Before I Found You

Before I Found You
BIFY 113



Masih dengan suasana kemah bakti siswa itu. Siapa sangka hari yang tadinya cerah menjadi mendung, para siswa di minta untuk kembali segera lokasi kemah. Akan tetapi belum jadi mereka sampai, guyuran air dari langit sudah membasahi badan mereka. Para siswa pun ngacir mencari tempat untuk berteduh.


"Kesini aja yang!" ujar El menarik lengan baju Rani ke salah satu rumah penduduk yang memiliki teras di depannya.


Rani pun mengikut saja, dia juga tak mau lagi bajunya tercetak oleh air hujan. Beberapa siswa pun juga mengikuti El dan Rani untuk berteduh di sana.


"Siap-siapin mental kalian yah buat lihat adegan romantis lagi," ujar Kia memperingati beberapa siswa yang juga berada di sana.


Mereka semua pun kompak menoleh ke arah Rani dan El. Disana terlihat jelas bahwa El mengelap wajah Rani yang basah menggunakan ujung jilbab Rani.


"Udah biarin aja sii bang," tukas Rani menghentikan tangan El.


"Abang ngga rela pokoknya sama tuh air hujan!" tukas El dengan wajah datarnya.


Rani melongo mendengar ucapan El. "Emangnya kenapa Abang kaga rela?" tanya Rani.


"Ya ngga rela lah! Abang itu cemburu. Masak dia enak-enakan nemplok di pipi kamu, itu kan milik Abang kalau udah sah nantik!" ujar El dan mengedipkan sebelah matanya pada Rani.


"OMG Abil......Gue kagak kuat," rengek Kia menggoyang-goyangkan bahu Abil yang juga masih terfokus pada sepasang kekasih di hadapannya.


"Abang gila ya? Cemburu kok sama air hujan!" tukas Rani kesal dan mengerucutkan bibirnya.


"Iya Abang emang gila. Gila akan cintamu," ujar El memasang senyum terlebarnya dan mengedip-ngedipkan matanya pada Rani.


Rani menepuk keningnya karena ulah El. Bagaimana lelaki di hadapannya bisa menjadi seperti ini. Apakah air hujan bisa mengurangi kadar kewarasan seseorang? Sehingga si es batu yang bertahun lamanya ia kenal berubah menjadi lelaki receh dan tidak waras seperti ini.


"Lanjut terus bang, Pepet terus..." sorak para siswa lelaki yang tadinya menjadi panitia dan diangguki oleh El.


"Ran, coba tatap mata Abang." tukas El mengarahkan wajah Rani ke dirinya.


"Apaan?" tukas Rani.


"Abang takut Ran," ujar El dengan wajah serius.


Rani mengernyitkan alisnya. Ia bingung apa yang bisa membuat seorang Immanuel takut.


"Takut kenapa?" tanya Rani.


"Takut nggak tahan lagi buat jadiin kamu yang nomor dua," ujar El mengangguk dan menahan tawanya karena mendapat pelototan dari mata Rani.


"Ogah jadi yang kedua!" tukas Rani kesal dengan El.


"Jadi yang nomor dua di kartu keluarga kita nanti sayang," ujar El dan melepaskan tawanya.


Rani tersipu malu mendengar rayuan yang kembali di lontarkan oleh El. Ia pun menepis tangan El dari pipinya.


"Apaan sih. Abang belajar ngereceh di mana?" ujar Rani kesal.


"Ini bukan sekedar receh Ran. Tapi udah jadi uang ribuan. Karena I love you 3000," imbuh El lagi.


"Piwitttttt.....War binasah. Terima kasih atas hiburannya bang, biasa tuh di jadiin referensi." ujar Bian salah satu panitia.


"Referensi apaan?" tanya Abil pada lelaki yang tak ia kenal itu.


"Referensi buat deketin kamu lah," ujar Bian mengedipkan sebelah matanya pada Abil dan menarik kerah bajunya.


"Ogah!!! Kaga mau gue....amit-amit Ya Allah," ujar Abil bergedik ngeri.


Para siswa lain pun tertawa melihat reaksi Abil yang ogah-ogahan menerima gombalan panitia itu.


El bahagia karena ternyata gadis kecilnya berada di lingkungan pertemanan yang sehat. Tidak ada keirian dan kedengkian yang tertanam dalam hati para remaja awal itu.


"Balas dong Ran...Kaga serulah, masak Lo kalah sama si babang!" Hasut Kia dan diiyakan oleh beberapa teman Rani yang lain.


