
Saat ini ketiga lelaki tersebut telah menghentikan motornya tepat di depan Rani dan kedua sahabatnya.
"Hai neng cantik... Butuh tebengan nggak?" goda Dion.
Godaan lelaki itu tidak di gubris oleh Rani dan kedua sahabatnya.
"Kalian denger sesuatu nggak guys?" ujar Keke berpura-pura.
"Gue cuman denger bunyi nyamuk. Nying... Nying... Nying..." ujar Rani.
"Kalau gue denger suara cowok sih. Cuman mungkin itu hantu bujang lapuk!" ujar Zia.
"Ya Allah.. Tega amat sih kita dibilang bujang lapuk!" ujar Habib.
"Ceh...Lagi-lagi suara nyamuknya makin berisik. Kita pindah aja deh guys!" ujar Rani menarik kedua tangannya ke seberang jalan.
Ketiga lelaki itupun memutar motor mereka menghampiri ketiga gadis di seberang sana.
"Rani. Ayo kita pulang!" ujar El.
Rani hanya menatap tajam pada El. Ia membuang muka, karena kesal dengan cara El yang tetap saja dingin. Ketiga gadis itu pun memilih untuk melihat ke kanan dan ke kiri mencari tumpangan. Mereka menyesal karena telah melanggar titah dari orang tua dengan memerintahkan sang sopir untuk pulang duluan.
"Zi.. Ayok dah pulang! Udah malem ini!" ujar Dion.
"Beb...Ayo pulang. Masak kamu lebih milih ngasih makan nyamuk pakai darah berhargamu itu!" ujar Habib.
"BODO AMAT!!!" ujar ketiga gadis itu serentak.
"Maharanisya! Gue bilang pulang sekarang! Gue nggak terima penolakan!" ujar El tegas dan menarik Rani.
Tingkah El pun diikuti oleh dua lelaki lainnya. Mereka dengan mudahnya membuat badan para gadis tersebut terduduk dengan baik di atas motor besar mereka dengan posisi menyamping.
"Ya! Kenapa kalian semakin semena-mena sih!" delik Rani dan memukul bahu El.
"Pukul aja sepuas lo! Yang gue mau kita pulang sekarang!" tegas El dan menarik kedua tangan Rani agar berpegangan pada pinggangnya.
"ini namanya pemaksaan! Aaa.... turunin gue!" rengek Rani berusaha melepaskan tangannya dari El.
"Kalian ini kenapa sih. Tadi aja nggak terima sama perilaku kita bertiga! Sekarang malah maksa!" ujar Zia tak kalah sengitnya. Akan tetapi ia tidak bisa melepaskan tangannya dari Habib.
"Lo juga sama! Sejak kapan jadi pemaksa kek gini?" tukas Keke memukul kepala Dion.
"Udah kalian nurut aja! Pegangan kalau nggak mau jatuh!" delik El.
"Nah itu jawabannya, kita belajar dari sang guru! Hehe," ujar Habib.
Ketiga motor itupun melaju kencang membelah jalanan malam. Dinginnya malam menyentuh kulit halus Rani. Gadis itu merasakan kedinginan karena laju motor El yang tidak seperti kura-kura biasanya.
"Bang, pelanin dikit napa! Mau beku badan gue rasanya. Belum lagi dengan berada di dekat lo yang udah dasarnya kek freezer!" ujar Rani.
Mendengar ucapan gadisnya bukan membuat El kesal. Akan tetapi melengkungkan senyumnya, ia memelankan laju kendaraannya dan memasukkan tangan Rani ke dalam saku jaket kuliah yang saat ini ia pakai.
"Ja... Jangan nyuri kesempatan lo!" ujar Rani gugup dn mengeluarkan tangannya.
"Ceh... Gengsi itu jangan ketinggian! Nanti yang ada tuh tangan kecil yang jarinya sebesar lidi jadi beku!" ejek El.
Rani memutar bola matanya karena ucapan El. Akan tetapi yang dikatakan oleh lelaki itu memang benar. Bahwa saat ini jari-jari lentiknya sudah sangat kedinginan. Rani pun memasukkan kembali tangannya pada saku jaket El.
Mereka pun berpisah sesuai dengan jalan kompleks masing-masing. Saat hampir sampai di depan rumah Rani, El semakin memelankan laju motornya.
"Ran... Lo lihat kan malam ini penuh Bintang?" ujar El.
Mendengar hal itu sontak membuat Rani mendongakkan kepalanya menatap langit. Ternyata ucapan El memang benar, saat ini di atas mereka langit dipenuhi banyak bintang. Tak hanya Bintang, dirinya juga melihat bulan yang terang benderang.
