
Sang fajar telah menunjukkan dirinya, ditandai dengan kokokan ayam dan selintir angin yang membawa hawa dingin merasuki tulang.
“Rani.... Ran, bangun Ran sahur,” ujar Rita mengguncang badan anak gadisnya itu.
Lelah membangunkan anaknya, ia pun beralih ke dapur menyiapkan makanan untuk sahur. Mendengar dentingan piring, dan bunyi sendok penggorengan yang beradu dengan wajan membangunkan para penghuni rumah tersebut.
“Loh, Rani mana mah?” Saut Nugraha pada istrinya.
“Anakmu masih tidur mas, lelah bangunin dia,” Rita kembali mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
“Habil, bangunin tuh kakakmu nanti dia telat sahur!!!” titah sang raja kepada putranya.
“Kak, woi kak, bangun lu kak... Kakkkkkk gue mau sahur kak. Nggak lucu kan gue nggak sahur gara-gara bangunin kebo,” ujar sang adik yang telah menarik selimut yang membaluti badan kakaknya seperti kepompong.
“Issh, bentar lagi dekk, five minutes,” ujar Rani yang kembali menarik selimutnya.
Ihsyan pun juga masuk ke kamar kakaknya, kemudian segera menarik tangan kakanya, sehingga gadis remaja ini langsung terduduk di atas ranjangnya. “Buruan deh kak, nantik telat semua gara-gara lo.” Ia pun menarik kakaknya kembali dan mendorongnya sampai ke kamar mandi.
Akhirnya, semuanya telah lengkap di meja makan. Mereka pun sahur dengan khidmat.
***
Di sekolah Rani.
“Hahah, baru puasa pertama udah 5L aja lu Ran,” tegur Akbar kepada Rani.
“Berisik!!!” Rani memilih untuk menekukkan wajahnya ke kedua lengannya yang sudah dilipat rapi di atas meja.
“Ran, ke kantin yuk..” ajak Keke.
Plakk!!!
“Gini ih, punya temen geblek! Udah tau bulan puasa eh malah ngajak ke kantin,” Zia memukul lengan temannya itu.
“Hehe, lupa gue. Kalian kan puasa. Kalau gue memang nggak,” Ujarnya sembari mengeluarkan sebungkus permen dari kantongnya dan melahap secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh anak kelassnya.
“Wahh, bener kata lu zi, letak otaknya bergeser,” Rani memutar bola matanya melihat kelakuan salah satu sahabatnya ini.
“Maklumlah Ran, Zi gue nggak kuat kalau nggak makan apa-apa saat halangan,” Keke merangkul kedua temannya itu.
“Eh, kan sekarang usia kita dah cukup nih buat jadi panitia ramadhan. Lo bedua ikutan nggak di komplek masing-masing?” tanya Keke.
“Males gue, ngapain panas-panasan mintak sumbangan,” ujar Zia.
“Bilang aja kalo lo tu takut itam markonah,” Keke mencekik kuat leher sahabatnya menggunakan patahan siku di tangannya.
“Sakit Ke,” Zia pun melepas pitingan dari temannya tersebut.
“Lo gimana Ran?” tanya Keke kembali.
“Gue sih tergantung mood, kalau mau ikut ya ikut... kalau nggak ya nggak. Tapi juga tergantung sama titah ratu dan raja di rumah,” ucap Rani mengingat kata papanya tadi pagi.
Flashback on
Dihimbaukan kepada pemuda-pemudi Masjid Mustaqim agar nanti sore kita berkumpul di mesjid untuk memusyawarahkan agenda ramadhan kita kedepannya.
Begitulah himbauan dari toa mesjid yang sangat-sangat jelas bagi keluarga Nugraha.
“Nah Ran, kamu dengar kan himbauan di mesjid. Nanti malam cobalah bersosialisasi sama pemuda dan pemudi disini.” Ujar sang papa kepada Rani.
“Rani kurang suka sama cewek-cewek disini pah. Mereka sombong semua,” saut Rani.
“Lihat nanti deh mah. Kalau Iwing, Sari ama Wulan ikut Rani ikut deh,” saut Rani.
“Itu baru anak papa,” ujar Nugraha.
Flashback of
“Bengong aja lo! Kesambet setan tau rasa lo Ran,” ujar Zia mengagetkan temannya ini.
