Before I Found You

Before I Found You
BIFY 115



Fajar pun menyingsing. El membuka matanya dan merasa berat di bahu kanannya. Ternyata kepala gadis kecilnya tengah bersender di bahunya. Dengan hati-hati ia memindahkan kepala Rani. Ia juga memperbaiki selimut di badan Rani. Ia tersenyum melihat wajah sang pujaan hati yang sangat tentram ketika tidur. Entah berapa lama lagi ia harus menunggu pujaan hatinya itu dewasa dan bisa hidup bersama berdua hingga akhir hayat memisahkan mereka.


"Sayang, Abang mau shalat dulu ya..." ujar El berbisik dan merebahkan badan Rani di dekat para sahabatnya yang masih tertidur pulas.


El pun beranjak dari sana menuju mushola yang ada di sana. Lelaki es yang tidak melupakan kewajibannya dan diiringi sunnah itu merupakan nilai utama dari El yang di pandang oleh Rani.


Usai melaksanakan ibadah sunnahnya El memanjatkan doa agar ia mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT. Kuasa-Nya tidak akan ada yang bisa menandingi dan takdir telah ia tetapkan sejak dahulu jauh sebelum ruh badan El berada di dalam perut ibundanya. Akan tetapi, sebagai manusia ia berhak untuk meminta apa yang ia inginkan dan berharap agar keinginannya adalah yang terbaik juga menurut Allah SWT.


"Ya Allah apabila dia jodohku dekatkan lah kami. Semoga dia adalah yang terbaik yang engkau kirimkan padaku. Apabila dia bukan jodohku jadikanlah dia jalanku." ujar El dalam doanya dan tersenyum akibat doa paksaan yang kerap kali ia ucapkan.


"Dih doa Lo kok maksa banget sih bang!" tukas El KW.


El tersentak karena ternyata bukan hanya dirinya seorang yang tengah berada di mushola tersebut. Ternyata di sana ada adik sepupunya yang muncul entah darimana bagaikan setan. El menatap tajam pada Zikri. Ia menautkan alisnya se akan bertanya apa yang dilakukan oleh adiknya itu di sana.


"Haihhh... Sialan lo bang! Gue juga mau shalat kali!!! Udah lama gue tobat," ujar Zikri tak terima dengan tatapan penuh intimidasi dari El.


"Obat Lo habis? Atau Lo demam?" tanya El menyentuh kening adiknya itu.


"Bodolah. Awas lu! Jangan ganggu kekhusukkan gue!!! Atau nanti gue tikung Rani di sepertiga malam gue," ujar Zikri yang niatnya bercanda justru mendapatkan pitingan dari El di lehernya.


"Kyaa....Udah bang, uhuk uhuk. Lo mau bunuh gue di tempat suci ini? Daebak....Cinta bisa menghapus tali persaudaraan ternyata!" ujar Zikri yang baru saja terlepas dari pitingan El.


"Cih!!! Awas lu kalau berani nikung-nikung! Gue lelepin ke sungai depan!!!" ancam El dan beranjak pergi meninggalkan Zikri.


"Ya Allah sadarkanlah Abang hamba. Semoga dia merasakan hukuman darimu karena telah menganiaya hamba-Mu yang lemah ini," ujar Zikri menadah tangannya. Ia pun menghentikan gurauannya dan mulai fokus untuk melaksanakan ibadahnya.


Di sekolah tertinggal Rani pun mengerjakan matanya. Ia ingin melaksanakan shalat malamnya. Rani kembali menggoyangkan lengan kedua sahabatnya dan sama saja. Kedua sahabatnya itu masih tetap kerbau tidur.


Rani mengumpulkan segala keberaniannya dan berjalan menuju mushola menggunakan senter yang ia miliki. Ternyata penduduk desa sudah ada yang berdatangan ke mesjid. Rani pun menjadi tentram dan melakukan shalat malamnya. Kemudian gadis kecil itu melanjutkan dengan membaca Al-Qur'an sembari menunggu waktu subuh.


***


Hari ini adalah hari terkahir *** mereka. Serangkaian kegiatan gila yang tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya dilakukan.


