
Kedua orang itu baru saja masuk ke dalam sebuah toko baju pria yang cukup ternama. Meskipun masih bukan untuk kalangannya, tapi Baz dengan rendah hati tetap mengikuti langkah wanita itu menuju ke dalam sana. Lagipula, kapan lagi ia dibelikan baju oleh seorang wanita, pikirnya. Dan bukan maksud Baz juga untuk memanfaatkannya. Ini hanya karena situasi mendesak.
Rose memilih beberapa pakaian yang cocok untuk pria itu. Karena di sana hanya tersedia pakaian casual, maka yang dipilihnya ya beberapa kaos dan juga jaket atau sweater untuk pria itu. Setelah mencoba beberapa kali, maka akhirnya pilihan Baz jatuh pada sebuah kaos hitam dan juga sweater hitam yang menurutnya nyaman ia kenakan.
Selama Baz mengganti pakaiannya di ruang ganti, Rose juga memilih sesuatu pada deretan sweater berhoodie. Ia jadi teringat Tuan seram kesayangannya itu saat mereka pergi bersama. Dan untuk pertama kalinya Ben mengganti penampilannya demi bisa pergi bersama dengannya. Saat itu Rose begitu terpana oleh penampilan Ben yang menjadi lebih fresh dan lebih tampan tentunya. Memikirkan pria itu membuat dirinya jadi tersenyum sendiri sambil memeluk salah satunya sweater hoodie yang dipegangnya.
Lalu datanglah seorang pegawai yang menawarkan sweater hoodie untuk pasangan. Ya,, mata wanita itu langsung berbinar. Segera Rose berjalan mengikuti pegawai itu ke salah satu spot yang dituju. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia jatuhkan pilihannya pada sweater polos berwarna coklat. Ia rasa itu manis jika dipakai oleh dirinya dan Tuan seram itu nanti. Membayangkannya saja ia sudah sangat senang dan tidak sabar.
Jadi tepat saat Baz keluar dari ruang ganti, ia sudah melihat Rose sedang melakukan pembayaran di kasir. Ia tersenyum, sungguh berterima kasih pada wanita itu. Jika tidak bertemu dengan Rose, ia tidak akan mungkin bisa seperti ini.
***
Matahari sudah berada hampir di puncak kepala ketika Rose dan juga Baz tengah duduk di sebuah taman. Keduanya tengah menikmati es krim di tangan mereka masing-masing. Baz memilih rasa coklat, sedangkan Rose suka sekali dengan rasa strawberry.
Menurut Baz es krim di tangannya makin terasa manis ketika ia memandangi wajah wanita di sampingnya. Tapi bagi Rose es krim di tangannya ini tidak manis sama sekali. Rasanya hambar seperti hatinya saat ini. Sudah melakukan banyak hal sejak tadi, tapi Rose masih belum bisa melupakan hasil tes itu.
Bagaimana nanti ia harus menyampaikan hal ini kepada kakaknya?! Rose sungguh tak mampu melihat wajah lelaki kesayangannya itu. Ia sangat ingin kakaknya sembuh. Tapi bagaimana caranya?! Bahkan dokter saja belum bisa memastikan hal itu.
"Kau melamun!", seru Baz lirih dari arah samping karena melihat es krim di tangan Rose sebagian meleleh dan hampir mengenai tangan wanita itu sendiri.
"Ah ya, haha!", buru-buru Rose menghabiskan semua es krim di tangannya untuk mengalihkan perhatiannya orang itu.
"Sebagai teman, bisakah aku mendengar ceritamu? Sejak tadi kulihat kau sedang bersedih", segenap keberanian telah ia kumpulkan untuk lancang mengajukan pertanyaan ini pada Rose. Meski ia takut Rose tidak akan mau menjawabnya atau kesal kemudian, paling tidak dia sudah mencobanya.
Setelah hanya diam untuk beberapa lama, akhirnya Rose mau membuka suara. Ia mengatakan apa yang sebenarnya membuat ia sedih sekarang. Cerita tentang kakaknya yang sedang mengidap penyakit parah pun ia sampaikan. Rose sibuk bercerita sambil menatap lurus ke depan, ia tidak memperhatikan jika saat ini Baz sedang menatap dengan tidak percaya. Satu pukulan lagi ia dapatkan di dalam hatinya.
Ia pikir, Victor masihlah sosok gagah seperti saat terakhir kali ia melihatnya. Ia sama sekali tidak mendengar kabar bahwa pria itu kini tengah mengidap penyakit berbahaya seperti itu. Lalu kenapa juga Ben tidak mengatakan tentang hal ini kemarin?! Apakah Ben sengaja menyembunyikan hal ini demi mendapatkan kepercayaan darinya?! Tapi bukankah dengan hal ini, ia menjadi begitu jahat sekarang?!
Niatannya untuk mempersatukan Victor dan juga adiknya semakin besar. Mendengar bahwa hasil tes pencocokan tulang sumsum itu buruk, maka ia sedang berasumsi di kepalanya. Mungkin Bervan, keponakannya itu yang tak lain adalah anak kandung Victor sendiri bisa membantunya. Ia sudah membulatkan tekadnya. Dan,,, dengan begini juga, dia dapat membayarkan hutangnya satu persatu kepada semua orang yang telah dirugikan karena ulahnya.
