
"Tumbenan itu wajah sumringah amat bro!" ujar Kevin menepuk bahu El.
"Gue sedang bahagia," tutur El.
"Bahagia kenap lo El? Udah berhasil move on?" tanya Sarah.
"Udah dong. Dia udah nemu gadis kecil yang jauh lebih baik dari Sifa!" ujar Alan.
"Beneran El?" ujar Sarah memastikan.
El pun mengangguk. Lelaki itupun mengeluarkan segala keperluannya untuk ujian praktek kimia hari ini.
Beruntung banget cewek yang bisa meraih hati lo El, batin Sarah menatap El dengan sendu.
"Udah... Kumbang tak seekor," ujar Cindi teman sebangku Sarah.
"Heem... Mungkin memang benar, kalau gue cuman bisa jadi sahabatnya doang!" ujar Sarah pada Cindi.
"Iya... Gue senang kalau lo kek gini. Jangan sampai lo beralih profesi jadi perusak hubungan orang!" ujar Cindi menatap Sarah dengan tatapan horornya.
"Dih!!! Nggak mungkinlah gue kek gitu Cin..." tukas Sarah.
"Yaudah. Ayok siap-siap ke labor kimia!" ujar Cindi.
Seluruh siswa di kelas tiga itu pun pergi menuju labor kimia.
***
"Perhatikan warna larutan yang akan kalian ciptakan. Semakin lembut warna itu, berarti kalian adalah orang-orang berhati lembut!" ujar guru kimia.
"Siap bu," ujar mereka serempak.
Semuanya pun secara bergantian meneteskan larutan basa itu secara perlahan sebagai proses titrasi kimia.
"Lihat nih buk, hati saya paling lembut karena warnanya sangat halus." ujar Alan membanggakan dirinya.
"Kamu memang hebat Alan. Yang lain bisa memperhatikan warna yang dibuat oleh Alan. Apabila ada yang bisa menghasilkan warna lebih lembut dari ini , kalian tidak perlu mengikuti ujian tulis akhir semester karena saya akan memberikan nilai A bagi yang bisa!" ujar sang guru.
Seluruh siswa pun menjadi semangat menciptakan warna soft pink itu. Beberapa siswa ada yang gagal dan tidak ada yang bisa mengalahkan warna yang dibuat oleh Alan. Sementara El yang sedari tadi meneteskan larutan itu perlahan, suasana hatinya membuat dirinya rileks dan tidak tegang seperti yang lain. Akhirnya warna yang dibuat oleh El jauh lebih lembut dari Alan.
"Wah...Saya tidak menyangka bahwa kamu bisa menciptakan warna ini El. Selama saya mengajar baru kali ini saya melihat warna yang selembut ini. Kamu bebas dari ujian tulis, dan nilaimu sudah A!" ujar sang guru bangga. Tak lupa guru itu memotret hasil kerja El dan memasukkannya ke postingan sekolah.
"Njirrr...Ternyata sahabat gue yang dingin ini memiliki hati yang lembut!" ujar Alan menepuk-nepuk bahu El.
"Sakit og*b!!! Iya dong gue sang penakluk, sebentar lagi gue juga bakal naklukin hati Rani," ujar El.
"Ya ya ya... Kita bantu dengan iringan doa," ucap Kevin.
Ketiganya pun keluar dari labor kimia. Karena kelas lain akan menggunakan labor itu lagi untuk ujian praktek. Saat mereka keluar, El berpapasan dengan Sifa.
Gadis itu memasang senyum pada El, akan tetapi El membuang wajahnya. Ia masih belum terima atas perlakuan Sifa terhadapnya. Tidak mendapatkan balasan senyum dari El membuat gadis itu menunduk malu.
"Makanya, kalau udah dikejar jangan nyakitin! Sekarang terpaksa harus ngelepasin," ejek Alan tanpa menatap Sifa.
Mendengar ucapan Alan membuat gadis itu mempercepat langkahnya meninggalkan ketiga lelaki itu.
"Dahlah!!! Ayok ke kelas," ajak Kevin merangkul kedua sahabatnya.
Ketiganya pun menuju lokal untuk mengikuti ujian praktek berikutnya.
***
Di kelas sheijin saat ini sedang terjadi kegemparan. Para murid wanita bersorak karena mereka mendapatkan guru lelaki baru. Guru tersebut mengajar fisika sekaligus merangkap menjadi pengganti wali kelas lokal unggul itu.
"Perkenalkan nama saya Yoan Folke, saya akan menjadi wali kelas kalian menggantikan Ibu Des yang sedang cuti. Kemudian, saya juga sebagai salah satu pengajar mata pelajaran fisika di sekolah ini. Ada pertanyaan?" tanya Yoan.
"Bapak bule pak?" tanya Lutfi.
"Bapak umurnya berapa pak?" tanya Selin.
"Umur saya masih 22 tahun," jawab Yoan.
"Bapak udah nikah pak?" tanya Elsi.
