Before I Found You

Before I Found You
BIFY 67



Hari ini adalah hari kepulangan Zia dari rumah sakit. Rani dan Keke bersikeras agar Zia menginap di rumah Rani saja. Karena saat ini mama Zia pergi bekerja keluar kota setelah mengurus administrasi pengobatan Zia.


"Gue ngga mau ngerepotin mama lo Ran," lirih Zia.


"Siapa yang bilang mama cuman mamanya Rani? Ayok anak gadis mama harus cepat sembuh. Makanya harus full dapat kasih sayang dari mama," ucap Rita yang sudah ada bersama mereka.


Rani memang sudah meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk membawa sahabat karena kondisi Zia. Keluarga Rani memang bukanlah keluarga kaya yang mampu menyediakan ruang tamu bagi tamunya. Akan tetapi, mereka selalu berusaha mengikat persaudaraan. Terlebih lagi Zia adalah sahabat anak mereka dan sudah dianggap anak sendiri.


"Nggak usah mah, nanti Zia di rumah aja sama bibi...," ucap Zia.


"Yaudah kalau gitu, Rani nggak boleh ke rumah kamu lagi. Percuma mama berikan kasih sayang, ternyata kasih sayang bibi kamu lebih dari mama," ucap Rita pura-pura sedih.


"Udah nurut aja deh Zi... Lo mau mama Rita sedih?" tanya Keke.


"Hufhhh...Oke deh. Terima kasih banyak mama udah mau nampung Zia, maaf Zia ngerepotin mama," ujar Zia memeluk Rita.


"Siapa bilang kamu bakal ngerepotin. Anak mama yang perilakunya nauzubillah aja mama biasa aja. Sekarang justru dapat anak gadis penurut seperti kamu, nggak mungkinlah ngerepotin," ucap rita menepuk bahu Zia.


"Dihh...Berasa anak tiri gue! Untung aja lo baru sembuh, jadi gue rela deh di bully sama emak. Asalkan kamu bahagia aku rela!" ujar Rani mendrama.


Mereka pun tertawa bersama. Setelah membereskan peralatan Zia, keempat perempuan itu pun menuju rumah Rani.


***


"Sekarang kalian berdua berbaring di kasur santai yah. Zia di atas kasur," tukas Rita.


"Ya Allah mak... Itu kasur masih gede untuk bertiga! Kenapa kita harus di bawah?" tanya Rani.


"Nanti Zia nggak jadi tidur karena tingkah bar-bar kalian pas tidur! Nurut aja apa kata mama," titah Rita.


Rani pun mendengus kesal, ia merebahkan badannya di kasur secara kasar.


"Auhh sakit pinggang gue!" keluh Rani memegangi pinggangnya yang terbentur ke lantai.


"Udah tau itu kasur tipis. Kamu loncatin kek mau tidur di springbed, untung tuh tulang nggak patah!" ujar Rita geleng kepala.


"Memang terbaik mamaku ini!" ucap Rani tersenyum samar.


"Udah jangan ribut lagi. Kalian tidur siang aja dulu, nanti mama bangunin!" ucap Rita dan berlalu keluar kamar.


***


Saat ini mereka sudah berada di halaman belakang rumah Rani, karena suasana sore membuat hembusan angin sangat terasa di sana dan mampu menyejukkan pikiran.


"Siapa yang nelfon Ran?" tanya Keke nyang mendengar deringan telfon Rani terus menerus.


"Guru es!" ucap Rani acuh, ia masih asik membaca novel yang baru dipinjamnya dari perpustakaan sekolah.


"Bang El maksud lo?" tanya Zia.


Rani hanya membahas dengan deheman, ketiganya pun asik dengan handphone masing-masing tanpa pembicaraan.


"Terus kenapa nggak diangkat?" tanya Zia.


"Nggak penting!" ujar Rani.


Kedua sahabat Rani pun saling melirik, Zia pun mengangguk pada Keke. Mungkin sinyal dari keduanya sangat erat seperti bertelepati tanpa harus bicara.


"Ran, gue pingin nanya nih yak. Udah hampir 5 bulan lo kenal Bang El seriusan lo nggak ada perasaan buat dia?" tanya Keke.


"Nggak!" jawab Rani dengan singkat, padat, dan jelas.


"Ngaku aja Markonah! Gue tau lo ada rasa, tapi ya itu si Bang El sifat es batunya nggak ketulungan!!" ucap Zia memukul pelan kepala belakang Rani.


"Sakit bego*!!! Gue bales langsung tumbang tuh badan yang seminggu di infus," delik Rani.


"Makanya jawab yang jujur!" titah Keke merebut novel di tangan Rani.


