
~ Gara - gara Sampah
“Huhh, mungkin nggak sih hari senin ini hilang dari peradaban?” Keluh Zia yang mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan setelah melaksanakan upacara bendera pagi.
“Ya nggak mungkinlah beg*k, seminggu itu udah pas tujuh hari,” Keke menjawil hidung sahabatnya ini. Ia juga kepanasan, kulitnya yang putih tampak memerah.
“Lepasin hidung mancung gue Kekeee!,” Zia melepaskan tangan yan menjawil hdungnya tersebut.
“Haha, mancung ke dalam iya,” Rani dan Keke mentertawakan sahabatnya yang berhidung unyil ini.
“Body shaming lo bedua,” jawab Zia mengelus hidungnya yang dijawil oleh Keke.
“Kenapa kalian masih disini, sana masuk kelas!” titah seorang guru yang melihat tiga gadis ini masih berada di pinggir lapangan sekolah.
“Iya buk,” saut mereka bertiga dan ngacir ke kelas.
Mereka pun berhasil melarikan diri dari guru killer itu. Dulu pernah, mereka tidak sengaja bertemu dengan guru killer ini di kantin saat jam pelajaran, alhasil ketiga gadis ini disuruh memungut sampah yang ada di pot-pot bunga pekarangan sekolah, bahkan ujung plastik hasil membuka permen pun disuruh punguti. Zia dan Keke yang memang memiliki hobi mendumel, membuat mereka mendapatkan hukuman tambahan yaitu membersihkan mushola sekolah.
Kilas balik ke kejadian waktu itu, permasalahan pertama mereka dengan guru killer ini.
“Ngapain kalian di kantin?” gertak guru ini pada tiga gadis tersebut.
“Ki kita mau beli makan buk, belum sarapan dan kepala saya pusing,” bohong Zia.
“Inna allaha ma’ash shabiriin,” ucap pelan Buk Ni mengelus dadanya. Membuat Rani dan teman-temannya tersenyum.
“Kamu pikir saya bodoh apa? Jelas-jelas kalian ini cabut saat jam pelajaran! Saya menghukum kalian untuk membersihkan seluruh psampah yang ada di dalam pot-pot bungan pekarangan sekolah, saya akan awasi pekerjaan kalian,” marah guru tersebut.
Ketiga gadis ini sontak kaget mendengar amarah gurunya ini, badanny saja yang kecil tetepai suaranya mengagetkan siput di telinga. “Yah buk, jangan dong, kita benar-benar lapar buk, sekarang mau ke kelas kok,” lirih Keke memasang puppy eyesnya.
“Kamu! Mentang-mentang bapakmu wakil kepala sekolah, kamu malah seenaknya berperilaku,” guru ini melototkan matanya tajam pada Keke. Mereka mengira setalah melafazkan ayat tersebut dia tidak akan marah. Tetapi sebaliknya yang mereka dapatkan, dengan terpaksa mereka menuju pekarangan sekolah dan memulai bakti sosialnya, mereka tidak sadar bahwa guru berbadan kecil itu mengikuti mereka di belakang.
“Gila tuh guru munyil, gue kira dia sbakal sabar sesuai ayat yang dia ucapin, taunya kita dihukum juga. Percuma ngomong doang nggak diaplikasikan,” omel Zia.
“He em, pakai bawak-bawak bapak gue pulak. Belum tau dia gue anak kesayangan ayah,” tambah Keke.
“Udah kerjain aja, jangan ngeluh mulu lo bedua,” perintah Rani pada dua sahabatnya.
“Ya nggak bisa gitu dong Ran, itu guru kecil udah meneror hampir semua siswa-siswi yang sekolah disini. Badan aja yang kecil, kalau nindas kita mah berubah jadi Hulk,” Keke masih kekeh untuk mengomel.
“Haha, gue suka pengibaratan lo Ke, Buk Ni memang mirip banget sama Hulk, jalannya juga mirip, wajahnya jugak kalau lagi marah. Ahahaha,” Zia tertawa keras membayangkan gurunya ini memakai baju Hulk maka akan mirip cuman beda warna.
Zia yang bingung kenapa kedua temannya menatapnya seperti mengode sesuatu di belakangnya. Zia pun menoleh, dan cilup baa “Ehe ... ada Buk Nuraini yang cantik, kita udah hampir selesai kok buk,” Zia berharap kuping gurunya bermasalah agar tidak mendengar yang ia ucapkan barusan.
“Aww...sakit buk, ampun buk,” Zia dan Keke mendapatkan jeweran dari guru kecilnya ini, ditambah badan mereka dibuat menunduk oleh gurunya ini, karena guru tersebut lebih pendek dari mereka.
“Seneng kalian yah ngatain badan saya yang mungil ini kayak Huluk itu! Nggak bisa apa kalian bedain, warna dia itu hijau sedangkan saya berkulit putih dan manis gini. Hukuman kalian berdua saya tambah, bersihkan mushola se ka rang JUGA!!!” Ucap Buk Ni menekankan di setiap katanya.
“Yah buk, kita nggak ikut mata pelajaran terakhir dong,” jawab Keke berniat mengingatkan gurunya bahwa mereka sudah bolos satu mata pelajaran.
“Emang gue pikirin! Jam terakhir di kelas kalian kan saya yang ngajar, jadi sekarang nggak usah buat alasan lagi, sana bersihin mushola! Sekalian istighfar karena udah membicarakan guru kalian!!!” perintah Buk Ni.
“Huhh, iya deh buk,” mereka mendapatkan ganjaran dari perkataannya.
“Saya juga bantu mereka buk?” tanya Rani.
“Nggak, kamu kembali ke kelas! Biar mereka merenungi kesalahannya di rumah Allah,” Guru itupun meninggalkan mereka.
Tersadar dari bayangan mereka, gadis-gadis ini pun segera mengeluarkan peralatan tulis mereka dan bersiap untuk belajar. Pelajaran pertama pagi ini adalah pelajaran ilmu pengetahuan alam. Rani sangat menyukai pelajaran ini, mungkin karena cita-citanya ingin menjadi dokter membuat dirinya senang mengamati segala yang berkaitan dengan biologis, dan manusia.
“Semangat Rani,” ucap Rani dengan pelan menyemangati dirinya sendiri.