"Belum. Baiklah sebelum pertanyaan kalian semakin melenceng dari tujuan. Saya meminta kalian untuk memperkenalkan diri, berdiri dari tempat duduk sebutkan nama, usia, tempat tinggal kalian! Dimulai dari yang paling ujung," ujar Yoan menunjuk Rani.
Rani sedari tadi hanya menunduk sembari menggambar di buku tulisnya. Ia tidak memperhatikan apa yang diributkan oleh teman-teman kelasnya. Ia hanya merasa risih karena kehebohan teman wanita di kelasnya yang bagaikan bertemu cowok super ganteng.
"Hei kamu! Perkenalkan diri!" ujar Yoan tegas.
"Ran...Lo ditunjuk gue itu! Pak Yoan nyuruh ngenalin diri," ujar Zia menyenggol lengan Rani, membuat gambar Rani jadi tercoret.
Rani pun mendelik tajam pada Zia. Rani melihat ke depan kelas. Disana ia melihat lelaki yang membuatnya ketakutan kemarin.
"Lelaki psikopat..." ujar Rani refleks.
"Kamu!!! Berdiri ke depan kelas!" ujar Yoan menatap Rani dengan senyuman devilnya.
Mampus gue, kenapa dia bisa ada di sekolah ini? batin Rani. Rani pun berjalan dengan langkah lesu ke depan kelas.
"Perkenalkan diri kamu!" titah Yoan.
"Nama saya Rani," ujar Rani dengan nada gugup.
"Apakah kamu tidak memperhatikan saya dari awal memasuki kelas?" delik Yoan.
"Enggak pak! Eh maksud saya... emm.. saya memperhatikan kok pak!" ujar Rani menatap Yoan.
Akan tetapi Yoan menunjuk salah seorang teman di kelas Rani untuk memperkenalkan diri, temannya itu memperkenalkan dirinya sesuai dengan intruksi yang disampaikan oleh Yoan.
Fixsss...Masa-masa Indah lo yang tinggal sebentar di SMP bakal jadi neraka! ucap Rani pada dirinya sendiri sembari memukul pelan kepalanya.
"Besok-besok jangan menggambar di kelas saya! Menggambarlah saat pelajaran kesenian!" titah Yoan.
"Maaf pak. Baik pak..," ujar Rani menundukkan kepalanya.
"Kembali ke tempat dudukmu! Lanjutkan perkenalkan diri kalian!" titah Yoan.
Perkenalan diri masing-masing murid itu pun berlangsung dan diakhir oleh siswa yang duduk paling belakang.
"Baiklah, semoga ke depannya kalian nyaman dengan mata pelajaran saya dan tetap bersikap tertib! Sekarang kita mulai pelajarannya," ujar Yoan yang mulai mencatat materi di papan tulis.
Seluruh murid pun mengikuti pelajaran dengan khidmat. Penjelasan rumus-rumus cepat untuk pengerjaan soal pun dapat ditangkap oleh para murid. Rani yang melihat rumus-rumus baru itupun tersenyum, karena rumus-rumus itu sudah diajarkan oleh El. Akan tetapi, ternyata di luar dugaan di papan tulis sebelah kiri Yoan menuliskan rumus yang jauh lebih singkat. Rani pun melongo melihat rumus itu.
"Sampai disini ada pertanyaan?" tanya Yoan.
Seluruh murid pun diam. Mereka masih mencerna rumus cepat itu, "Baiklah saya anggap kalian paham karena tidak ada yang bertanya. Sebelum kelas ini saya tutup, saya ingin meminta kesediaan salah satu dari kalian untuk menjadi asisten saya di labor fisika. Siapa yang bersedia?" tanya Yoan.
Seluruh murid menunduk kecuali Rani. Karena gadis itu masih asik mencerna rumus-rumus yang ada di papan tulis sambil berkomat-kamit sendiri mendetailkan rumus itu darimana kepada dirinya sendiri.
"Rani, kamu jadi asisten saya!" ujar Yoan.
"Hah??? Saya pak? Pak Jo yakin?" tanya Rani terkejut karena dirinya ditunjuk.
"Jangan panggil saya pak Jo. Nama saya Yoan, bukan Jo! Satu lagi, saya tidak menerima penolakan. Ini kunci labor, nanti sepulang sekolah temui saya!" titah Yoan melemparkan kunci laboratorium fisika pada Rani. Rani pun dengan cekatan menangkap kunci itu.
"Tapi pak. Ini nggak adil buat saya, kenapa bukan lelaki aja yang jadi asisten!" ujar Rani.
"Sekarang zaman emansipasi wanita. Jadi jangan semuanya dilimpahkan ke lelaki!" ujar Yoan santai kemudian keluar dari kelas bersamaan dengan bunyi bel sekolah.
"Arghhh...Ada aja cobaan hidup gue!" ujar Rani frustasi.
Kedua sahabatnya dan teman sekelasnya hanya mentertawakan Rani. Rani pun memberikan tatapan horornya pada penghuni kelas itu. Semuanya pun menahan tawa mereka melihat tampang sangar Rani.