
"Maafkan Kakak tidak dapat mengantar kalian ke bandara, ya!", Baz mengelus kepala adiknya itu bergantian juga pada keponakan tersayangnya.
"Tidak apa-apa, Kakak! Aku mengerti!", Bella pun tersenyum seraya menyentuh tangan Baz yang berada di kepalanya.
Pagi ini Baz memiliki rapat penting di perusahaan. Kehadirannya tidak dapat diwakili sama sekali. Maka dari itu, dengan berat hati ia hanya bisa melepas kepergian adik dan keponakannya itu sampai di halaman rumah mereka saja.
"Apakah benar aku akan bertemu dengan papaku, Paman?", tanya Bervan pada Baz yang sekarang sudah berjongkok di hadapannya.
"Benar!", Baz mengangguk dan tersenyum.
"Tapi kenapa wajah keponakan Paman menjadi murung seperti ini? Harusnya kau senang karena akan bertemu dengan papamu, kan!", ia mengusap kepala anak kecil yang sedang tertunduk itu.
"Aku takut tidak akan menjadi istimewa lagi!", anak kecil berumur enam tahun itu mengerucutkan bibirnya sambil menendang-nendang udara. Anak kecil itu masih belum mau mengangkat kepalanya.
"Kenapa begitu, Sayang?", Bella ikut penasaran dan akhirnya ikut berjongkok di samping kakaknya.
"Biasanya Mama selalu bilang kalau aku istimewa karena hanya memiliki Mama saja!", wajah polos anak kecil itu naik dan menatap kedua orang di depannya dengan beberapa kedipan.
"Kau kan juga punya Paman!", dengan sabar Baz dan Bella menunggu penjelasan anak kecil itu. Keduanya saling beradu pandang, mereka sama-sama tidak tahu maksud Bervan sama sekali.
"Iya, aku tahu! Tapi Paman kan bukan Papaku!", Bervan menaikkan kedua alisnya saat menyampaikan hal itu dengan lugas seperti sosok anak kecil yang kritis.
"Ya, baiklah! Lalu?", Baz dan Bella tertawa kecil bersama. Mereka masih menunggu lanjutan ucapan si kecil itu.
"Ya, lalu tiba-tiba aku diberitahu jika aku punya Papa sekarang! Berarti kan aku sudah tidak istimewa lagi seperti dulu!", anak kecil itu merengut dan kembali ke posisi semula. Ia menundukkan kepalanya dan kembali menendang udara dengan kakinya.
Adik kakak Peterson itu saling berpandangan sambil tersenyum. Lalu Bella mengangguk kecil memberi isyarat jika kali ini biar dia saja meladeni ocehan anak kecilnya ini.
"Oh, jadi begitu! Sini anak Mama yang pintar!", wanita itu membimbing putranya untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Jika sebelumnya Mama bilang kau itu istimewa. Maka sekarang Mama mengatakan jika kau itu sempurna. Bervan sekarang adalah sosok yang sempurna karena sudah memiliki Mama, lalu Bervan juga memiliki seorang Papa juga! Jadi Mama menyebut Bervan sekarang adalah sempurna. Ok!", beberapa kali Bella menciumi pipi kenyal putranya itu dengan gemas dan penuh kasih sayang.
"Apakah sempurna lebih baik daripada istimewa?", ternyata anaknya itu tidak mau menerima penjelasan Bella begitu saja. Dan hal itu membuat ia dan kakaknya itu harus kembali terkekeh bersama.
"Keduanya sama-sama baik, Sayang! Hanya saja mereka sedikit berbeda. Yang jelas karena sekarang Bervan sudah menjadi sempurna, jadi pasti Bervan menjadi lebih baik lagi daripada sebelumnya!", dengan sabar Bella menjelaskan pada anak kecil yang sedang memandang ke atas seperti sedang berpikir keras.
"Baiklah, kalau begitu! Bervan senang sudah menjadi sempurna sekarang! Karena sekarang Bervan sudah memiliki Mama dan Papa seperti teman-teman Bervan yang lain di sekolah", akhirnya senyum ceria melengkung di bibir anak kecil itu.
"Ingat! Kau juga punya Paman!", Baz merentangkan tangannya menunggu keponakannya itu masuk ke dalam pelukannya.
"Tenang saja, Paman! Aku tidak akan melupakan Paman meskipun aku sudah mempunyai Papa!", Bervan mengendurkan pelukan pamannya itu untuk berbicara.