“Gue keingat kata-kata papa sama mama tadi pagi. Eh Ke, enak nggak sih jadi panitia ramdhan itu?” tanya Rani pada Keke.
“Kalau gue sih enak Ran, ngilangin gabut pas puasa. Kalian bedua kan tau gue nggak sabaran kalau lapar. Nah pas jadi panitia waktu kita kan lebih bermanfaat sambil nunggu waktu buka gitulah,” Keke menjelaskan kepada kedua temannya yang memang tidak pernah mau bersosialisasi lebih dengan anak-anak di sekitaran tempat tinggal mereka. Palingan mereka hanya dekat dengan satu atau dua orang saja. Paling banyak juga tiga orang.
“Hmm,” Rani dan Zia mangut-mangut mendengar penjelasan dari temannya ini.
“Kalau menurut gue nih, coba aja deh kalian pada ikut dulu. Kan lumayan nambah-nambah pengalaman,” saut Keke.
“Yah liat nanti deh,” ujar Zia.
***
Sepulang sekolah mereka bertiga berjalan beriringan untuk menunggu babang ojol lewat.
“Udah lama nih nggak ketemu para gadis cantik,” ujar Ari ke ketiga gadis tersebut.
Rani dan para sahabatnya pun menoleh ke sumber suara tersebut. Mereka melihat Miko, Ari, dan Adit tepat di belakang mereka.
“Hai, udah lama juga nggak ketemu cowok nyebelin kayak kamu,” saut Keke sedikit memeletkan lidahnya pada Ari.
“Hahaha, udah mau pulang nih neng?” tanya ari ulang.
“Heem, kita mau pada pulang. Kalian kok belum pulang?” tanya Zia.
“Kita ini mau jalan ke rumah Miko,” jawab Adit.
“Hmm,” Rani menganggukkan kepalanya, dan menatap kembali ke tanah. Ia masih canggung berhadapan dengan Miko.
Di hadapannya lelaki yang masih canggung dengan Rani punmengukir sedikit senyumnya karena sudah lama tidak bertemu dengan gadis cantiknya itu.
“Oh iya, sekalian. Rani, pelatih nitip pesan kalau selama bulan puasa jadwal latihan kita bakal diatur ulang, dan nanti aku kabarin ulang gimana-gimananya.” Ucap Miko dengan suara yang sedikit gemetar, karena jantungnya kembali tidak normal saat menatap gadis di depannya itu.
“Ehm iya,” jawab Rani singkat dan mengangkat pandangannya ke depan. Oh sial, kenapa juga pake pas natap mata tuh anak. Nantik baper lagi, gue juga yang salah. Keluh Rani dalam hatinya dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Berbeda dengan Rani, Miko yang melihat mata cokelat sang gadis pujaan membuat jantungnya seperti lompat batu. Mata ini penuh dengan kehangatan dan ketulusan, apakah diriku salah menyimpan rasa ini padamu Ran?. Lirih Miko dalam hatinya melihat tinggkah Rani yang langsung mengalihkan matanya saat tatapan mereka beradu.
“Hmm....kalau gitu kita duluan yah,” ucap Ari dan segera merangkul bahu kedua sahabatnya untuk meninggalkan para gadis tersebut.
“Iya, hati-hati di jalan,” ucap Keke dan melambaikan tangannya pada ketiga lelaki tersebut.
“Masih aja canggung kalian bedua, ingat Ran. Setiap orang punya hak untuk menyukai siapapun. Jangan salahkan mereka yang mencintaimu, tapi tanyakan pada dirimu apakah pantas mereka diperlakukan canggung dan merassa bersalah karena menyukai dan menaruh rasa padamu,” ujar Zia yaang mengenali situassi tadi.
Ucapan Zia tersebut menusuk hati Rani, memang benar apa yang dikatakan sahabatnya itu. Toh selama ini Miko baik-baik saja dan tidak sedikit pun mengusiik dirinya. “Okeh, gue nggak bakal canggung lagi ke dia, makasih sayangku,” ucap Rani memeluk sahabatnya itu
“Pelukan aja bedua. Aku mah apa atuh, cuman lalat lewat doang,” Keke pura-pura mengerucutkan bibirnya yang melihat kedua sahabatnya berpelukan tanpa dirinya.
“Ohooo...ayo teletubbies berpelukan..” mereka bertiga pun tertawa.
Jangan Lupa Like, Commend, and Vote yak ..
Terima Kasih Readers..😍😍😍😍