Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Menjemput seseorang



Baru saja dibicarakan tiba-tiba Ben muncul dengan tergesa. Ia sudah berpakaian rapih, lengkap dengan topi koboinya. Hanya saja topi yang merupakan ciri khasnya itu belum ia pakai karena rambutnya yang masih setengah basah.


Meskipun masih terlihat lingkar hitam di matanya, tapi penampilan seorang pria yang baru saja selesai mandi itu sungguh sangat menggoda. Segarnya wajah tampan yang acuh itu. Harum maskulin khas parfum dari tubuhnya. Penampilan yang seperti ini sungguh sangat menggiurkan bagi setiap wanita.


Terutama seseorang yang saat ini sedang duduk di sebelah Victor, tanpa sadar ia menjatuhkan rahangnya perlahan. Lalu ia menelan ludahnya dengan susah payah, seakan tenggorokannya mendadak menjadi begitu kering. Bola matanya pun sudah berubah menjadi bintang besar saat ini. Begitu takjub pandangan matanya. Sehingga Victor langsung memiliki niat jahat untuk menjahilinya. Ia tutup dengan paksa rahang adiknya itu, dan Rose pun berjingkat kaget. Kemudian ia membuang ke samping wajahnya yang saat ini memerah karena malu.


"Mungkin sebentar lagi air liurmu itu akan tumpah!", terdengar tawa renyah dari mulut Victor karena puasnya.


Rose tak berani menoleh untuk menjawab ledekan kakaknya itu. Ia takut kakaknya akan tambah meledeknya lagi jika melihat wajahnya yang seakarang sudah seperti tomat. Jadilah ia hanya merengutkan bibirnya sambil melirik tajam ke arah kakaknya itu.


"Apa sebegitu terpesonanya kau pada pria itu?!Masih jauh lebih tampan juga Kakak dibanding dia!", Victor masih enggan untuk berhenti meledek adiknya. Sengaja pula ia kencangkan suaranya supaya adiknya itu semakin kesal.


"Kakak, diam!", Rose berbicara pelan. Kakaknya ini sepertinya sengaja ingin membuatnya semakin malu.


"Apa?!", tiba-tiba saja Ben menyahuti keduanya dari meja makan. Ia sedikit mendengar kasak-kusuk antara kakak beradik itu dari ruang tengah. Dari gelagat mereka sepertinya yang mereka bicarakan menyangkut dirinya. Lalu dengan acuh pria itu bertanya sambil terus menikmati roti lapis untuk mengganjal perutnya.


"Jika Kakak kembali bersuara lagi, aku marah!", Rose memutar tubuhnya membelakangi Victor dengan sedikit mengancam.


"Marah saja! Memangnya kau pikir Kakak takut?!", aduh asyiknya memiliki mainan sendiri di rumah yang dapar ia goda setiap hari. Victor kembali membenarkan keputusannya untuk membawa Rose ke rumahnya ini. Hari-harinya lebih berwarna sekarang.


"Ada apa?", suara pria bertopi koboi itu mendekat. Suaranya sedikit tidak jelas karena mulutnya terisi penuh dengan makanan. Bahkan pipinya saja sampai menggembung seperti balon. Tangan yang satunya ia gunakan untuk menenteng topi kesayangannya itu.


"Tadi ketika kau turun ada,,, ", Rose buru-buru membekap mulut kakaknya yang seperti perempuan itu. Habislah dirinya jika kakaknya itu terus membuka mulutnya. Mau ditaruh dimaman wajahnya yang sudah memerah ini?!


"Tadi ketika Tuan turun, kami jadi bertanya-tanya karena sepertinya Tuan sedang terburu-buru!", tak lupa senyumnya yang lebar seperti kuda juga ia sunggingkan di bibirnya agar pria itu tidak curiga.


Ben menaikkan kedua alisnya itu dengan mimik wajah yang menimbang-nimbang. Memangnya dia itu bodoh harus percaya dengan ucapan wanita itu begitu saja?! Hanya saja ia tak peduli. Sepertinya bukan juda hal yang penting untuk dirinya. Tapi jika Ben mengetahui bagaimana wajah Rose tadi saat melihatnya turun dari tangga dengan wajah dan tubuh segarnya, mungkin Ben sudah akan menarik dan mencium wanita itu karena rasa gemasnya. Pria itu selalu tidak tahan ketika melihat wajah wanita itu apabila sedang merona. Enggan menanggapi, Ben memilih untuk meletakkan bokongnya di sofa di seberang Rose berada.


"Tuan akan pergi?", wanita itu mengalihkan topik agar tidak lebih panjang dan kakaknya juga bisa diam.


"Iya, aku akan menjemput seseorang! Kenapa? Kau mau ikut?", tanya Ben balik sambil menghabiskan sisa roti lapis di tangannya.


"Siapa? Kemana?", tiba-tiba Rose merasa antusias karena Tuan seramnya itu mau mengajaknya. Ia jadi penasaran dengan orang yang akan dijemput Tuan seramnya itu.


"Aku akan menjemput Bella di bandara!", jawab Ben tak menutupi. Lalu seketika Victor terdiam kaku.


"Aku ke kamar dulu!", pria itu langsung melajukan kursi rodanya sendiri meninggalkan kedua orang itu. Wajah Victor yang semula tenang kini berubah muram.


