Before I Found You

Before I Found You
BIFY 52



"Arrgggghh......Itu cowok kenapa sihh??? Hidup gue jadi ngga tenang digentayangin mulu!" ujar Rani menghempaskan badannya ke kasur.


Gadis ini pun berusaha memikirkan alasan El selalu mengikutinya seperti bayangan. Rani pun memikirkan cara agar El tidak lagi mengganggunya. Walaupun gadis itu sudah memaki, meneriaki, bahkan mengerjai lelaki itu habis habisan El masih saja bertahan untuk mengikuti dirinya.


"Huh! Bodolah...Dedek lelah," ujarnya meletakkan sebelah tangannya ke kepala. Kemudian, nafas teratur pun menandakan gadis kecil ini sudah tertidur.


***


Sementara itu, di rumah El. Lelaki yang baru saja memasuki rumahnya dengan wajah sumringah dan bersiul membuat sang bunda menanyakan sifat anak bungsunya itu.


"Kamu kok senang amat le?" ujar sang bunda.


"Habis ketemu calon mantu bunda," ringisnya dan memeluk sang bunda


Walaupun rumah itu tidak sehangat rumah Rani. El tetaplah anak manja ketika berdua dengan sang bunda, bundanya akan menjadi sandaran sekaligus tempat curhat bagi El. Lelaki yang selama ini tampak dingin diluar akan sangat berbeda ketika dirinya sudah berada dipangkuan sang bunda, dirinya akan berubah menjadi anak yang manis dan manja.


"Hahaha....Kamu udah mau ngasih bunda calon mantu?" ujar Dita dan diangguki oleh El.


"Ya nantilah bun, kalau El udah mapan. El ke kamar dulu ya bun" ujar El mencium pipi bundanya dan menuju kamarnya.


Di kamar yang didominasi oleh warna putih dan abu-abu ini El terpikir kenapa hidupnya menjadi penuh tawa setelah mengenal Rani.


"Ckk.... Lama-lama gue bisa dikira gila oleh semua orang," ujar El menutup wajahnya yang tersenyum dengan bantal.


***


Langit berawan tipis yang menutupi sebagian sinar mentari, membuat warnanya mengikuti sumber cahaya terbesar di dunia itu. Suasana hangat menyelimuti bumi kala itu. Ditambah dengan burung-burung yang sudah pulang menuju rumah mereka melengkapi keindahan langit.


"Maa.... Paa.... Rani berangkat dulu yah," ujar Rani yang bergegas memakai sendalnya.


"Kamu mau kemana?" teriak Rita pada anak gadisnya.


"Tanding bola mah, sama anak kampung sebelah," teriak Rani dan berlari keluar rumah.


Flash back on


Sebuah pesan masuk ke handphone Rani.


"Ran, lo mau ikutan tanding bola kaki nanti sore?" tanya Sari.


"Kok kalian baru ngasih tau sekarang sih!" marah Rani.


"Ya lupa, ikut yah?" tanya Wulan.


"Ceh, ngga usah ditanya juga dia pasti ikut" ejek Iwing.


"You know me so well. Hehe, yaudah tunggu di lapangan depan rumah Iwing yah!" tukas Rani.


"Okay" balas Sari.


"Okay" ujar Wulan.


"Oo tentu. I know you so well baby 😉" balas Iwing.


"Wuekk jijay banget lihat emoticon lo Wing!" balas Sari.


"Iri bilang boss!" balas Iwing.


"Udah ngga usah ribut lo pada! Gue mau tidur lagi masih ngantuk inih," ujar Rani dan akhirnya grup itupun hening seketika.


Saat ini sudah menunjukkan pukul 5 sore dan Rani yang baru bangun segera melaksanakan kewajibannya dan bersiap-siap dengan baju kaos putih pendek beserta celana hawai berwarna hitam. Rambutnya dikucir satu kebelakang.


Flash back of


"Rani berangkat yaa mah, assalammualaikum" teriak Rani dan berlari menuju rumah Iwing.


Keindahan sore ini membuat Rani mengukir senyumnya. Ia pun berlari sembari sesekali menatap langit sore yang begitu membuat hangat hatinya.


Sesampainya di lapangan di depan rumah Iwing. Rani sudah melihat para sahabatnya dan beberapa wajah baru yang tidak ia kenal sama sekali.


"Lo lama banget sih Ran," omel Iwing sembari menarik lengan baju Rani agar mendekat ke dekatnya.


"Kenalin ini ada Diana, Yuda, Anjel, Bima, Farel, Farhan" ucap Iwing.


"Ohh hai nama gue Rani," ujar Rani sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada orang-orang dihadapannya itu.


Senyuman Rani membuat anak lelaki itu terdiam dan bahkan ada yang mengulurkan tangannya kepada Rani.


"Ehh.... ngga usah salaman segala. Ayok kita main!" ajak Rani dan menatap para sahabatnya.


"Itu permasalahannya Ran, kita kekurangan orang," ujar Sari.


"Kalau ngga keberatan gue aja yang masuk ke tim kalian. Supaya nggak percuma udah datang tapi ngga jadi main." ujar Farhan.


"Uuuu.. bilang aja mau modus kan lo?" ujar Bima dan dibalas senyum devil oleh Farhan.


"Yaudah, ayok main!" ujar Wulan.


Mereka pun mengatur strategi dan bermain bola kaki. Rani yang selalu mendapatkan bola saat jaraknya sudah dekat dengan gawang selalu berhasil mencetak gol.


Namun, pada akhir babak. Rani berhasil di cekal oleh Yudi. Dirinya terdiam karena lelaki itu melepaskan ikatan rambut ya sehingga rambut panjang Rani terurai dengan indahnya. (bayangin aja iklan lifebuoy di tipi. heheh)


Rani sangat kesal apabila ada yang menyentuh dirinya. Matanya pun mengisyaratkan kemarahan.


"Ckk!!! Dasar burat ngga tau diri!" ujar Rani penuh penekanan kepada Yudi yang berada dihadapannya.


"Mati gue!" ujar Iwing menepuk jidatnya dan menghampiri Rani.


"Udahan aja mainnya yah! Kalian udah kalah jauh itu!" ujar Iwing dan menarik Rani agar meninggalkan lapangan tersebut. Sebelum jaraknya terlalu jauh, Rani pun menatap tajam kepada lelaki yang tersenyum bahagia melihat uraian rambut Rani.


"Awas lo kalah ketemu lagi. Dasar cowok ngga tau diri. Ganti aja tuh celana pakai rok!" sorak Rani. Ia masih ingin mengumpati lelaki itu namun mulutnya sudah dibungkam oleh Sari dan ketiga sahabatnya ini pun mengajak Rani agar pergi dari sana.


"Huh kenapa sih kalian ngajak cowok mesum main sama kita!" omel Rani melemparkan bebatuan kecil yang ada di tanah kepada ketiga sahabatnya.


"Yaa kan kita ngga tau Ran," ujar Wulan.


"Iwing tuh Ran yang ngatur," ujar Sari.


"Hadeh kena lagi gue! Iya iya gue minta maaf yah sahabat-sahabatku yang cantik" ujarnya memasang mata puppy eyesnya.


.


.


.


.


Terima kasih sudah mampir.... 🥰