Before I Found You

Before I Found You
BIFY 116



"Rani kamu tau nggak?" tanya El.


"ENGGAK!!!" ujar Rani semangat.


El mengeluarkan tatapan horornya pada Rani. Lelaki itu mengusap sebelah kupingnya yang sakit akibat mendengar suara cempreng Rani yang seperti kaleng rombeng. Untung sayang, batin El.


"Abang belum kelar ngomong Maharanisya....Ya Allah, anak siapa sih nih? Pingin rasanya dilariin ke KUA!" tukas El membalikkan badannya sehingga saat ini posisi mereka berdua saling berhadapan.


"Anak mommy sama Daddy lah! Hahaha, makanya kalau ngomong lurus aja bang! Nggak usah kek ada tanjakan sampai perlu diberi jeda." cengir Rani.


El hanya menggeleng kan kepalanya. El kembali menatap wajah Rani. Ia tak habis pikir mungkin untuk kesekian kalinya lagi dan lagi dia bertanya pada diri sendiri kenapa ia bisa betah bersama gadis labil dihadapannya ini.


"Wah wah wah....Kalau mau mengumpat bilang langsung! Jangan pakai suara hati dong bang!" ujar Rani yang seperti tahu isi hati El.


"Cih! Sok tempe kamu!" tukas El menyentil jidat Rani.


"Suka-suka abanglah. Jadi ngomong kagak nih? Kalau nggak jadi aku ke tempat cuwok-cuwok ganteng yang lagi main gitar itu tuh!" ancam Rani.


"Hemmm...Beraninya adek manis sekarang. Gaya-gayaan pingin ke perkumpulan cowok-cowok itu, pakai dibilang ganteng segala!" cibir El.


"Iyadung, kata temen-temen itu vitamin A buat kesehatan mata. Apalagi oppa-oppa Korea, gantengnya masyaallah, luar binasah!" ujar Rani semangat.


"Puji teroosss...Sampai-sampai lupa diri sama siapa yang udah berjuang buat dia!" ujar El dengan suara merajuk.


Hati El semakin ketar-ketir mendengar gadis kecilnya memuji lelaki lain dan tadi apa katanya. Melihat para lelaki itu bagaikan vitamin A yang bermanfaat untuk kesehatan mata. Ini tidak bisa dibiarkan, hanya boleh dirinya yang ganteng di mata Rani. Ckk elah bang, posesip amat.


"Hehehe...canda doang loh bang!" ujar Rani menampilkan deretan gigi putihnya.


El berjalan mendahului Rani, siapa sangka lelaki itu segera merebut gitar yang kebetulan sedang berada di tangan adik sepupunya.


~ Petra Sihombing: Mine (Milikku)


Wajahmu...


Hatimu...


Telah lama 'ku dambakan


Kamu yang sejak dulu aku nantikan


Ketika kau di sampingku


Berdebar rasa di hatiku


Diriku tersipu malu


Karena dirimu


'Ku ingin kau milikku


Oh baby I'll take it to the sky


Forever you and I


Dan kita 'kan selalu bersama


Cintaku selamanya jika kamu milikku


Milikku


Senyummu, candamu


Selalu dapat kubayangkan


Kamu yang sejak dulu aku nantikan


'Ku ingin kau milikku


Oh baby I'll take it to the sky


Forever you and I


Dan kita 'kan selalu bersama


Cintaku selamanya jika kamu milikku


Milikku


And I want you to be mine


And I want you to be mine


Oh baby I'll take it to the sky


Forever you and I


Dan kita 'kan selalu bersama


Cintaku selamanya jika kamu milikku


Kau Milikku


You and i


Dan kita kan slalu bersama


Cintaku selamanya jika kamu milikku


Milikku


Milikku


Rani mengerjapkan matanya berulang kali. Apakah lelaki di depan itu memang begitu? Baru saja ia berada di hadapan Rani dan kini sudah menyanyikan sebuah lagu dan itu tentu untuk dirinya. Mata elang tersebut tidak henti menatap dirinya di sepanjang lirik yang ia lontarkan.


"Meleleh adek bang...." ujar salah seorang gadis yang duduk disebelah Rani.


Hais....Gue tau kalau bang El nyanyi buat gue. Tapi kenapa para gadis labil ini yang meleleh! Atau jangan-jangan bang El sengaja mau tebar pesona. Huhh!!! dengus Rani kesal sendiri.


"Astaghfirullah Rani...Suuzon itu nggak boleh!" ujar Rani lagi mengelus dadanya. Ia sering khilaf dalam merutuki seseorang.


"Sama siapa lu Suuzon Ran?" tanya Beby.


"Sama Lo! Gue curiga lu pasti tadi siang pas jatah makan ngambil paling banyak kan?" ujar Rani beralasan.


"Hehe, itumah bukan Suuzon Ran! Emang gue ngambil banyak. Lapar non," cengir Beby.


Rani hanya menggelengkan kepala ternyata yang ia lontarkan adalah kenyataan. Gadis itu pun pergi ke arah api unggun yang sudah dikelilingi oleh beberapa siswa.


