Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Terulang lagi



"Aaakhh!", Rose sedikit berteriak. Terkejut karena rambut palsunya ditarik dengan paksa. Hingga kini rambut pirangnya yang panjang tergerai lurus ke belakang.


Pria yang memakai hoodie itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantel jasnya. Itu adalah sebuah foto keluarga. Foto keluarga Benneth saat pernikahan kedua kepala keluarganya, Tuan Benneth dengan Nyonya Mira. Di dalam foto itu tampak Tuan Benneth berdiri berdampingan dengan Nyonya Mira lalu di sebelahnya ada Mirabeth, putrinya. Terlihat senyum merekah di wajah mereka. Lalu di sisi Tuan Benneth terdapat Rose dan juga Victor yang bediri bersisian. Namun wajah mereka terlihat datar tanpa jejak kebahagiaan.


Satu lagi foto ia keluarkan dari dalam sakunya, sebuah foto keluarga yang hanya sedetik ia lihat lalu ia masukkan kembali ke dalam sakunya. Kemudian matanya bergerak lagi menatap foto keluarga Benneth, menatap penuh kebencian dan dendam. Dan tatapan tajamnya ia tujukan pada seorang pria di ujung barisan, ia adalah Victor tentunya. Pria itu tersenyum sinis menatap foto itu lalu bergantian dengan menatap Rose yang berada di hadapannya.


Rose yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam sambil melemparkan tatapan benci dan tanda tanya besar pada pria yang hanya setengah wajahnya yang terlihat. Salah apa dirinya hingga mereka menculiknya seperti ini. Bahkan Rose belum lama tinggal di negara ini. Jadi siapa yang bermusuhan dengannya. Seingat Rose, sehari-harinya ia hanya bertengkar dengan Tuan Ben itu. Hanya dia yang Rose rasa punya masalah dengannya. Tapi itu bukan alasan kan, untuk melakukan hal ini kepada seseorang. Toh kelihatannya Ben tidak memiliki niat buruk pada dirinya dan juga kakaknya. Malahan pria itu seakan ingin melindungi mereka.


Rose masih berkutat dengan pikirannya. Ah ya, tiba-tiba seluruh tubuhnya menggigil mengingat apa yang Ben ucapkan tadi di swalayan.


Musuh lama kakakmu sepertinya ingin membalas dendam terkait tugas kakakmu yang terakhir kali


Benarkah seperti itu? Benarkah mereka ini adalah musuh-musuh lama kakaknya? Tapi Kenapa? Apa alasannya sehingga mereka menyimpan dendam yang begitu mendalam terhadap kakaknya? Rose menyimpan banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan jika lakban di mulutnya dibuka. Sungguh Rose ingin mempertanyakan hal itu kepada mereka.


Pria tadi kemudian meremas foto keluarga Benneth menjadi gumpalan kertas berbentuk bundar. Tapi ia tetap memasukkannya ke dalam sakunya lagi. Lalu tersenyum miring kepada wanita yang kini sedang berada di hadapannya.


"Ku pikir hidupmu sudah hancur di sana!", suara bariton itu mengaung di telinga Rose diiringi dengan kekehan ringan dari mulutnya. Apa maksud ucapan pria ini, tentu saja wanita itu ingin bertanya. Tapi lagi-lagi apa daya, mulutnya masih di lakban saat ini.


"Kau tau! Kehancuran keluargamu itu adalah aku yang mengaturnya!", pria itu kini sudah duduk di kursi yang baru saja disiapkan oleh salah satu pria berpakaian hitam yang tadi menculiknya. Dia duduk dengan gaya congkaknya bagaikan raja kegelapan yang memiliki aura yang cukup menekan. Sudut bibirnya terangkat sebelah, tersenyum merendahkan ke arah Rose yang hanya bisa bergeming di tempatnya.


Rose menggeram marah, matanya membelalak lebar berusaha meminta penjelasan dari apa yang pria itu ucapkan sejak tadi. Apa maksud dari ucapannya itu. Sungguh hati Rose menjadi memanas saat ini. Mengucapkan kata keluarganya, apa yang sebenarnya pria itu ucapkan. Rose menjadi pusing memikirkannya.


"Lakukan apapun yang kalian inginkan padanya! Tapi jangan habisi nyawanya! Lalu,,, ", pria itu memberi titah pada para bawahannya. Kemudian berdiri dengan seringai kejam di bibirnya.


"Kirim kembali dia kepada kakaknya. Agar orang itu merasakan apa yang pernah aku rasakan!", pria itu, yang hanya menampakkan separuh wajahnya, ia tersenyum sinis ke arah Rose lalu bangkit berdiri dan mulai berjalan ke arah yang Rose yakini adalah pintu keluar. Kemudian menghilangkan di balik siluet cahaya mentari yang masuk lewat celah fentilasi yang rusak.