"Kakak!", Rose pun turur bersedih melihat perubahan drastis wajah kakaknya itu. Tapi ia juga bingung bagaimana harus menghiburnya. Sebab ia tidak tahu dengan jelas bagaimana perasaan kakaknya itu saat ini.


"Biarkan saja! Mungkin kakakmu butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Bagaimanapun juga sebentar lagi dia akan bertemu dengan wanita dan juga putranya", ucap Ben menenangkan. Ia tidak tega melihat kesedihan di wajah kekasihnya itu.


"Jadi kau mau ikut atau tidak?", ia pun berinisiatif mengubah suasana agar tidak terus menjadi suram. Nadanya ia rubah menjadi Ben yang galak seperti biasanya.


"Kalau begitu kau hanya punya waktu 10 hitungan untuk bersiap! Terlambat satu hitungan saja, aku akan langsung jalan tanpa menoleh lagi!", ucap pria itu seraya berdiri. Gaya bicaranya sungguh terdengar tidak berperasaan menurut pikiran wanita di seberangnya.


"10?", dan Rose mengulang dengan wajah tidak percaya. Hubungan mereka sudah seperti ini saja, Tuan seramnya itu masih senang sekali menyiksanya.


"Satu!", Ben tidak mau menjawab lagi dan malah memulai hitungannya.


"Ba,, baiklah! Tunggu aku! Tuan kau harus menungguku!", buru-buru Rose bangkit sambil memperingati Tuan seramnya itu untuk tidak meninggalkannya. Karena ia juga sangat ingin untuk yang pertama menyambut keponakannya itu. Ia berjalan mundur sambil mengacungkan telunjuknya, benar-benar memperingatkan.


"Dua!", tapi Ben melanjutkan hitungannya dengan suara yang makin keras. Ia memejamkan matanya seakan tak peduli.


"Tuan, tunggu aku!", Rose makin panik karena hal itu. Ia pun berteriak sambil setengah berlari menaiki anak tangga.


"Tiga!", terus saja pria itu bersuara makin keras untuk menanggapi suara Rose yang memohon.


***


Setelah memijak lantai atas, ia tidak bersantai lagi, karena di bawah, Tuan seramnya itu terus saja melanjutkan hitungannya. Ia membuka pintunya dengan keras sampai membentur dinding dan menimbulkan suara kencang. Ia sambar tasnya yang tergantung dekat tempat tidurnya. Lalu ia berkaca, wajahnya masih polos tanpa dandanan sama sekali. Tapi ketika ia hendak memoles bibirnya yang pucat itu, sebuah hitungan terdengar lagi dari bawah. Jadilah dengan wajah paniknya Rose menyaambar asal sebuah lipstik dari atas meja riasnya itu.


"Kau benar-benar kejam, Tuan!", ucapnya geram seraya membanting pintu kamarnya itu sekuat tenaga. Ia melampiaskan kekesalannya itu pada pintu kamarnya, karena tidak mungkin ia melampiaskannya langsung kepada pria yang sudah menunggunya di bawah dengan tidak sabar. Habislah dia bisa-bisa!


***


"Lho! Kemana perginya orang itu? Apa jangan-jangan aku sudah ditinggal, ya?!", nafasnya masih pendek-pendek saat ia mencari keberadaan Tuan seramnya itu di ruang tengah. Bahkan bayangannya saja pun tidak terlihat sama sekali. Rose sudah ingin menangis saking kesalnya karena ia merasa hanya dikerjai lalu ditinggal pergi.


"Sembilan!", lalu suara kencang terdengar dari arah luar rumah.


Rose bingung ingin menangis atau ingin bahagia karena Tuan seramnya itu masih menunggunya. Tapi enggan berpikir lagi, ia memilih untuk segera berlari ke asal suara tegas itu.


"Sepuluh!", bersamaan hitungan yang terakhir itu pula Rose menapakkan kakinya keluar rumah. Ternyata pria itu sedang berdiri dengan santainya di teras rumah. Bahkan pria itu seperti tidak sedang menunggu siapapun saat ini. Ben terlihat sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Sebenarnya kau berniat tidak, sih, Tuan, mengajakku?!", Rose protes dengan nada kesalnya seraya mendekat.


"Aku hanya sedang mengajarimu untuk lebih disiplin lagi!", jawab Ben dengan acuhnya seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Topi koboinya pun ia pasang di kepala.


"Haa?!", mulut wanita itu kembali menganga mendengar jawaban tidak masuk akal itu. Ia sudah lemas dan lelah, jadi ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk membalas ucapan pria itu.


"Tapi,,, kau itu memang sangat lama!", alih-alih bertindak romantis, Ben malahan mengangkat tubuh Rose untuk ia letakkan di atas salah satu bahunya. Bukannya menggendongnya seperti sepasang kekasih sewajarnya.


"Heh!", kembali Rose mendesah pasrah saat kembali di angkat seperti karung beras. Ia jadi teringat dengan kejadian saat pertama kali dirinya datang ke rumah ini. Tuan seramnya itu melakukan hal yang sama seperti ini. Di balik punggung pria itu, Rose memegangi dagunya setengah kesal.