Before I Found You

Before I Found You
BIFY 109



"Wahhh...seger banget daerah disini." ujar Abil merentangkan tangannya.


"Heem. Lihat tuh air sungai masih jernih banget!" ujar Kia menatap takjup.


Saat ini mereka baru saja melepas penat karena para lelaki harus menurunkan peralatan *** yang ada di bus. Sementara yang wanita hanya membawa keperluan mereka masing-masing.


Rani tersenyum puas melihat tempat perkemahan tersebut. Ia seperti mendapatkan banyak pasokan oksigen dibandingkan ketika berada di Kota Batus. Rani memejamkan matanya dan menghirup udara lebih dalam.


"Woi Ran! Bantuin gue dong bawa ini," ujar Zikri.


Kalau di tanya kenapa Zikri bisa berada di sana. Karena El KW itu adalah kakak-kakak pembina pramuka mereka. Selama ini sekolah memang mengandalkan para alumni untuk mensupport kegiatan yang ada di sekolah.


"Kita kenal?" begitulah delik Rani karena kegiatan menghirup banyak pasokan oksigennya diganggu oleh El KW tersebut.


"Gue aduin bang El lo! Bantuin buruan," ketus Zikri yang memang kesusahan membawa pancang untuk membangun tenda nanti.


"Emang anda pikir saya peduli? Tidak kawan..." ujar Rani dan melangkahkan kakinya meninggalkan Zikri yang memang kesusahan membawa pancang-pancang tersebut.


"Ya Allah. Kenapa umatmu banyak yang kufur nikmat dan enggan membantu sesama?" ucap Zikri dengan meninggikan volume suaranya agar terdengar oleh Rani.


"Haisss..... Dasar manusia nyebelin! Pakai bawa-bawa nama Allah segala! Sinilah gue bantuin," ucap Rani ketus dan merebut pancang-pancang paling atas.


Zikri pun tersenyum tipis melihat tingkah Rani yang kesal namun tetap membantunya. Bodolah, yang penting gue kaga mesti bolak-balik dari bus ke lapangan, batin Zikri.


"Tarok dimana nih?" ucap Rani dengan judes.


"Kalau bantu orang lain itu harus ikhlas Maharanisya. Lo mah, kaga ada hormat-hormatnya sama ketos!" umpat Zikri.


"Bodo amat. Kagak ada urusannya sama gue! Satu lagi yang perlu lo inget. Mantan ketos, bukan ketos lagi," ujar Rani.


Rani pun menatap lapangan yang akan menjadi tempat berdirinya tenda-tenda untuk mereka beristirahat tiga hari ke depan. Rani memicingkan matanya saat melihat banyak anggota pramuka yang justru bertok-tok ria di sana. Bukannya membantu ketua mereka yang kesusahan, para manusia yang dianggap teladan di sekolah itu malah menikmati kesenangan mereka sendiri.


"Dasar Maketos gobl*k!!! Tuh anak buah lo banyak! Ngapain kaga suruh mereka aja?" ujar Rani mendelik tajam pada Zikri.


"Mereka cape. Mabuk darat juga katanya," ujar Zikri dan meletakkan pancang-pancang tersebut di tanah.


"Cih!!! Mau aja si lo kak dibohongi manusia. Lihat nih ya, malaikat maut versi manusia bertindak." ujar Rani.


Rani mendekati rombongan pembina pramuka yang sok kece itu dan dengan sengaja menjatuhkan kayu-kayu pancang itu di dekat mereka semua.


"Hello mr. and mrs. korban toktok! Kalian disuruh sama Pak Deni untuk mengambil perlengkapan di bus. Katanya wajib kalau engga nanti sertifikat kalian ditangguhkan." ujar Rani dengan wajah serius.


"Lo ngga bohong kan?" ujar salah satu senior itu.


"Buat apa aku bohong kak. Aku masih sayang nyawa, ngga berani aku bilang apa yang ngga dibilang pak Dani. Kakak-kakak kan tau gimana killernya si bapak," ujar Rani dengan tampang polos.


