
Matahari tersenyum hangat mewarnai setiap insan pada hari libur kali ini. Akan tetapi, tidak bagi Rani yang sedang kedatangan tamu bulanannya, membuat dirinya hanya ingin bermalas-malasan, dengan mengerjakan yang utama saja dan yang sunnah ditinggalkan.
“Hari ini gue males jalan mbek, des. Kalian dikandang aja yah,” ujar Rani pada kambing-kambing kesayangannya sembari meletakkan rerumputan untuk makananan kambingnya tersebut. Kemudian ia beralih untuk menyirami kebunnya, menyiram seluruh tanaman tanpa menyiangi mereka seperti biasanya.
“Sekarang ngapain yah? idupin tipi aja kali.” Rani merebahkan badannya di kasur santai dan menghidupkan tv tersebut.
Seharusnya kamu liat aku bukan dia mas, aku ini juga istri sah kamu...
“Tetep aja dari pagi ampek malam, disini siarannya suami selingkuh semua! Mungkin memang nggak ada lelaki yang baik, selain lelaki di keluarga gue,” Rani yang kesal dengan tayangan yang ada di indotersier tersebut mengganti channel lain di televisinya.
Baiklah sekarang giliranku mengeluarkan ilmu ku yang tak terkalahkan, rasakan ini Kran Santan!!!
“Tontonan apaan lagi nih, mana ada manusia bisa ngeluarin asap warna-warna di tangannya, dikira tangan orang kenalpot motor kali ya bisa ngeluarin asap.”
Rani kembali geleng-geleng kepala melihat tayangan yang ada di mctn tersebut. Ia kembali menekan-nekan remot tv nya dan melihat setiap channel tv Indonesia tersebut.
Malam ini... tak seindah malam kemarin
Saat kau bersamaku
Malam ini... tak seperti malam kemarin
Huo huo...
Begitulah ya kira-kira lagunya si d’bagindas
Rani yang menyaksikan channel tersebut mengeluh lagi,
“Ahh, udahlah. Memang nggak guna dari tadi gue ngidupin tipi, siarannya terlalu mendidik semua. Suami selingkuh pasti diazab, orang jahat bakal kalah, cinta tulus pasti menang. Nggak ada cocok-cocoknya buat anak-anak kayak gue. Mungkin tv ini cuman cocok buat emak-emak di Indonesia aja,”
Rani melemparkan remot tv tersebut dan membaringkan badannya di kasur santai yang ada di depan tv, dan menatap ke langit-langit rumah.
Tiba-tiba sebuah bantal terbang ke arahnya, “Ngomel aja lo kak. Tu mulut pakai dimanyu-manyunin segala kayak ikan lohan.” ujar Habil melempar kakaknya yang sedang rebahan tersebut.
“Gimana ga ngomel-ngomel gue dek, lo liat tu isi tipi nggak ada yang cocok buat anak manis kayak gue. Isinya kehidupan emak-emak semua.” Rani membalikkan badannya menghadap adiknya yang ikut duduk disampingnya sembari membawa laptop.
“Udah tau nggak guna nonton, masih aja lo idupin tuh tv. Nih gue ada film anime baru, cocoklah buat otak anak-anak kayak lo,” ujar Habil membuka file film di laptopnya dan ikut berbaring di sebelah kakaknya.
Plakk
“Nah gitu dong, memang adek-adek gue yang terbaik. Kalau udah gede jangan sampe lo di azab kayak cowok-cowok di tv yah,” ucap Rani sembari menepuk keras bahu adiknya itu.
“Gini nih kalau kacang udah lupa tanahnya, gue udah baek lo masih aja ngedoain adek lo yang ganteng plus-plus ini dengan doa yang jelek,” Habil menyentil kening kakaknya.
“Hehe, lupa kalau ucapan adalah doa. Maap dah,” Rani menunjukkan tanda “piss” di tangannya.
Mereka pun melanjutkan nontonnya.
“Hiks, sapa nih yang ngupas bawang merah? kok sedih amat ceritanya dek? Kalau udah tau nggak bisa bersatu kenapa harus ditemukan lewat mimpi?” Rani mengusap air matanya karena melihat film anime yang ia tonton tersebut.
“Memang lo yang dasarnya baperan kak gini aja mewek. Gue sendiri biasa-biasa aja nontonnya,” ucap Habil yang melihat ke arah kakak perempuannya itu.
“Itumah memang lo yang dasarnya nggak punya hati dek, dingin kayak es,” saut Rani pada adiknya.
“Udah ah, gue mau lanjut nonton film kedua, kalau lo mewek lagi sono jauh-jauh,” Habil memutar bola mata melihat tingkah kakaknya ini.
“Hmm,” Habil pun kembali memutar film keduanya. Mereka pun lanjut menonton. Tiba-tiba pintu rumah terbuka diringi suara anak kecil laki-laki.
