
Rose masih belum bergeming. Saat ini ia tengah memegangi lehernya yang seakan terasa nyeri. Rasa sakit pada saat itu masih jelas betul membekas di leher jenjang miliknya. Membayangkan lehernya mungkin saja akan patah membuatnya tiba-tiba bergidik ngeri.
"Apa yang kau pikirkan? Masih belum mau melangkah?", ucap Ben dengan wajah geramnya.
"Emhh iya, maaf Tuan!", tiba-tiba kakinya terasa berat. Tiba-tiba ia merasa sulit berjalan. Tapi mau bagaimana lagi, Rose masih sayang dengan nyawanya. Apalagi tujuannya melarikan diri adalah supaya ia bisa bertemu dengan kakaknya. Ia pusatkan energi yang dimilikinya pada sepasang kaki yang akan membawa tubuhnya sampai ke hadapan pria yang menyeramkan itu.
Sambil menundukkan kepala, kakinya terus berjalan dengan lemas dan malas. Hingga tanpa terasa ia merasa seperti menabrak dinding beton yang kokoh, langkahnya pun terhenti. Ia tegakkan lagi punggungnya sambil berusaha mengangkat kepalanya.
"Gawat!", batin Rose menjerit.
Rose berjalan tanpa melihat arah dan tujuan, hingga akhirnya ia malah menabrak dada bidang dan keras milik Ben, pria bertopi koboi yang kini sedang menatapnya dengan tatapan setajam pisau. Meskipun sesungguhnya Ben hanya menatap Rose seperti biasanya, hanya menambahkan sedikit kerutan di alisnya. Tapi bagi orang lain tetaplah tidak biasa.
Semua orang yang melihat baik itu yang dari dekat seperti Bibi Maya dan Ara, ataupun mereka yang sedang mengintip, kembali menahan nafasnya. Suasana menjadi makin tegang saat Rose memilih untuk berbalik namun Ben malah mencegahnya dengan menarik kerah belakang seragam pelayannya.
"Lebih baik kalian kembali ke tempat kalian. Aku punya urusan dengannya", ucap Ben pada Bibi Maya dan Ara yang masih mematung di tempatnya. Tangannya masih mencengkeram kerah seragam Rose dan menarik Rose untuk berdiri di samping dirinya.
"Sepertinya semua orang di sini sedikit tuli, ya!", sindir Ben tajam karena kedua wanita di sana masih belum pergi juga.
Rose memberi isyarat dengan matanya untuk mengusir Bibi Maya dan Ara dari sana. Biarlah ia sendiri yang menghadapi ini sendirian, ia tidak ingin Bibi Maya yang baik hati dan juga Ara menanggung akibatnya karena berurusan dengan pria keji ini.
"Hey!", bentak Ben mulai tak sabar. Suaranya yang menggelegar sontak membuat Bibi Maya dan Ara terkesiap. Bahkan mereka yang sedang bersembunyi pun ikut dibuat melonjak di tempat.
"Ba,, ba,, baik Tuan! Ka,, kami akan pergi", ucap Bibi Maya seraya menarik tangan Ara. Ia terbata-bata lantaran benar-benar ketakutan oleh dominasi aura Ben yang amat kuat. Kedua wanita itu lari terbirit-birit, seperti baru saja bertemu dengan hantu yang menyeramkan.
"Hah!", Rose akhirnya bernafas lega setelah dua orang itu akhirnya pergi juga.
"Jadi kau sudah merasa lega, heh! Bahkan aku belum mulai berbicara!", Ben menoleh dan berbicara dengan nada dingin pada Rose. Tangannya belum juga lepas melepas cengkeraman kerah pada seragamnya.
"Terserah! Terserah! Terserah! Aku bahkan tidak tau Tuan mau berbicara apa. Jadi sebenarnya apa maunya Tuan? Tuan bahkan tidak berbicara kan sejak tadi. Baiklah terserah Tuan mau berbicara apa, aku tidak peduli!", Ana berteriak sambil meronta saat cengkeraman pada kerah pakaiannya belum juga di lepaskan.
