Before I Found You

Before I Found You
BIFY 36



“Kyaaaa.......Cicakk,” ujar Rani melempar bukunya ke lantai kelas.


“Nih anak pagi-pagi udah bikin ribut,” ujar Akbar menggelengkan kepala, ia beralih mengambil sapu dan mengusir cicak putih yang lepas landas secara darurat karena di lempar oleh Rani.


“Ckk, salahin tuh cicak. Ngapain juga pakai tidur di laci gue,” gerutu Rani.


“Udah-udah jangan ribut lo berdua. Tuh cicak udah pergi,” tukas Zia.


“Besok-besok kalau piket yang bersih! Jangan sampai ada cicak yang turun ke bawah,” ujar Rani menatap Akbar.


“Siap kanjeng ratu,” jawabnya sambil membungkukkan sedikit badannya.


Keributan kecil itu adalah hal yang biasa bagi kelas sheijin. Keributan itu diibaratkan bumbu masakan yang harus ada untuk memasak. Kalau ngga masakan terasa hambar.


Rani kembali menjongkok dan menggoyang-goyangkan mejanya, ia sangat takut kalau cicak yang tadi meninggalkan pasangannya di dalam sana. Kan kasian, mending sekalian dilempar supaya mereka ngga berpisah.


“Ran, Ran. Udah ngga ada itu cicak,” ujar Keke yang masih memperhatikan sahabatnya ini menggoyang-goyangkan meja.


“Waspada ini Ke,” tukas Rani dan kembali duduk ke tempatnya.


***


“Assalammualaikum anak-anak kita mulai pelajaran hari ini dengan kuis yah,” ucap guru biologi.


Seketika di kelas menjadi riuh dan banyak siswa yang segera membolak-balikkan buku untuk dibaca kilas. Otak orang cerdas mah gini, tinggal nge recall ingatan lama.


“Mampus, gue nggak belajar,” ucap Keke menepuk keningnya.


“Ran, tunjukin jawabannya yah?” pinta Zia dengan puppy eyes-nya.


“No no no,” ujar Rani sambil menggelengkan kepala, dan jari telunjuknya pun bergerak ke kiri dan ke kanan.


“Punya temen kok gini amat yak,” ucap Keke dan diangguki oleh Zia. Mereka berdua pun segera membaca buku catatan masing-masing dengan cepat.


Rani hanya tertawa melihat tampang kedua sahabatnya ini yang memang kacau dan membutuhkan setrikaan agar kembali normal. Akan tetapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena jika ia menunjukkan kedua sahabatnya ini, sama saja dengan kecurangan yang merugikan diri mereka sendiri.


Guru yang melihat kepanikan para siswa di kelas itupun tersenyum, dan membiarkan siswanya membaca sekitar lima menit. “Baiklah, mari kita mulai keluarkan kertas selembar dan alat tulis kalian!” ucap sang guru dan diikuti oleh helaan nafas kasar dari sebagian murid di kelas.


Mereka semua pun mengikuti perintah guru itu, dan mengerjakan soal yang diberikan dengan tenang.


***


Saat jam istirahat Rani dan kedua sahabatnya memilih untuk melaksanakan shalat dhuha. Saat sedang berjalan di lorong sekolah menuju mushola, mereka berjumpa dengan geng Miko.


“Hadeh, kalian bertiga ini memang wanita perfect,” ujar Ari yang melihat tas mukenah di tangan ketiga gadis ini.


“Nggak usah gombal lo! Ingat bulan puasa,” jawab Zia memutar bola matanya.


“Kita juga mau insaf deh, biar dapetin cewek kayak kalian,” jawab Ari melirik Zia dan menaik turunkan alisnya.


“Ckk, udah ah, ayok ke mushola. Keburu rame orang,” ucap Keke.


“Kamu semakin cantik. Setelah sekian lama ngga bertemu,” ucap Adit terbata.


Blushh pipi Keke menjadi merah, “Wah, nggak nyangka gue. Kalian ngajarin yang nggak bener nih sama anak polos,” ucap Keke.


“Udah-udah jangan ribut. Ingat beribadah itu karena Allah, bukan karena orang! Kalau lo mau dapat pasangan yang baik, lo juga harus memperbaiki diri lo terus,” tukas Rani memberikan ceramah singkatnya.


“Kita duluan yah,” ujar Miko menatap gadis di depannya ini, dan diangguki oleh Rani.


Ketiga gadis ini pun berjalan di belakang mereka. Miko kembali mengingat perkataan Rani, dan melirik kilas ke belakang. Ahh, gue rindu sama dia. Kenapa juga latihan dihentikan dari minggu lalu, omelnya dalam hati.


***


Saat pulang sekolah Rani dan kedua sahabatnya jalan-jalan ke pasar, Mereka berencana untuk membuat takjil buka puasa nanti. Saat sedang mengitari pasar tradisional itu, telepon Rani mengeluarkan notif pesan masuk, Rani pun membukanya.


Es batu : Jangan lama-lama di pasar! Cuaca cukup panas


Ckk, tau dari mana dia. Kalau gue sedang di pasar, ujar Rani dalam hati dan menatap sekeliling.


*Es batu : Nggak usah celingukan gitu, gue tau lo ada di mana aja.


Me : Dasar penguntit!!! Sono lo pulang*!


Rani masih berjalan sambil membalas pesan yang masuk. Beberapa kali dirinya tak sengaja menubruk punggung Zia. Karena ia berjalan di belakang kedua sahabatnya itu.


“Ran, kalo jalan itu yang bener dikit nap sih. Sakit tau!” omel Zia, dan dibalas cengiran oleh temannya itu.


“Mana bisa dia liat jalan, toh asik sama hpnya,” tukas Keke.


Melihat kedua temannya memasang tampang serius Rani pun menyimpan hpnya disaku dan berjalan dengan kedua sahabatnya itu. Selang beberapa lama, sebuah notif pesan kembali masuk.


*Es batu : Gue pulang kalau lo udah pulang!


Me : Dih maksa ;p


Es batu : Nanti lo pulang bareng gua!


Me : Ngapain juga pulang bareng lo? Malas banget.


Es batu : Kalau ngga mau ya udah. Gue paksa nanti*!!!


Ckk, berani ngancem gue nih es batu! Tukas Rani dalam hatinya dan memikirkan cara agar lepas dari pantauan lelaki itu. Rani dengan sengaja membawa kedua temannya untuk masuk ke dalam toko pakaian dalam wanita, agar El tidak bisa mengikutinya.


“Loh Ran kok kita kesini? Mana ada bahan takjil disini,” ucap Keke polos.


“Gue diikutin sama es batu, jadi kita disini aja dulu. Supaya dia ngga ngikutin lagi,” ujar Rani dan melihat-lihat perlengkapan wanita yang lucu-lucu di toko tersebut.


“Heh, pusing gue kalau fans temen gue udah sampai tahap fanatik,” ujar Zia menggelengkan kepalanya. Ia pun menarik tangan Keke untuk mengikuti Rani ke kumpulan peralatan wanita yang ada di sana.


Saat mereka sedang asik memilih, disudut toko satu manekin wanita roboh dan menjadi pusat perhatian para pengunjung toko.


.


.


.


.


Terima kasih udah mampir ^^