"Wah... Baru kali ini gue lihat Bintang lagi setelah terakhir kali pas malam kita buat janji." ceplos Rani.
"Gue kira nggak ingat sama suasana malam itu." ujar El pelan.
"Haha, berasa meranin film India gue!" ujar Rani yang menghentikan tingkah anehnya.
Sementara El hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Rani dari spion motor.
"Lo mau tau apa yang lebih Indah menurut gue?" tanya El melirik Rani dari spion.
"Apa?" tanya Rani.
"Lo," ujar El pelan.
"Apa?!" ujar Rani yang menyangka bahwa pendengarannya bermasalah karena terlalu banyak mendengar suara musik seharian.
"Gue bilang. Yang paling Indah malam ini adalah lo Maharanisya!" teriak El.
Mendengar teriakan El membuat Rani kaget dan sontak membungkam mulut lelaki itu menggunakan tangannya. Ia tidak ingin para penghuni rumah di sana mendengarkan teriakan lelaki itu.
"Lo mau gue bunuh ya bang!" delik Rani.
"Emm. emmm... emm," ujar El berbicara tapi tidak terdengar karena mulutnya dibungkam.
"Hehe, nah baru ngomong." ujar Rani melepaskan tangannya.
"Kenapa mesti takut mereka semua harus dengar ucapan gue malam ini. Maharanisya Nugraha, lo adalah hal paling indah malam ini....." ulang El berteriak.
"Arghhh...." ujarnya kembali berteriak, karena Rani memberikan cubitan panasnya di perut berotot lelaki itu.
"Kenapa lo teriak lagi sih! Buat gue malu aja!" delik Rani kesal dan melepaskan cubitannya.
"Kenapa malu! Gue tahu lo seneng kan? Makanya pipi lo bersemu merah," ledek El.
"Isssh mana ada pipi gue merah! Ini gegara blush on!!!" delik Rani.
"Yaudah kalau bukan kek gitu. Maharanisya...Tunggu gue sampai gue bisa menjadikan lo Ratu di hidup gue!!!!" ujar El.
"Hah? Kehabisan obat lo yang bang? Kek orang gila tau nggak. Teriak-teriak terus dan omongannya melantur!" ujar Rani menundukkan wajahnya. Sungguh saat ini udara dingin malam hari tidak lagi terasa karena sudah dihangatkan dengan detakan jantungnya yang saat ini bagaikan setelah lari maraton beberapa kilometer. Tidak hanya itu, ungkapan-ungkapan yang diucapkan oleh El menari-nari di telinganya secara berulang bagaikan kaset klasik.
Rani masih asik dengan mengontrol detakan jantungnya. Ia benar-benar tidak sadar bahwa saat ini motor El sudah berhenti di depan rumahnya.
"Nggak mau turun non?" ujar seseorang dari balik pagar rumah Rani.
"Hah?! Udah nyampe," kaget Rani dan menatap sang mama yang sudah berada di depan rumah.
"Kenapa? Masih kurang waktu boncengannya bareng El malam-malam?" ujar Rita mencoba untuk menjahili sang anak.
"Iii... mama ah! Ini semua gegara mama! Gih sana mama masuk!" delik Rani.
"Hmmm... Iya deh mama masuk lagi, kek nya waktu yang kalian butuhkan masih banyak. Ingat ya jangan lama-lama! Nanti dibisikin setan," ujar Rita dan meninggalkan dua sejoli itu.
"Makasih ya bang, udah ngehibur di acara. Terus ngantar gue pulang, emm... Mending sekarang lo pulang, sebelum udra tambah dingin!" ujar Rani.
"Itu semua demi lo. Ingat ya, poin gue harus bertambah! Ini seharusnya udah bisa meluluhkan hati lo," ujar El mengacak Puncak kepala Rani.
"Iii... Jangan direcokin! Udah sana, jangan sampai omongan itu belepotan kemana-mana! Gue mau masuk dulu, bye!" ujar Rani.
Baru saja gadis itu melangkah. Pergelangan tangannya sudah dicekal oleh El.
"Te quiero Maharanisya" ujar El dengan senyum hangat.
"Bahasa planet mana tuh?" ujar Rani.
"Apa gunanya google translate! Have a nice dream!" ujar El.
"Ceh. Yaudah sana lo balik! Hati-hati di jalan!" ujar Rani.
El pun mengangguk dan menyalakan motornya. Suasana bahagia menyelimuti hatinya, ia menemukan rasa baru setelah mengenal Rani. Rasa cinta nano-nao itu ternyata memang benar-benar ada.