
“Wah, akhirnya sang bidadari masuk ke sekolah,” ujar Keke.
“Lo kemana aja sih Ran, kok baru masuk? Udah dua hari lagi,” tanya Zia kepada sahabatnya yang sudah dua hari tidak masuk sekolah.
“Hari pertama gue pergi ngurut nih kaki. Hari kedua tamu bulanan gue datang,” jawab Rani lesu.
“Emangnya kaki lo kenapa Ran? Sampai harus diurut?” tanya Zia.
“Gue abis nyungsep ke selokan pas mintak sumbangan,” tukas Rani kesal yang kembali mengingat kejadian tiga hari yang lalu.
“Ahahaha, ngapain lo sampai bisa masuk selokan sih Ran,” ujar Keke mentertawakan sahabatnya.
“Semua ini gara-gara si Om es ituh........”Rani menceritakan panjang lebar kepada teman-temannya.
“Hahaha, gue ngakak. Tapi kasian sama lo,” ujar Zia menepuk-nepuk pundak Rani.
“Trus gimana pas lo pulang? Pasti si mamah marahin lo kan?” ujar Keke.
Flashback on
“Rani, biar gue anterin ke rumah lo.” Ujar El.
“Nggak usah! Udah ada Iwing. Nih sendal lo, mana sendal gue?” jawab Rani masih dengan nada ketus.
“Gue balikin pas udah nyampe rumah lo,” ujar El tidak peduli dengan amarah Rani dan berjalan duluan menuju rumah Rani.
“Arggghh sialan!!!Kenapa sih tuh cowok bikin gue kesel mulu Wing,” ucap Rani mencubit keras punggung tangan Iwing.
“Ya Allah Ran, sakit inih....Lo marahnya ke dia, kenapa ke gue imbasnya?” ujar Iwing mengelus punggung tangannya yang memerah akibat cubitan Rani.
“Hehe, maaf kebawa emosi,” cengir Rani membuat Iwing memutar bola matanya.
Saat sampai di depan rumah Rani, “Udah sampai inih. Balikin sendal gue!” titah Rani kepada El.
“Assalamualaikum,,” uajr El seperti biasa ketika mereka meminta sumbangan.
“Wah wah, lo mau apalagi sih bang?? Ntar yang ada gue kenak sembelih sama mama bawa cowok ke rumah,” ucap Rani resah dan berusaha mendorong El pergi.
“Gue yang udah buat lo jatuh. Jadi gue harus tanggung jawab dong,” ucap El datar.
“Ihhh...gue jatuh dari selokan ya. Bukan habis kecelakaan yang butuh pertanggungjawaban lo!” jawab Rani.
Perdebatan mereka itu disaksikan oleh mama Rita,
“Ehemm,” tukas Rita membuat ketiga orang ini menoleh.
“Hehe, si mama,” ujar Rani tertawa melihat tampang sang mama yang sulit diartikan.
“Siapa yang jatuh dari selokan?” tanya Rita dengan tegas.
“Assalammualaikum tante, nama saya Immanuel ketua panitia ramadhan. Maaf tante tadi Rani jatuh keselokan karena saya,” ucapnya sopan dan menyalami tangan Rita.
“Cehh, pencitraan ituh,” tukas Rani dan menyipitkan matanya kepada El yang terus memasang senyuman di wajahnya.
Dasar cowok berpribadian ganda, ngapain juga pakai sok-sok an senyum. Biasanya tuh mulut pedes banget kayak cabe, omel Rani dalam hatinya.
“Oh, si Raninya itu yang ceroboh palingan,” tukas Rita.
“Mamah ah, anaknya abis nyungsep inih,” keluh Rani.
“Kenapa kamu bisa masuk selokan? Ada yang sakit?” tanya Rita menatap anak gadisnya itu. Rani malah mengerucutkan bibirnya karena baru ditanya sang mama.
“Dianya luka berat mah, tuh siku sama lututnya berdarah. Pergelangan kakinya juga terkilir kayaknya ma,” ucap Iwing panjang lebar.
“Kamu sih nggak hati-hati, yaudah sana masuk bersih-bersih!” jawab Rita.
Rani pun berlalu memasuki rumah. Tanpa menoleh ke dua lelaki yang berdiri di depan rumahnya. Si mama ah, kalau liat cowok ganteng aja lupa diri sama anaknya. Gerutu Rani, mengingat perkataannya sebentar ini, Rani memukul kepalanya. “Ahh bodoh lu Ran, berarti lo ngakuin si es itu ganteng dong!!! Nggak, dia itu cuman cowok nyebelin,” tutur Rani pada dirinya sendiri.
“Emm... kalau gitu kita pamit dulu ya tante,” ujar El menyalami kembali tangan Rita.
“Ohh, iya makasih yaa El, Wing udah nganter Rani,” ucap Rita yang masih terpesona dengan anak lelaki yang di depannya ini.
Kedua lelaki itupun beranjak dari rumah Rani.
Flashback of
“Hahaha, dari cerita lo. Kayaknya orang yang lo sebut es itu suka deh Ran sama lo,” ucap Keke.
“Gila, mana mungkin. Bukannya bikin gue suka sama dia yang ada tuh orang bikin gue kesel setengah mati,” ujar Rani mengingat betapa terusiknya kehidupannya setelah menjadi panitia ramadhan ini.
“Hmm, sepemahaman gue juga gitu Ran,” ucap Zia.
“Lagian lo bilang orangnya juga ganteng. Cowok ganteng mah jangan disia-siakan Ran,” saran Keke dengan senyuman jahilnya.
“Nggak peduli gue. Lagian gue mau fokus belajar. Cita-cita gue tinggi jadi perlu usaha yang keras!” jawab Rani semangat.
“Heem Ran, cowok ganteng itu langka loh,” ujar Zia.
“Banyak kok Zi, tuh oppa oppa gue di korea ganteng semua,” jawab Keke
“Hadeh, nggak tau gue harus ngomong apa. Lo berdua memang otaknya nggak bakal jalan kalau nyangkut cowok ganteng,” omel Rani menyentil dahi kedua sahabatnya itu.
Zia dan Keke pun mengaduh kesakitan akibat sentilan dari Rani. “Udah ah. Buruan isi tu tugas di LKS, sebelum dimintai Akbar,” ucap Rani.
Hari ini kebetulan guru sedang mengadakan rapat jadi mereka hanya diberikan tugas. Sampai jam istirahat mereka hanya diberikan tugas. Kelas sheijin akan tetap fokus untuk belajar walaupun tidak ada guru. Mungkin juga karena kedisiplinan dari sang ketua kelas, sehingga para penghuni kelas ini menjadi siswa yang taat aturan.
.......
Terima kasih udah mampir ke ceritakuuu
🤗🤗🤗