
"Assalammualaikum pak, ada apa bapak nyuruh saya kesini?" tanya Rani memasuki ruangan Yoan.
"Kamu bantuin saya mindahin seluruh barang keperluan laboratorium ini!" tunjuk Yoan pada beberapa karton yang berisi peralatan di sudut ruangannya.
"What!!! Ini kan banyak pak," keluh Rani.
"Itu semua ringan kok, jadi jangan komplain. Atau kamu beneran mau saya mutilasi?" ujar Yoan tersenyum lebar.
"Eng.. enggak pak, saya angkat ya pak. Tapi bapak angkat yang besar-besarnya, biar adil." ucap Rani.
"Hemm..." ujar Yoan berdehem. Lelaki itu mulai mencatat barang-barang yang baru saja sampai itu.
Rani pun mendengus kesal karena tingkah guru barunya itu. Ia berjalan dengan tidak semangat menuju labor. Rani berjalan dengan fokus memegangi karton yang ada di tangannya. Ia tidak ingin ada kesalahan yang terjadi, karena gadis kecil itu tau bahwa barang-barang di dalam karton itu meskipun kecil harganya cukup menguras uang jajannya 3 bulan.
Tiba-tiba saat ia akan berbelok menuju labor. Ia bertabrakan dengan seseorang yang sedang berlari.
Bruakk
"Huwaa......Barangnya pecah!!!" ujar Rani mengambil karton yang masih utuh, akan tetapi terdengar bunyi beling saat karton itu.
"Maaf gue nggak sengaja. Tadi.. tadi gue nggak lihat-lihat pas belok," ujar orang tersebut memegang bahu Rani.
"Isshh, jangan pegang-pegang!!!" delik Rani menatap orang tersebut.
"Rani?" ujar Afan.
"Kak Afan! Hemm... Bagus deh kalau yang nabrak gue itu kakak. Jadi, lo harus ganti tuh semua kerusakan!" ujar Rani dengan memicingkan matanya pada Afan.
"Kok gue yang ganti semuanya?" tanya Afan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Huwaa....Gue nggak mau tau, lo harus ganti!!!" ujar Rani kembali merengek.
"Oke-oke jangan berisik lagi. Lagian itu memang kesalahan gue! Nanti gue yang kasih biayanya ke guru lo," ujar Afan mengambil alih karton yang dipegang oleh Rani.
Rani pun terdiam mematung memperhatikan Afan yang berjalan di depannya.
"Kok lo bengong sih Ran? Ayok, dimana ruangan guru lo?" tanya Afan.
"Ehh... Memangnya lo boleh masuk ke dalam sekolah ya kak?" tanya Rani.
"Gue kesini mau ketemu adek gue. Dia udah nyampe di sini bukannya nemuin gue malah milih tinggal di apartemen!" ujar Afan kesal.
"Ooh...Ayo gue ajak nemuin guru baru yang super duper ngeselin itu!" ujar Rani keceplosan. Gadis itu pun nyengir ketika Afan menautkan alisnya menatap Rani. Keduanya pun menuju ruangan Yoan.
"Kenapa kamu balik lagi?" tanya Yoan tegas.
"Emm itu pak, barang-barang yang saya bawa tadi rusak semua." lirih Rani.
"Kenapa bisa rusak. Saya ngga mau tahu, berarti kamu harus ganti semua peralatan yang rusak itu!" delik Yoan.
"Itu pak, di luar ada orang yang nabrak saya tadi. Jadi dia bersedia mengganti semua kerusakan," ujar Rani.
"Mana orangnya? Suruh dia masuk! Hei kamu yang diluar. Masuk!!!" teriak Yoan.
"Begini ya, kelakuan adek gue! Nggak ada sopan-sopannya sama orang, padahal belum lihat yang diluar itu siapa! Maen teriak-teriak aja kek di hutan!" ujar Afan memasang tampang sangarnya.
