
Hari ini Rani dan kedua sahabatnya berencana untuk lari pagi hingga ke alun-alun kota.
Sehabis subuh kedua sahabatnya itu sudah mengganggu ketentraman Rani dan keluarga. Karena kedua gadis tersebut menyoraki Rani dari luar jendela kamarnya. Alhasil tidur nyenyak Rani buyar seketika.
"Gue capek. Nggak kuat lari lagi," ucap Zia dengan nafas ngos-ngosan.
"Dikit lagi Zi. Ayok bangun!" ucap Rani menarik kuat tangan sahabatnya tersebut.
"Dulu aja waktu awal-awal SMP lo juaranya lari. Termasuk lari dari kenyataan. Hahaha," ucap Keke mentertawakan Zia.
Zia saat ini berlari sangat pelan sembari memegangi perutnya sebelah kiri.
"Lo beneran nggak kuat Zi?" tanya Rani melirik wajah sahabatnya yang mulai memucat.
Zia pun mengangguk dan tiba-tiba pandangannya menggelap. Ia masih sadar dengan suara-suara kedua sahabatnya. Namun, suara tersebut semakin menghilang.
"Zi!!!" ucap Rani segera meletakkan kepala Zia di atas pahanya. Posisi mereka saat ini lesehan di pinggir jalan yang sepi tersebut.
"Gimana ini Rann?" ucap Keke cemas. Dirinya pun mengipas Zia menggunakan tangannya. Sedangkan Rani sedang memijat telapak kaki Zia yang mendingin.
Saat ini lokasi jalanan sangat sepi, hanya mereka yang ada disana. Rani dan Keke masih berusaha untuk membuat Zia sadar.
Seorang lelaki bersepeda motor berhenti tepat di depan mereka. Lelaki tersebut menggunakan motor sport hitam dan dengan pakaian serba hitam, mulai dari celana jeans hitam, kaosnya hitam, dibaluti dengan jaket kulit berwarna hitam.
Keke dan Rani menatap lelaki yang masih menggunakan helm fullface tersebut. Mereka cemas bahwa lelaki itu adalah penculik. Sesaat kemudian, lelaki itu membuka kaca helmnya.
"Bidadara dari surga," ceplos Keke.
Rani menatap tajam sahabatnya tersebut. Dia pun menautkan alisnya kepada lelaki tersebut.
"Temannya pingsan ya dek?" ucap lelaki itu mendekati Rani dan kedua sahabatnya.
"Iya kak, dari tadi belum bangun." ujar Keke.
Lelaki itu pun ingin memeriksa Zia, tetapi tangannya di tepis oleh Rani.
"Kakak mau apain sahabat saya?" ucap Rani tegas.
"Tenang gue nggak ada maksud lain. Gue dokter, jadi biar sahabat kalian gue yang tanganin," ucapnya memeriksa Zia. Rani dan Keke pun memberi ruang agar lelaki itu membantu Zia.
"Sahabat kalian sepertinya kelelahan atau bisa jadi tipes. Gimana kalau gue bawa ke klinik gue? Dari pada kalian ngemper di jalan," ajak lelaki tersebut.
Rani dan Keke pun saling melirik, mereka ragu dengan orang dihadapannya yang tidak menggambarkan bahwa ia adalah seorang dokter, dan sekarang di tambah lagi bahwa lelaki itu mengaku bahwa ia memiliki klinik.
Melihat Rani dan Keke yang saling pandang-pandangan. Lelaki itupun tersenyum dan membuka suaranya.
"Klinik gue itu di depan. Jangan menilai orang dari penampilannya!" ujar lelaki itu sembari menunjuk sebuah klinik besar yang berada diseberang jalan tempat mereka berada.
Rani dan Keke pun serentak menelan ludah mereka kasar, Rani pun mengungkapkan apa yang ada di benaknya.
"Maafin kita yah kak, bukan maksud kita begitu. Satu lagi, kita nggak bakal bisa bayar kalau ke klinik sebesar itu kak," ucap Rani.