"Oh, pintarnya anak ini!", kembali memeluk anak itu, Baz tidak tahan untuk mengacak rambut keponakannya itu dengan gemasnya.
"Hentikan, Paman! Rambutku jadi berantakan, kan! Aku masih harus terlihat tampan kan saat sampai bertemu Papa nanti! Aku tidak mau Papa menilai jika aku ini jelek!", cepat-cepat Bervan menyingkirkan tangan pamannya itu sembari protes. Ia harus menjaga penampilannya sampai nanti ia akan bertemu dengan papanya.
"Oh, astaga! Siapa yang mengajarkan anakmu menjadi pandai bicara seperti ini, Bella?!", Baz berdiri sambil memegangi pangkal alisnya berpura-pura pusing. Rasanya ia ingin mengacak rambut anak itu lagi saking gemasnya.
"Ya, sudah kalau begitu! Kami pamit dulu, Kak! Aku akan langsung mengabari Kakak kalau sudah sampai!", Bella pun ikut berdiri. Namun saat melihat jam tangan, ini memang sudah waktunya bagi mereka untuk berangkat. Jika mengobrol lebih lama lagi mungkin mereka akan terlambat.
"Ayo, Bervan!", setelah memeluk kakaknya itu dan berpamitan, ia mengajak putranya itu untuk masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka sampai ke bandara.
"Kakak akan menghubungi seorang teman. Nanti dia yang akan menjemputmu di sana. Dia juga teman dekat Victor. Kau mungkin bisa banyak bertanya padanya mengenai keadaan Victor saat ini", Baz berbicara pada adiknya yang baru saja membuka jendela kaca mobilnya.
"Dia seorang pria! Belum apa-apa saja kau sudah cemburu begitu!", pria itu mencubit hidung adiknya itu seraya tersenyum menggoda.
"Kakak!", seru Bella dengan wajah merahnya. Oh, betapa malunya dia tertangkap basah begini oleh kakaknya sendiri!
"Apa Mama dan Paman masih akan berbicara?! Katanya kita sudah terlambat!", suara anak kecil protes dari dalam mobil itu pun mengakhiri pembicaraan keduanya.
Dan tak lama mobil yan ditumpangi oleh Bella pun keluar dari halaman rumah dan menghilang dari pandangan mata Baz. Pria itu melebarkan senyumnya, meskipun ada juga penyesalan di dalam hatinya. Kenapa tidak sejak dulu saja ia mempertemukan satu keluarga itu?! Pasti tidak akan begini rumit keadaan yang dialami oleh semua orang.
Hah! Lagi-lagi ia menyalahkan dirinya sendiri! Sudah-sudah lebih baik ia berangkat bekerja saja! Setelah ini yang harus ia fokuskan adalah bagaimana ia memukul balik orang yang telah menjungkirbalikkan fakta selama ini, sehingga membuat hatinya buta dan melakukan balas dendam yang salah. Saat ini harapannya adalah,, semoga adiknya itu memiliki keluarga yang bahagia. Untuk dirinya sendiri, nanti saja baru dipikirkan.
***
🎶🎶🎶🎶🎶
Suara dering ponsel terus bernyanyi riang pada benda pipih milik seseorang. Dia berdering dan terus bergetar hingga ponsel itu berputar di tempat di atas nakas. Ponsel itu berdansa sendiri dan belum dipedulikan oleh sang pemiliknya.
Ben, pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali saat indera pendengarannya mulai terganggu oleh bunyi-bunyian yang berada tak jauh dari telinganya itu. Matanya masih enggan ia buka, rasanya ia baru saja memejamkan mata. Ada timbul rasa kesal karena ada saja sesuatu yang mengganggu kesenangannya.
Dia mengerang kesal sambil mengulurkan tangannya ke arah sumber suara itu. Ben meraba-raba hingga akhirnya ia menghentikan putaran dansa ponselnya itu. Ia tak peduli siapa yang meneleponnya saat ini, tidak ia llihat sama sekali. Hanya jarinya saja yang bergerak untuk menggeser tombol jawab.
"Hem?", pria itu masih sangat malas bahkan untuk mengeluarkan suara sekalipun. Ben kembali mengerang untuk menyapa panggilan masuk itu. Erangannya terdengar serak dan tidak jelas, khas sekali orang yang baru saja bangun tidur.
