
"Rose, jadwalkan pencocokan sel sumsum tulang belakangku dengan Bervan secepatnya!", seru Victor dari kursi rodanya. Wajah lelaki itu sangat serius, tidak ada kesan bercanda sama sekali.
"Kakak!", Rose membalas seruan kakaknya itu dengan nada tidak suka. Mereka ini sedang membahas masalah apa, tapi kenapa kakaknya itu malahan membahas masalah yang lainnya?! Bahkan Bella sampai melepaskan pelukannya dan menoleh dengan bingung.
"Lakukan saja perintah Kakak!", ucap pria itu seraya berlalu pergi. Victor menjalankan kursi rodanya menuju ke arah kamarnya sendiri.
"Sebentar! Aku akan menyusul kakakku dulu!", tautan tangan Rose dan Bella pun terlepas. Rose segera berlalu menyusul kakaknya ke dalam kamar.
Dan Bella kemudian menjatuhkan dirinya di atas sofa seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tahu jika datang ke sini akan menghadapi banyak situasi yang rumit. Tapi ia tidak tahu bahwa akan serumit ini perasaan semua orang.
***
"Kakak!", seru Rose seraya membuka pintu kamar. Nafasnya sudah menggebu-gebu ingin mempertanyakan maksud dari perintah kakaknya tadi. Namun suasana kamar itu begitu hening, pun sama dengan penghuni kamarnya yang sedang tenggelam dalam diam sambil memandang udara kosong di luar jendela. Rose pun berangsur menenangkan diri seraya menghela nafas tak berdaya. Mana mungkin ia banyak menuntut ketika melihat wajah suram kakaknya itu.
"Sebenarnya apa maks,,, ", Rose yang sedang mendudukkan diri di pinggir tempat tidur pun harus menghentikan bicaranya kala Victor langsung menyela jadwal bicaranya. Sebenarnya ia pun sedang berusaha berbicara selembut mungkin.
"Dulu Kakak tidak memiliki harapan apa pun ketika mengetahui penyakit ini mulai menggerogoti tubuh Kakak. Lalu ketika ingat dirimu, Kakak mulai berharap. Kakak berharap bisa bertemu denganmu dan memberikan kebahagiaan kepadamu sebelum Kakak pergi nanti", ucapnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rose yang berada di belakangnya. Pusaran memori seperti berputar di depan mata pria itu. Yang meskipun sedang sakit keras, namun masih memiliki jejak ketampanannya yang lama.
"Kakak!", gumamnya pelan. Ia tidak suka mendengar ucapan kakaknya yang menjurus ke arah kematian. Hatinya serasa ingin menangis membayangkan orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya di usia semuda ini. Padahal masih banyak yang ingin ia lakukan dengan kakaknya yang sudah lama tidak ia temui itu.
"Lalu ketika mendengar bahwa Kakak memiliki seorang putra, timbul lagi harapan baru. Harapan memiliki sebuah keluarga, harapan bahwa wanita itu bisa menyimpan perasaannya untuk Kakak. Dan juga,, harapan untuk kesembuhan Kakak. Harapan yang dulunya tidak pernah terpikirkan sama sekali. Harapan yang menurut Kakak hanya nol persen kemungkinannya. Sehingga Kakak berusaha mencarikan orang yang tepat untuk menjagamu nantinya!", sebuah bulir air mata jatuh di pipi adiknya lalu mengalir sampai ke dagu. Rose menenggelamkan tangisan yang baru saja ia mulai dalam lautan keheningan yang membentang luas di dalam ruangan itu. Ia biarkan kakaknya meneruskan setiap kata yang selama ini ia simpan si dalam brangkas hatiya sendiri.
Dan ia baru mengerti jika sebenarnya kakaknya itu mendekatkan dirinya dengan Tuan seramnya karena alasan ini. Kakaknya bermaksud menitipkan dirinya kepada orang yang menurut kakaknya itu paling dapat dipercaya. Rose membekap mulutnya agar tak ada satu isakan pun yang lolos dari mulutnya. Ia tidak ingin mengganggu khidmatnya suasana saat ini, ketika kakaknya itu sedang menuangkan perasaannya. Rose semakin terharu karena di masa ketika penyakit kakaknya itu semakin parah, ia masih memikirkan adiknya ini.
"Heh! Kedengarannya Kakak sekarah, bukan?!", pria itu sempat menoleh sebentar ke arah adiknya sambil tersenyum penuh ironi. Lalu dalam hitungan detik ia hapus segera air mata yang sudah jatuh beberapa kali di wajahnya. Sehingga ketika kakaknya menoleh, ia hanya bisa tersenyum kaku sambil mengangguk keras. Jadi kakaknya itu tidak dapat melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang aneh di wajahnya saat ini. Kakaknya itu pun kembali menghadap ke depan lagi.
"Lalu ketika melihat Bervan menangis karena masalah ini, Kakak jadi memiliki harapan yang semakin tinggi. Kakak sangat ingin sembuh sekarang. Jadi Kakak bisa mengabulkan semua keinginan Bervan untuk memiliki sebuah keluarga yang utuh selamanya, bukan hanya yang sementara ketika Kakak masih ada, ketika Kakak masih hidup di dunia ini", pria itu tersenyum lewat tatapan matanya. Ia masih menatap kaca jendela transparan yang menembus pandangannya ke luar.
"Maksud Kakak?", Rose mencoba menerka makna dari semua ucapan kakaknya itu.
