
Rani pun membalas pesan El padanya.
Yah, gimana dong? Disini banyak cowo gantengnya bang.
Tadi pagi aja aku udah nemu cowo yang mirip banget sama kamu.
Aku ngga janji bisa jaga hati. Hahhaha.
Wlekkk!!!
El yang juga sedang istirahat membuka pesan dari Rani membuat lelaki itu panas dingin. Ingin menelfon Rani. Akan tetapi ia akan ada kelas sebentar lagi. Belum lagi dia mengisi perutnya yang sudah kelaparan karena harus kuliah 6 SKS pagi ini. Ia pun membalas pesan Rani.
*Awas aja kalau berani! *
Abang langsung bawa kamu ke KUA pas pulang!
Abang mau makan dulu. Kamu jangan lupa makan.
Assalammualaikum calon makmumku
Rani hanya menggelengkan kepalanya setelah membaca pesan El yang menurutnya berbahaya untuk dirinya. Ia masih memiliki banyak cita-cita. Jadi jangan sampai kata pernikahan itu menghinggapi dirinya. Rani pun membalas pesan El.
Nggak ada nikah-nikah!
Rani mau abang kasih makan pakai apa?
El pun tersenyum membaca balasan ketakutan dari gadis kecinya. Rasain aku kerjain kamu, batin El.
Makan cintalah!!!
Kalau ngga kenyang kita makan dedaunan.
Hahah, makanya jangan coba-coba.
Rani yang membaca itu hanya memutar bola matanya. Ternyata lelaki di hadapannya ini memang tidak bisa bicara serius saat bersamanya. Rani tidak ingin lagi membalas pesan El yang menjengkelkan, gadis itu mematikan handphonenya dan menyegerakan melipat mukenahnya. Setelah itu, Rani merapikan jilbab yang ia gunakan dan menuju kantin sekolah.
Suasana di kantin memang sangat ramai. Rani pun memilih untuk ke stan soto. Ia sangat lapar. Setelah mendapatkan pesanannya, gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluurh penjuru kantin. Rani melihat Abil yang melambaikan tangannya dan memanggil nama Rani. Rani pun menghampiri kedua teman barunya itu. Saat sampai di meja. Ternyata mereka sama-sama sedang mamakan soto.
“Kamu tadi kemana Ran?” tanya Abil.
“Tadi aku shalat dulu, kalian ngga shalat?” tanya Rani sembari memberikan bumbu-bumbu dan cabe ke dalam mangkok sotonya.
“Kami berdua sedang dapet, Oh iya Ran. Kamu kemarin milih IPA atau IPS?” tanya Abil.
“Aku milih IPA. Kalau kalian?” tanya Rani.
“Aku milih IPA juga,” jawab Abil.
“Kamu Ki?” tanya Rani pada Kia.
“Aku sama milih IPA juga.” jawab Kia.
“Semoga aja memang kita bertiga sekelas yah.” ujar Abil dan diangguki oleh Rani dan Kia.
Usai menikmati makan siang mereka, Rani dan kedua temannya itu jembali melaksanakan kegiatan MOS hingga sore hari.
***
"Fiuhh... Hari ini sungguh melelahkan dan membuat remuk seluruh badan." keluh Rani menghempaskan badannya di kasur.
Gadis kecil itu pun memejamkan matanya. Akan tetapi, ia teringat kembali barang-barang yang harus di bawanya ke sekolah besok sebagi atribut MOS. Ranu membulatkan matanya saat melihat banyaknya barang aneh yang harus iaq siapkan. Mulai dari selempang dari daun buah nangka, papan nama dari kertas karton, dan rok luaran ala orang Jayapura yang dibuat dari tali rapia.
Rani pun menggosok kasar rambutnya. Ia berjalan keluar kamar dengan wajah kusutnya.
"Ma..... Papa mana?" tanya Rani kepada sang mama yang sedang asik dengan tayangan bollywood tersebut.
"Papa kerja... Kenapa wajah kamu ditekuk kek kaset kaki kusut begitu?" tanya Rita melirik nak gadis satu-satunya tersebut.
"Mama lihat nih... Entah buat apa barang aneh-aneh begini. Mana cara buatnya Rani ngga ngerti!" ujar Rani.
"Namanya juga masa orientasi siswa sayang. Kerjainlah sendiri! Masa masih nungguin papamu." omel Rita menjewer telinga anaknya.
"Kamu ngga lihat mama sedang sibuk," ujar Rita santai.
"Ya Allah... punya emak kok kejam amat. Nontonin orang akting dibilang sibuk," cibir Rani.
"Sesekali emakmu ini menikmati wajah tampan." delik Rita.