Darah Ben mendidih, kesabarannya yang sedikit sudah diuji sejak tadi. Mata Ben yang nyalang malah makin membuat kesan seramnya semakin tajam. Ia benar-benar menusuk Rose dengan tatapan tajamnya. Wajah Ben mendekat ke arah wajah Rose sambil menggeram.
"Jika kau bukan adiknya Victor maka sudah habis nyawamu sekarang!", geram Ben dalam hati.
Selama ini mana ada yang berani m membentak ataupun berucap dengan nada tinggi selain musuh-musuh besarnya. Kenyataannya bagi orang biasa seperti Rose ini, mental mereka akan menciut bahkan ketika Ben baru saja mulai menatap mereka. Niat awal untuk menyampaikan kekesalan hanyalah membuahkan hasil yang sia-sia. Tapi kali ini Ben buat pengecualian. Karena tujuannya ke sini adalah untuk membawa wanita itu kepada kakaknya dalam keadaan yang utuh terutama.
Tanpa ekspresi, wajahnya yang dingin tetap tak berubah meski emosinya terasa diuji. Ben menyeret tubuh Rose dengan cengkeraman tangan yang tak ia lepas sejak tadi. Lalu Rose dilempar dengan sedikit kekuatan ke arah sofa. Tapi tetap saja hal itu membuat Rose terjungkal di sana. Sambil menatap tajam ke arah Ben, Rose membenarkan posisi duduknya.
"Sepertinya hari ini aku benar-benar sial! Apa sebenarnya tujuan orang ini datang ke sini?!", gumam Rose dalam hati.
"Aku yang sial, lagi-lagi dibuat kesal olehmu!", Ben seakan tau isi pikiran Rose dengan wajah sebal yang sedang memandanginya itu.
Sontak Rose langsung menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya dalam-dalam supaya pria itu tidak lagi dapat membaca isi pikirannya saat ini.
"Lebih baik kalian kembali ke tempat tugas kalian masing-masing. Apa Tuan kalian menggaji kalian hanya untuk mengintip dan bergosip saja, hah!", bentakan Relly menggema ke seluruh penjuru villa. Tadi ia sempat menangkap arah pandangan Ben yang tertuju pada salah satu sudut di bawah tangga, dan ternyata di sana terdapat dua orang pelayan tengah bersembunyi untuk mengintip dan mencuri dengar pembicaraan mereka di ruang tamu.
Terdengar suara ricuh yang tidak terlalu keras di berbagai sudut, hingga akhirnya mereka semua keluar bersamaan tanpa sengaja dengan menundukkan kepala karena malu. Lalu secepat kilat mereka lari terbirit-birit menuju arah yang berbeda. Bahkan beberapa di antaranya sampai terjatuh akibat terlalu gugup dan takut. Mulut Rose menganga mendapati pemandangan ini. Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah orang-orang itu, bisa-bisanya mereka masih saja mencari masalah dengan pria kejam yang mereka sendiri belum tau jelas asa usulnya. Sedangkan pria itu, Ben terlihat acuh meski sebentar ia menghela nafasnya kasar.
"Berikan padanya!", perintah Ben pada Relly yang baru saja duduk. Ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jasnya. Lalu ia sodorkan di meja ke arah Rose yang masih belum bisa mencerna keadaan.
Perlahan tangannya mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Matanya mulai panas dan berkaca-kaca. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk membekap mulut sendiri agar isak tangis yang akan ia keluarkan tidak terdengar nyaring. Itu foto kakaknya, itu foto Victor Benneth saat ia masih segar bugar dengan kondisi prima. Foto itu diambil saat Victor masih bergabung dengan Harimau Putih.
"Kakak!", batin Rose tak percaya.
