
Tiba-tiba aku terpana
Ada kejutan tak terduga
Dia gadis berkerudung merah
Hatiku tergoda tergugah
Tak Cuma parasnya yang indah
Dia baik dia sholeha
Dia gadis berkerudung merah
Bawalah diriku padanya
Takkan habis ku berdoa
Jadi kekasih halalnya
Rani yang sedari tadi fokus mendekor meja untuk peserta lomba dan juri, menjadi aneh ketika mendengarkan lagu wali “Kekasih halal” yang diputarkan di mesjid sore itu oleh para panitia. Kenapa semua orang tertawa dan melihat ke arahnya.
“Hahaha, buat kamu itu Ran,” ujar Desi.
“Gue ganti juga nih jilbab pulang!” ujar Rani yang mengerucutkan bibirnya, ketika ia menyadari hanya dialah yang menggunakan kerudung merah hari ini. Arggh, ini gara-gara mama. Ngapain juga gue disuruh makai warna seterang ini, omel Rani dalam hatinya.
Semua yang ada di sana termasuk tiga orang temannya tertawa melihat Rani, karena lagu itu sangat pas bagi Rani. Sore ini Rani memang menggunakan kerudung berwarna merah dengan padanan rok putih serta baju kaos putih. Kulitnya yang putih dibarengi pakaian dengan warna itu tampak mengeluarkan aura kecantikan Rani. Tiba-tiba...
“Rann, buat lo ituh dek,” ujar Randi menaik turunkan alisnya.
Rani pun menoleh ke arah sumber suara, ternyata Randi yang berkata dan Tegar yang memutar lagu itu dengan menggunakan perlengkapan audio di mesjid. Pipi Rani pun memerah, entah karena malu dan marah, semuanya bercampur menjadi satu.
Melihat wajah Rani yang merona mengimbangi warna kerudungnya itu, membuat semua orang semakin tertawa. Tawa Iwing lah yang paling besar diantara mereka semua. Rani menundukkan wajahnya karena telinganya terasa panas, ingin marah tapi puasa.
Saat menegakkan wajahnya kembali, secara bersamaan El menatap dirinya. Kedua bola mata yang selalu mengangkat bendera perang ini pun bertatapan. El masih dengan senyumnya dan menaik turunkan alisnya ke Rani, sembari berucap seperti ikan lohan. “Buat lo itu, maafin gue,” ujarnya mangap-mangap tanpa mengeluarkan suara.
Rani pun membulatkan matanya, dan melihat semua orang. Ternyata tidak ada yang memperhatikan mereka. “Jangan harap!” ujar Rani sambil memeletkan lidahnya pada El.
“Ceh, ngapain lu sama Bang El mangap-mangap Ran?” tanya Sari. Rani pun mencubit punggung tangan temannya ini.
“Nanggung loh Ran, kita selesaiin aja ini dulu. Biarin tuh para cowok ngelakuin apa yang mereka mau. Nggak usah ditanggepin!” ujar Mimi.
Rani pun melanjutkan pekerjaannya dengan tidak semangat. Saat ia akan mengambil pernak-pernik yang di letakkan di dekat mimbar. Lagu itu kembali diputarkan oleh Tegar. Ia memang senang mengerjai adik kecilnya yang lucu itu.
Setelah mengambil peralatan yang diperlukan, Rani dengan sengaja berjalan mendekati Tegar yang pura-pura tidak tau mengenai musik yang diputar sedari tadi. Kemudian, ia menginjak tangan Tegar keras, membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
“Auhh,sakit ini Ran,”keluh Tegar mengibas-ngibaskan telapak tangannya yang diinjak Rani.
“Sorry bang, sengaja gue!” jawab Rani cekikikan dan berlari menuju tempatnya tadi.
“Wah Ran. Apa salahku, apa salah ibuku? Hidupku dirundung pilu,” ujar Tegar menyanyi dengan tampang mengenaskan.
“Salah lo banyak bang,” ujar Rani yang ingin melempar gunting di tangannya ke kepala Tegar yang membuatnya kesal.
Melihat hal itu, semua orang pun kembali tertawa. Rani kembali memicingkan matanya kepada El yang masih tertawa.
“Ehhm, udah-udah. Lanjutin kerja masing-masing!” ucap El yang berusaha menetralkan tawanya.
“Siap Sir!!” jawab Rani
Semuanya menjadi hening setelah El berbicara. Rani pun menjadi tentram mengerjakan pekerjaannya. Saat ini, ia sedang berusaha memasang tulisan selamat datang di bagian atas pintu mesjid. Rani memang tinggi, tapi tinggi pintu itu melebihi tinggi badannya, ia pun meloncat-loncat agar rumbaian kata selamat datangt itu bisa menempel di sana.
“Uhh, tinggi amat lu sih pintu!” omel Rani.
“Makanya kalau pendek itu, mintak bantuan sama yang lain,” ujar El merebut rumbaian itu dari tangan Rani dan memasangkannya.
“Cehh, gue setinggi ini lo bilang pendek? Lo nya aja yang setinggi tiang listrik!!!” ujar Rani menatap tajam ke arah El.
“Ckk, tinggi dari mana? Tinggi lo cuman seketek gue,” ujar El menahan tawanya.
“Huhh, hina terus sampai lo puas. Dasar es batu!!!” tukas Rani dan meninggalkan El.
Akhirnya Rani telah kembali seperti biasanya, ia sangat rindu dengan wajah kesal itu setelah dua hari Rani tidak datang ke mesjid.
Berikan pendapat, penilaian, vote, dan likenya yaaa readersss 😉😉😉