
Tanpa pikir panjang El melajukan motornya dengan cepat. Rani yang kaget segera mengeratkan pegangan tangannya pada tas El. Motor itu melaju kencang menembus jalanan sepi sore itu.
"Lo mau mati ya bang?" teriak Rani. Dirinya sudah was-was karena sedari tadi seorang polisi mengikuti mereka dengan motor matic nya.
Namun El tidak menanggapi suara Rani. Ia melirik dari spionnya ternyata polisi yang ada di pos tadi masih mengejar mereka. Bahkan saat ini semakin dekat dengan mereka dan memotong laju motor El.
El yang kaget segera menekan rem motor besarnya itu. Motor yang tiba-tiba berhenti itu membuat kepala Rani terbentur ke helm El.
"Auhh...Dasar cowok si*alan!!!" ucao Rani memukul keras bahu El.
"Adik-adik silahkan turun!" tegas sang polisi.
"Baik pak," El pun turun dari motornya dan melepas helmnya.
Ibarat iklan shampo, El yang sedang membuka helm itu seperti gerakan slow motion. Pesona El menyeruak di kala itu membuat mata Rani tak berkedip. Bahkan, sang polisi pun melongo melihat ketampanan remaja di depannya ini.
"Selamat sore. Saya briptu Norman yang sedang menjalankan tugas hari ini. Boleh saya melihat surat-suratnya? Adik-adik tau kesalahannya apa?" ujar polisi.
"Maaf pak, saya lupa memberikan helm kepada pacar saya." ujar El santai dan memberikan surat yang biasanya dimintai oleh polisi saat akan menilang.
"Selain itu?" tanya polisi.
"Pakpol maaf ya saya bukan pacar dia. Yang ada itu dia nyulik saya pas pulang sekolah!" ujar Rani menatap tajam pada El, dirinya tak terima dikatakan sebagai pacar El.
"Apakah benar kamu menculiknya?" polisi tersebut mengangkat alisnya karena bingung dengan yang dikatakan oleh Rani.
"Biasa pak dia lagi merajuk. Baiklah pak, jadi apa hukuman yang harus saya jalani?" ujar El. Ia sedikit malu karena sudah dikatakan seorang penculik oleh Rani.
"Dasar anak muda! Seharusnya kamu menjaga dia, bagaimana kalau adik yang cantik ini terluka karena tidak menggunakan helm saat berkendaraan? Karena saya sedang berbaik hati. Kamu saya tilang, dengan biaya denda 300 ribu. Salah yang kedua masalah lari saat pengejaran saya maafkan. Lain kali jangan diulang lagi!!" ujar sang polisi.
"Baik pak," ujar El mengeluarkan uang dari dompetnya dengan cepat. Ia sudah melihat gerakan Rani yang akan memprotes El pada polisi.
"Yaudah pulangnya hati-hati jangan ngebut! Ini saya kembalikan" ujar polisi tersebut dan meninggalkan El dan Rani.
"Sejak kapan gue jadi pacar lo?" ujar Rani menatap El dengan tajam.
"Siapa juga yang mau jadiin lo pacar. Lo bakal jadi masa depan gue!" ujar El mengedipkan sebelah matanya pada Rani dan menaiki motornya kembali.
"Dasar manusia stres!!!" ujar Rani ia heran dengan lelaki di hadapannya ini.
"Buruan naik!!!" titah El.
"Ogah!!! Gue mau jalan aja udah dekat, " ujar Rani meninggalkan El dengan motor itu.
El pun turun dari motornya dan kembali manarik Rani, "Lo mau gue culik beneran?" ujar El dengan senyum devilnya.
Rani pun bergidik ngeri dan akhirnya menurut untuk naik ke motor El. Mereka pun melanjutkan perjalan mereka yang hanya tinggal setengah kilometer lagi.
Saat sampai di rumah Rani, dengan beraninya El turun dari motor dan mengikuti Rani hingga ke depan pintu rumah Rani.
