Before I Found You

Before I Found You
BIFY 46



Saat Rani akan pulang, Dika pun berjalan untuk mengantar Rani.


Tok tok tok


Rani pun mengetok pintu rumahnya. Ternyata yang membukakan pintu adalah Rita.


“Assalammualaikum tante,” ujar Dika dengan senyum terlebarnya.


“Waalaikumussalam, maaf kamu siapa?” heran Rita karena ada anak lelaki subuh-subuh ke rumahnya.


“Ini si Dika mah, anaknya tante Fitri.” Ujar Rani dari belakang Dika yang tadinya tidak kelihatan karena tertutupi.


“Eh Dika? Masyaallah Ya allah makin tinggi aja ya?” ujar Rita menyambut anak sahabatnya itu.


“Buahaha....iya ma. Dulu tinggi dia ngga jauh beda sama pohon toge!” ejek Rani.


“Si*alan lu Ran. Lihat kan sekarang dunia sudah berpihak padaku!” Dika mengerucutkan bibirnya.


“Namanya juga berusaha ngejar tinggi wanita sang pujaan hati tante,” ucap Dika dan mengedipkan sebelah matanya pada Rani.


“Ngga usah sok ngegombal lu!!!” ucap Rani dan menatap kesal pada Dika, dan hanya dibalas cengiran oleh Dika.


“Udah jangan berantem. Kamu sahur disini aja Dik,” ajak Rita.


“Hah! Jangan deh mah. Yang ada semua makanan ludes sama dia,” Rani melirik tajam kepada Dika.


“Husst....Ngga boleh gitu toh!” Rita memukul lengan Rani.


Karena sudah lama takbertemu Rita pun menarik tangan anak sahabatnya itu menuju bangku teras. Mereka duduk di sana dan mulai mengobrol. Rita sangat penasaran dengan kehidupan sahabatnya yang telah lama tak berjumpa dengannya. Mereka pun mendengarkan cerita Dika, dan sedikit terjadi percekcokan mulut ringan antara kedua remaja tersebut. Obrolan singkat itu pun tidak memakan waktu yang lama, dan Dika pun ingin pamit pulang. Ia takut menganggu waktu sahur keluarga Rani.


Dika pun menyalami Rita, “Dika pulang dulu ya tan. Besok Dika ajak mama kesini, mama kayaknya kangen banget sama tante,” ujar Dika.


“Iya...Tante juga udah kangen banget sama mama kamu. Oh iya, hampir lupa kok kamu bisa sama Rani?” tanya Rita.


“Takdir Allah mempertemukan kami di rumahnya tan,” ujar Dika mengedipkan sebelah matanya pada Rani.


“Hmmm...Ketemu pas acara di mesjid toh. Yowes, hati-hati dijalan yah,” ujar Rita.


“Tan, berarti Allah ngeridhoi kami berdua dong? Soalnya dipertemukan ditempat suci,” gurau Dika dengan tampang cengengesannya.


“Dasar temen sarap! Pulang lo sono!” jengah Rani.


“Eh! Mulut anak gadis ini ya,” ujar Rita menatap tajam pada Rani. Sedangkan orang yang mendapat pembelaan dari Rita memeletkan lidahnya pada Rani.


“Kalau jodoh ngga mungkin ketukar toh le!” imbuh rita membuat Rani mengerucutkan bibirnya.


“Ckk! Si mama kebiasaan. Sukanya ngebelain anak orang lain daripada anak sendiri!” Rani memutar bola matanya.


Ucapan Rani itu mengundang tawa dari dua manusia yang kompak untuk mengerjai Rani dengan kata-kata itu.


“Yaudah tan, Dika pamit dulu. Assalammualaikum,” ia pun menyalami tangan Rita dan memasang senyum lebar pada Rani.


“Waalaikumussalam,” ujar Rita dan Rani bersamaan.


Setelah kepergian Dika, kedua wanita beda usia ini pun memasuki rumah dan kembali beristirahat.


***


“Woi!” Rani mengagetkan Keke yang sedang berkaca di dalam kelas mereka.


“Aa...astagfirullah Rani, hampir aja!” ujar Keke memegang erat kacanya yang hampir terjatuh karena dikagetkan oleh Rani.


“Hehe, si Zia mana Ke?” tanya Rani karena tidak melihat sahabatnya tersebut di dalam kelas.


“Dia tadi malam habis mutusin doi. Jadi ya gitu deh, matanya sembab.” Ujar Keke santai yang kembali berkaca untuk memperbaiki hijabnya.


“Hah? Kok gue ngga tau?” ia merasa ketinggalan berita.


“Siapa suruh lo semalam asik di tempat sate. Sedangkan orang-orang di mesjid lo udah heboh ngeliat pergulatan antara Derby dan Tomi.


Flash back on


“Sayang, kok kamu disini?” tanya Derby.


“Sayang sayang pala lo peyang! Lo itu udah mantan!” ucap Zia menatap tajam kepada lelaki yang menghalangi jalannya.


