
"Hallo gengs... Keke cantik badai comeback!!!" teriak Keke dari luar pagar.
"Berisik amat lu!" delik Zia.
Keduanya pun masuk ke teras rumah Rani. Mereka senyam-senyum melihat Rani dan El yang hanya berduaan di kursi teras.
"Kenapa kalian senyam-senyum?" ujar Rani menatap kedua sahabatnya.
"Lumayanlah ya kita kasih waktu berduaan. Tapi inget nggak boleh kelamaan, nanti ditemani setan!" ujar Keke tertawa kecil.
"Sembarangan aja tuh mulut kalau ngomong! Gue sama bang El cuman duduk doang," ujar Rani.
"Iya meskipun duduk tetap aja bakal ada setan di tengahnya. Contohnya seperti sekarang, pas banget Keke di tengah kalian!" ujar Zia tertawa.
"Maksud lo apaan? Gue setannya gitu?" ujar Keke bersiap memukul sahabatnya itu.
"Gue nggak bilang yaa.. Lo aja sendiri yang ngomong gitu!" ujar Zia tertawa. Gadis itupun berlari ke dalam rumah.
Keke pun segera masuk ke dalam rumah mengejar Zia. Rani hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Maaf ya bang, lo harus lihat keanehan mereka." ujar Rani menatap El yang masih menatap heran melihat kedua sahabat Rani.
"Udah biasa, lo juga sama kek mereka. Tapi lo masih tahap awal, Haha." ujar El.
Rani pun mencubit keras lengan lelaki itu, "Sono lu balik pulang!" usir Rani.
"Ceh!!! Gue mah apa atuh, habis manis sepah dibuang," ujar El mencebikkan bibirnya.
"Memang! Sana balik, nanti lo dicariin bunda lo. Dasar anak bunda!" ejek Rani.
"Biarin! Ya udah gue balik pulang. Hati-hati di rumah, berdoa aja agar si psikopat nggak bisa masuk ke rumah ini!" ucap El memasang tampang takut.
"Si*lan lo bang! Masih sempat aja nakutin gue!" ucap Rani menendang kaki El.
"Wah keseringan KDRT lu sama gue Ran!" ujar El menarik kuping Rani.
"Sakit... sakit... sakit, lepasin!!! Awas lu bang, gue aduin ke emak kalau lo berani ngejewer kuping gue!" ujar Rani berusaha melepaskan kupingnya yang di tarik oleh El.
"Aduin aja! Lagian tadi mama sendiri yang bilang. Kalau lo bandel gue boleh jewer tuh kuping!" ucap El.
"Huhhh...Gini amat punya emak durhaka!" ujar Rani pasrah.
"Ehem... Baiklah pemirsa, dikarenakan sebentar lagi magrib. Mari kita menuju mesjid!" ujar Zia diikuti oleh Keke yang saat ini berdiri di pintu rumah Rani.
"Ayok Ran, bang El lo juga!" ujar Keke.
Mereka pun menuju mesjid, kemudian melaksanakan shalat magrib berjamaah. Setelah itu, mereka pun kembali ke rumah Rani, dan El sudah kembali ke rumahnya.
***
Malam harinya, ketiga gadis itu sudah memastikan seluruh ruangan tertutup dan terkunci. Setelah memastikan semuanya aman, mereka pun menuju kamar Rani. Tak lupa mengunci pintu kamar itu.
"Pssst... Kalian denger nggak suara orang ketawa?" tanya Rani.
"Iya Ran...Mana tuh suara gede amat nggak berhenti dari tadi," ujar Zia.
"Itu suara cowok! Haduh...Gimana ini???" ujar Keke cemas.
"Huss... Jangan berisik dulu! Kita denger lagi, itu suara apaan!" ujar Rani.
Ketiganya pun menempelkan telinganya ke dinding. Memastikan suara tawa yang mereka dengar. Ternyata, itu hanyalah suara ustad mesjid yang sedang berbicara. Dari nada bicaranya, sepertinya ia sedang melakukan sambungan telfon dengan seseorang.
