
"Texas versi Kota Batus, Maharanisya... Bukan kota Texas yang asli," teriak El sambil tertawa.
"Dimana? Kok gue nggak tau..." ujar Rani mendekatkan wajahnya pada El. Gadis itu takut apa yang disampaikan oleh El tak terdengar olehnya karena motor El sudah melaju kencang.
"Lihat aja dan nikmati perjalanan kita!" ujar El menancap gas motornya, sontak membuat Rani berpegangan kuat pada pinggang lelaki itu.
***
Saat ini kedua sejoli tersebut telah berada di tengah hamparan sawah yang hijau. Beberapa pulau di tengah sawah di tumbuhi oleh pohon kelapa yang daunnya menari seperti melambai karena terpaan angin.
"Wahh... it's soo beautiful..." ujar Rani dengan mata berbinar.
El yang menatap gadis kecilnya itu membuat hatinya semakin bergemuruh. Bagaimana jadinya mereka terpisah oleh jarak. Saat berada di sini saja akan sangat sulit tanpa senyuman gadis kecilnya dalam hitungan hari. Apalagi nanti, tidak mungkin dia harus bolak-balik Yogyakarta dan Kota Batus demi melihat senyuman indah Rani.
"Ran..." ujar El membuka suara.
"Ya?" tanya Rani.
"Kalau gue lulus... Lo mau ikut gue ke sana?" tanya El.
"Kenapa gue diajak?" ujar Rani mengernyitkan dahinya.
"Gue nggak bakal sanggup tanpa ini..." ujar El menoel pipi Rani yang sering menggembung ketika gadis kecilnya itu tersenyum.
"Hahaha... Ada-ada aja!" ujar Rani tertawa.
Sebenarnya gue juga bang. Mungkin akan terasa berbeda tanpa kehadiran bodyguard di setiap pagi dan sepulang sekolah. Siapa yang menyangka bahwa kita akan berpisah saat hati ini mulai terpaut denganmu? Apakah memang karena kesalahan gue? Batin Rani.
"Maharanisya," ulang El ketika gadis kecilnya itu mengalihkan pandangan ke hamparan sawah.
"Hmm..." dehem Rani.
"Looked this!" ujar El.
"Cincin?" tanya Rani.
"Gue sebenarnya udah di jamin bakal lulus. Berarti memang kita sementara harus terpisah oleh jarak. Hari ini, gue mau ngikat lo Ran... Gue harap lo bisa menunggu sampai gue kembali ke sini dengan gelar." ujar El Dan menekuk lututnya.
"Hei... Kenapa mesti gini..." ujar Rani kaget.
"Lo terima cincin ini. Berarti lo bersedia untuk menunggu, kalau lo nggak terima...Mungkin memang gue nggak pantas mendapatkan hati lo." ujar El menunduk.
Rani terdiam mematung. Bagaimana ini, dirinya memang tidak ingin masuk perangkap. Akan tetapi, hatinya sudah terperangkap. Apakah bisa menjalani hubungan yang terpisah jarak? Atau nanti hanya dirinyalah yang menunggu. Atau akan berakhir seperti novel-novel yang ia baca bahwa nantinya sang lelaki akan pergi meninggalkan sang wanita karena menemukan yang lebih baik di luar sana.
Rani berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Ia bingung, gundah, apa yang harus dilakukannya. Bagaimana dengan janjinya pada sang papa bahwa ia tak akan pacaran. Namun, hatinya sungguh sudah terpaut dengan lelaki yang selalu memperjuangkan dirinya.
Sementara El, yang melihat tak adanya respon dari gadis kecilnya beranjak untuk berdiri dan memutar badannya membelakangi Rani.
Rani tersadar karena melihat punggung lelakinya yang berjalan lesu mendekati motor.
Maharanisya lo harus coba! begitulah semangat dari dalam diri Rani.
"Hei tuan muda. Anda terlalu cepat menyerah!" ujar Rani dan tersenyum.
El yang mendengar suara gadis kecilny itu pun berbalik. Ia menatap penuh harap pada Rani, apa arti senyuman yang diberikan oleh Rani tersebut?
"Maksud lo Ran?" tanya El.
"Tangan gue belum dipasangin cincin masak lo udah pergi aja?" ujar Rani dengan nada merajuk.
El pun berlari mendekati Rani Dan meraih tangan kiri Rani. El menatap Rani dengan serius.
"Gue juga suka sama lo abang es batu," ujar Rani berbisik dengan nada pelan.
El membulatkan matanya dan melihat ke dalam mata indah gadis kecilnya itu. Really? Begitulah kira-kira yang ia tanyakan dari tatapan mereka.