"Hahaha. Dasar bocah polos, gue juga nggak mau diaduin ke Kak Seto karena pemalakan pada anak-anak. Udah tenang aja, kalian ikutin gue. Kalau bisa tolongin pindahin tuh motor ke depan klinik," ucap lelaki tersebut dan menggendong Zia seperti menggendong ala brydal style.
Karena ia sedang menggendong Zia, lelaki itu kesulitan mengambil kunci klinik yang ada di motor bersamaan dengan kunci motornya.
Ia pun meminta Rani untuk mengambil kunci dan membuka pintu klinik tersebut.
Mereka pun membiarkan Zia diberi infus dan terbaring lemah di atas kasur klinik tersebut.
"Iya kak. Makasih udah bantuin Kita, padahal kaka orang yang nggak dikenal. Memang jarang ditemukan lelaki berhati malaikat sekarang ini," ucap Keke.
"Kenalin nama gue Afanasiy Rainer, panggil aja Afan, atau Rain. Udah kenal kan? Sekarang giliran kalian," ucapnya menatap kedua gadis dihadapannya.
"Nama gue Keke kak, kalau sahabat gue yang senyap dari tadi namanya Rani. Dia memang kalem kalau ketemu orang baru, kalau udah kenal mah beda lagi. Heboh orang sekampung denger suara cempreng dia," ucap Keke menepuk-nepuk bahu Rani.
Rani pun mendelik sebal kepada sahabatnya yang memiliki mulut seperti orang berjualan di pasar. Segala hal diucapkan tanpa henti demi menarik pembeli.
"Haha, Rani itu tetap cantik walau kalem." ceplos Afan.
Rani dan Keke pun melirik ke Afan. Mereka heran dengan perkataan yang diucapkan oleh lelaki tersebut.
"Kalian adalah pasien pertama gue disini," ucap Afan mengalihkan pembicaraan, ia tersadar bahwa gadis cilik di hadapannya ini memang cantik.
"Memangnya sebelum ini kak Afan tinggal dimana?" tanya Keke.
"Gue tinggal di Belanda. Balik kesini karena nenek gue," ucap Afan.
"Kalian SMA mana?" tanya Afan.
"What? Memangnya tampang kami ketuaan ya kak? Kita masih SMP," jawab Keke.
"Hah? Kalian masih SMP udah gede gini. Gimana pas SMA," ucap Afan, dirinya tidak menyangka bahwa ketiga gadis di hadapannya masih anak di bawah umur. Ternyata ucapannya di awal memang benar bahwa dia bisa saja mendapat panggilan dari Kak Seto kalau mengusik gadis kecil ini.
"Iya kak kita udah kelas 3 SMP. Kira-kira Zia kapan bangunnya kak?" tanya Rani.
"Sebentar lagi juga udah bangun. Sekalian kalian bilang ke orang tuanya untuk membawa Zia Ke rumah sakit terdekat," ujar Afan.
"Gue aja yang bilang ke Mama Eli," Keke pun pergi keluar untuk menelfon mama Zia.
Kecanggungan melanda antara Afan dan Rani. Rani lebih memilih untuk mengusap-ngusap punggung tangan sahabatnya.
"Lo tinggal dimana?" ujar Afan membuka pembicaraan.
"Di kompleks arah atas kak," jawab Rani
Afan pun mengangguk dan pembicaraan itu pun berakhir. Keduanya sibuk dalam pikiran masing-masing.
***
Zia yang sudah sadar menangis histeris, karena dirinya paling benci dengan yang namanya rumah sakit apalagi infus. Dirinya tadi sempat melepas infus yang dipasangkan ke punggung tangannya, akan tetapi dihentikan oleh Rani dan Afan. Keduanya berusaha membujuk Zia dan mengatakan keadaannya saat ini.
Mama Zia yang datang pun menangis melihat anaknya. Ia merasa bersalah karena selama ini dirinya hanya sibuk dengan pekerjaan, ia akan pergi sebelum Zia bangun dan baru pulang saat anaknya itu tidur.
Afan pun menyarankan agar Zia dibawa ke rumah sakit daerah. Disana ia akan mendapatkan perawatan yang lebih baik, klinik Afan baru saja di buka, sehingga peralatan disana belum memadai.
.
.
.
.
Terima kasih udah mampir....