"Ti,, tidak! Aku tidak mengenalnya", Rose masih belum mempercayai Ben saat ini. Mata dan pikirannya masih menyelidik ke arah pria eksentrik itu. Pasalnya sampai saat ini pun, mereka belum mengetahui dengan jelas profil tamu yang sudah terlanjur mereka terima. Rose merasa masih harus bertahan demi bisa mengetahui motif sebenarnya dari apa yang Ben lakukan saat ini.
"Lalu bagaimana dengan ini?!", Relly menyodorkan kembali sebuah foto kepada wanita itu.
"Ya ampun!", gumam Rose tak percaya dengan apa yang ia lihat. Kini air mata itu sudah terjun bebas membanjiri seluruh sisi wajahnya. Saking terkejutnya, suara yang akan dia keluarkan seperti tersendat di tenggorokan.
Seorang pria tengah duduk di ranjangnya dengan piyama tidur berwarna biru langit yang cerah. Namun sayang, kondisinya kali ini berbeda 180 derajat dengan foto yang sebelumnya. Kali ini adalah penampilan Victor saat terakhir kali Ben bertemu dengannya. Tubuh kurus, wajah tirus dan juga kepala yang hampir botak, sungguh berbanding terbalik dengan gagahnya Victor pada foto yang pertama.
"Jadi kau mengenalnya?", tanya Ben datar sambil memandangi wanita yang tengah menangis itu.
Sudah sekian tahun ia tidak bertemu dengan kakaknya. Sudah selama itu Rose bertahan hidup dengan penuh penyesalan karena tidak ikut dengan kakaknya waktu itu. Malahan ia memilih untuk tetap tinggal dengan keluarga sialan yang bahkan menjual dirinya kepada seorang tua bangka. Waktu yang telah terlewat itu sungguh membuat penyesalan makin mendalam di dalam hatinya. Saat itu, saat kakaknya memilih untuk angkat kaki dari rumah, memang sudah seharusnya ia mengikuti langkah kakaknya.
Orang yang menganggapnya sebagai keluarga, hanya dia, hanya kakaknya. Bahkan Rose sempat mempertanyakan hati nurani ayahnya sebagai orang tua Rose sendiri. Sungguh ironi di atas ironi, bibirnya gemetar tak mampu mengungkapkan apapun saat ini. Yang jelas tanpa perlu ditanya lagi, pasti sekarang kakaknya itu tengah mengidap penyakit yang mematikan. Rose menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata, menikmati nyeri yang menjalar ke seluruh rongga dadanya hingga membuatnya merasa sesak.
"Apa yang kau lakukan pada kakakku?", tiba-tiba Rose membuka mata dan menatap tajam ke arah Ben.
"Oh jadi dia kakakmu?!", Ben juga mendadak senang memprovokasi wanita yang ada di hadapannya itu. Membuat Rose salah paham sangatlah muda ternyata.
"Jadi wajahnya bisa garang ketika menyangkut keluarganya", Ben tersenyum dalam hati.
Rose pikir karena Ben tidak menyukainya karena kejadian kapan hari itu, jadi Ben mengancamnya dengan nyawa kakaknya. Dan bahkan mungkin kondisi kakaknya saat ini adalah ulah Ben, pikir Rose. Ia menatap dengan sorot kebencian kepada Ben yang masih saja acuh seolah tak terjadi apapun.
"Apa yang kau lakukan pada kakakku?", kini kesabaran Rose sudah habis. Ia berteriak marah ke arah Ben sambil mengepalkan tangan di kanan kiri tubuhnya. Rose menjerit dengan nada penuh kebencian dan luka.
-
-
-
-
-
-
**maaf ya kalo update yang ini masih sedikit-sedikit,, soalnya author masih memprioritaskan novel yang pertama, yaitu
🌹wanita pertama presdir🌹
kalian wajib baca ya, karena dari sana cerita tentang Ben dan Rose dimulai.
Jangan lupa buat kasih dukungannya di sana dan di sini ya dengan kasih like, vote sama Bu komentar kalian.. okeh 😉
terimakasih teman-teman 😊
Love u semua😘
Keep strong and healthy ya 🥰**