"Iyain aja biar kelar. Yaudah deh mah, Rani ke rumah Iwing dulu." ujar Rani dan berlarian keluar rumah.
"Rani... Jilbabmu...." teriak Rita.
Namun, teriakan Rita tidak terdengar oleh Rani. Rani sudah berjalan dengan santai keluar rumah. Ia berjalan melewati kandang kambingnya dan menyempati diri untuk memberikan rumput baru untuk peliharaan kesayangannya itu.
Setelah itu, Rani berjalan menuju rumah sahabatnya yang bertulang lunak tersebut.
"Wing... Oo Wing... Assalammualaikum," teriak Rani dari luar rumah Iwing.
Sementara, di dalam kamar seorang lelaki menutup gendang telinganya menggunakan bantal. Ia sangat kesal dengan suara Rani yang saat ini berada tepat di jendela kamarnya.
"Cawing.... Bangun woi, bantuin gue..." rengek Rani sembari mengetuk-ngetuk jendela kamar Iwing.
"Ya Allah, Ya Tuhan.... Kenapa engkau kirimkan hamba sahabat yang modelannya begitu," keluhan Iwing.
Lelaki itu pun beranjak dari kasurnya. Ia membukakan jendela kamarnya lebar-lebar, sehingga sahabat perempuannya itu berhenti dengan teriakannya yang memekakkan gendang telinga tersebut.
"Mau apa sih Ran...Ganggu jadwal tidur gue aja lo!" tukas Iwing ketus.
"Hehe, ya maap. Gue butuh bantuan lo. Buruan keluar!" titah Rani.
Iwing memutar bola matanya jengah dan menghentak-hentakkan kakinya. Ia heran karena apapun permintaan dari para sahabatnya selalu tidak bisa untuk di tolak. Ia pun menatap tajam kepada Rani, akan tetapi hanya mendapatkan cenguran khas dari Rani. Iwing pun mengalah dan membukakan pintu rumahnya.
"Bantu apa?" tanya Iwing merebahkan badannya di atas sofa ruang tamunya tersebut.
"Nih. Banyak hal yang harus gue bawa ke sekolah. My daddy lagi kerja, adek-adek ngga tau kemana. Bantuin ya? Ya ya ya..." ujar Rani merengek bak anak kecil yang ingin dibelikan mainan.
"Iya iya. Jangan ngerengek lagi! Budeg telinga gue lama-lama denger suara lo yang udah kek kresek. Huhh!!! Untung aja gue memiliki kesabaran yang lebih," Iwing merebut catatan yang ada di tangan Rani dan membaca apa saja yang di butuhkan oleh sahabatnya itu.
"Hehe.. Terima kasih banyak sahabatku sayang." ujar Rani dengan senyum pepsodentnya.
Iwing pun berjalan menuju belakang rumahnya dan mengambil daun nangka yang diperlukan. Lelaki itu pun menyiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk keperluan Rani.
Rani hanya menunggu sahabatnya itu menyiapkan peralatan. Gadis itu juga memakan cemilan yang ada di rumah sahabatnya itu. Malu? Tidak karena Rani sudah merasa bahwa rumah itu adalah rumahnya juga. Orang tua sahabatnya juga adalah orang tuanya begitupun keluarganya. Rumah Iwing memang sering sepi karena masing-masing memiliki kesibukan masing-masing.
Saat menunggu dering di telepon Rani mengagetkan gadis itu. Ia pun mengangkat panggilan tersebut.
"Assalammualaikum," ujar Rani.
"Lagi dimana?" tanya El.
"Di rumah Iwing." jawab Rani.
"Ngapain? Sama siapa? Pakai Jilbab nggak?" pertanyaan beruntun El berikan pada Rani.
"Mampus!!!" desis Rani pelan dan menepuk keras keningnya. Ia tersadar bahwa saat ini dirinya hanya menggunakan baju rumahan dan tidak memakai jilbab.
El yang masih berada di seberang telepon segera mengalihkan panggilan menjadi panggilan video. Rani membulatkan matanya dan segera berlari menghampiri Iwing yang sedang berada di ruang perkakas sekolahnya.
"Wing...Pinjemin jilbab kakak lo ya." ujar Rani kocar-kacir dan bergerak membuka lemari di kamar Iwing.
Gadis itu bergegas menggunakan jilbab yanga da di lemari tersebut. Rani menghela nafas panjang sebelum mengangkat panggilan video tersebut.
Iwing hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sahabatnya tersebut.
"Dasar dodol! Berubah itu karena Allah bukan karena orang!" tukas Iwing memukul belakang kepala Rani.
"Sakit beg*k!!!" delik Rani.
"Kalian berdua aja?" tanya El menatap intens pada keduanya.