“Kak Raniiiiiiiiii............Ino Rinduuuu,” ujar anak kecil tersebut sambil menduduki punggung Rani yang sedang telungkup tersebut.
“Aduh Inooooo, berat nih. Turun dulu! Tulang kakak bisa patah semua kalau kamu loncat-loncat gitu,” ujar Rani melepaskan tangan munyil yang mengapit lehernya. Mendengar kakaknya kesakitan lelaki kecil ini pun turun dari badan Rani.
“Hahaha....udah tua banget lo ya kak, sampai tulang lo bisa patah membopoh badan sekecil Dino.” Habil mentertawakan kakaknya yang masih mengelus punggungnya yang nyeri karena hantaman dari bison barusan.
Rani dan Habil pun melirik dua orang yang mengikuti Dino ke dalam rumah. “Rumah kok sepi bener Ran, papa sama mama kamu kemana?” ujar seorang lelaki berbadan besar dengan perawakan india plus arab.
“Mama ke pasar om, kalau papa dinas.” Habil dan Rani pun menghampiri om dan tantenya yang baru saja meletakkan beberapa oleh-oleh di meja tamu. Kedua anak ini pun menyalami om dan tantenya bergantian.
“Si bungsu ganteng mana?” ujar sang tante.
“Maklum tan, kalau siang kelelawar pada tidur,” ujar Habil yang membuat kerutan kecil di dahi om dan tantenya. Rani pun menyikut adiknya yang bar-bar ini.
“Hmm...maksud Habil si Ihsyan lagi tidur tante,” Rani menjelaskan ulang pada tante cantiknya itu.
“Loh kok si ganteng masih tidur kan sekarang hari libur? Bukannya menghabiskan waktu untuk bermain, memang anak yang baik,” ujar sang tante yang memang sangat menyayangi ponakan bungsunya itu.
“Iya tan, kelewatan baiknya sampai begadang buat ngegame karena tau sekarang libur,” tutur Rani yang sukses membuat cengo tantenya yang terlalu memanjakan adik bungsunya ini. Habil dan om Putra pun tertawa ngakak melihat wajah tak percaya tante dan istrinya itu.
“Udah sih mah biarin aja, namanya juga ABG” ujar om Putra merangkul tante Pipi dan menggendong anak lelakinya untuk duduk di kursi tamu.
“Om sama tante mau minum apa?” tanya Rani.
“Om maunya jus jeruk Ran,” om Putra merengangkan otot-ototnya karena lelah membawa motor maticnya selama dua jam untuk menuju rumah Rani. Om putra tinggal di Kota P.
“Kalau tante teh lemon yah Ran,” ucap sang tante sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan jaket Dino.
“Oh baik om, kalau begitu Rani ambilin air putih aja,” Rani tertawa melihat ekspresi om dan tentenya tersebut, dan berlari kecil menuju dapur untuk mengambilkan air putih untuk kedua orang yang ia sayang tersebut.
“Kalau cuman ada air putih, ngapain pula nih anak pake sok-sok an nanya pula. Memang yah bil, sifat jail kakak kamu itu nggak ilang-ilang,” ujar Putra pada ponakan laki-lakinya yang masih mantengin film anime di laptopnnya tersebut. Dan dibalas deheman dan anggukan oleh Habil.
Rani pun kembali ke ruang tamu dengan membawakan nampan yang berisikan cerek dan tiga gelas yang sudah ada batu es di dalamnya.
“Tau aja nih ponakanku yang cantik kalau omnya butuh yang seger-seger. Kira-kira kapan papa sama mamamu pulang Ran?” tanya si om pada ponakan cantiknya itu.
“Kalau mama palingan bentar lagi om, kalau papa nanti sian,” jawab Rani pada omnya.
“Om, Tante ama Dino tidur aja dulu dikamar Rani, nanti kalau mama udah pulang Rani bangunin.” ucap Rani membuka bingkisan oleh-oleh yang dibawa oleh om dan tantenya tersebut.
“Memang nih keripik dari dulu sampai sekarang tetap aja rasanya sama,” ujar Rani mengunyah keripik tersebut.
“Nih anak gadis, makannya pelan-pelan dong,” Pipi heran dengan ponakannya ini yang masih saja tomboy. Rani pun menyengir ketika tatapan membunuh dilayangkan oleh tantenya itu.
“Itu lagi, kenapa juga kamu masih makai celana hawai kayak Habil? Kamu tu udah gede Raniii... Berapa kali om bilang. Mau kalau semua celana hawai kamu om bakar?” pelototan pu dilayangkan oleh Putra kepada ponakannya.
“Hehehe, ampun om tante, Rani juga makainya kalau di dalam rumah kok. Sayang juga kalau dibakar ini celananya. Daripada di bakar mending disumbangin kan,” ujar Rani dengan menaik turunkan alis matanya.
“Ada aja alasanmu Ran,” ujar tante Pipi pada ponakannya dan menggendong Dino yang terlelap ke kamar Rani.