! Mama jangan buat Bibi menangis lagi, ya!", Bervan menggoyang-goyangkan genggaman tangannya dengan tangan ibunya itu sambil mendongakkan kepala. Terlihat sekali jika anak kecil itu sudah sangat menyayangi bibinya.
"Tenang saja! Mama tidak akan membuat Bibi menangis lagi! Mama malah akan membuat Bibi Rose tertawa!", Bella berjongkok sambil mengusap pipi sembab putranya itu. Ia tersenyum sebelum melepaskan gengaman tangannya pada tangan putranya itu.
"Turunkan saja, Bervan! Nanti kakimu bisa sakit! Dia ini sudah terlalu berat!", ujar Bella khawatir sambil menjaga putranya itu agar tidak terjatuh ketika dinaikkan ke atas pangkuan Victor.
"Tidak apa-apa! Aku tidak selemah itu!", jawab Victor sambil tersenyum ke arah versi kecil dirinya.
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu! Aku akan menyampaikan apa yang kau katakan padanya!", Bella mengusap lagi pipi Bervan sambil tersenyum ke arah yang ambigu. Antara ingin tersenyum pada putranya, tapi juga nampak ke arah Victor juga. Wanita itu sebenarnya hanya malu untuk menatap wajah pria itu secara langsung.
Victor lalu menatap punggung Bella yang makin jauh menapaki anak tangga. Ia juga menyembunyikan senyumnya. Sebenarnya pria itu tahu jika Bella malu-malu untuk memandang ke arahnya. Dan sebenarnya begitu pun sama halnya seperti yang ia rasakan. Ia juga masih canggung untuk menatap mata wanita itu secara langsung. Biarlah waktu yang membuat hubungan keduanya membaik secara perlahan.
"Ayo, Papa! Katanya kita akan bermain!", Bervan menggerak-gerakkan lengan ayahnya yang terus saja memandangi ibunya. Ayahnya itu seperti sudah melupakan kehadiran dirinya di situ.
"Oh ya! Ayo kita bermain! Paman Alex, tolong dorong kami ke teras depan!", VIctor mengurai senyumnya, sedikit merasa bersalah. Lalu kursi roda itu bergerak ke arah depan rumah itu. Victor berniat membuat mood putranya itu membaik.
Di belakang, Paman Alex menghela nafas pelan. Kekhwatiran yang awalnya ia tujukan untuk keluarga kecil yang baru saja bertemu ini ternyata tidak diperlukan. Ternyata masalah datang malahan dari pasangan muda yang memang biasanya membuat rumah ini menjadi hidup. Dia hanya berharap nonanya itu lekas berbaikan dengan tuan itu.
***
tok,, tok,, tok,,
Sudah beberapa kali Bella mengetuk pintu kamar itu, namun tidak ada sahutan dari dalam. Ia juga sudah mencoba membuka pintu kamar itu, tapi sepertinya terkunci dari dalam.
"Rose! Rose! Ini aku, bisakah kau bukakan dulu pintunya?", seru Bella sambil terus mengetuk pintu kamar itu.
Suasananya terdengar sunyi dari arah luar. Bahkan tidak terdengar suara isak tangis sedikit pun dari dalam sana. Dan hal itu malahan membuat Bella semakin khawatir karenanya. Lebih baik terdengar suara gaduh dari dalam, sehingga ia bisa menerka apa yang terjadi. Tapi jika sunyi begini, ia sama sekali tidak memiliki gambaran tentang apa yang Rose lakukan di dalam sana. Ia menjadi takut jika adik dari Victor itu akan berbuat yang macam-macam.
"Rose! Rose! Tolong buka pintunya sebentar!", seru Bella kali ini agak kencang. Tapi juga belum mendapatkan jawaban. Dan ia semakin khawatir saja sekarang.
"Ada apa?", Ben tiba di belakangnya. Ia langsung bertanya karena sudah mendengar Bella mengetuk pintu kamar itu berulang kali semenjak ia menaiki tangga.
"Aku sudah mengetuk pintu berulang kali ,tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam!", jelas Bella dengan wajah sedikit khawatir.
"Apa perlu aku dobrak pintunya!", Ben juga menampilkan raut wajah khawatirnya. Ia bersiap memasang kuda-kuda pada kakinya.
"Jangan! Jangan! Jangan! Tidak perlu sampai seperti itu! Yang ada nanti dia akan semakin kesal terhadap dirimu!", buru-buru Bella mencegah Ben yang akan melakukan tindakan yang menurutnya agak konyol.
Ia memang belum mengenal Ben, tapi dari pertemuannya sejak tadi di bandara, Bella bisa menilai jika pria dengan topi koboi ini memang agak kaku. Sama seperti kakaknya, sifat mereka sedikit mirip. Tapi Bella juga bisa merasakan jika orang ini tulus menyayangi dan mencintai wanita yang sedang mengurung diri di dalam kamar ini. Menurut Bella, sebenarnya mereka berdua ini adalah pasangan yang bergairah dan tidak membosankan. Malahan ia sempat merasa iri dengan hubungan mereka yang dipenuhi bumbu itu.
🎶🎶🎶
Dering ponsel langsung terdengar dari ponsel milik Ben. Pria itu meminta izin untuk mengangkatnya sebentar. Ia berjalan sedikit menjauh dari Bella.
"Aku akan mengangkat telepon dulu sebentar!", pamitnya seraya berjalan menjauh.
"Ya, silahkan! Aku akan mencoba mengetuk pintu kamar la,,, ", sebelum selesai kalimatnya itu, Bella sudah ditarik dari arah dalam kamar yang sedari tadi pintunya ia ketuk. Lalu menghilang bagaikan asap, bahkan Ben sendiri tidak menyadarinya karena sibuk menerima kabar.
-
-
terima kasih kepada teman-teman yang selalu mengikuti ceritaku yang ini, yah 🙏
keep strong and healthy ya semuanya🥰