"Hadeh...Pembohong banget tuh ramalan, katanya kalau orang yang lahir bulan di bulan november bisa menjaga rahasianya! Emangnya kalian kok bisa tau gue ada rasa sama dia?" ucap Rani menatap kedua sahabatnya.


"Haha, ngaku juga dia Ke..." ucap Zia.


"Yaudah cerita makanya! Lo mau tau kenapa kita bisa tau?" tanya Keke.


"Heem, kenapa bisa? Padahal setiap gue ketemu tuh orang sifat gue nggak kalah sama tom and jerry!" ucap Rani.


"Ya karena itu, kebencian berlebihan, pikiran berlebihan, kadar cinta yang unik." ucap Keke.


"Dih!!! Kadar cinta pala lo peyang! Lagian masih kecil, nggak boleh cinta-cintaan!" ujar Rani menarik telinga kedua sahabatnya.


"Sakit Maharanisya Nugraha!" ucap Zia menyebut nama lengkap Rani.


"Makanya jawab yang jujur. Kalian tau darimana?" ucap Rani.


"Iya deh. Gini, waktu itu kita menangkap pandangan kagum lo beberapa kali ke bang El, begitupun sebaliknya!" ucap Keke.


"Heem Ran. Tatapan matanya adalah mata seorang lelaki ketika menyukai seorang wanita. Satu lagi, lo perhatiin deh setiap bang El ngajar perhatiannya terfokus ke lo terus. Jangan sampai disia-siakan tuh cogan! Disambet orang nyahok lu!" titah Zia.


"Nggak mungkin dia bisa suka sama gue. Dia aja selalu bilang kalau gue ga dia kecil!" ucap Rani tak percaya dengan ucapan kedua sahabatnya.


"Mungkin cara lelaki mengungkapkan rasa sukanya beda-beda Ran," ucap Keke.


"Gue rasa bang El tulus sama lo Ran. Buktinya dia tetap mengiringi lo dari belakang meskipun terancam telat datang ke sekolahnya!" ujar Zia.


"Dan lagi lo punya hutang budi Ran sama dia. Dia udah ngajarin kita gratis," imbuh Keke.


"Hooh Ran. Kemana lagi coba lo cari cowok yang bisa seperti itu? Mantan gue sama Keke aja nggak ada yang mirip bang El," tukas Zia.


"Kok cuman gue yang hutang budi? Kalian berdua iya juga dong!!!" ucap Rani tak terima, kedua sahabatnya hanya membalas dengan cengir kuda.


"Satu hal yang perlu lo ingat Ran, lelaki yang benar-benar tulus akan mengejar sang pujaan sampai titik darah penghabisan!" ucap Keke.


"Paham amat kalian tentang cowok!" ledek Rani.


"Iya dong, belajar dengan menilai dari segudang mantan!" ucap Keke bangga.


"Segudang mantan aja lo banggain! Prestasi lo yang pas-pasan mau diapain?" tukas Zia memukul lengan Keke.


"Mana mantannya kebanyakan yang tua. Cuman seberapa yang seumuran!" tukas Rani mencubit gemas pipi Keke.


"Harus yah kalian itu selalu menzolimi acu yang syantik badai ulala ini?" tanya Keke dengan suara manja.


"Huekk...sahabat lo itu Zi!" ucap Rani pada Zia.


"Kayaknya di kesambet jin penunggu pohon nangka Ran! Ayok kita tinggalin," ucap Zia menarik Rani ke dalam rumah.


"Tinggalin aja terus. Aku mah apa atuh, cuman selingkuhan kamu...Hehe, jadi nyanyi sendiri gue," ucap Keke tersadar dengan kegilaannya. Ia pun masuk ke dalam rumah Rani.


***


"Mah, Keke balik pulang dulu yaa.. Kasian emak sama bapak yang udah jarang ketemu sama anaknya yang syantik ini di malam hari," pamit Keke pada Rita.


"Palingan elo yang kangen tidur di bawah ketek emak kan?" seloroh Rani.


"Haduh sahabatku yang tak tertandingi ini. Omongannya suka benar!" delik Keke.


"Udah-udah jangan ribut terus. Puyeng nih kepala mama. Kamu hati-hati ya Ke," ujar Rita menengahi pertengkaran para gadis kecil itu.


"Terima kasih mamaku tersayang, besok Keke kesini lagi kok," ujar Keke mencium pipi Rita. Setelah itu, dirinya pergi meninggalkan rumah Rani.


Sedangkan Rani dan Zia beranjak untuk tidur ke kamar. Mereka menghempaskan badan di atas kasur bersamaan. Pada hari ini mereka bisa berdua di atas kasur, karena biang onar sepak bola saat tidur sudah pulang ke asalnya.


.


.


.


Terima kasih banyak sudah mampir.... 😘