"Assalammualaikum tante. Maaf ya tante Rani pulangnya sore," ujar El. Membuat Rita tercengang dan menatap tajam ke anak gadisnya.
"Wa'alaikumussalam, memangnya kalian dari mana?" tanya Rita menatap Rani.
"Aih si mama. Rani capek, mama tanya aja tuh sama orang yang nyulik Rani!" ucap Rani dan masuk ke dalam rumah.
"Eeh... nak El masuk aja dulu, tante habis masak gorengan." ujar Rita mempersilahkan El masuk ke rumahnya.
"Mamahh!!!!!" pekik Rani saat melihat El yang tersenyum lebar ke arahnya dari sofa tempat El berada. Rani segera masuk lagi ke dalam kamarnya.
Rani merutuki kepolosan sang mama yang dengan mudahnya diperdaya oleh ucapan sok manis dari El. Apalagi saat ini diri Rani hanya menggunakan handuk. Untung banyak tuh es ngeliat badan gue!!! Ya Allah maafin Rani. ujar Rani menadahkan tangannya seperti berdoa.
***
"Kenapa di Rani teriak El?" tanya sang mama kepada El.
"Habis ngeliat kecoa mah!" ujar Rani yang keluar dari kamar dengan pakaian santainya, rambut lurusnya dibiarkan tergerai bebas ditambah dengan bando hello kitty sebagai hiasannya.
Gadis kecil, gue lo bilang kecoa. Berani banget ya, tunggu pembalasannya. Setidaknya tadi gue dapat rejeki nomplok! batin El. Tanpa ia sadari dirinya tersenyum tipis.
"Ngga usah piktor lo bang!!!!" delik Rani.
"Udah ah jangan bertengkar terus! El dimakan ya gorengannya, tante buat banyak soalnya mau dijual nanti malam." ujar Rita.
"Iya tante," El pun mencomot gorengan tersebut.
"Enak tante," ujar El. Masakan yang dibuat Rita memang selalu enak di lidahnya.
Tangan Rani yang ingin mencoba gorengan dalam piring tersebut segera ditepis oleh Rita. "Kamu ambil yang dibelakang aja Ran! Ini buat El," ujar Rita menatap anak gadisnya tanpa rasa bersalah.
"Astagfirullah Ya allah.... Anak mama itu siapa sih? Dia atau aku???" ucap Rani mencebikkan bibirnya.
"Kalau anak seganteng ini mama juga mau Ran," ujar Rita membuat El tertawa. Rani semakin sebal dengan El.
"Yaudah abisin tuh semua sama lo bang! Awas aja besisa!!!" ancam Rani sambil mengarahkan jari telunjuknya ke leher seakan menggorok sesuatu.
Glekk
Itu leher putih amat yak, Rani memang sangat cantik walaupun jutek, batin El. El pun segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan piktor dikepalanya itu. Tidak mungkin dirinya menjadi seperti yang dikatakan oleh teman-temannya bahwa dirinya kini telah menjadi pedofil kepada Rani.
"Emm tante karena udah terlalu sore El pamit dulu ya tuan. Makasih untuk gorengannya," ujar El menyalami Rita.
"Iya El hati-hati ya. Rani antar El ke depan setelah itu belajar. Supaya otak kamu tambah lancar!" titah sang mama.
El yang masih berdiri, seakan mendapatkan insight setelah mendengar ucapan Rita.
"Tante boleh ngga kalau El yang ngajarin Ranu belajar?" ujar El. Akan tetapi suaranya tidak terdengar oleh Rita yang sudah memasuki dapur.
"Ngga usah!!!" cegah Rani segera menggerek El keluar dari rumahnya.
"Pulang lo bang!!! Makasi udah ngantar ke rumah. Besok-besok jangan mampir lagi. Gue takut lo digorok papa kalau keseringan ke rumah!" ancam Rani.
"Ngga bisa!!! Kejutekan lo bikin gue tambah tertantang untuk ketemu lagi sama papa lo," ujar El sambil menyeringai.
Rani pun tercengang karena ancamannya tidak membuat lelaki itu mundur.
.
.
.