Rose berteriak meski tertahan di tenggorokannya. Ia masih belum mendapat kesempatan untuk bertanya. Semua pertanyaan yang ada masih menggumpal di dalam benaknya. Tapi ia diam seketika melihat lima orang di hadapannya menatap dirinya seperti serigala yang melihat mangsanya. Seketika jantungnya berhenti berdetak, keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Tubuh Rose mulai gemetar ketakutan. Ia memejamkan matanya kuat-kuat sambil memanggil nama kakaknya dan juga Ben secara bergantian di dalam hatinya.


***


Di sebuah jalanan,


Ben masih mengendarai mobilnya yang jaraknya sudah sangat dekat dengan titik merah yang berhenti itu. Ia yakin saat ini Rose pasti disekap di sana. Ben harus bergerak cepat sebelum terjadi sesuatu pada adik temannya itu. Ia harus membawa Rose dalam keadaan utuh. Titik itu merujuk pada sebuah bangunan seperti gudang tua yang sudah terbengkalai. Ben memarkirkan mobilnya cukup jauh dari sana, di bawah sebuah pohon rindang agar tak ada yang melihat kedatangannya.


Setelah keluar dari mobil, ia memindai sekitar bangunan itu untuk mencari celah agar ia bisa masuk ke dalam sana tanpa ketahuan. Bangunan itu memiliki tembok tinggi yang mengelilinginya dan sebuah pagar besi hitam membentang di bagian depan sebagai pintu masuknya. Lalu tangannya mengambil sesuatu di laci mobilnya. Itu adalah senjata api dan sebuah belati kecil yang ia sembunyikan ke dalam sisi sepatutnya. Lalu ia juga mengambil sebuah tali panjang dari dalam laci tersebut, mungkin saja diperlukan.


Dan benar saja, di sisi timur tembok yang memagari bangunan itu, berdiri kokoh sebuah pohon beringin besar yang dahannya menjuntai sampai ke bagian dalam halaman bangunan itu. Ben pun mendapatkan sebuah ide untuk memulai aksinya dari sana.


Ia membuat simpul dengan tali yang ia pegang, lalu ia lempar ke atas dahan yang sudah ia pilih cukup kokoh untuk menahan berat tubuhnya. Kemudian ia memanjat tali itu hingga ke dahan. Ben meniti dahan tersebut dengan hati-hati hingga ke bagian dalam halaman, lalu segera ia melompat ke bawah dengan selamat. Gerakannya gesit dan akurat. Lalu perlahan ia berjalan mengendap-endap melewati deretan mobil-mobil yang terbengkalai menuju ke bagian depan bangunan.


***


Rose benar-benar ketakutan saat ini. Pikirannya kembali melayang saat dimana ia hampir diperkosa oleh Tuan Rogh malam itu. Malam dimana dirinya memutuskan untuk pergi meninggalkan entah kemana asalkan dirinya aman dari marabahaya. Ucapan pria tadi jadi terngiang di telinganya.


*Ku pikir hidupmu sudah hancur di sana!


Kau tau! Kehancuran keluargamu itu adalah aku yang mengaturnya*


Jika memang seperti itu, maka mungkinkah semua keterpurukan yang ia alami kala itu adalah perbuatannya. Dan karena gagal membuatnya hancur, maka sekarang dia akan benar-benar melakukannya. Rose akan dihancurkan hari ini juga. Sungguh kenyataan itu membuat tubuh Rose bergetar hebat. Traumanya atas kejadian itu belum pulih benar. Siapa juga wanita yang dapat dengan mudah melupakan kenangan pahit seperti itu. Lalu air matanya sudah terjun bebas sampai melewati lakban yang menutupi mulutnya.


"Tuan, tolong aku!", Rose menjerit dalam hati.


Ia masih berharap memiliki kesempatan untuk selamat. Ia tidak ingin mengalami kejadian itu lagi. Waktu itu hanya satu pria, tapi sekarang ada lima. Dan saat ini kondisinya sedang terikat, bagaimana Rose bisa melawannya. Sudah terlalu panik hingga Rose tak mampu berpikir lagi. Dan tak menyadari bahwa satu pria telah maju dan bermain-main dengan rambut pirangnya.


-


-


-


-


-


baca juga ya novel perdana aku yang judulnya


๐ŸŒนwanita pertama presdir ๐ŸŒน


karena dari sana kisahnya Ben dan Rose dimulai. Dan lagi ada beberapa part yang berhubungan antara cerita yang di sana dengan ceritanya Ben dan Rose di sini


oke kalau begitu terimakasih teman-teman buat dukungannya selama ini, yuk follow instagram aku biar kita bisa nambah temen di @adeekasuryani,, nanti kalian aku folback pasti ๐Ÿ˜Š


jangan lupa tinggalin like, vote sama komentar kalian di sini dan di sana ya ๐Ÿ˜


love u teman-teman ๐Ÿ˜˜


keep strong and healthy ya ๐Ÿฅฐ