Before I Found You

Before I Found You
BIFY 44



Langit jingga diwarnai dengan kicauan burung menemani Rani yang sedang membantu sang mama berjualan. Pelanggan yang datang sore ini lebih banyak daripada biasanya, mungkin dikarenakan di penghujung bulan Ramadhan para ibu-ibu sudah fokus ke kegiatan rutin yaitu membuat kue lebaran, sehingga banyak yang tidak sempat membuat takjil untuk berbuka puasa.


“Eh, Rani....gelis pisan. Nanti kalau sekolahnya udah selesai, mau ya jadi mantu ibu?” canda sang ibu-ibu yang hanya dibalas senyuman oleh Rani.


“Si ibu mah bisa aja, si Rani ini masih harus kerja dulu untuk nyekolahin adek-adeknya,”ujar Rita dan diangguki oleh ibu tersebut.


Rani hanya senyam-senyum menghadapi perbincangan ibu-ibu itu. Ia menemani mamanya hingga dekat dengan waktu berbuka, Rani dan mamanya segera menutup jualannya dan menuju rumah.


“Alhamdulillah ya Ran, rame yang beli.” Ujar Rita tersenyum pada anak gadisnya itu.


“Iya ma, semoga terus kek gini,” ujar Rani.


“Aamiin,” ucap Rita dan juga Rani.


Kedua wanita ini pun menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Usai berbuka puasa, mereka melaksanakan shalat magrib. Kemudian bersiap-siap untuk menuju mesjid.


***


“Raniiii......gue sama Zia bakal ke mesjid lo nanti,” teriak Keke di telfon.


“Lo mau bikin gue budeg ya!” omel Rani memegang kupingnya yang nyaring akibat teriakan Keke.


Membuat kedua orang yang melakukan panggilan telfon tertawa, mereka juga tidak menyangka kalau acara di mesjid perumahan Rani sangat meriah dan mengundang banyak perhatian orang-orang sekitar.


“Hehe, ya maaf sayang. Kita nanti perginya bareng lo aja ya, kita ke rumah lo dulu,” ujar Keke.


“Bukannya di mesjid kalian masing-masing juga lagi ngadain lomba?” heran Rani, karena kemarin sahabatnya ini tidak bisa menemaninya.


“Udah kelar kok kemarin. Zia juga udah kelar bucin-bucinan sama cowoknya! Jadi kita free,” ucap Keke senang.


“Harus banget ngatain gue ya?” ujar Zia yang mungkin kalau mereka sedang bertemu langsung telah memukul lengan Keke sekeras mungkin.


“Hemmm...buruan deh kalian kesini! Bentar lagi isya,” ujar Rani.


“Siap boss!” ujar kedua gadis di balik telfon sana dan mengakhiri panggilannya.


Seperti malam sebelumnya para panitia akan diberi waktu untuk mengganti baju mereka sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Hari ini tema mereka yaitu hitam putih dan untuk wanita menggunakan kerudung berwarna maroon. Setelah bersiap-siap Rani pun duduk di ruang tv dengan memakai mukenahnya.


“Loh kak, kok lo belum pergi?” tanya Habil.


“Nungguin cecurut,” jawab Rani pendek dan kembali menonton.


“Gue duluan ya. Jangan lupa taro kunci di tempat biasa!” ucap Habil dan diangguki oleh Rani.


Beberapa lama kemudian Zia dan Keke telah sampai, mereka pun langsung berlari ke mesjid karena orang sudah iqomah.


“Wihh....Kok lo bersinar terus sih Ran? Apalagi kalau ada acara, wajah lo bakal ngeluarin aura, bagaikan sinar di kegelapan” ujar Zia memegangi kedua pipi Rani.


“Heh, lo pikir gue senter? Ngeluarin cahaya pas gelap,” memutar bola matanya jengah dan melepaskan tangan sahabatnya itu.


“Yang diomongin Zia itu bener loh Ran,” imbuh Keke.


“Iyain aja deh biar cepet. Ayok, nanti kalau gue telat dihukum lagi sama si es,” ujar Rani menarik kedua sahabatnya itu menuju mesjid.


“Gue belum wudhu,” ujar Keke saat mereka berlari.


“Makanya gue suruh cepet datang. Gue duluan, sono lo berdua pergi wudhu!!!” ucap Rani langsung masuk ke mesjid dan merapatkan badannya ke orang di samping.


***


“Janganlah anda terburu-buru dalam melakukan suatu hal!” delik Zia kesal yang baru saja menyelesaikan wudhunya. Kedua gadis ini pun segera memasuki mesjid.


Setelah melaksanakan kewajibannya, Rani mengajak kedua sahabatnya untuk mencari sahabatnya yang di rumah. Akhirnya, ia menemukan mereka.


“Kenalin in Sari sama Wulan. Nah kalau yang cowok india ini kalian udah tau kan?” tanya Rani dan diangguki oleh kedua sahabatnya.


“Hai gue Zia, nice to meet you.” Ujar Zia menyalami Sari dan Wulan.


“Gue Keke. Uhhh, senangnya dapat teman baru.” Ujar Keke merangkul Sari dan Wulan.


“Yah gue sendiri dong yang cowok?” keluh Iwing.


“Lo ngga terima?” delik Sari.


“Sono sama cowok yang lain!” ujar Wulan membuat para gadis ini tertawa.


“Gini yah kalian. Habis manis sepah dibuang!” ujar Iwing. Perkataan Iwing kembali membuat mereka tertawa.


“Udah ah, mending kalian semua bantuin gue nyusun ini,” titah Rani dan menyeretpara sahabatnya menuju tempat konsumsi.


“Wahh...surga makanan,” ujar Zia.


Sadar akan ucapannya, Zia pun menutup mulutnya dan melihat Rani yang sudah mendelik tajam padanya. Kedua sahabatnya membantunya di sana, sementara Wulan dan Sari sudah menuju ke tempat kerja mereka dibagian registrasi peserta.


“Rani.....” seseorang memanggil Rani.


“Waw, ada tiga bidadari di dalam sini,” takjub Randi.


“Bidadari dari kali?” ejek Zia. Perkataan Zia membuat Randi cengar-cengir.


“Hai, kenalin gue yang paling lucu disini. Nama gue Randi,” ucap Randi mengulurkan tangannya pada Zia.


“Zia,” ujar Zia tanpa membalas uluran tangan Randi.


Rani menahan tawanya melihat tingkah Randi yang ditolak oleh sahabatnya. “Ngapain lo manggil gue bang?” tanya Rani.


Randi masih menatap Zia sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lamunannya dibuyarkan oleh lemparan sendok agar-agar dari Rani. “Woi!!! Kalau orang nanya itu jawab kek bang,” tukas Rani.


“Heheh, si El manggil lo. Disuruh ke bagian registrasi,” ucap Randi melirik lagi ke arah Zia.


“Ngapain gue disuruh kesana?” heran Rani.


“Udah temuin aja dulu. Disini biar gue yang jagain makanan!” ujar Randi.


“Lo makanin yang ada bukan ngejagain!” ejek Rani.


“Lo buat turun harga gue aja sih Ran,” deliknya pada Rani.


Rani tidak menghiraukan delikan Randi, “Zi, Ke lo jagain ini bentar ya...Anak-anak gue juga lo jagain!” ucap Rani dan tersenyum kepada adik-adik di bidang konsumsi.


“Siap mak,” ujar Keke.


Rani pun menghampiri El yang sedang berbicara dengan yang lain di bagian registrasi. El yang melihat Rani sampai beranjak dari tempat duduknya dan menyuruh Rani duduk disana.


“Ada apa bang?” tanya rani.