Before I Found You

Before I Found You
BIFY 86



Cerahnya sinar mentari masuk melalui celah-celah tirai jendela di kamar Rani. Akan tetapi, gadis ini masih belum mau bangun dari tidurnya saat ini. Sang mama pun juga tidak ingin mengganggu sang putri karena ia tahu putrinya sedang lelah selepas acara kemarin.


Dring...


Dring...


Dring...


"Ya Allah, kenapa masih saja ada yang mengganggu tidurku?" ujar Rani menautkan alisnya saat ada panggilan dari nomor yang tak dikenalnya.


"Assalammualaikum, mohon maaf anda sepertinya salah sambung! Selamat pagi!" ujar Rani mengangkat telfon dengan ketus dan langsung memutuskan panggilan tersebut.


Sementara orang yang di seberang sana sedang mengurut dada karena mendengar ucapan dari muridnya tersebut. Karena tidak ingin meluapkan emosinya di pagi hari. Lelaki tersebut lebih memilih untuk mengirimkan pesan pada Rani.


Teruntuk muridku yang sangat tidak sopan.


Hari ini peralatan terbaru laboratorium akan datang. Jadi kamu harus ke sekolah membantu saya! Saya tunggu 30 menit. Apabila lewat dari waktu tersebut. Kamu harus membersihkan semua peralatan sendirian!


Guru Fisika!!!


Rani yang membaca pesan dan menghempaskan badannya ke atas kasur. Ia sangat tidak terima atas perintah gurunya yang semena-mena tersebut. Dirinya kembali menarik selimut dan berusaha untuk tidur kembali. Akan tetapi, sebuah pesan kembali masuk ke dalam handphonenya.


Saya tahu kamu sudah membaca pesan ini. Silahkan jika tidak ingin mengindahkan. Jangan salahkan saya apabila nanti nilai praktek kamu di rapor menjadi jelek.


"Ya Salam... Ya Rahman... Kenapa sih ada orang macam dia!" lirih Rani dan menendang ujung tempat tidurnya karena kesal.


"Auhh... Hadeh, karma ngelawan ke orang tua nih!" lirih Rani dan menuju kamar mandi.


Gadis itupun bersiap-siap dan hanya mengenakan baju setelan olahraga ke sekolah. Karena nantinya ia hanya akan jadi babu di ruangan laboratorium tersebut.


Usai bersiap-siap. Gadis itu pun menghampiri Rita dan meminta izin untuk ke sekolah.


"Loh kan kalian di kasih izin hari ini. Kenapa kamu ke sekolah?" tanya Rita.


"Nggak tau nih mam. Guru nggak jelas memang, orang Rani libur masih aja di teror untuk bantu dia!" ujar Rani kesal dan mengerucutkan bibirnya. Gadis itupun mencomot gorengan yang di buat oleh Rita sebagai menu tambahan dagangan nanti.


"Hushh!!! Yang sopan kalau ngomongin guru! Kamu mau kualat?" ujar Rita memukul lengan Rani.


"Nggak mau lah! Yaudah ma, Rani berangkat dulu ya.. Assalamualaikum," ujar Rani mencium punggung tangan sang mama.


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan!" ujar Rita dan diangguki oleh Rani.


Gadis kecil itu pun pergi ke depan gang untuk mencari ojol. Akan tetapi bukan ojol yang lewat, melainkan El yang sedang menggunakan baju santainya.


El pun menghampiri Rani. Lelaki itu tersenyum lebar melihat sang pujaan hati ketika ia sedang libur, jadi dirinya tidak perlu memikirkan alasan agar bisa melihat wajah Rani hari ini.


"Mau kemana lo?" ujar El dengan nada datar. Padahal di dalam hatinya sedang banyak percikan mercun kembang api.


"Ke sekolah lah! Lihat nih gue pakai baju sekolah!" ujar Rani dengan nada ketus.


"Ya udah. Ayo gue anterin!" ujar El memasangkan helm serapnya yang senantiasa bertengger di sisi motor.


"Boleh bang?" tanya Rani memastikan.


"Bolehlah! Ayo, nanti telat! Kena marah guru lo mau?" ujar El menatap Rani.


