
"Terima kasih, Bibi!", ucap Bervan sambil tersenyum.
Ia menerima botol air minum yang sudah dibuka itu.a Karena sudah terlalu haus, maka anak kecil itu langsung menghabiskan sisa air minum yang ada. Sebenarnya Rose ingin menangis dalam hati. Karena sebenarnya dia belum minum sedikit pun. Dan sekarang minuman itu bahkan sudah tidak tersisa setetes pun. Rose makin ingin menangis ketika Bervan benar-benar menanggalkan seluruh isi air yang tersisa.
Tenggorokan Rose makin terasa kering saja ketika melihat tetes terakhir air minum itu melesat masuk ke dalam mulut Bervan yang kecil itu. Wanita itu sungguh menyesal karena tidak minum di dalam tadi.
"Bibi! Aku ingin buah itu! Tapi bagaimana ya, mengambilnya?", tanya Bervan dengan wajah polosnya sambil menyerahkan botol kosong kepada Rose.
Mereka berdua lalu menengadahkan kepala, menatap kemana jari telunjuk anak kecil itu mengarah. Rose melipat bibirnya ke dalam dengan begitu rapat. Dan sekarang wajahnya berubah khawatir sambil sesekali melirik ke arah Tuan seramnya yang sedang sibuk dengan ponselnya itu.
***
Sementara di dalam, di ruang tengah, menyisahkan dua orang yang masih mematung di tempatnya masing-masing. Ruangan itu masih begitu hening, sunyi, sehingga hanya desiran suara angin yang terdengar di dalam sana. Sesungguhnya, kedua orang itu sedang termakan oleh kecanggungan yang belum sirna di dalam diri mereka. Bella masih berdiri, namun matanya ia alihkan ke sembarang arah, yang penting tidak bersitatap dengan orang itu. Sedangkan Victor, ia terus menatap wanita itu dengan tatapan mendalam yang sulit terbaca.
"Kau,,,".
"Kau,,,", hingga keduanya pun akhirnya membuka suara di waktu yang sama. Mengusir suara angin yang berdesir.
"Kau bicaralah lebih dulu!", ucap Victor dengan suara tenang.
"Tidak,, tidak! Kau saja yang lebih dulu!", Bella melambaikan kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi canggung yang belum bisa ia hilangkan dari wajahnya.
"Kau saja!", sedangkan Victor bisa mengendalikan emosinya. Wajah pria itu tetap terlihat tenang. Tapi hal itulah yang membuat Bella makin tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia merasa seperti sangat sulit mengusir rasa gugupnya itu.
"Tidak apa-apa! Kau saja lebih dulu!", wanita itu tersenyum kaku.
"Ladies first!", ucap Victor singkat.
Namun dengan begitu, Bella semakin gugup saja dengan datarnya wajah pria yang sudah sangat lama tidak ditemuinya itu. Bella semakin merasa tertekan dan kebingungan dengan hal apa yang harus ia ucapkan lebih dulu.
Wanita itu mengembuskan nafasnya begitu panjang sebelum mulai membuka mulutnya. Namun sudah membuka mulut pun rasanya semua kata-katanya tertelan kembali ke dalam kerongkongannya. Saat ini ia lebih seperti ikan yang sudah kehabisan oksigen di dalam insangnya.
"Kau apa kabar?", akhirnya keluar juga suara dari mulutnya itu. Meskipun hanya satu pertanyaan singkat yang mampu ia ucapkan saat ini. Wanita itu juga terlihat salah tingkah.
"Ya, beginilah! Kau bisa melihat sendiri!", Victor melirikkan bola matanya ke samping, mengedikkan bahu sambil tersenyum kecut. Beginilah keadaannya yang sedang menyandang predikat sebagai seorang pesakitan. Bergerak pun ia harus dibantu dengan kursi roda.
Bella menundukkan wajahnya. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke samping. Ia juga merasa terpukul sendiri mendengar jawaban itu.
"Kau! Bagaimana kabarmu?", suara bariton itu membuatnya buru-buru menghapus jejak air mata di wajahnya. Ia tidak ingin pria itu melihatnya menangis. Nanti pasti orang itu mengira jika dirinya ini sedang mengasihaninya.
"Baik! Aku baik-baik saja!", wanita itu langsung menyajikan senyuman indah yang walaupun masih terlihat kaku.
"Dan,, emhh Ber,, van?", tanya Victor terdengar ragu.
"Oh,, Bervan! Dia tentu sangat baik! Kau bisa melihat sendiri, bukan?! Jika anak itu menjadi anak yang sangat cerdas dan lebih dewasa ketimbang anak seumurannya. Bervan juga anak yang ceria. Dia tumbuh dengan baik. Makannya juga banyak, makanya sekarang dia jadi lebih cepat bertambah tinggi. Kami berdua baik-baik saja! Ya,, sangat baik-baik saja!", Bella mengakhiri semua basa-basinya dengan senyum canggung dan anggukan kepalanya.
