Before I Found You

Before I Found You
BIFY 73



"Yeay... Akhirnya semua ujian kita dah kelar... Tinggal ujian nasional bulan depan," ujar Keke senang.


"Huhhhh, bentar lagi kita bakal pisah..." ujar Zia pelan.


"Kenapa pisah? Nanti kita bakal sekolah di SMA yang sama dong!" ucap Rani menatap sahabatnya.


"Gue...gue mau jujur sama kalian. Kalau nanti gue harus ikut mama ke Turki," lirih Zia.


"Kenapa harus ikut mama lo Zi?" tanya Keke.


"Soalnya mama mau memulai hidup baru sama orang sana. Gue juga udah bilang, kalau nggak mau pindah. Akan tetapi, mama nggak ngasih izin," ujar Zia dengan air mata menggenang di mata indahnya.


"Kok gitu sih Zi... Nanti kita ke rumah lo," ujar Rani.


"Percuma guys... Gue kemarin pas dengar udah nangis kejer!!! Tetap aja nggak dapat izin, malahan mama mengancam kalau nggak bakal kasih gue uang jajan lagi. Karena milih untuk hidup mandiri," ucap Zia putus asa.


"Hufhh....Kok emak lo sadis amat sih Zi!" tukas Keke.


Mendengar ucapan Keke, Rani segera memukul kepala sahabatnya yang asal ceplos itu.


"Emaknya Zia bukan sadis. Tapi mungkin dia nggak mau anaknya sendirian tanpa pengawasan, itu kan demi kebaikan Zia juga!" ujar Rani bijak.


"Ceh!!! Selama ini juga gue hidup tanpa pengawasan dia. Justru kayaknya bibi yang lebih cocok gue panggil mama dibandingkan dia!" ujar Zia.


"Jangan jadi anak durhaka lo! Gue nggak mau punya sahabat ikan pari!" delik Rani memukul lengan Zia.


"Kenapa ikan pari Ran?" tanya Keke.


"Iyalah. Zaman dulu itu anak durhaka yang cowok dikutuk jadi batu namanya malin kundang. Kalau yang durhakanya anak cewek dikutuk jadi ikan pari." ujar Rani tertawa melihat tampang polos kedua sahabatnya.


"Lo bohongin kita ya?" delik Zia.


Rani pun berlari meninggalkan kedua sahabatnya. Sampai di ujung jalan gadis itupun menaiki ojol.


"Bang ke jalan xxx!" ujar. Rani dengan nafas ngos-ngosan.


Rani pun melirik kedua sahabatnya sembari melambaikan tangan, "Gue duluan yaa... Bye-bye," ucap Rani dengan tampang tanpa dosa.


***


"Turun!!!" titah orang tersebut pada Rani.


"Lah, ini kan belum sampai bang!" ujar Rani melihat sekitar bahwa dirinya masih harus masuk satu belokan lagi baru sampai di rumahnya.


"Gue bukan kang ojek! Turun sekarang!" delik lelaki itu.


"Hah!!!" Rani pun turun dari motor itu. Ia pun memperhatikan dengan seksama bahwa lelaki yang ia sangka tukang ojol itu memakai pakaian dinas pemerintah lengkap. Hanya saja lelaki itu menggunakan jaket levis, Rani pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Maaf ya pak. Saya tadi nggak sengaja," ujar Rani menunduk, ia merasa sangat malu.


"Jangan panggil bapak! Gue nggak pernah punya anak kek lo! " delik lelaki itu.


"Jadi saya harus manggil apa dong sama situ?!" ujar Rani meninggi.


Mendengar suara cempreng Rani membuat lelaki itu menatap tajam pada gadis kecil itu. Mendapat tatapan setajam silet itu membuat nyali Rani menciut.


"Eh iya maaf deh bang...Ini ongkosnya bang, buat ganti bensin abang yang kepake buat nganterin saya sampai sini," ujar Rani menyerahkan uang lima ribuan.


"Nggak usah! Gue ngga butuh uang receh!" ujar lelaki itu.


"Oh iya maaf bang, biasanya kalau naik ojol sampai rumah gue bayarnya segini. Sedangkan ini masih satu belokan lagi menuju rumah!" ujar Rani sedikit meninggi, ia kesal dengan lelaki di hadapannya.


Padahal Rani sudah meminta maaf akan tetapi orang tersebut masih saja bicara dengan nada jutek.


"Bukan urusan gue. Bersyukur udah gue anter sampai sini! Bayangin kalau gue bawa ke hutan terus gue mutilasi!!!" ujar lelaki itu dengan senyum devil.


"Wah gila lo! Dasar Psikopat!!!" ujar Rani ia pun pergi meninggalkan lelaki itu.


Rani sedikit berlari karena ia takut diikuti oleh lelaki psikopat itu. Sementara lelaki yang dianggap ojol tadi hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah gadis dengan seragam putih dongker itu. Kemudian ia pun menghidupkan motornya dan berlalu pergi.


***


"Huhhh...Untung aja gue nyampe rumah dengan selamat," ucap Rani sembari mengelus dada.


"Emangnya kenapa?" ujar El yang muncul dari dalam rumah.


"Hahh!!! Lo mah ngangetin gue aja bang!" delik Rani.


"Jawab pertanyaan gue! Memangnya kenapa bisa lo pulang nggak selama?" tanya El penuh penekanan.


"Lo pulang sama cowok lain?" delik El.


"Iya," jawab Rani kemudian gadis itu masuk ke dalam rumah dan mengambil air dingin dalam kulkas.