Beberapa acara diselenggarakan untuk penutupan. Mulai dari ucapan terima kasih, maaf, dan sebagainya hanya lewat saja ditelinga Rani. Gadis itu tidak terlalu menyimak dengan apa yang di sampaikan oleh kepala sekolah di depan. Rani hanya akan ikut menjawab apabila teman-temannya ikut menjawab serempak atau ikut bertepuk tangan disetiap ucapan yang membuat para guru dan siswa terkagum-kagum dengan kepala sekolah.


Tepat pukul 10 malam semua siswa diizinkan untuk tidur di tenda masing-masing. Karena besok pagi mereka akan kembali ke kota asal. Para siswa berjalan dengan tertib menuju tenda masing-masing.


Saat hampir di seluruh tenda para siswa sudah lelap dengan mimpi mereka. Tenda kelompok Rani masih saja terdengar suara bisik-bisik. Siapa yang menyangka bahwa dua tenda di ujung lapangan tersebut sedang mengadakan arisan dadakan.


Benar, para lelaki dan wanita di kelas Rani yang memang tendanya bersebelahan dan ditengah-tengah kedua tenda terdapat sedikit ruang yang cukup untuk mereka mengadakan arisan dadakan. Dengan berbekal pencahayaan dari lampu senter canggih milik Bian mereka semua bercerita mengenai pengalaman-pengalaman selama dua hari diperkemahan.


"Gue bukannya sombong nih ya. Tapi ya gimana, bokap gue udah nyiapin ini buat kita semua. Tadi sore dianter sama si akang, nih pada di makan!" ujar Hana salah seorang teman kelas Rani yang terkaya di kelas.


"Waww.....Makasii inces Hana," ujar Rido.


Tiga kotak pizza berada di depan mereka. semua anggota arisan pun menyerbu makanan cepat saji tersebut. Namanya doang yang cepat saji, buatnya dan menunggu ketika membeli makanan itu tetap lama! Hehe, author curhat.


"Siapa duluan nih yang mau cerita?" tanya Rani. Jiwa emak-emak kepo yang sudah lekat di dirinya keluar saat itu.


"Gue deh Ran. Tapi lu pada jangan takut yah!" ujar Dio.


Para anggota pun mengangguk serentak. Mereka penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh Dio. Beberapa dari para gadis yang memang penakut saling berpelukan tetapi mata dan telinga mereka terpusat pada suara Dio.


"Kemarin malam pas hari pertama gue ngambil kayu untuk api unggun di arah kaki bukit sana. Gue denger bunyi keretek-keretek kayak langkah kaki. Tapi pas gue lihat di sekitar kagak ada orang, yang ada cuman gue sama Deri. Ya kan der?" tanya Dio.


"Heem guys, terus kami senter dah tu hutan. Siapa sangka di depan kami ada pohon beringin besar, kalau dari sini nggak kayak pohon beringin. Tapi pas kami berhenti di sana, akar pohon itu menggantung-gantung, angin kenceng datang..." ujar Deri menceritakan dan memegang bulu kuduknya sendiri.


"Kami ngelirik ke atas pohon. Dan..." ujar Dio tercekat ia menatap ke belakang Rani.


"Apaa sihh Yoooo!!!! Lu jangan buat gue merinding deh! Ini apa lagi kok hawa dibelakang gue dingin amat, ada apa dibelakang gue? Hantu?" ujar Rani menekukkan lehernya. Ia ketakutan sendiri dan tidak ingin melirik ke belakang.


"Lebih serem dari hantu Ran...Apalagi kalau ngamuk," ujar Abil yang melihat El sudah berkacak pinggang di belakang Rani dan menatap mereka semua.


Lirikan mata El seakan mengatakan pada mereka semua untuk bubar. Para anggota arisan pun kelimpungan dan berlarian masuk ke dalam tenda.


"Woiii....Bener-bener kagak ada setia kawannya kalian! Hiks, Mbah hantu nyai...Saya minta maaf karena kami buat keributan, saya izin tidur dulu." ujar Rani dan ingin mengambil langkah seribu memasuki tendanya.


"Tadi disuruh tidur kenapa nggak tidur cu?" ujar El dengan suara parau dan memegang ujung topi hoodie Rani.


"Arisan dadakan Mbah. Lumayan buat nambah wawasan, lepasin atuh Mbah. Nanti neneknya marah loh si Mbah ganjen ke saya!" ujar Rani dengan suara mengiba dengan mata tertutup.


Rani merapalkan segala doa yang ia bacakan. Kenapa dua hari ini ia selalu sial dan bertemu dengan hawa yang negatif. Sementara El sudah merapatkan bibirnya agar tawanya tidak lepas.


"Mana ada dapat ilmu. Yang ada kalian itu malah ngomongin mereka! Kalau Dateng beneran tau rasa!" ujar El menyudahi sandiwaranya.


"Oh God....Abang!!!! Keterlaluan banget! Abang mau Rani cepet mati gegara ketakutan, supaya Abang dapet cewek yang lebih cantik gitu?!" ujar Rani cemberut, bahkan ia memukul lengan El menggunakan ranting kayu yang memang ia pegang sedari tadi.


"Auhh au....Sakit Ran, ampun-ampun," ujar El mengaduh kesakitan.