Before I Found You

Before I Found You
BIFY 95



"Hehe, hai kak. Kenapa bisa sampai di sini?" ujar Zia berbasa-basi.


"Kita memiliki tujuan yang sama karena berada di sini," ujar Afan tersenyum.


"Yakin tujuan kita sama? Kita kesini mau mungutin sampah di hutan loh kak..." gurau Zia.


"Ohh kalau gitu tujuan kita beda. Hahaha, mana Rani?" ujar Afan.


"Ceh! Selalu Rani yang ditanyain," ujar Zia pelan.


"Ehemm!" ujar Yoan.


"Hehe pak Jo batuk? Beli obat dulu deh pak..." ujar Zia dan tertawa kecil.


"Kita barengan aja ke atas yah Zi?" tanya Afan.


Beuhhh... Begini nih yang gue khawatirkan. Nanti si emak ngamuk karena gue ngajak si guru killer, atau si bapak bakal nyembelih gue karena nggak bisa menjauhkan Rani dari para pesaing bapak. batin Zia bergejolak.


"Gimana yah kak. Maap-maap sebelumnya ini kak, pak... Kita..." belum jadi Zia menyelesaikan ucapannya ternyata Afan sudah membayarkan sendal jepit untuk dia dan kedua sahabatnya.


"Udah di bayar. Jum kita pergi!" ujar Afan menarik tangan Zia.


Pasrah deh gue, ternyata memang benar. Uang bisa mengubah segalanya! batin Zia.


"Hai semua... " heboh Afan.


"Wah kakak ganteng," jawab Keke tak kalah heboh.


Akan tetapi saat melihat orang di belakang Afan, Keke segera terdiam.


"Hahaha... Udah kek lihat hantu aja kalian! Kita mau gabung yah? Lagian nggak baik juga cewek-cewek kecil mendaki bukit menuju air terjun ini tanpa pengawasan lelaki," ujar Afan.


"Boleh kan guys?" tanya Zia dan matanya menangkap sorotan tajam dari Rani.


"Mereka pasti bolehin kok. Kasih Zi sendal yang aku bayarin tadi!" ujar Afan.


Zia pun memberikan tampang memelas pada Rani. Rani pun sadar alasan sahabatnya tidak enakan menolak ajakan Afan. Sebenarnya ia sendiri tak masalah dengan keberadaan Afan. Namun, yang menjadi masalah adalah kehadiran Yoan.


"Hmmm. Yaudah deh kak. Kami juga ngucapin makasih karena udah beliin kami sendal dan tentunya nanti bakal dapat perlindungan bodyguard gratis dari kakak dan Pak Jo! Hehe," cengir Rani.


"Kenapa kalian manggil saya bapak? Sedangkan ke abang saya kalian manggil kakak!" ketus Yoan.


"Hee?" ujar ketiga gadis itu serempak.


"Kalian manggil Yoan itu kakak aja pas di luar sekolah. Kasihan dianya, nanti dikira bapak kalian sama orang sini." ujar Afan menepuk bahu adiknya.


"Oo... Oke kak Jo, terima kasih...Ayo berangkat!" ujar Rani tersenyum.


Mereka pun berpamitan pada supir Zia yang memilih duduk di warung tadi. Ia tidak perlu mengawasi para gadis kecil itu karena sudah ada dua lelaki tampan dan berbadan kekar yang menggantikannya. Ia pun tak khawatir karena mengetahui bahwa salah satu dari mereka adalah guru.


Kelima muda-mudi itu pun mulai mendaki jalanan menuju surga dunia. Perjalanan penuh semak belukar di sisi kiri dan kanan mereka tempuh.


Apakah karena hari ini bukan hari libur makanya pengunjung tempat wisata ini hanya sedikit? batin Rani melihat sekitarnya. Hanya ada rombongan mereka, dan satu rombongan lagi di depan yang tak jauh dari posisi mereka.


Karena tidak memperhatikan pijakannya Rani hampir saja terpeleset. Membuat Yoan yang berada di belakangnya hendak membantu Rani tapi ternyata gadis itu bisa menyeimbangkan badannya segera.


Dasar bocah kecil! batin Yoan.


"Fiuhh.. untung nggak jadi jatoh!" ujar Rani memegangi dadanya.


Saat ini posisi mereka adalah Afan sebagai pemimpin jalan kemudian Zia, Keke, Rani dan ditutup oleh Yoan di barisan terakhir.


