Hey You, I Love You !

Hey You, I Love You !
Masa lalu versi Victor



"Kemana Ben? Kenapa dia tidak ikut sarapan denganmu?", mata pria itu berkeliaran ke samping mencari sosok teman lamanya itu.


"Apa dia sedang mengusir kecoa di kamarmu?! Atau dia sedang menjadi kecoa di kamarmu?!", wajah kakaknya itu tiba-tiba berubah menyeramkan seperti vampir yang siap menghisap darahnya.


Rose hampir terbatuk mendengar ucapan kakaknya itu. Tapi untunglah ia masih bisa mengendalikan diri saat ini. Apa jangan-jangan kakaknya itu tahu apa yang terjadi di kamarnya tadi?! Tidak mungkin kan, memangnya kakaknya itu peramal! Rose mengembuskan nafasnya pelan.


"Kalian berdua sudah dewasa. Kakak hanya dapat mengatakan bahwa apapun yang kalian lakukan, kalian harus bisa mempertanggungjawabkannya!", tiba-tiba Victor berbicara serius tanpa memandang ke arahnya.


Rose jadi canggung sendiri mendengar nasihat kakaknya itu. Lagipula apa memangnya yang sudah ia lakukan? Tak ada yang terjadi antara ia dan Tuan seramnya itu! Tapi tetap saja pipi Rose memerah mengingat kejadian pagi tadi saat orang itu hampir saja meremas sesuatu miliknya.


"Berhenti bicara aneh, Kakak! Jangan mengalihkan pembicaraan! Aku kan sedang menunggu cerita Kakak!", tiba-tiba Rose ingat kemana harusnya arah pembicaraan ini. Harusnya saat ini ia mendengarkan sebuah kisah antara kakaknya dan juga kakak iparnya itu.


"Kakak pikir kau akan lupa!", Victor mengusap pucuk kepala adiknya itu dengan gemasnya.


"Berhenti, Kak! Rambutku berantakan! Sebaiknya Kakak mulai bercerita saja!" wanita itu mengomel sambil membenarkan rambutnya yang sekarang agak berantakan.


"Ucapan Kakak tidak ada yang salah, kan! Ketika kita dewasa, kita harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita lakukan!", lalu pria itu tersenyum penuh arti sambil menghadap ke depan.


"Ini hanya ingatan yang Kakak miliki!", tatapan Victor semakin dalam sebelum memulai bernostalgia pada malam itu.


"Baiklah, aku siap mendengarkan!", Rose membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah kakaknya itu dengan wajah yang sangat antusias.


#FLASHBACK ON


Ini adalah momen ketika sudah lewat dari seminggu setelah kepergian Tuan Anderson Peterson. Saat itu Victor memiliki janji untuk bertemu dengan Tuan Ergy di sebuah club malam yang cukup terkenal di kota itu.


Di sebuah ruangan VIP, seorang pria paruh baya duduk santai dengan dua wanita di sisi kanan dan kirinya. Kedua wanita itu bersandar dengan manjanya pada dada pria itu. Tuan Ergy, pria itu sangat menikmati dua wanita yang cantik dan seksi ini sambil menghisap sebatang rokok di tangannya.


Ada beberapa pria bertubuh tegap di belakangnya. Bertugas seperti tembok kokoh yang siap menghalau apapun yang dapat membahayakan nyawa tuannya itu. Tatapan mereka datar, meskipun sesekali tuannya itu mencumbu kedua wanita itu di hadapan mereka secara langsung.


"Tindakan yang Anda ambil sangat berani, Tuan!", Victor duduk di hadapannya dengan wajah tenang.


Kali ini ia sedang memberikan peringatannya pada orang itu karena telah bertindak melampaui batas. Dalam perjanjian mereka, tidak tertulis jika semuanya akan bergerak sampai sejauh ini. Bahkan hingga menyebabkan kematian Tuan Anderson Peterson yang bukan merupakan targetnya sama sekali pada awalnya. Victor berjanji akan membongkar kebusukan Tuan Ergy ke permukaan. Karena ia merasa tindakan yang orang itu lakukan sudah sangat kelewatan.


Victor tidak suka melihat tindakan berani Tuan Ergy pada keluarga yang sebenarnya tidak memiliki masalah sama sekali itu. Bahkan bisa dibilang jika keluarga itu merupakan keluarga yang baik dan rukun. Meskipun putra tertua mereka memiliki identitas lainnya. Tapi Victor merasa itu bukanlah menjadi masalah besar bagi keluarga mereka.


"Kaulah yang terlalu memakai hati!", Tuan Ergy mengejeknya dengan sebuah senyuman. Lalu ia kembali mengepulkan asap rokoknya ke atas dengan wajah arogannya.


"Dalam hal ini,, bukannya aku sudah sangat profesional?! Hingga rela namaku digunakan dalam semua tindakan yang Tuan ambil!", Victor tetap mempertahankan wajah tenangnya. Karena jika sampai ia menunjukkan sedikit saja emosi di wajahnya. Orang itu pasti akan tahu apa kelemahan yang bisa ia gunakan untuk menjatuhkannya. Victor tahu jika orang itu sangat amat licik.


"Sepertinya kau memang terlalu memakai hati!", makin dalam saja senyuman misterius yang Tuan Ergy hadirkan di bibirnya.


Untuk sepersekian detik Victor kehilangan kendali dengan ekspresinya. Namun segera ia memperbaiki ekspresi tenangnya. Meskipun begitu hatinya menjadi tidak menentu saat ini. Ia jadi kehilangan kata-katanya meskipun wajahnya sudah bisa ia buat tenang kembali.