"Nggak akan pernah Ran. Lo pegang kata-kata gue!" ujar El tak kalah serius.
"Ya udah. Nih pake in! Nggak cuit dong kalau pakai sendiri..." ujar Rani mengarahkan jari manisnya ke hadapan El.
"Terima kasih karena sudah menerima cinta dari lelaki biasa ini," ujar El menyematkan cincin ke jari manis Rani.
"Ingat! Kalau berjauhan bukan berarti bisa berbohong! Kalau lo tega, gue racun lo pakai racun tikus!" ancam Rani.
"Jangankan pakai racun tikus. Pakai kopi sianida gue juga bersedia kalau berani mengkhianati lo Ran." ujar El.
"Hahaha... Dasar cowok beg*k! Mau aja di kasih sianida," ujar Rani tertawa lepas.
"Iya gue jadi beg*k karena telah mencintai seorang gadis kecil. Teman-teman aja pada bilang kalau gue pedofil!" ujar El menatap sawah dan berkata semakin pelan.
Tawa Rani semakin pecah mendengar ucapan El yang terakhir. Ternyata lelaki di hadapannya tidak hanya menghadapi sang papa demi dirinya. Tapi juga ejekan dari para sahabat El yang tentunya Rani tau bagaimana keusilan dari para abang-abang angkatnya itu.
"Ketawa aja terus Ran..." delik El sebal.
"Haha, haduh perut gue kembung karena ketawa. Tapi memang benar sih bang, kalau dipikir-pikir memang cocok lo dibilang pedofil. Bandingkan aja badan kita berdua, gue yang imut-imut begini harus ketemu hulk kayak lo. Belum lagi usian kita terpaut tiga tahun," ujar Rani mengelap air mata di sisi kanan dan kiri matanya karena tertawa.
"Hina aja terus... Hulk ya hulk deh gue, tapi seharusnya lo beruntung dapetin hulk yang ganteng ini. Bukan yang ijo semua!" ujar El mengerucutkan bibirnya.
"Ohooo... Lihatlah, apakah ini seorang es batu yang berubah jadi es meleleh?" ujar Rani yang masih asik mengejek El.
"Stop it!" tegas El dan menatap Rani dengan wajah dinginnya.
Glek
Rani membekap mulutnya agar tak tertawa lagi dan ia kesusahan menelan ludahnya sendiri karena tampang sangar dari El.
"Sekarang lo duduk di sini! Gue mau ngomong serius," ujar El.
Rani pun menurut dengan apa yang dititahkan oleh El.
"Maharanisya Nugraha, gue nggak tau kenapa bisa jatuh cinta sama lo. Akan tetapi hati ini benar-benar menginginkan lo untuk jadi pasangan hidup gue. Ran kalau gue minta sesuatu ke lo apakah lo bersedia?" ujar El menatap Rani serius.
"Minta apaan? Jangan aneh-aneh gue masih kecil!" ujar Rani tergagap dan menggeser posisi duduknya agar tak terlalu dekat dengan El.
El menggelengkan kepalanya dan menyentil kening Rani.
"Kenapa lo menjauh? Ternyata lo nggak sepolos yang gue kira, buang tuh pikiran aneh-aneh!" ujar El.
"Gue.. gue kan jaga diri!" ujar Ranitak terima dikatakan tak polos oleh El.
"Nah itu.. itu yang gue mau Ran. Di saat kita berjauhan, gue harap lo bisa jaga diri lo." ujar El serius.
"Iya. Gue kan bisa silat, jadi gue bisa jaga diri kok." ujar Rani bangga.
"Bukan itu Maharanisyaku..." ujar El lembut membuat Rani merinding.
"Nggak usah Maharanisyaku! Ngeri gue dengernya," cicit Rani.
"Dengerin gue baik-baik. Maharanisya, gue ingin lo berubah..." ujar El.
"Lo kira gue penyihir yang bisa berubah!" tukas Rani menatap El tajam.
"Ya salam... Maksud gue itu, lo harus berubah menjadi yang lebih baik lagi!" ujar El menarik nafas dalam.
Sabar El.. sabar... Inilah tantangan jadi pedofil! Aiss bukan, maksudnya tantangan berhubungan dengan gadis kecil. ujar El dalam hatinya.
"Maksud lo gue nggak baik gitu?" ujar Rani dengan nada tinggi.
Kan, salah lagi bahasa gue... Ya tuhan, sungguh berat untuk membawanya ke jalanmu! ujar El mengelus dadanya sendiri.