"Anna uhibbu fillah Adinda, aa juga kerja kan demi kita berdua," ujar ustad.
"......." jawaban dari telfon tak terdengar.
"Hahaha...Nggak mungkinlah aa selingkuh disini. Di hati aa cuman ada kamu seorang!" ujar ustad itu lagi.
"Huekk...Perut gue jadi mules denger tuh ustad ngomong! Dia ustad yang ganjen itu kan Ran?" tanya Keke.
Rani pun mengangguki, ia pun tertawa mendengar gombalan receh sang ustad untuk istrinya itu. Ia sangat tahu bagaimana sang ustad apabila bertemu gadis yang bening. Mata ustad itu akan langsung seperti disoroti senter! Berkedip-kedip kadang yang sebelah kanan, kadang sebelah kiri.
"Huhh...Udahlah, biarin aja. Lagian nggak baik juga nguping pembicaraan orang lain!" ujar Rani merebahkan badannya ke atas kasur. Gadis itupun memakai selimutnya hingga menutupi kepala.
"Ahh lo nggak asik nih Ran. Siapa tau kita bisa ngerjain tuh si ustad genit!" ujar Keke.
"Gue ada ide Ke!" ujar Zia.
Rani hanya membuka selimut yang menutupi kepalanya dan melihat apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya. Ternyata keduanya dengan sengaja mengetok-ngetok kaca jendela Rani.
"Bentar Nda... Kok aa denger bunyi jendela diketok-ketok yah!" ujar ustad.
"Jiah...penakut juga dia Zi, Hehe. Ayo kita lanjut!!!" ucap Keke senang.
"Hihihihihi.... hihihihi... hihihihi," Keke memutar suara kunti di handphonenya.
"Dinda, kok perasaan aa nggak enak yah. Mana ada suara si kunti lagi!" ujar sang ustad.
"Bukan Adinda, orang sebelah tadi pagi udah pergi pulang kampung semua. Jadi itu rumah sedang kosong," ujar ustad
"Buahahaha...Dia nggak tau ada kita disini," ujar Keke tertawa.
"Kalian berdua! Gue nggak mau ya nanggung akibat dari perbuatan kalian! Buruan tidur! Besok ke sekolah!" omel Rani.
"Jangan lupa setel alarm!!! Gue nggak mau repot bangunin kalian yang tidurnya ngebo!" ujar Rani. Kedua sahabatnya pun menuruti perkataan Rani.
Ketiga gadis itu pun tidur dengan lelap.
***
"Zi...Bangun Zi! Udah jam 6 ini..." teriak Rani di telinga Zia.
"Bentar lagi Ran... 15 menit deh," ujar Zia menarik lagi selimutnya menutupi kepala.
"Kalau gitu gue sama Rani duluan yah! Awas lo nangis kita tinggal," ujar Keke.
Mendengar ancaman dari Keke pun memaksa Zia agar bangun dan segera bersiap. Ketiga gadis itupun sudah mengenakan seragam sekolah mereka.
"Kita makan roti aja yah! Kalian kan tau gue nggak bisa masak selain masak air!" ujar Rani.
"Masak air aja lo terus kek bang opi kumis!" delik Keke.
"Udah makan aja. Nggak usah pake ribut! Oh iya Ran, gue sama Keke kan naik motor. Lo berangkatnya pakai apa dong?" tanya Zia.
"Wah...Nggak setia kawan banget yah kalian. Lagian tuh umur belum bisa berkendara! Kita naik ojol barengan aja deh yaa..." ujar Rani.
"No, sekali-kali bandel nggak apa-apa. Lagian gue males naik ojol pagi-pagi. Nggak ada yang ganteng. Mereka ada tuimg semua," ujar Keke.
"Ya Allah ampunilah pikiran jones sahabat hamba ini," ujar Zia.
"Huhhh.. Iya deh gue sendirian naik ojol," ujar Rani kesal.
