Before I Found You

Before I Found You
BIFY 89



"Hehe... papa ngapain di sana?" cengir Rani.


"Nungguin anak gadis papa pulang ujian tentunya. Gimana tadi?" tanya Nugraha.


"Alhamdulillah dapat kok pa," ujar Rani.


"Ya udah sana masuk," titah sang papa.


"Saya juga permisi dulu pa," ujar El dan menyalami tangan Nugraha.


"Hmm... Terima kasih udah ngantarin Rani pulang, hati-hati di jalan." ujar Nugraha datar tanpa ekspresi.


El pun mengangguk dan melajukan motornya. Fiuhh...ketemu bapak Rani lebih deg-deg an di bandingkan jawab soal ujian. batin El.


Sementara itu, Rani sudah bergulung selimut di kamarnya. Ia benar-benar tidak tahan dengan tamu bulanannya tersebut. Rani mencoba untuk tengkurap dan tetap membaca buku matematikanya untuk ujian besok.


Akan tetapi, gadis kecil itu benar-benar tidak sanggup dan memilih untuk tidur. Rani terlelap hingga magrib. Ia keluar kamar karena merasa sangat lapar, gadis itu masih mengenakan seragam sekolah. Karena merasa lengket Rani memilih untuk mandi terlebih dahulu. Dan mencuci seragamnya beserta jaket El tadi.


Usai melaksanakan ritualnya. Rani pergi keluar rumah dan menjemur kain di tempat jemuran. Kemudian gadis kecil itu menuju dapur untuk makan.


"Pucat amat lo kak," ujar Habil.


"Diem!" tukas Rani yang sedang sensi.


"Dih sensi amat! Pasti lagi bulanan," ujar Habil yang memang sudah mengetahui emosi Rani yang meledak-meledak saat sedang datang bulan.


"Mama sama papa mana Bil?" tanya Rani karena tidak melihat kedua orang tuanya.


"Biasa, kalau lagi merasa muda mereka berdua pergi pacaran. Bahkan sampai lupa kalau udah anak tiga orang!" ujar Habil menjawab pertanyaan kakaknya.


"Hussh!!! Jangan ngatain orang tua!" ujar Rani melempar sendok ke arah adiknya.


Tak


"Sakit nih kak..." rengek Habil mengelus keningnya yang terkena lemparan Rani.


"Sukurin tuh! Untung aja itu sendok nyium di tempat yang tepat." ujar Rani tertawa.


"Aihhh... Gue mau ke kamar aja. Sebelum di amuk singa betina!" ujar Habil dan berlari menuju kamarnya.


"Ckck... Gue sendiri juga heran, kenapa pas lagi halangan pasti jadi emosian tingkat dewa." ujar Rani menggelengkan kepalanya.


Setelah makan Rani menuju kamarnya dan mulai belajar. Ia sesekali beristirahat dengan memainkan game ular yang ada di handphone kecilnya.


Ting


Notif pesan masuk ke dalan handphone Rani.


Masih sakit? tanya orang di seberang sana.


"Dari mana dia tau gue sakit?" bingung Rani.


Kok lo tau? tanya Rani


Taulah, semuanya gue tau. Seharusnya lo bersyukur di dekatkan dengan seorang lelaki yang peka. ujar orang tersebut dengan akhiran emoticon membanggakan diri.


Ceh sombong amat! balas Rani.


Sesuatu kelebihan yang ada pada diri kita patut untuk dibanggakan! Ya udah sana belajar! tukas si pengirim pesan.


Ingat, kalau Allah membenci orang yang sombong! balas Rani.


Ciee... udah bisa kutbah. Semangat belajarnya my lovely. ujar si pengirim pesan.


Immanuel!!! Berhenti ngerayu, ngegombal, ngereceh! balas Rani.


Gue kek gini kan cuman ke lo Ran.Jadi apa salahnya? Gih sana belajar! Semangat. balas El.


Dasar cowok bucin! delik Rani.


Di kamarnya El menatap pesan yang dikirimkan oleh Rani tersebut.


"Nanti lo bakal merindukan kebucinan ini. Gue juga nggak berdaya, tapi demi gue pergi juga demi masa depan kita juga." ujar El.


Jangan cuman ngatain! Nanti rindu, balas El.


Gue tau lo udah rindu sama gue.Makanya sibuk ngebalesin pesan dari gue bukan belajar. Iya kan? Haha. ujar El ada gadis kecilnya itu.


Oh tuhan...Sungguh makhlukMu yang satu ini sangat mengesalkan. Gue belajar dulu, bye! balas Rani.