Rani yang mendengar itu pun kaget. Ia tidak menyangka bahwa adik yang disebut-sebut oleh Afan tadi adalah Yoan.
"Jadi pak Yoan adek lo kak? Tapi kan nama kalian beda?" ujar Rani.
"Waktu itu gue belum nyebutin nama lengkap ke kalian bertiga. Nama gue Afanasiy Rainer Folke," ujar Afan.
Rani pun menganggu sesaat. Ia memutar otaknya, dan teringat bahwa tadi dia keceplosan mengatakan bahwa Yoan adalah guru yang sangat menyebalkan. Gadis kecil itupun menjadi gugup. Ia ingin melangkahkan kakinya secara perlahan agar tidak berada di antara kedua lelaki itu.
"Kak, kok lo bisa ada disini?" tanya Yoan.
"Gue ngasih pertanyaan malah dibalas dengan pertanyaan. Pantes aja Rani bilang kalau lo itu guru yang super duper nyebelin!!!" ujar Afan. Yoan yang mendengar ucapan sang kaka pun memberikan delikan tajam pada Rani.
And now say goodbye to your happy life maharanisya, rutuk Rani pada dirinya sendiri. Gadis itu menunduk karena tidak ingin mendapatkan hukuman baru dari gurunya itu.
"Mata lo itu mau gue congkel!! Ini semua salah gue, bukan salah Rani! Semua kerusakan gue yang tanggung!" ujar Afan pada sang adik yang memberikan tatapan horor pada Rani. Yoan pun menghentikan tatapannya pada Rani.
"Kalau begitu saya pamit dulu pak," ujar Rani yang sudah melangkahkan kakinya mendekati pintu.
"Siapa yang nyuruh kamu keluar. Masih ada tuh barang lain yang harus dipindahin!" tukas Yoan.
"Hahaha... Akhirnya setelah sekian lama. Gue bisa lihat ada orang yang berani sama lo Jo!" ujar Afan mentertawakan Yoan.
"Nama gue Yoan bukan Jo! Arghhh... Lo sama aja ngeselin kek si Rani Kak!" ujar Yoan menghempaskan badannya di kursi kerjanya diikuti oleh Afan yang duduk berhadapan dengan Yoan.
"Nanti lo pindah ke rumah nenek aja! Gue bakal ikutin lo sampai nyampe di tempat nenek," ujar Afan.
"Ceh, gue baru tau kalau ada dokter yang nggak ada kerjaan selain ngurusin orang lain kek lo kak!!" ujar Yoan.
"Suka-suka gue dong. Lagian klinik itu punya gue!" ujar Afan tanpa merasa bersalah.
"Ceh... Harta orang tua aja lo banggain!" ucap Yoan.
Keduanya pun memperdebatkan banyak hal. Mereka memang bersaudara akan tetapi memiliki sifat yang bertolak belakang. Afan si sulung yang lebih banyak dituntut oleh keluarga sebagai penerus membuat lelaki itu mengikuti kehendak orang tuanya, sedangkan Yoan lebih terbiasa melakukan hal-hal sesuai keinginannya dan jauh dari kata-kata barang mewah. Ia lebih suka tampil sederhana.
"Lo nya aja yang bahagia dengan dunia sendiri. Yaudah ayo pulang!" ujar Afan.
Yoan pun bersiap, ia pun berjalan duluan keluar ruangan.
"Aduhh, bener kan. Hidup gue hari ini sial banget!!!" ujar Rani kesal sembari memegangi hidungnya yang sakit karena terbentur dada Yoan.
"Kamu itu anak sekolah, bahasanya di jaga!" ujar Yoan.
"Maaf deh pak. Ini kunci labor, saya permisi pulang dulu!" ujar Rani menyerahkan kunci pada Yoan dan berlari meninggalkan lelaki itu.
Gadis kecil itupun mencari ojol. Ia juga melaksanakan titah El untuk bertanya sebelum naim ke kendaraan itu.
