
"Terima kasih banyak ya pak. Hati-hati di jalannya," ujar Rani sopan dan menutup pintu mobil itu.
Saat berada dalam rumah Rani berjalan dengan lesunya.
"Haredang...Haredang, belum sampai sehari di tinggal! Hawa di sini udah di selimuti rasa gundah gelana." ujar Habil mengejek sang kakak.
Rani yang tidak mood beradu mulut dengan sang adik memilih untuk melempar Habil dengan paper bag yang diberikan oleh El tadi.
"Wihhhh kak. Lo dapet baju manis gini darimana?" tanya Habil mengayunkan baju gaun muslimah tersebut.
Rani segera menghampiri sang adik dan merebut baju tersebut.
"Bagus amat nih baju. Pasti mehong!" ujar Rani mengamati gaun tersebut.
"Iyalah mehong! Lo lihat nih harganya!" ujar Habil menunjukkan pada Rani harga baju tersebut.
"Ya Allah.... Nih orang kelewatan boros! Baju aja bisa sampai nguras jajan gue tiga bulan." ujar Rani.
"Memangnya jajan lo sehari berapa?" tanya Habil tak habis pikir dengan perumpamaan dari sang kakak.
"Lima belas ribu." jawab Rani. Gadis itu masih mengecek baju mahal tersebut.
"Lima belas ribu kali 30 udah Rp 450.000. Di kali lagi 3 berarti 1.350.000 kak! Masih kurang itu mah!" delik Habil.
"Pokoknya segitu deh. Nih baju gue jual aja kali ya dek, kan uangnya lumayan!" ujar Rani menatap sang adik.
"Gini amat dah punya kakak! Lo mau di gantung bang El pas tau hadiahnya lo jual balik?" ujar Habil menyentil kening sang kakak.
"Hehe, iya yah! Jangan deh. Gue belum siap menghadap ilahi!" ringis Rani dan duduk di samping Habil.
"Barangkali bang El maunya lo berubah kak. Lihat tuh baju lengkap ada bajunya, ada hijabnya, ada kaos kaki, ada manset tangannya, ada masker pula." ujar Habil dengan nada bijak.
"Dasar sok tau! Ini barangkali disiapin buat lebaran tahun depan." ujar Rani.
"Kelamaan itu! Seterah deh kak, tapi gue bilang yah. Setiap lelaki menginginkan wanita baik-baik dan lemah lembut." ujar Habil menatap sang kakak dengan serius.
"OMG adek gue yang kemarin sore masih main kelereng bareng para bocil sekarang udah menjelma jadi pengacara eh salah, tepatnya jadi ustad." ujar Rani memukul-mukul bahu Habil dengan keras.
"Sakit beg*k!!! Gue kan juga laki kak," ringis Habil.
"Lupa gue. Haha, canda dek. Yaudah kalau gitu gue coba dulu nih baju," ujar Rani beranjak pergi menuju kamarnya.
Gadis itu mengenakan gaun tersebut dan berputar-putar di cermin. Warna yang dipilihkan oleh El adalah warna kesukaannya yaitu biru langit di tambah dengan rimpel pastel di tepi gaun tersebut dengan aksen bunga di tengahnya.
"Cantik banget!!!" ujar Rani histeris melihat penampilannya sendiri.
Rani pun keluar dari kamarnya dengan riang. Ketika hampir sampai di depan sang adik. Rani pamer dengan berjalan bak model.
"Cantik sih. Tapi..." ujar Habil menggantungkan ucapannya.
"Tapi tapi ... Tapi apa?" delik Rani.
"Sifat urakan lo merusak citra anggun di gaun ini! Hahaha...." ujar Habil mentertawakan sang kakak.
Rani menjadi kesal dan menimpuk sang adik dengan bantal yang ada di ruang keluarga tersebut.
"Awas lo! Kalau nanti temen-temen lo ada ngejer gue terus jadi fans gue. Gue bakal nyuruh mereka untuk membully lo!" ancam Rani.
"Emangnya lo tau temen gue siapa aja?" delik Habil dan kembali mentertawakan Rani.
"Diem!" ujar Rani kesal.
"Uluh-uluh kakakku yang cantik. Lebih cantik lagi kalau nggak urakan atau ngeluarin sifat bar-bar kek biasa." ujar Habil.
"Iya-iya..." ujar Rani mengalah karena yang di sampaikan oleh sang adik adalah hal baik yang harus di terima.