"Kebetulan sekali, putri keluarga Peterson itu ada di tempat ini juga! Aku sudah memerintahkan kepada orangku untuk memberikannya sebuah hadiah", ada pernyataan tersirat tentu saja dalam setiap ucapan Tuan Ergy itu.


Wajahnya tidak bisa menutupi rasa terkejutnya dari Tuan Ergy. Bagaimana bisa orang itu tahu bahwa Bella sedang ada di club malam ini?! Sedangkan dirinya saja tidak dapat mengetahui apapun tentang wanita itu. Ini pasti semua informasi telah diblok sehingga Victor tidak dapat mengetahui apapun tentang keluarga itu.


Victor tidak bisa tenang lagi sekarang. Wajahnya berubah panik. Orang itu selain licik juga sangat kejam. Entah apa yang akan orang itu perbuat pada Bella jika sampai dirinya terlambat. Maka dari itu, tanpa mempedulikan Tuan Ergy lagi, Victor segera bangkit dan bergegas meninggalkan ruangan yang temaram itu.


"Jika kau tidak memiliki perasaan, tentu kau tidak akan menjadi sepanik ini, kan?! Kenapa tidak biarkan saja dia menikmati pengalaman barunya?!", suara Tuan Ergy membuat Victor menghentikan langkahnya sebelum ia benar-benar keluar dari sana. Ia menoleh sedikit dengan tatapan tajamnya. Laki-laki ini memang sungguh sial! Firasat buruk segera datang menghantui pikirannya mengenai Bella. Ia segera berlari dari sana. Meninggalkan tawa puas Tuan Ergy yang menggelegar di ruangan itu.


"Lakukan saja apa yang kau inginkan! Jika kau masih memiliki niat untuk membongkar semua ini, maka jangan salahkan aku jika pengalaman baru bagi putri keluarga Peterson itu akan menjadi tidak terlupakan dengan beberapa pria yang akan memuaskannya! Haha,,, ", Tuan Ergy berbicara sendiri dengan senyum puas yang begitu lebar di bibirnya.


***


Victor sudah lari kocar-kacir sejak tadi. Membuka setiap pintu ruangan yang ada di dalam club malam itu. Ia sangat panik, benar-benar panik. Bella masih merupakan wanita polos yang tidak tahu apa-apa. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada wanita itu. Ia harus segera menemukannya.


Lagipula,, dengan ataupun tanpa persetujuannya, Tuan Ergy akan tetap melakukan hal ini pada Bella. Meskipun harus dengan cara lain misalnya, wanita itu akan tetap dicelakai olehnya. Sepertinya Tuan Ergy belum puas jika keluarga itu belum benar-benar hancur sepenuhnya.


Seluruh kamar sudah Victor periksa, tapi ia belum juga menemukan Bella. Sambil menyeret langkahnya yang sudah sangat frustasi, akhirnya Victor sampai di tempat terakhir yang belum ia periksa. Ia belum memeriksa bar dan lantai dansa yang berada di lantai bawah.


Dari jauh Victor mengamati jika wajah Bella agak murung dan bersedih. Pasti ini karena kepergian mendadak ayah yang sangat dicintainya itu. Ia melihat Bella tiba-tiba mengambil gelas minuman dan langsung ditenggaknya. Wajah wanita itu segera memerah, mungkin karena tidak biasa minum makanya Bella segera mabuk hanya dengan satu gelas minuman saja.


Victor mempercepat langkahnya, ia khawatir namun masih agak tenang karena teman di sekelilingnya masih wanita semua. Yang jelas ia harus cepat mencapai Bella. Ia harus segera membawa wanita itu keluar dari tempat berbahaya ini.


Pria itu setengah berlari sambil memperhatikan saat ada seorang pelayan yang cukup mencurigakan menurut Victor. Gelagatnya aneh dan ragu-ragu saat membawa nampan yang hanya berisi satu gelas minuman itu. Hanya ada satu gelas itu dan langkah pelayan itu mantap menuju ke arah Bella.


"Rasanya aneh! Tapi efeknya sangat memabukkan!", Bella sudah mulai meracau pada teman di sebelahnya. Ia tersenyum-senyum tidak jelas sendirian.


"Memangnya kau tahu bagaimana menjadi mabuk?! Kau kan baru pertama kali ke tempat seperti ini!", teman di sebelahnya juga sudah mulai mabuk sepertinya. Kepalanya dan kepala Bella saling menempel bersebelahan.


"Tapi ini sangat enak! Aku jadi bisa melupakan kesedihanku, kan!", lagi-lagi Bella tersenyum aneh sendiri. Tangannya sudah terulur ingin menambah lagi kadar alkohol yang ada di tubuhnya. Dan kebetulan pelayan yang mencurigakan itu segera memberikan gelas yang berada di atas nampannya itu kepada Bella, selagi wanita itu begitu tidak sadar.


Tapi tentu saja Victor menyadari hal itu. Dan kebetulan hanya dirinya saja yang melihat keanehan itu. Victor buru-buru menyambar gelas itu dan langsung meminumnya dalam sekali tenggakkan.


Pelayan itu panik, sangat jelas di raut wajahnya. Victor menyadari hal itu, namun kepalanya terasa sangat berat secara tiba-tiba. Dan pelayan itu pun sudah keburu melarikan diri.


"Hey, Tuan! Kau mengambil minumanku!", teriak Bella tidak terima dengan wajah galaknya yang sedang mabuk itu. Ia mengacungkan jari telunjuknya, bermaksud ke arah wajah Victor, namun nyatanya malah udara kosong di sebelah wajah pria itu yang ia tunjuk dengan jarinya.