***


Hampir setengah jam perjalanan. Akhirnya mereka sudah melihat pemandangan luar biasa di hadapannya. Sungguh nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Tempat seindah ini ia letakkan di persembunyian yang sulit. Tidak mudah menggapainya dengan mudah.


"Kak Afan rada-rada yah? Air terjun dia bilang wanitanya. Hahaha," ujar Zia tertawa dan diikuti oleh Keke dan Rani.


"Bang Afan memang begitu. Baginya sesuatu yang Indah dan sulit itu bagaikan wanita sempurna! Orang yang ingin menggapainya memerlukan perjuangan hebat terlebih dahulu," ujar Yoan menyauti ucapan para gadis kecil itu.


Lelaki itu pun ingin menghampiri abangnya yang sudah berselfie ria dengan latar belakang air terjun Indah itu. Akan tetapi, sebelum itu lelaki itu berbalik dan menatap para gadis yang masih saja memamerkan mahkota terindah mereka.


"Kalian seharusnya juga sadar. Hal terindah itu ditutupi! Bukan dipampang!" ujar Yoan dan segera menghampiri Afan.


Skakmat


Ketiga gadis itu mendapatkan tamparan halus dari ucapan sang guru.


"Ke depannya mari kita berubah!" ujar Rani berapi-api.


Kedua sahabatnya hanya mengangguk. Mereka pun pergi ke arah air terjun yang pertama. Ketiga gadis ini sudah memulai permainan mereka. Saling menyiram air dan mendorong satu sama lain agar basah total.


"Hahaha, udah-udah gue capek." ujar Rani memegangi perutnya yang lelah tertawa.


"Ah Rani nggak asik!" ujar Keke.


Rani tidak menghiraukan lagi dan lebih memilih untuk keluar dari sungai. Saat ia sedang keluar Afan berjalan ke arah mereka.


Rani pun mengkode kedua sahabatnya untuk memperhatikan gerak gerik Afan.


Satu


Dua


Tiga


Byurr...


"Ya Allah dosa apa gue ketemu manusia jahil begini!" ujar Afan kesal.


"Hahaha, seharusnya lo bahagia kak udah ketemu bidadari kek kita," ujar Zia tertawa.


"Kali ini gue nemu bidadari jahil!" tukas Alan dan tersenyum devil.


Lelaki itu pun menjadi seperti anak remaja kembali. Ia menyirami para gadis kecil itu dengan air sungai. Begitupun dengan sang adik, Afan dengan sengaja mendekati adiknya yang sedang asik memfoto pemandangan disana. Lelaki itu menyenggol keras tubuh adiknya dan membuat Yoan tercebur ke sungai. melihat Yoan yang masuk ke dalam sungai dengan kondisi yang tidak siap tentu saja membuat Rani dan para sahabatnya tertawa lepas.


"Abang sial*n!" umpan Yoan dan mendelik ketiga gadis yang tertawa itu.


"Pffftt...Bapak lucu kalau kek gitu," ujar Rani yang berusaha menahan tawanya.


Bagaimana tidak tertawa apabila melihat guru killernya yang senantiasa menggunakan kaca mata dan rambut klimis rapi. Kini harus tampil dengan kaca mata miring dak rambut basah yang turun ke bawah.


"Tapi pak Jo lebih ganteng kalau begini!" ujar Keke mendekati Yoan dan melepas kacamatanya.


"Adik gue memang ganteng. Cuman stylenya aja yang tua an," ejek Afan.


Yoan kembali mmemberikan tatapan elangnya pada empat manusia yang berani menjahili dirinya.


"Awas kalian semua ya!" tukas Yoan dan menyiram keras air sungai kepada Afan, Keke, dan Zia.


Ia ingin menyiram Rani. Akan tetapi, ia melihat muridnya itu sedang menjauh dan menerima panggilan seseorang. Namun, Rani tampak mencari sinyal karena mengarahkan handphonenya lebih tinggi dari badan gadis itu.


"Ah lo nggak asik Ran. Masak ninggalin kita!" ujar Afan dan merebut handphone Rani dengan mudahnya.


Sementara orang di seberang sana tidak bisa mendengar apa-apa karena sambungannya sudah terputus.


"Rani kemana ya? Gimana cara nyusulnya coba kalau sinyal aja nggak ada di sana!" delik El.