Rani pun kini sudah merebahkan badannya di tempat setia di kala ia senang, sedih, dan kesal tentunya. Rani berputar-putar di atas kasurnya. Ia heran kenapa harus di saat menikmati masa SMP nya ia justru bertemu dengan guru menyebalkan itu.
***
"Rani... Main yuk," ujar ketiga temannya dari luar rumah.
Rani sayup-sayup membuka matanya, Ia pun mencuci wajah dan mengikat asal rambutnya. Gadis itupun pergi keluar rumah. Tak lupa ia mengunci pintu rumah sebelum pergi bersama temannya.
"Eh bentar, ada yang kurang." ujar Rani kembali masuk ke dalam rumah. Gadis itu pun mengunci pintu rumah. Kemudian ia menempelkan kertas nite kecil di sana bertuliskan MA RANI MAIN KE RUMAH IWING. KUNCI RUMAH RANI BAWA, NANTI KALAU UDAH NYAMOE SURU ADEK JEMPUT KUNCI! BYE-BYE MAMAKU SAYANG.
"Ada-ada aja lo Ran." ujar Sari.
"Daripada mereka ngamuk pas nyampe rumah nggak ada orang, Hehe" ujar Rani.
"Ayoklah! Nanti keburu tim mereka yang datang duluan," ujar Iwing.
Mereka pun menuju lapangan di depan rumah Iwing. Lapangan itu masih kosong, berarti lawan mereka belum sampai. Rani pun melihat buah manggis milik Iwing yang sudah masak di atas pohon. Tanpa pikir panjang. Rani pun memanjat pohon itu.
"Ya Allah Ran, lo yah! Baru nyampe juga, udah nengger aja di pohon!" ujar Iwing.
"Lo mau Wing?" tanya Rani memakan buah manggis di atas pohon itu.
"Yang punya siapa, memang temen nggak ada akhlaknya lo!! Kasih gue satu Ran," ujar Wulan.
"Itumah sama aja beg*k!!!" ujar Sari memukuk kepala Wulan.
"Nih jangan pada ribut. Tangkep ya!!!" ujar Rani melemparkan beberapa buah manggis dari atas.
Saat mereka sedang ribut-ribut. Ternyata El dan kawan-kawan sedang melintasi lapangan itu. Mereka tertawa melihat Rani yang terlihat seperti seekor induk ayam memberi makan untuk anak-anaknya. Rani melempari satu per satu buah ke arah teman-temannya. Sedangkan, Sari, Wulan, dan Iwing menangkap lemparan dari Rani.
"Rani...Gue juga mau," ucap Dodo.
"Hah? Yang punya pohon bukan gue bang. Noh si Iwing. Lo minta ke dia bang, kalau diijinin nanti gue kasih!" ujar Rani.
"Ambilin aja deh Ran. Daripada di makan kelelawar buahnya," ujar Iwing.
Rani pun mengangguk, ia melemparkan buah-buah yang sudah matang itu kepada para orang kelaparan di bawah sana.
"Udah dapet semua kan? Gue mau turun nih!" ujar Rani menatap orang-orang di bawahnya. Mata gadis kecil itupun terhenti karena ia menatap El.
Rani tidak sadar bahwa ada El disana. Belum lagi saat ini gadis itu sedang menggunakan celana hawai terbarunya yang baru ia beli dipasar kemarin saat menemani Zia membeli peralatan untuk menginap di rumah Rani.
Ujian apa lagi ini? batin Rani. Gadis itupun bergegas untuk turun, dia juga sesekali menatap El yang masih memberikan sorotan tajam kepadanya.
"Gue mau ajak Rani. Dia hari ini mesti. belajar, bye!" ujar El kemudian menarik tangan Rani. Sebelum itu lelaki itu melemparkan kunci motornya pada Dodo.
Rani hanya bisa pasrah karena ditarik oleh El. Keduanya pun menuju rumah Rani.