Kedua sahabatnya hanya tertawa melihat tingkah Rani. Diam-diam Keke sudah mengirimi pesan pada El untuk menjemput Rani.
El datang dengan senyuman lebar di wajahnya. Karena hari ini adalah perdana ia bisa mengantarkan Rani ke sekolah, tanpa adanya kecemasan akan di gorok oleh Nugraha, karena telah berani menculik anaknya di pagi hari.
Sebelum berangkat memang banyak perdebatan antara Rani dengan ketiga manusia itu. Rani yang kekeh untuk naik ojol meskipun sang ojol tak kunjung datang, sementara kedua sahabat Rani mensupport El agar bisa mengajak Rani berangkat bersama.
Usaha yang dilakukan oleh ketiganya tidak sia-sia. Karena sekarang, sang gadis kecil sudah berada di jok sepeda motor gede El.
"Aihh.. Belum sampai di sekolahan tulang punggung gue udah lordosis!" Keluh Rani. Karena saat ini ia harus duduk menyamping di motor El. Ia tidak bisa duduk belah karena itu akan membuat rok sekolah yang ia gunakan kusut.
"Pegangan makanya! Sebelum tulang itu patah karena bertubrukkan dengan aspal," ucap El.
"Dih.. Itumah maunya elo!" dengus Rani.
El yang ingin mengerjai Rani pun dengan sengaja menggas motornya. Alhasil tangan munyil gadis kecilnya itu telah melingkar di pinggang El.
Rani yang melihat senyum di wajah El karena berhasil mengerjai dirinya pun mencubit pinggang lelaki itu.
"Aduhh Ran... Cubitan lo itu kek cubitan setan tau nggak!" ujar El memgadub kesakitan. Ia pun memelankan laju motornya.
"Siapa suruh lo modus aja kerjaannya! Ayok buruan, kalau jalannya kek kura-kura gini keburu gerbang sekolah tutup!!!" omel Rani.
"Oke kalau mau ngebut. Kalau lo nggak pegangan yang kuat berarti bukan salah gue yah saat lo jatuh!" ujar El.
"Iya..." jawab Rani santai.
El pun menambah kecepatan motornya menjadi sangat cepat. Motor besar itu membelah jalan Raya yang kebetulan sepi. Rani hanya bisa merapalkan segala doa di dalam hatinya karena ia sebelumnya belum pernah mengalami situasi seperti saat ini.
"Heh, lo mau ikut ke sekolah gue?" tegur El memutar kepalanya menghadap Rani, ternyata gadis kecilnya itu masih memejamkan matanya dan tangan gadis itu memegang erat pinggangnya, bahkan baju sekolah El juga diremas oleh Rani sampai kusut.
Rani yang mendapatkan teguran itu membuka matanya, ia memberikan tatapan tajam pada El. Tidak hanya itu, Rani juga memukul keras kepala El yang menggunakan helm.
"Untung gue selamet! Kalau gue belum mati sebelum nemu jodoh, gue bakal hantuin lo terus bang!" delik Rani. Gadis itupun turun dari motor El.
"Salah lagi gue. Tadi dia yang minta cepet!" ujar El pelan.
"Tapi nggak sekenceng itu juga keles! Udahlah, sana lo berangkat! Jangan ngebut lagi!" ujar Rani menyerahkan helm pada El.
"Sipp... Eh bentar Ran," ujar El.
"Apa lagi es batu!!!" ujar Rani kesal.
"Ini ketinggalan," ujar El mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya kemudian mengeluarkan tautau jari membentuk hati ala oppa-oppa Korea.
"Kehabisan obat nih orang!" ujar Rani kesal, padahal kedua pipinya sudah merah seperti habis kena air rebusan.
"Acieee.... so sweet amat sihh pasutri!" ejek Keke.
"Heh!!! Tuh mulut! Jangan sampai orang mikir yang lo omongin itu fakta!" tukas Zia.
Rani pun mendelik tajam ada sahabatnya. Ia pun menatap tajam pada El. Lelaki itupun paham dan pergi dengan senyum lebar di wajahnya.