"Ya, Rose! Kakak berharap bisa menikahi Bella! Bolehkah Kakak berharap seperti itu?", ucap pria itu sambil berusaha membalikkan kursi rodanya ke arah Rose berada. Jelas wajah pria itu dipenuhi harapan yang begitu tinggi saat ini.
"Kakak! Memangnya ada yang mengatakan jika seorang manusia tidak diperbolehkan memiliki harapan sama sekali?! Semua orang berhak memiliki harapan, bahkan untuk orang paling berdosa sekali pun", Rose turun dari tempat tidur untuk bersimpuh sambil memegangi jari-jemari kakaknya itu. Ia menengadah, menatap Victor dengan penuh rasa haru.
"Tapi Kakak ragu apakah Bella mau menerima Kakak yang seperti ini. Masih membutuhkan waktu yang sangat lama untuk Kakak bisa pulih kembali. Itu pun jika serangkaian operasi dan terapi untuk penyembuhan Kakak berhasil. Kakak ragu apakah Bella mau menerima keadaan ini. Dan Kakak ragu apakah Bella masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu", Victor menundukkan kepalanya sambil berwajah lesu.
"Tapi Rose,, Kakak takut kecewa! Kakak takut jawaban yang akan Bella berikan tidak sesuai dengan apa yang Kakak harapkan. Kakak tidak pernah menyatakan perasaan Kakak sama sekali kepada seorang wanita. Terlebih lagi situasi kami sangat rumit kali ini", ucap Victor jujur sambil meluruskan tatapannya ke arah adiknya itu.
"Kita tidak akan tahu jika kita belum mencobanya, kan?! Aku sudah sangat menyayangi Bervan seperti putraku sendiri, Kak! Pasti akan sangat menyenangkan jika Bervan benar-benar sudah sah menjadi keponakanku. Aku pun berharap Kakak bisa mendapatkan kebahagiaan untuk Kakak sendiri", ujar Rose seraya tersenyum tulus. Ia juga mengharapkan kebahagiaan untuk orang-orang disekitarnya.
"Aku akan selalu mendukung Kakak apapun keadaannya!", tambahnya lagi. Ia menipiskan bibirnya seraya menampilkan mimik wajah yang penuh dengan keyakinan.
"Terima kasih, adik kecilku!", Victor membuka tangannya menunggu adiknya masuk ke dalam pelukannya.
"Hey, aku bukan anak kecil lagi sekarang!", ucap wanita itu seraya memeluk kakaknya. Tanpa terasa keduanya menangis haru bersamaan di dalam pelukan itu. Dan ketika keduanya sadar sudah begitu kompaknya menangis seperti ini, baik Victor maupun Rose tertawa bersama lagi di tengah tangisan mereka yang belum juga usai.
***
Di balik pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup, dua kakak beradik itu tidak menyadari jika ada seseorang yang sudah menguping pembicaraan mereka sejak awal. Bella mengusap kedua pipinya yang sudah banjir air mata. Di wajahnya yang sembab itu, ia sematkan senyuman ketika melihat Rose dan Victor saling berpelukan. Melihat harmonisnya pasangan kakak beradik itu, ia jadi merindukan kakaknya. Sebagai adik, ia juga mengharapkan kebahagiaan untuk kakaknya yang selama ini terjerumus ke dalam balas dendam yang salah.
Bella lalu menjejakkan langkahnya ke arah sofa lagi sambil terus mengeringkan wajahnya yang masih basah. Semua hal yang ia dengar tadi sungguh menyentuh langsung ke dalam palung hatinya yang terdalam.
"Kenapa dia berspekulasi sendiri?! Lalu sebenarnya apa memang tujuanku untuk datang ke sini?! Tentu saja untuk memulai hidupku bersama dengannya. Dengan apapun keadaannya. Bahkan aku sungguh berharap Tuhan mau mengangkat penyakitnya. Aku dan putraku sangat menginginkan kesembuhan untuknya. Sehingga kami bisa memiliki keluarga yang utuh. Jadi sebenarnya dia hanya meragukan sebuah pepesan kosong, kan?!", Bella terkekeh di tengah tangisnya yang masih belum mau berhenti juga.
"Victor, tahukah kau jika perasaanku padamu tidak berubah sedikitpun sejak dulu! Bahkan bertambah ketika mendengar keadaan dirimu sekarang!", ia tidak tahan dengan perasaannya yang begitu penuh saat ini. Tangisnya terus pecah hingga ia harus menangkup seluruh wajahnya untuk meredam suara isakan maupun jerit yang dengan keras ia tahan.
Indera pendengarannya menangkap suara langkah kaki mendekat ke arah pintu dari dalam kamar. Karena tidak dapat menahan diri untuk berhenti menangis, maka sebelum wajah lusuh dan lembab ini terlihat oleh orang lain, Bella pun segera melarikan diri dari sana. Ia mencari tempat bersembunyi yang paling tepat. Ada toilet di bawah tangga. Wanita itu pun segera memasukkan dirinya ke dalam ruangan berbentuk kubik itu.
"Dimana Bella?", tanya Rose sendiri sambil mengedarkan pandangannya ketika tak mendapati jejak wanita itu di tempat semula ia meninggalkannya.
Victor juga melakukan hal yang sama. Sudah menoleh ke sana sini, namun bayangan wanita itu tidak ia temukan sama sekali. Kemana sebenarnya Bella pergi!
-
baiklah pemirsa,, segini dulu ya,, lanjut lagi nanti malem,, okeh
author mau balik ke dunia nyata dulu ngurus anak-anak 🤭😁