Ia hanya berharap rasa gugup dan canggung yang ia rasakan ini bisa mencair dengan berucap panjang lebar begini.
"Baik-baik saja? Heh! Kau pikir aku akan percaya?", Victor yang kemudian menundukkan kepalanya itu pun bertanya dengan nada dingin.
Mendengar pertanyaan itu, Bella langsung memaku di tempatnya saat ini. Lututnya tiba-tiba terasa lemas, sehingga ia kemudian terjatuh duduk di sofa di belakangnya. Tangannya yang semula bisa ia tahan untuk tidak gemetar, sekarang malahan bergetar tanpa mampu ia cegah. Ia genggam kedua tangannya untuk mencegah gemetar itu semakin hebat.
Kenapa harus bertanya seperti itu?! Kenapa harus pertanyaan itu?! Bella sama sekali tidak ingin mendengarnya. Selama ini ia telah berusaha untuk kuat dan baik-baik saja. Jadi jangan tanyakan lagi apa yang ia rasakan dan ia jalani sebelumnya! Karena semua beban perasaan yang semula terpendam itu seperti akan keluar seperti air mancur. Jangan tanya lagi, ia memohon dalam hati! Ia tidak ingin mengorek apa yang telah ia jalani dengan segenap hati itu!
"Aku memang baik-baik saja! Kenapa kau bertanya seperti itu?", Bella beranikan diri untuk mengangkat wajahnya setelah ia bisa mengendalikan perasaannya yang mulai pecah seperti cermin yang dilempari batu. Wanita itu juga membuat bibirnya tersenyum untuk menguatkan ucapannya.
"Aku tidak percaya!", seru Victor lantang. Ia juga mengangkat kepalanya, mereka kini bersitatap secara langsung.
"Tidak percaya?", tanya Bella balik sambil mengernyitkan alisnya.
"Memangnya apa urusanmu untuk mengetahui bagaimana keadaanku selama ini?! Aku baik-baik saja! Anakku baik-baik saja! Dan itu sudah cukup bagiku! Jadi jangan tanya lagi seakan kau peduli!", akhirnya emosi yang ditahan itu keluar juga dari mulut Bella. Wanita itu berseru agak keras dengan suara yang begitui emosional.
"Ya, tentu saja karena aku peduli! Aku berhak tahu apa yang terjadi kepadamu selama ini! Kenapa kau tidak pernah mengatakan apapun kepadaku? Kenapa kau diam saja selama ini? Apakah aku begitu tidak berguna hingga kau memilih untuk menanggungnya sendiri?! Apa kau tahu?! Aku jadi terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa!", Victor juga emosi. Ia menaikkan sedikit nada bicaranya.
Dari arah dapur, Paman Alex mendengar keributan itu. Ada pelayan lain yang juga mendengarnya. Kedua orang itu mengkhwatirkan majikan mereka yang sedang sakit itu.Paman Alex pun berinisiatif untuk mengintip. Melihat situasinya, pria paruh baya itu merasa jika saat ini belum waktunya. tuannya dan wanita itu masih perlu waktu untuk bicara. Jadi ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya lagi sambil mengawasi dari jauh. Jika nanti kondisi tuannya melemah, barulah ia akan datang mendekat ke sana.
"Aku,,,", Bella menggenggam tangannya yang gemetar semakin erat.
"Aku hanya tidak ingin kau terlibat semakin jauh dengan kakakku! Dan juga, sebagai rasa terima kasihku karena kau telah beberapa kali menolongku!", Bella menunduk sedih. Berusaha keras menahan air matanya yang siap melonjak keluar.
"Kenapa kau harus melakukan hal itu, Bella?! Aku tidak selemah itu untuk berhadapan langsung dengan kakakmu! Aku akan melawan jika memang aku tidak bersalah. Dan sejak aku pergi ke negaramu, aku sudah mengetahui penyakitku ini. Maka dari itu sebisa mungkin yang aku hindari adalah untuk terlibat lebih jauh denganmu", Victor menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah Bella duduk.
"Urusan kakakmu aku yakin bisa mengatasinya. Tapi denganmu, jika aku terus berurusan denganmu, aku takut tidak akan berani melepaskanmu! Aku takut hanya akan meningglakan kesedihan untukmu karena penyakitku ini, Bella! Aku tidak ingin membuatmu bersedih!", suara Victor kian melembut. Ia mengambil tangan Bella yang gemetar untuk ia genggam dengan tangannya sendiri.