
"Haduh si papa. Matanya itu lo! Nanti keluar loh ngeliatin El kek gitu amat," ujar Rita pada sang suami.
Mendengar ucapan sang mama membuat Rani melirik pada lelaki yang sedikit ketakutan itu. Ia tertawa, ternyata kepercayaan diri cowok es itu kalah telak saat berhadapan dengan sang papa.
"Emm... pa kita izin belajar disini sampai ujian yah pa?" ucap Keke memohon.
"Iya boleh. Papa juga senang kalau kalian belajar bertiga," ucap Nugraha.
"Bukan bertiga pa, tapi berempat. Bang El yang akan mengajari kami," ucap Zia.
"Iya mas. Biarkan El mengajari ketiga anak gadis kita ini! Mulai sekarang El manggil papa dan mama saja sama seperti Zia dan Keke," ujar Rita.
Belum jadi Nugraha menjawab, El sudah memberanikan dirinya untuk berucap.
"Om... ehh Pa, ma izinkan saya menjadi guru privat Rani...," ucap El dengan suara pelan.
"Kamu kan sekarang juga kelas 3. Apakah tidak mengganggu pelajaran kamu?" tanya Nugraha.
"Tidak kok pa. Saya akan berusaha untuk membagi waktu." ucap El serius.
"Apakah orang tua kamu mengizinkan?" tanya Nugraha lagi.
"Nanti saya akan meyakinkan kedua orang tua saya pa," ucap El menunduk. Ya Allah baru berusaha jadi guru privat hambamu ini sudah dirundung banyak pertanyaan. Apalagi kalau ketahuan ingin mendekati anaknya, batin El.
"Rani juga udah bilang gitu pah. Cuman si Zia sama Keke nih, ngerepotin bang El aja!" ucap Rani yang ingin mendapatkan pembelaan dari sang papa tercinta.
"Bang El nya aja nggak keberatan kok lo yang sewot!" ujar Keke pelan ke telinga Rani.
Zia yang tidak ingin perdebatan antara dua sahabatnya terjadi lagi, segera mencubit paha Keke.
"Arghhh!" desis Keke kesakitan, ia pun menatap tajam pada Zia.
"Makanya lo itu diem!" titah Zia pelan.
"Kenapa Ke?" tanya Rita cemas.
"Enggak kenapa-kenapa pa cuman di cubit nyamuk...Hehe," cengir Keke.
"Ya sudah habiskan makan kalian. Zia dan Keke menginap disini saja, karena sudah malam! Nanti papa yang mengabari orang tua kalian. Papa duluan ke kamar," ucap Nugraha dan meninggalkan mereka semua di meja makan.
"Ehem...Mungkin papa Rani sedang capek. Nak El makasih banyak yah sudah mau mengajari anak-anak gadis mama. Seandainya mama ada rezeki nanti akan mama beliin apapun yang kamu mau," ucap Rita bahagia.
"Eh...Ngga usah ma. El melakukan ini ikhlas kok," ucap El.
"Haduhh...Bahagianya mama kamu punya anak laki kayak kamu. Udah ganteng, pinter, sabar, rendah hati pula," ucap Rita.
El hanya tersenyum mendengarkan pujian mama Rani. Mereka pun menyelesaikan makannya. Setelah itu, Rani mengantarkan El keluar rumah.
***
Keesokan paginya, El seperti biasa akan mengiringi Rani ke sekolah. Kenapa Rani tidak ingin berboncengan dengannya. Jawaban Rani adalah jalur mereka berbeda, ia tidak ingin membuat El repot apalagi sampai terlambat ke sekolahnya. Namun, apalah daya El dengan sikap keras kepalanya lebih memilih untuk mengiringi gadis kecilnya itu hingga sampai di sekolah.
"Neng, yang dibelakang kita ini pacarnya yah?" tanya bapak ojol.
"Enggak pak, dia temen saya." jawab Rani.
"Kenapa nggak berangkat bareng aja neng?" tanya bapak ojol.
"Sebenarnya kita itu beda arah pak. Cuman dianya yang aneh! Suka banget ngiringin," Rani pun melirik ke belakang. Ia mendapatkan senyuman manis dari El. Rani pun kembali menghadap ke depan.
Para pembaca ngertilah yah maksud author posisi El yang mengikuti Rani. Jadi, Rani di depan dengan motor si bapak ojol,sedangkan El mengiringi dengan motornya tepat dibelakang ojol. Karena Rani duduk menyamping, jadi dirinya bisa menatap El yang berada di belakangnya 😂.
"Mungkin orangnya suka atuh neng, sama eneng," ucap bapak Ojol.
