
“Emm, menurut Rani jangan Rani deh bang. Rani masih harus belajar, kakak-kakak yang lain aja,” ucap Rani dengan senyum paksanya.
“Oh, iya kalau begitu siapa yang mau?” tanya El dengan menahan rasa kecewanya.
“Yaudah kalau nggak ada yang mau. Gue aja deh El,” ucap Zizah kepada El.
“Emm, tapi bareng Mimi yah. Nggak sanggup sendirian. Udah biasa berdua,” tambahnya lagi dengan senyuman lebar dan menaik turunkan alisnya menatap semua orang.
Para pemuda dan gadis lain pun menyoraki kepedean teman kecilnya itu. Memang seorang Zizah atau yang akrab dipanggil Zaza ini sangat ahli dalam mencairkan suasana.
“Iyadah, yang biasa bedua. Ditinggalin awas ke kita-kita lo Zah,” ucap Fajri kepada Zizah.
Senyuman lebar di wajah gadis tersebut pun menjadi turun, dan beralih ke tatapan tajam pada sosok lelaki yang pas duduk di depannya.
“Bukan adek gue ituh,” ucap seorang lelaki menanggapi ucapan perempuan tersebut.
“Ahahaha, udah ilang nama lo dari kartu keluarga Prasetya Za. Bang Radit aja nggak ngakuin lo adeknya,” tawa Dodo.
“Awas lo bang, gue aduin ke mama,” ujar gadis bertubuh munyil ini sambil memanyunkan bibirnya.
Mereka semua pun kembali tertawa, Rani pun juga susah menahan tawanya sedari tadi. Ia tidak ingin perilaku aslinya diketahui oleh orang-orang baru tersebut.
***
“Oke fiks yah, Zizah dan Mimi sekretaris, dan Noni bendahara,” ujar El.
“Okeh babang EL,” ucap Noni centil. Namun hanya ditangggapi anggukan oleh El.
“Selanjutnya pembagian kelompok untuk mintak sumbangan ke rumah-rumah warga dan di jalanan,” ucap El.
“Menurut teman-teman sekalian rute mana saja yang akan kita ambil?” tanya El.
“Rute Siti Hajir, Cimonai, kompleks Garuda, gimana EL?” tanya Tegar.
“Ada tambahan?” ulang El.
“Nggak EL, pembagian kelompoknya gimana El?” tanya Randi.
“Oh ya, gue udah bagi semalam,” ucap El mengeluarkan secarik kertas dari saku baju kokonya.
“Kelompoknya 1 rute Siti Hajir ada Dio, Alan, Tegar, Randi, Wulan. Rute Cimonai ada Dodo, Fajri, Lande, Ridho, Zaza, Sari, Mimi. Dan untuk rute komplek Garuda gue, Iwing, Desi, Vande, Rio, Noni, dan Rani. Gimana? Setuju?” tanya EL dan diangguki oleh semua orang.
“Oke, kalau udah fiks dan nggak ada yang mau ganti. Rapat kita udah kelar. Bagi yang nggak ada kerjaan, kita mulai minta sumbangan di jalan depan mesjid,” ucapnya lagi.
El pun menutup rapatnya, dengan gaya dingin mode on nya ia berjalan keluar mesjid. Saat di ambang pintu, ia melihat ke belakang.
“Untuk adiik-adik yang baru bergabung, ayo ikut kita ke depan. Sekalian menyesuaikan diri dengan amalan yang akan kita lakukan sebulan ini,” ucapnya.
Iwing, Sari, Wulan, dan Rani pun mengangguki permintaan tersebut. Seluruh panitia telah berada di jalan yang ada di depan gerbang mesjid. Para lelaki telah mencari kardus untuk kotak sumbangan, serta terlihat juga kakak-kakak yang perempuan mulai menuliskan tujuan sumbangan ini di kertas HVS.
Randi dan Rio pun berdiri di tepi jalan tersebut, menunggu para pengendara yang lewat dan bersedia memberikan sedikit rezeki mereka ke dalam kotak sumbangan tersebut.
Mereka melakukan kegiatan itu hingga pukul 17.50. dikarenakan murotal mesjid yang sudah membunyikan lantunan ayat suci, pertanda sebentar lagi akan berbeuka. Mereka pun menyudahi kegiatannya.
Rani yang sudah berpisah dengan teman-temannya berjalan melihat ke bawah sambil mengentak-hentakkan kakinya, karena kakinya sedari tadi kesemutan. Rani tak sengaja menabrak sesuatu yang keras di depannya. Rani mengusap keningnya dan mengarahkan pandangannya ke depan.
“Kalo jalan itu pakai mata dek,” suara lelaki, Rani pun segera memasang wajah memelasnya dan meminta maaf.
“Sorry bang, bener-bener nggak sengaja,” ucapnya lagi, menatap mata lelaki yang di depannya itu.
“Yaudah, besok-besok kalo jalan itu ngadep ke depan bukan ke bawah,” ucap El dan diangguki oleh Rani.
“Gue duluan ya bang, makasih pelajarannya hari ini,” ucap Rani dan melangkah pergi.
Rani pun mempercepat jalannya meninggalkan El di sana. Saat Rani sudah menjauh, El memegangi dadanya yang terasa aneh. Wajah kecilnya, hidung mancungnya, mata cokelatnya. She is perfect ucap El sembari tersenyum.
Lamunan El buyar ketika sebelah sendal melayang ke bawah kakinya. “Kesambet apaan lo El, senyum-senyum sendiri?” tanya Alan.
“Bukan urusan Lo!” jawab El dan berlalu meninggalkan Alan yang masih berdiri di sana.
“Eh, El tungguin. Anterin gue dulu ke rumah woi,” ucap Alan mengejar El.
***
“Ngapain juga pake nabrak si batu es,” ujar Rani yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
Rani pun mengganti pakaiannya, dan kembali membantu sang mama untuk membereskan jualannya karena 10 menit lagi akan berbuka.
Sedangkan di rumah El, ia masih memikirkan apa yang terjadi pada hatinya. Kenapa ia tak pernah merasakan ini sebelumnya, padahal dulu ia sangat mengejar dan memuja Siva. Hanya Siva lah wanita yang mampu menggetarkan hatinya, bahkan membuatnya tersenyum yang benar-benar dari hatinya. Saat dengan Rani, ia merasakan hal yang lebih bergejolak. Gadis kecil itu sungguh sudah meracuni dan mengaduk - ngaduk pikirannya.
Terima kasih uda baca ceritanya 😄😄
Jangan lupa vote, beri penilaian. Dan tinggalkan komentar serta likenya yaa readers...😍😍😍😇