"Wah...Pulang bareng gue aja lo selalu nolak, ini dengan gampangnya lo pulang dengan cowok yang baru dikenal!" ujar El merebut minuman dari Rani, membuat Rani tersedak.


"Uhuk...uhuk... Lo! Makanya jangan judge sendiri dulu! Kembaliin minuman gue, gue haus abis lari-lari dari cowok psikopat itu!" ujar Rani merebut kembali botol air di tangan El dan meminum air tersebut hingga habis.


"Jelasin semuanya. Ingat janji lo! Nggak boleh pacaran! Kalau pacaran gue suruh tanam pohon apel di atap rumah gue!" ancam El.


"Huhh...Iya-iya. Sini duduk, gue jelasin semuanya. Tapi bentar dulu! Keluarga gue pada kemana ini rumah kok sepi kek kuburan?" tanya Rani.


"Keluarga lo pergi ke rumah nenek lo! Pulangnya besok, makanya mama nelfon gue. Nyuruh jagain lo, sekalian ngajak temen-temen lo belajar dan nginap disini aja malam ini." ucap El.


Rani pun mengangguk, "Oh makasih ya bang. Sebenarnya gue sendirian juga nggak apa-apa, lo bisa pulang kok. Tenang aja," ujar Rani ingin pergi ke kamarnya.


"Jelasin kejadian tadi dulu!" ucap El menarik tangan Rani.


"Masih aja inget. Lepasin dulu nih tangan gue! Bukan muhrim!" ucap Rani.


El pun melepaskan tangan Rani, keduanya pun berjalan beriringan menuju teras rumah.


"Jadi gini, tadi gue sedang ngerjain Zia ama Keke. Terus lari-lari, pas nyampe simpang sekolah gue naik aja ke motor yang mangkal. Gue nggak salah kok bang, beneran deh. Suer! Gue kira itu kang ojol. Gue naik terus bilang alamat. Nah dia diem aja, ngantar gue sampai depan jalan raya itu!" ucap Rani.


"Makanya jangan urakan amat jadi orang. Sebelum naik kan lo bisa pastiin dulu, dia ojol atau bukan!" ucap El mendengus kesal.


"Iyasih... Nah pas udah nyampe di jalan raya depan. Dia nyuruh gue turun, dan ngerinya dia sampe bilang gini untung gue anter sampai sini, kalau gue bawa ke hutan terus gue mutilasi gimana. Ngeri kan? Emang psikopat kek nya tuh orang!!" ucap Rani bergidik ngeri.


"Bener tuh. Untung badan lo masih utuh!" ucap El.


"Heem, bener tuh." ujar Rani mengangguk.


"Terus setelah itu gimana?" tanya El yang masih belum puas mendengar cerita dari gadis kecilnya. Suara Rani seperti seorang pendongeng di telinga El.


"Yaudah gitu doang ceritanya. Sekarang udah aman, lo bisa pulang. Terima kasih udah jagain rumah sampai gue datang," ucap Rani tersenyum.


"Lo anggap gue satpam?" ujar El menatap Rani dengan senyum miring.


"Bukan gitu maksud gue. Intinya makasih deh, lo jangan senyum kek gitu! Nyeremin tau nggak!" ucap Rani.


"Haha...Lo yakin nggak mau gue temenin? Atau manggil dua sahabat lo untuk nginap?" ujar El.


"Yakinlah. Lagian ini di rumah! Pasti amanlah," ucap Rani penuh keyakinan.


"Lo nggak takut kalau cowok psikopat itu ngikutin lo sampe sini?" ujar El menakuti Rani.


"Aaaa...Lo mah bang, jangan nakutin napa!" rengek Rani.


"Gue bukan nakutin, cuman bulang beberapa kemungkinan aja. Sama seperti pelajaran peluang di matematika," ujar El menganggukkan kepalanya.


"Wahh... Lo sih...,tadi gue nggak mikir itu sama sekali, Aaa...Gara-gara lo!" ucap Rani berjalan mondar-mandir di depan El.


"Telfon aja sahabat lo untuk temenin disini!" ujar El.


"Heem... Gue suruh aja mereka kesini," ucap Rani kemudian menelfon kedua sahabatnya.


Zia dan Keke pun bersedia untuk menginap di rumah Rani, mereka meminta Rani untuk menunggu mereka bersiap terlebih dahulu.


"Mereka bisa kok bang, katanya tunggu mereka siap-siap dulu. Palingan magrib baru nyampe," ucap Rani.


"Yaudah kalau gitu gue pamit pulang dulu, " ucap El ingin menuju motornya.


"Hah? Kok lo balik sekarang?" tanya Rani mencekal tangan El.


"Sahabat lo kan udah mau datang. Terus kenapa gue mesti disini lagi?" tanya El menautkan alisnya.


"Temenin gue dulu!!! Mmm... mmm, lagian ini gegara lo yang nakutin. Jadi lo harus tanggung jawab!" ucap Rani kesal.


"Cih...Kemana Rani yang bilang berani beberapa saat lalu?" ejek El.


"Huhh... Iya gue takut! Makanya temenin gue sampai mereka datang," ucap Rani mengerucutkan bibirnya.


Melihat kelucuan gadis kecil di hadapannya membuat El tersenyum. Lelaki itupun dengan senang hati kembali duduk di kursi teras rumah.


Keheningan melanda keduanya, mereka hanyut dengan pikiran dan dengan detak jantung masing-masing.