"Hehe. .si bapak mah ada-ada aja. Saya kan masih SMP masih banyak mimpi yang harus dikejar. Belum ada kepikiran untuk suka-sukaan pak," ujar Rani.
"Wah si eneng memang anak yang baik. Semoga mimpi eneng di dengarkan oleh Allah SWT. Alhamdulillah udah sampai, " ucap bapak ojol.
"Aamiin, terima kasih pak. Ini pak," Rani tersenyum dan memberikan ongkos kepada si bapak dan bapak itu pergi.
"Kamu ngapain senyum-senyumin tukang ojol?" tanya El yang menatap tidak suka.
"Dih.... Ya Allah bang, senyum kan ibadah. Lagian nggak ada juga urusannya sama lo! Sono berangkat! Nanti yang ada lo telat masuk sekolah, lagian lo ngapain sih ngikutin gue terus?" ujar Rani.
"Supaya lo aman dari penculikan," alasan El.
"Mana ada orang yang berani nyulik gue. Haduh, yaudah sana berangkat. Lama-lama ngomel sama lo yang ada gue jadi tekanan darah tinggi!" ujar Rani.
"Nanti pulangnya gue jemput?" tanya El.
"Nggak! Kalau mau belajar besok aja. Gue mau tidur sore hari ini!" ujar Rani.
El pun mengangguk, "Oke, istirahat aja hari ini. Gue berangkat ya," ucap El.
"Ya hati-hati," ucao Rani.
El yang merasa mendapatkan perhatian terdiam sejenak.
"Hellow Mr. El lo nggak jadi berangkat bang malah bengong!" ujar Rani.
El pun tersentak dan tersenyum. Ia pub menyalakan mesin motornya dan berangkat menuju sekolahnya dengan hati bahagia.
Setelah kepergian El, Rani juga sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa mengikuti pertandingan bola sore ini. Senyuman manis bahagia menghiasi wajah cantik gadis ini.
"Wah...Habis dapat undian yah Ran? Makanya tu senyum lebar amat kek roti malabar?" tanya Zia yang melihat sahabatnya itu bahagia.
"Hari ini kita nggak belajar. Bang El sibuk," ujar Rani membohongi kedua sahabatnya agar dia tidak mendapatkan banyak pertanyaan.
Kedua sahabatnya hanya menganggukkan kepala. Sebenarnya dalam pikiran gadis-gadis ini sudah ada rencana-rencana tersendiri, saat belajar memang banyak kebiasaan mereka yang berubah.
"Wahh...Akhirnya gue punya waktu untuk streaming oppa-oppa gue!" ucap Keke bahagia.
"Ya kalian nikmatilah waktu masing-masing hari ini," ucap Rani.
Mereka pun menghentikan pembicaraan karena guru biologinya sudah masuk.
"Hari ini kita adakan kuis. Sebelumnya yang ada di atas meja hanya alat tulis dan keluarkan kertas selembar. Tas anda letakkan di samping kursi masing-masing!" ujar Nuraini sang guru killer.
Seluruh kelas menjadi heboh. Namun, apalah daya... Komplain pun percuma, karena mereka akan mendapatkan tatapan tajam dari guru tersebut.
Beberapa di antara mereka kesusahan menjawab soal, karena memang pelajaran tentang pewarisan sifat dari Hukum Mendel ini akan menguji kesabaran.
Rani dan kedua sahabatnya terkejut melihat soal, mereka menjadi senyam-senyum setelahnya karena soal tersebut adalah soal kemarin yang sudah diajarkan oleh El dengan baik. Sehingga dapat mengerjakan soal-soal tersebut dengan mudah.
"Bagi yang sudah selesai, saya akan berikan waktu istirahat sampai jam mengajar saya selesai." ujar Guru tersebut.
Mendengarkan hal itu, membuat ketiga gadis ini bertambah semangat dalam mengerjakan dan mengumpulkan lembar kuis mereka ke depan. Melihat ketiga gadis itu sudah mengumpulkan kepada guru, teman-temannya semakin panik. Mereka pun berusaha mengerjakan kuis masing-masing.
"Udah selesai?" tanya Buk Ni.
"Sudah buk," jawab mereka bertiga serentak.
"Sini saya periksa dulu! Jangan-jangan kalian cuman mau cepat keluar," ujar guru tersebut dan kaget bahwa jawaban ketiga gadis ini benar semua.
"Bagaimana buk?" tanya Rani.
"Ehem. Kalian benar semua, jadi boleh keluar untuk istirahat," ujar Buk Ni.
Ketiganya pun pergi meninggalkan kelas dan menuju kantin. Di kantin mereka menceritakan kebahagiaan, karena usaha belajar mereka membuahkan hasil terbaik.
.
.
.
Mohon di like, komen, dan vote yaaa readers 🥰😇