Saat ini kelompok Rani tengah melakukan perjalan masuk ke dalam sungai kembali dan diminta untuk mencari pita yang sesuai dengan warna kelompok masing-masing. Kelompok Rani disuruh mencari pita berwarna ungu. Siswa banyak yang mengeluh karena saat ini air sungai sangat deras dan cukup tinggi. Akan tetapi menurut panitia air itu tidak terlalu deras dan dalam karena sudah mereka cobakan tadi sebelum meminta para siswa memulai kegiatan.


Alhasil mereka pun tetap melaksanakan kegiatan itu. Rani kesulitan berjalan di tengah air sungai, mereka berjalan sudah cukup jauh dan sudah mendapatkan beberapa pita di sungai. Ketika sedang memperhatikan sekitar ia melihat bahwa pita kelompoknya yang terakhir berada di selah-selah dahan di dekat sungai. Rani pun berjalan ke arah sana.


"Arghhhhh....." teriak Rani.


Gadis kecil itu tidak sadar bahwa ternyata bagian sungai yang tengah ia pijak lebih dalam dari bagian tadi. Rani yang kehilangan keseimbangan membuat badannya hanyut terbawa arus sungai.


Byurr


Zikri yang sadar bahwa Abang sepupunya kembali teringat traumanya segera menyelamatkan Rani. Ia menggapai tangan Rani dan menyeret gadis itu ke tepian.


"Uhuk uhuk uhuk." Rani terbatuk dan mengeluarkan seluruh air yang memenuhi mulutnya. Ia menangis, untung saja masih bisa diselamatkan. Apa yang akan terjadi pada kedua orang tuanya kalau Rani tiada.


"Ran...Nggak apa-apa kan? Ada yang kebentur? Luka?" ujar El segera menghampiri Rani yang sudah duduk di pinggiran sungai.


Air mata El lolos begitu saja ketika memeriksa badan Rani. Melihat hal itu sontak membuat Zikri mengusir kerumunan siswa itu, mereka diminta untuk melanjutkan agenda lain dan menyelesaikan pencarian pita tersebut. Zikri pun juga beranjak dari sana dan memberi ruang untuk pasangan itu.


"Nggak apa-apa bang. Kenapa Abang nangis hei?" imbuh Rani menghapus air matanya sendiri dan memberikan senyuman pada El. Bagaimana ia bisa lupa selain orang tuanya juga ada lelaki es bodoh yang selalu menyayanginya.


"Kamu buat Abang khawatir, kita pulang aja ya?" imbuh El lagi menghirup udara kasar dan menghapus air matanya sembari mengalihkan pandangannya dari Rani.


"Enak aja main pulang. Acaranya belum kelar!" tukas Rani sewot dan menatap El tajam.


"Maaf Abang nggak bisa jagain kamu," ujar El menunduk dan air matanya lolos kembali membasahi pipinya.


"Dihh...Kok Abang makin gede jadi cengeng siiihhhhh????" ujar Rani mengejek akan tetapi ia tetap menghapus air mata El dengan ujung jilbabnya.


"Jilbab kamu basah sayang, percuma dihapusin," ujar El yang masih sempat-sempatnya mencari masalah dengan Rani.


"Yoweslah!!! Hapus tuh ingus pakai baju Abang sendiri, mau ditaro di mana itu wajah dingin kalau ketahuan nangis sama orang-orang!" tukas Rani melirik El yang ternyata sudah tertawa tipis mendengar ucapan Rani barusan.


"Apa salahnya mereka tau Abang nangisin pujaan hati? Justru itu bagus, karena mereka tau rasa sayang Abang ke kamu itu berlebih!" imbuh El lagi dan memapah Rani untuk berdiri.


"Ceh!" desis Rani dan memutar bola matanya.


Keduanya pun berjalan menuju perkemahan setelah perdebatan bahwa Rani hanya bisa mengikuti acara penutupan apabila ia mematuhi ucapan El.


..


..


..


Al : Enggg....emmmm....Makasiihh yaaa Uda mampir selaluuuu....Tencu Soo muchh readerrrss tantik and guanteng....Kirimin aku hadiahnya..hehehehe 😍😍😍😍😋😍😘