Ckk!!! Dasar cewek ajaib. Dengan ucapan dan tatapan yang sok baik itu membuat orang lain percaya, batin Zikri dan menggelengkan kepala.


Para kakak pembina itupun menuju bus sekolah yang lumayan jauh dari lapangan tempat mereka akan mendirikan tenda. Melihat


"Hehe, dosa deh gue karena udah bohong. Tapi lebih dosa lagi kalau ngga menghentikan wanita yang jogat-joget kek uler terus di upload," ujar Rani tertawa kecil dan menatap Zikri. Rani mengacungkan kedua jempolnya pada El KW tersebut.


Takut ketahuan atas kebohongannya Rani memilih untuk menghampiri para sahabatnya yang tadi berada di sekitaran pentas lapangan. Mereka dikumpulkam di sana karena akan mendapatkan pembekalan tentang cara mendirikan tenda dan apa saya simpul tali yang harus mereka gunakan.


Tenda laki-laki berada di sayap kiri lapangan sementara tenda perempuan berada di sayap kanan lapangan. di tengah lapangan tersebut sudah dibatasi dengan bentangan tali berwarna merah. Artinya tidak ada yang boleh menyeberangi zona merah tersebut kecuali karena adanya urusan mendesak.


***


Sore harinya seluruh tenda telah berdiri dengan kokoh. Para siswa sudah menyusun barang-barang mereka di dalam tenda kelompok. Satu kelompok terdiri atas 7 orang siswa, anak kelas Rani memang sengaja membuat tenda mereka berdekatan karena mereka memang terkenal sebagai kelas terkompak di antara kelas tiga di SMAN 1 Batus.


Hari pertama ini mereka belum ada kegiatan. Oleh karena itu, para siswa bebas mau melakukan apa saja.


"Ran, kita mandi yuk?" tanya Abil.


"Okey, wait! Gue ambil peralatan dulu," ujar Rani.


"Eh bentar guys. Kita mandinya di mana ya?" tanya Kia.


"Itu kan ada mushola. Barangkali para siswa secara bergantian mandi di sana." ujar Abil.


Rani dan Kia pun mengangguk karena bisa jadi yang dikatakan oleh Abil benar. Ketiga gadis itupun pergi ke mushola yang berseberangan dengan lapangan tempat mereka berkemah. Saat sampai di mushola itu mereka pusing mencari di mana kamar mandi mushola itu. Jangankan kamar mandi, kran air untuk berwudhu pun tidak ada.


"Ini mushola baru kali ya?" tanya Kia.


Rani dan Abil mengedikkan bahu mereka karena tidak tau apa-apa. Mereka pun bertemu dengan ibu-ibu yang kelihatan baru saja selesai mandi.


"Ehh...Para cah ayu mau apa?" tanya salah seorang ibu yang menggendong anaknya.


"Kami mau mandi bu, tapi tidak ada kamar mandi di mushola ini," ujar Rani sopan dan menyalami para ibu-ibu tersebut.


"Hoalah. Disini memang ngga ada kamar mandinya dek. Masyarakat sini memanfaatkan sungai untuk segalanya," ujar salah seorang ibu lagi.


"Hah???" ujar mereka bertiga serempak.


"Astagfirullah...Maaf ibu, kami tidak sopan. Kami hanya kaget mendengar penjelasan dari ibu-ibu sekalian. Kalau boleh tau, wanita disini mandi di bagian mana bu?" tanya Abil.


"Hahaha, wajar kalau kalian para gadis kota kaget. Kami bisa memaklumi dan semoga kalian semua betah disini. Untuk mendi kalian bisa turun ke bawah mengikuti jenjang ini. Nanti akan ada bagian khusus sungai wanita yang telah ditutupi oleh terpal." ujar ibu tersebut.


"Baik ibu, terima kasih ibu." ujar Rani.


Para ibu-ibu itupun meninggalkan mereka. Saat di rasa para ibu itu telah menjauh. Rani dan kedua temannya menghela nafas panjang.