"Ben! Ben! Ben! Halo! Halo!", suara di seberang sana terus menuntut karena yang ditelepon masih diam saja.
"Heh! Iya, ini aku! Ada apa?", Ben menghela nafasnya malas seraya melihat siapa nama orang yang memanggilnya saat ini. Ia bertanya sambil membalikkan tubuhnya menjadi telentang.
"Ben, kau masih tidur? Sepertinya aku baru tahu kalau Ketua Geng Harimau Putih adalah seorang pemalas! Ku pikir di sana mungkin sudah agak siang, bukan?!", Baz meledek pria itu dari sambungan teleponnya. Terdengar kekehan renyah dari seberang saluran.
"Jadi hanya itu saja tujuanmu meneleponku?! Baiklah, aku tutup dulu!", sahut Ben acuh tak acuh. Tidurnya belum begitu lama, ia tidak ada waktu hanya untuk meladeni sebuah omong kosong. Lebih baik ia melanjutkan tidurnya saja daripada telinganya terganggu.
"Tunggu,, tunggu! Baiklah aku akan langsung ke intinya saja! Aku hanya ingin mengabarkan jika saat ini adik dan keponakanku sudah dalam perjalanan menuju ke sana. Mereka akan sampai mungkin sekitar dua atau tiga jam dari sekarang. Kau tolonglah jemput adikku di bandara, ya!", pinta Baz terus terang. Tapi ia masih memohon dengan sopan. Keduanya sama-sama tahu sifat masing-masing. Dan untuk Ben, ia tahu bahwa orang itu tidak mudah. Meskipun sebenarnya menurut penilaian Baz sendiri bahwa Ben itu adalah orang baik.
"Hem! Baiklah!", pria yang masih berada di atas tempat tidur itu masih memejamkan matanya sambil menjawab asal permintaan rekannya itu.
"Ingat! Sekitar dua jam lagi adikku akan sampai! Kalau begitu aku tutup dulu!", Baz mengulangi lagi ucapannya karena ia merasa tidak yakin dengan tanggapan yang Ben berikan padanya. Suara orang itu jelas seperti belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"Ya,, ya,, dua jam lagi, kan!", perlahan bulu mata itu bergerak dan terbuka.
"Apa?!", tiba-tiba bulu mata itu naik ke atas dan benar-benar terbuka lebar bersamaan dengan suara Ben yang berteriak.
Kesadarannya ditarik paksa saat tak sengaja ia melihat ke arah jam kecil di atas nakasnya yang menunjukkan bahwa waktu yang dimilikinya tidaklah banyak. Belum lagi ia mandi, makan, dan belum juga waktunya di perjalanan menuju bandara. Waktu yang Baz berikan terlalu mepet dengan jam kedatangan adik rekannya itu. Sambil berteriak kesal ia menepuk tempat tidurnya dengan keras sebagai pelampiasan.
"Kenapa kau tidak meneleponku sejak tadi, Baz?! Ini sudah jam berapa! Kepalaku rasanya mau pecah! Harusnya kau mengabariku sejak adikmu berangkat!", sambil mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan di langit-langit kamarnya, Ben memijit kepalanya yang terasa pening. Ben pun melampiaskan kekesalannya pada rekannya itu.
"Mana aku tahu jika kau masih tidur di jam segini?! Tadi aku ada meeting penting jadi aku lupa untuk mengabarimu!", Baz menyanggah dengan alasan yang dia punya. Memangnya ini merupakan salahnya?! Salah sendiri orang itu bangun sesiang ini!
"Hah, sudahlah! Kalau begitu aku siap-siap dulu! Jangan lupa kirimkan nomor telepon adikmu agar aku mudah menghubunginya!", setelah menyampaikan beberapa kata lagi pun akhirnya mereka memutuskan sambungan telepon itu.
Ben berdecak kesal sambil melemparkan ponselnya begitu saja ke tempat tidur yang masih berantakan itu. Lalu ia pun beranjak menuju kamar mandi dengan langkah gontainya. Baru kali ini dalam hidupnya ia merasa sangat malas. Dan ini semua terjadi sebab perkara penyiksaan yang terjadi pada dirinya semalam. Jika ada lain kali, ia tidak akan menahan diri lagi terhadap wanita itu. Sakitnya terasa sampai ke sekujur tubuh. Rasanya ia seperti baru saja berperang selama tiga hari tiga malam.