"Tenang saja, Rose! Kita pasti menemukan solusinya!", ucap Baz yakin yang tak sadar tangannya menyentuh pucuk kepala wanita itu.
"Hehe,,, iya baiklah! Mungkin aku harus tetap berpikir positif saat ini!", dengan canggung Rose melepaskan tangan pria itu dari kepalanya. Ia tidak nyaman diperlakukan seperti itu oleh pria, selain oleh kakaknya dan juga Tuan seram itu tentunya. Uuhh,, kenapa dia makin merindukan orang itu?! Sebenarnya kapan mereka baru bisa bertemu?!
Matanya tiba-tiba menangkap sesuatu hal yang menarik. Ia buru-buru pergi meninggalkan Baz yang sedang memaku wajahnya memandangi tangannya yang baru saja impulsif menyentuh kepala wanita itu. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, secercah kasih sayang tumbuh di dalam hatinya saat ini. Tapi bukan juga seperti kasih sayang yang biasa ia berikan kepada adiknya, itu berbeda.
Setelah tertegun untuk beberapa saat, ia akhirnya menyadari bahwa Rose sudah tidak ada di sisinya. Ia akhirnya mendapati wanita itu tengah memilih-milih sesuatu dari seseorang yang menjajakan beragam aksesoris di pinggir taman itu.
Tepat saat akan membayar kalung itu kepada si pedagang, Rose ternyata melihat ada juga kalung yang sama. Maka ia pun berniat untuk membeli keduanya. Baz sudah berjalan mendekat dan melihat benda apa yang menjadi incaran wanita itu. Inisial B, mungkinkah itu untuk dirinya?! Bahkan ia melihat Rose membeli dua buah.
"Apa yang baru saja kau beli?", tanya Baz pura-pura penasaran.
"Sesuatu yang menarik, untuk orang yang menarik pula!", tiba-tiba Baz menjadi begitu percaya diri setelah mendengar jawaban yang Rose berikan. Apalagi wanita itu terlihat riang saat mengungkapkan jawabannya.
"Oh ya! Apa yang kau beli tadi di toko baju? Aku sampai lupa ingin bertanya?", melihat satu tas belanja yang tak lepas dari tangan wanita itu, Baz sudah penasaran semenjak tadi.
"Hanya sweater pasangan!", jawab Rose lagi dengan wajah santai. Ia berseri-seri sekarang tentunya karena dia sedang memikirkan bagaimana nanti saat memberikan benda-benda ini kepada Tuan seram itu. Akankah pria itu mau menerimanya. Jika tidak mau, maka ia akan tetap memaksanya. Haha
Baz hanya membulatkan mulutnya saja. Ia masih berpikir bahwa itu untuk kakaknya, Victor. Karena sedari tadi yang Rose bicarakan hanya pria itu seorang. Dan Rose selalu mengatakan bagaimana ia sangat menyayangi kakak lelakinya itu. Jadi hanya satu nama itu yang terlintas dalam pikiran Baz saat ini. Ia tidak tau apa sebenarnya yang ada di dalam benak wanita itu.
***
Meninggalkan keakraban dua orang yang baru saja menjadi teman, kini pengawal yang harusnya menjada Rose itu tengah menepikan mobilnya sambil berulang kali mengumpat dengan begitu frustasi. Ia sangat bingung harus mencari dimana nonanya lagi. Sudah sejak tadi juga dia menyembunyikan masalah ini dari bosnya. Tapi sebelum keadaan makin tidak terkendali, ada baiknya jika ia memang harus melaporkan hal ini kepada bosnya itu.
Semua umpatan dan makian ia terima saat memberitahukan kondisi yang sebenarnya kepada bosnya. Akhirnya nyawanya pun menjadi taruhan jika sampai terjadi sesuatu kepada nonanya itu. Bosnya sungguh kejam, ia sangat tau. Tapi bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya, jad ia akan menerima konsekuensinya.
***
"Sial!", seraya mengumpat Ben kembali menghamburkan berkas yang ia pegang ke belakang. Dan kembali mengenai orang itu lagi, Relly.
"Hah!", mendesah lagi Relly sukarela memunguti kertas-kertas itu lagi di lantai.
"Aku pergi! Kau urus di sini!", Ben menyambar topi koboinya lalu pergi meninggalkan bawahannya itu begitu saja.
"Bos sudah berubah! Kapan aku juga bisa menemukan seorang wanita?!", pria itu mendesah menatap langkah kaki bosnya yang tergesa-gesa. Meskipun kesal karena tindakan bosnya yang semena-mena, tapi setelah mendengar penuturan pengawal Rose tadi, Relly jadi paham situasinya.
***
"Kemana perginya kucing kecil itu?! Ia bahkan belum sepenuhnya mengetahui jalanan seluruh kota!", Ben begitu frustasi sambil menghidupkan mobilnya.
Ia menghidupkan pendeteksi gps yang ia tanamkan pada ponsel yang Rose pegang. Hatinya sedikit lega karena titiknya mengatakan bahwa Rose masih berada di dalam kota. Bahkan titik itu terus bergerak perlahan. Ben pikir itu tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Rose mengambil hasil tes pagi tadi.
Setelah deru mesin terdengar, buru-buru pria itu tancap gas. Ben sengaja memilih mobil sport putih agar ia bisa memaksimalkan kecepatannya untuk menemukan kucing kecil itu. Makin hari makin liar saja!