El hanya membaca pesan terakhir dari Rani tanpa ada niatan untuk membalas pesan tersebut. Dirinya kembali membuka notebook dan mengisi formulir pendaftaran universitas yang belum ia selesaikan tadi di sekolah.


Sementara Rani merasa heran karena tidak mendapatkan balasan dari El.


"Ckk, dia memang benar. Baru aja di read rasanya udah aneh. Aihhh... Rani... Ayo fokus belajar!" ujar Rani pada dirinya sendiri.


Gadis itu menghabiskan waktunya untuk belajar sampai larut malam. Bukan maksudnya untuk pakai model SKS sebelum ujian. Akan tetapi, memang sudah kebiasaan di malam sebelum ujian dirinya memborong semua materi. Meskipun sudah diulang-ulang, sensasi belajar borongan tersebut sangat terasa dan lumayan untuk melatih daya ingatnya.


"Fiuhhh...Akhirnya kelar juga." ujar Rani dan melirik jam di dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 02.00 WIB.


Matanya melotot melihat jam tersebut. Gadis itu segera menghempaskan dirinya menuju kasur dan berpulun selimut. Tanpa menunggu lama Rani sudah menuju ke alam mimpinya.


Siapa yang menyangka bahwa dirinya benar-benar sudah berada dalam skenario mimpi.


Di dalam sana Rani melihat dirinya sedang berada dalam sebuah perayaan di sekolah yang tidak dia kenal.


"Gue dimana?" itulah pertanyaannya.


Rani berjalan menyusuri perayaan tersebut hingga dirinya sampai di taman sekolah itu.


"Wah indahnya," ujar Rani menatap saat ini dirinya berada di tengah-tengah kumpulan bunga yang berbentuk love.


Matanya berbinar karena di luar garis kumpulan bunga itu ada lelaki yang berpenampilan tak biasa. Dirinya belum pernah melihat lelakinya mengenakan kemeja dengan warna itu. Anehnya jantungnya berdebar karena lelaki itu semakin mendekat.


Greb


Pelukan hangat Rani terima. Kenapa? Ada apa sebenarnya. Dan ya, bagaimana mungkin mereka berpelukan di saat semua orang melihat mereka.


"Hei bang! Bukan muhrim! Lepas dulu," tukas Rani menepuk punggung El.


"Sebentar, hanya sebentar. Biarkan seperti ini. Gue benar-benar kangen sama lo!" ujar El.


"Baru juga tadi ketemu. Kenapa udah kangen! Modus amat!" delik Rani berusaha melepaskan pelukan tersebut.


El pun melepaskan pelukan mereka. Lelaki itu menatap Rani, ia melihat kegugupan di mata Rani.


"Apa? Jangan liat lama-lama!" ujar Rani gugup.


"Ran. Nanti saat kita berjauhan, lo nggak boleh sama laki-laki lain!" ujar El dengan nada penuh penekanan.


"Enak aja. Siapa suruh lo pergi! Jadi terserah gue lah!" delik Rani.


"Nggak boleh!!!" titah El.


"Hei tuan. Anda sadarkan? Umur kita ini berbeda, jadi nanti jangan salahkan kalau ada yang muda. Hehe," ujar Rani dengan nada bercanda.


Namun, candaan Rani membuat aura di sekitarnya menjadi dingin sedingin es.


"Upss... Gue udah ngebangunin batu es." ujar Rani dan hendak berlari meninggalkan El.


Siapa sangka bahwa saat ingin berlari tangannya justru di tarik oleh El. Dan kembali membawa Rani ke dalam dekapan hangat lelaki itu.


"Gue pergi untuk masa depan kita. Jadi lo harus nunggu! Ingat, gue nggak terima penolakan!" ujar El mengurai pelukan dan menatap Rani intens.


"Memangnya lo mau kemana sih?" tanya Rani.


"Intinya gue harus pergi. Lo harus baik-baik di sini! Jauhin makhluk yang bergender lelaki!" ujar El dan meninggalkan Rani yang sedang kebingungan.


"Hei!!! Kok gue di tinggal? Bang...bang El..." ujar Rani berteriak akan tetapi tidak di dengar oleh lelaki yang membelakanginya itu.


Deg


Rani terbangun dari mimpinya. Gadis kecil itu mengusap wajahnya dan mendudukkan dirinya. Rani melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 05.00 WIB.


"Kenapa mimpinya aneh banget sih. Ini pasti gegara setan yang nempelin gue pas lagi tidur karena lupa baca doa!" delik Rani.


"Apa iya yah dia mau pergi jauh?" tanya Rani ber-monolog pada dirinya sendiri.