"OMG... Untung lo ingetin bang! Buru bang ngebut!!!" ujar Rani bergegas menaiki motor El dan memukul bahu lelaki itu.


"Saat ke desak aja mulutnya manis bet kek gula!" ejek El dan melirik Rani melalui spion motornya.


"Ceh... Memang gue manis! Buktinya lo susah-susah kan bang untuk dapetin hati gue? Hehe," ujar Rani dengan tingkat kepercayaan diri tinggi diselingi tawa.


"Gue keknya udah kena pelet lo Ran. Lepasin nih pelet!" ujar El.


"Sembarangan aja kalau ngomong! Mana ada gue pakai begituan!" ujar Rani memukul kepala El yang saat ini menggunakan helm. Gadis itu juga meringis kesakitan setelah memukul helm tersebut.


"Haha... Salahkan mata yang mengakibatkan jatuh Cinta. Kata orang-orang begini darimana datangnya cinta? dari mata jatuh ke hati." ujar El.


"Gue beda ya dari yang lain," ujar El.


"Nggak percaya, Wlek!" ujar Rani memeletkan lidahnya.


"Turun tuh. Dah nyampe!" delik El.


"Terima kasih banyak abang jelek!" ujar Rani dan segera berlari menuju gerbang sekolah.


"Maharanisya!!! Kepala cadangan gue jangan di bawa!" ujar El berteriak.


"Eh iya. Kelupaan, nih bang! Sekali lagi makasih ya. Nanti adek kasih Bintang lima!" ujad Rani tertawa.


"Sekalian tipsnya mbak!" delik El.


Rani melirik El. Lelaki itu dengan senyum lebarnya mengulurkan tangannya dan membentuk tanda hati pada El.


"Jiah... Dasar es batu! Sok-sok an ala-ala koreang! Sedarinya tetap kaku kek es balok!" ujar Rani menggelengkan kepalanya dan masuk ke pekarangan sekolah.


Ting


Sebuah notif pesan kembali masuk ke dalam handphone Rani. Gadis itu segera mengecek handphonenya, dia tertawa keras karena membaca pesan dari El tersebut.


Tips nya berupa poin usaha proposal pendekatan saya ya mbak. Semangat ke sekolah my lovely.


Akhir pesan tersebut juga dihiasi dengan tanda love ala artis Korea tersebut.


"Ehem...Ingat! Sebentar lagi ujian! Asik pacaran aja!" ujar seseorang di samping Rani.


"Astagfirullah setan eh setan!" kaget Rani mendelik orang yang datang tak diundang tersebut.


"Mana ada setan ganteng kek gini!" ujar orang tersebut dengan gaya songongnya.


"Hadeh pak. Kalau iri bilang pak! Bapak sih kelamaan jomblo," ujar Rani menguji kesabaran gurunya tersebut dan berlari memasuki laboratorium fisika.


"Dasar gadis ingusan!" deliknya dan mengikuti Rani menuju ruang penuh peralatan tersebut.


***


"Alhamdulillah kelar juga!" ujar Rani mengelap peluhnya yang sudah membasahi dahi gadis kecil itu.


"Tunggu dulu! Bagian perhitungannya belum kelar." ujar Yoan melirik Rani yang sudah bahagia.


"Yah! Jangan gitu dong pak Jo! Kerjaan saya udah kelar. Jangan di tambah lagi!" rengek Rani.


Yoan hanya memandang Rani secara intens.


"Ya Allah pak... Iya deh iya, gini amat jadi siswa." keluh Rani.


Yoan tersenyum tipis melihat tingkah Rani. Meskipun mengeluh di awal akan tetapi gadis itu tetap melaksanakan tugasnya secara teliti.


"Bagian mana lagi nih pak?" tanya Rani membuat Yoan tersentak.


"Makanya pak. Jangan ngelamun aja! Kesambet tante key bapak mau?" tanya Rani dan tertawa.


"Who is?" tanya Yoan.


"Beh... Bapak nggak tau tante key?" tanya Rani.


"Memangnya dia siapa? Kenapa saya mesti tahu?" tanya Yoan dengan nada sinis.


"Dasar bule sombong!" desis Rani pelan.


"Kamu tadi bilang apa?" ujar Yoan


"Aa... No what what pak," cengir Rani dan menjauhi Yoan.