Rani yang ingin menghibur suasana karena hujan masih deras untuk mereka kembali ke perkemahan. Gadis itu berpikir keras apa yang bisa ia jadikan gombalan.


"Abang tau ngga persamaan jantung aku sama jantung pisang?" tanya Rani menatap El.


"Bedalah Ran. Mana bisa disamain!" ujar El keheranan.


"Sama-sama kosong. Tapi sekarang jantung aku udah terisi sama nama Abang," tukas Rani dan tersenyum bahagia. Ia juga tak sadar kenapa bisa ucapan gila itu keluar dari mulutnya.


Para siswa lainnya menyoraki siswa yang berkata tersebut. Entah sejak kapan mereka sudah duduk lesehan di hadapan Rani dan El layaknya anak TK yang sedang memperhatikan gurunya di depan.


"Aaaa.....Sweet banget sih Ran. Coba sekali lagi," tukas El yang bahagia mendengar ucapan Rani dan ingin mendengar recehan lain dari gadis kecilnya itu.


"Udah itu aja," ujar Rani yang sudah malu ia tidak ingin tampak bucin di hadapan banyak orang. Padahal aslinya memang dirinya sudah bucin akut kepada lelaki yang sudah bertahun mengisi hatinya itu.


"Satu lagi deh Ran...Kasihan tuh liat wajah bang El yang udah kek baju kusut," tukas Abil.


"Haaa....Iya deh iya....Abang simak aku ngitung dari 1 sampai 10 yah! 1 3 4 5 6 7 8 9 10, angka berapa yang ngga ada?" tanya Rani.


"Angka 2-nya." jawab El.


"Nah, sama tuh kayak cintaku ke Abang." ujar Rani menggantung dan menunggu respon El.


"Maksudnya?" tanya El heran.


"Cintaku ke Abang itu tiada duanya. Cuman Abang dan selalu Abang, Hehehehe," ujar Rani menampilkan deretan gigi putihnya.


El langsung memegang dadanya yang rasanya mengalami serangan jantung mendadak. Bukan hanya itu lelaki itu juga merasakan perutnya seakan sedang bermain rollercoaster penuh dan membahagiakan hati.


Semua orang ikut tertawa karena gombalan dua sejoli itu. Mereka tak sadar bahwa hujan sudah teduh kembali, akan tetapi rasanya masih ingin menyaksikan pertunjukan yang disuguhi oleh pasangan serasi tersebut.


Mereka pun kembali ke lokasi kemah dan memasuki tenda masing-masing untuk berganti pakaian dan beberes. Rani masih saja merasakan hawa senang di hatinya karena gombalan yang diberikan oleh El tadi. Ia memukul pelan kepalanya karena bisa-bisanya sekarang dialah yang menjadi kurang waras.


"Ahh....Udahlah, sesama orang nggak waras kan cocok." ujar Rani menyemangati dirinya sendiri.


Rani berlalu begitu saja keluar tenda dan berjalan menuju mesjid. Ia tidak melihat bagaimana ekspresi teman-temannya yang berada di tenda ketika mendengar ucapan Rani barusan.


"Temen lo nggak waras Bil?" tanya Windi.


"Enggaklah. Sembarangan aja lo!" tukas Abil memolototi Windi.


Abil pun berteriak memanggil Rani yang berada jauh di depannya. Ia tidak ingin sahabatnya itu dikira tidak waras oleh orang lain karena senyam-senyum sedari kejadian di teras rumah orang tadi.


.


.


.


.


AL (Author labil):


Haii semuaaaaa.......Author kangenn.....


PR (perwakilan readers):


Gue kagak kangen. Up nya lama, lupa alur ceritanya!


PA (Pembela author):


Jangan cuman pada komplain lupa alur ceritanya lagi yah! Tinggal Lo ulang baca part sebelumnya kalau niat.


AL :


Maafkan author yaa readers. Sebenarnya author juga kagak mau lama-lama update dan PHP in para readers sekalian...Akan tetapi karena kegiatan author yang belum bisa membagi waktu antara nulis dan yang lain.


PR :


Kaga mau gue maafin. Mending pindah ke novel lain yang lebih seru, rajin up.


AL:


Hiks..Jangan gitu amat dong ders...Akutuh sedih tau. Boro-boro dikasih vote, mencet ikon jempol aja kalian sering khilafnya.


PA :


Kalau kalian pindah. Sungguh tega ninggalin author yang baru mengembangkan sayapnya. Kalau ngga mau kasih hadiah nggak apa-apa. Tapi seenggaknya like kalian tinggalin, supaya hati author semangat nulis lagi. Dah itu aja dari gue. Barangkali ada yang sepemikiran.