"Berdiri deh kak. Gue foto, nanti lo kirim deh fotonya ke bang El." ujar Habil memberikan ide.
Rani pun menuruti apa yang di ucapkan oleh sang adik.
Satu
Dua
Tiga
Cekrek.
"Udah ah, satu aja." ujar Rani dan merebut ponselnya dari Habil.
"Hehe, manis ya dek kakak lo ini?" cengir Rani.
Rani pun dengan gembira mengirimkan foto tersebut pada El. Ia mengucapkan terima kasih dan meminta agar lelaki itu segera mengajarinya apabila sudah sampai di tempat tinggal barunya selama kuliah nanti.
***
Sementara di pulau seberang sana. Seorang lelaki sedang menata barang-barangnya sendiri ke dalam kamar. El telah dibelikan oleh sang ayah sebuah rumah minimalis di kawasan dekat kampusnya nanti.
"Ayo El... Kelarin semuanya! Supaya bisa cepat menelfon Rani," ujar El menyemangati dirinya sendiri.
El membereskan barang-barangnya secepat mungkin. Setelah itu, ia pergi berkeliling untuk mengisi perut yang sudah berdemo sedari tadi.
Jajanan di kawasan kampus ini memang terkenal dengan harga murah meriah. Akan tetapi, El lebih memilih untuk masuk ke salah satu restoran agar perutnya yang kelaparan terisi dengan makanan bergizi.
Usai dengan segala urusannya El kembali ke rumah dan merebahkan badannya di kasur. Lelaki itu pun menghidupkan handphonenya dan tersenyum karena mendapatkan notif pesan dari Rani.
"Ternyata mata gue memang nggak pernah salah pilih selain wanita masa lalu itu." ujar El membanggakan diri.
El segera menekan tombol memanggil agar ia bisa mendengarkan suara cempreng Rani yang selalu ia rindukan.
"Halo assalamualaikum. Abang udah nyampe?" tanya Rani semangat.
"Waalaikumussalam. Ketahuan banget nungguin abang nelfon!" ujar El terkekeh.
"Mana ada! Rani kebetulan lagi main hp." ujar Rani mengontrol rasa malunya.
Sebenarnya memang benar apa yang dikatakan oleh El bahwa dirinya menunggu kabar dari lelaki itu.
"Ya udahlah kalau nggak mau jujur. Kamu suka hadiahnya?" ujar El.
"Suka. Suka banget malah!" ujar Rani penuh semangat.
"Nggak usah ngegas juga kali neng!" ujar El menjauhkan handphone dari telinganya.
"Hehe, Kenapa abang beliin yang model itu? Udah jelas Rani belum siap." ujar Rani.
"Perlahan. Kamu pasti bisa," ujar El menyemangati.
"Ini bukan karena maunya abang kan?" selidik Rani.
"Enggaklah. Itu murni demi dirimu," ujar El serius.
"Rani juga mau mencoba. Siapa tau dengan memperbaiki diri Rani dapat yang terbaik," ujar Rani senang.
"Terbaik maksudnya lelaki lain begitu?" tukas El dengan nada sinis.
"Bukanlah. Pokoknya yang terbaik aja," ujar Rani tersenyum.
"Huffhhtt... Awas aja kalau ada yang berani deketin kamu!" ujar El.
"Memangnya mau abang apain?" ujar Rani memancing di air keruh.
"Abang cemplungin ke jurang!" ujar El santai.
"Wihh abang ternyata ada jiwa psikopat!" ujar Rani bergidik ngeri.
"Makanya jangan menguji singa yang tidur!" ujar El.
"Iya-iya. Gimana di sana?" tanya Rani.
"Nyaman." ujar El.
"Udah gitu doang?" tanya Rani.
"Iya gitu doang," ujar El tertawa.
"Nyebelin!" ujar Rani kesal.
"Hahaha...Aman kok, tempat tinggal udah beres, tempat makan deket, kampus juga gerbangnya keliatan dari sini." ujar El.
"Alhamdulillah...Ya udah gih istirahat!" ujar Rani.
"I miss you." ujar El singkat.
"Belum juga sehari bang!" ujar Rani padahal dirinya juga sama.
"Iya deh...Kamu juga istirahat, have a nice dream," ujar El mengalah.
"Hemm...Have a nice dream too," jawab Rani.