“Zi, lo ikut gue ya? Biar gue jelasin semuanya.” Ucap lelaki itu dan hendak menarik tangan Zia.


“Eh curut. Dia sekarang pacar gue!” suara seseorang dibelakang Zia dan Keke. Ucapan pria itu sontak membuat kedua gadis ini berbalik kebelakang.


“Bantuin gue ya Ke, pliss,” ucap Zia.


“Cehh, ngga mungkin cowok hitam kayak lo jadi pacar dia,” ejek Derby.


“Lo juga ngga pantas dapetin cewek kayak Zia breng***!” tukas Tomi dan menendang kaki Derby.


“Si*alan!” Derby membalas tendangan Tomi dengan satu pukulan keras, membuat bibir pacar resmi Zia itu mengeluarkan darah. Terjadilah pertarungan antara mantan vs pacar resmi.


Zia dan Keke sudah berusaha melerai keduanya. Pertengkaran itu baru bisa dihentikan ketika El sudah turun tangan. Zia menarik tangan pacarnya untuk menjauhi lokasi. Sedangkan Keke, melirik mantan sahabatnya itu,


“Heh lelaki yang gagal move on! Jangan pernah lo gangguin lagi temen gue,” ujar Keke menatap sinis kepada Derby.


Derby yang kesal pun juga meninggalkan lokasi tersebut. Sedangkan Keke, sedang mencari sahabatnya. Keke tercengang melihat sahabatnya dibentak oleh pacarnya.


“Udah aku bilang kalau kamu itu ngga usah kesini!” ujar Tomi dengan suara keras.


“Aku kan ngga tau kalau dia ada disini,” ucap Zia pelan.


"Ckk! Alasan!" tukas Tomi.


"Terserah kalau ngga percaya! Lagian aku kesini mau kasih semangat ke kamu!" tambah Zia.


“Kamu itu suka banget membangkang!” ujar Tomi mendorong bahu Zia dengan kasar.


Ckk cowok set*n masih SMP aja udah beraninya KDRT sama temen gue! omel Keke dalam hatinya dan ingin menghampiri sahabatnya. Belum sampai disana, ia sudah terlebih dahulu mendengar suara keras Zia.


"Kalau dilarang yah jangan pergi!" ujar Tomi kembali menatap tajam pada Zia.


"Udahlah sana kamu pulang!" titah Tomi dan mendorong Zia, Zia yang tidak siap pun terjatuh. Akan tetapi, Tomi hanya terdiam tanpa ada niat membantu Zia berdiri.


“Gue mau kita putus! Asal lo tau ya Tom, orang tua gue aja ngga pernah ngebentak gue! Cukup gue sabar selama ini,” kesal Zia dengan genangan air mata di matanya. Ia pun berdiri dan menatap tajam kepada Tomi.


“Oke kita putus! Lagian pacaran sama lo itu membosankan,” ujar Tomi meremehkan Zia.


Plakk


Zia memukul “Ini untuk semua perlakuan kasar lo ke gue selama satu tahun ini. Dasar ngga tau diri lo! Seharusnya lo bersyukur gue mau nerima lo!”


Tomi memegangi pipinya dan menatap kesal kepada Zia, tangan lelaki itu sudah bersiap untuk membalas tamparan dari Zia. Akan tetapi, Keke terlebih dahulu menarik tangan Zia dan membawanya pulang kerumah Zia.


Semalaman Zia menangis. Ia tak menyangka bahwa Tomi akan tega berperilaku kasar padanya. Oleh karena itu, pagi ini melihat mata Zia yang bertelur ia memutuskan untuk izin sakit.


Flash back off


Mendengar ceriita itu, Rani pun hanya ber O riah. Dia memang sudah tau bahwa pacaran hanya akan membuat pihak wanita terluka. Dirinya bersyukur karena hingga detik itu ia belum merasakan bagaimana sakitnya cinta.


“Nanti kita ke rumah Zia aja Ran,” ajak Keke.


“Ngapain? Nanti yang ada tuh anak mewek lagi!” ujar Rani.


“Yah ngehibur dong! Selain itu, kita juga kepo sama cowok boyband yang nemenin semalam, Hehe.” cengir Keke.


“Huu...Itu mah ngehibur elo bukan Zia!” Rani menyentil jidat sahabatnya itu.


“Ya habisnya tuh cowok cakep banget Ran,” ucap Keke menaik turunkan alisnya.


“Ngga ada! Ngga ridho gue kalau sampai sahabat gue sama si burat!” Rani mengibaskan tangannya seakan menghapus bayangan apabila Keke bersanding dengan Dika.


“Burat apaan Ran?” tanya Keke.


“Buaya Darat!!!” ketus Rani.


“Gue baru......” belum sempat Keke melanjutkan ucapannya Guru IPA telah memasuki kelas mereka, sehingga kedua gadis ini tidak melanjutkan perbincangan mereka.


.


.


.


.


.


Haii readers...... Terima kasih udah mau mampir ke kisahku... Semoga kalian senang akan cerita yang kutuliskan ini 🥰🥰🥰