
Kapan Kita Jadian ?
Sore ini Rani dan teman-temannya sedang latihan menari di rumah Zia untuk memenuhi salah satu penilaian di bidang kesenian. Mereka membawakan tarian daerah asal mereka, yaitu Tari Piring.
Keke harus mengajarkan kepada teman-temannya semua gerakan yang sudah ia elaborasikan, karena hanya dirinya yang mengikuti ekstra kulikuler tari di kelompoknya saat ini.
“Rani......kaki lo salah lagi!! Ini udah yang kesepuluh ya Ran!” teriak Keke kepada sahabatnya yang membuat mereka harus mengulang kembali gerakannya.
“Yaa...maap! Lo kan tau gue nggak bisa nari Kee...,” Rani mengerucutkan bibir kecilnya itu, ia lelah karena selalu salah melakukan gerakan itu.
“Haha...sabar Ke nih anak memang nggak cocok untuk yang lemah gemulai, dia cuman cocok di bagian yang mengandalkan otot,” Zia merangkul sahabatnya yang sudah tidak bersemangat untuk mengulang gerakan tersebut.
“Sialan lo!!! Sekalian aja bilang gue ini cowok bukan cewek,” Rani melepaskan rangkulan Zia.
Teman-teman Rani pun tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil merajuk. Rani memang ahli di berbagai bidang tetapi tidak untuk kesenian, ia lebih mirip dengan manekin yang digerakkan, dibandingkan manusia yang sedang menari. Ia ingin cepat-cepat untuk menyelesaikan latihan ini.
Sesaat kemudian suara adzan berkumandang, “Ohoo... gue shalat duluan ya, Zi lihatin hp gue di meja!” pesan Rani kepada Zia, ia pun melaksanakan kewajibannya di kamar Zia.
“Oke, kita istirahat dulu, gantian shalatnya,” titah Keke pada teman-temanya.
***
Di sebuah basecamp 4 orang anak lelaki mendiskusikan tentang taruhan mereka,
“100 ribu perorang! Gimana, deal?” ucap anak berambut kriting.
“Hahah...gue yakin Rani nggak bakal mau sama kita-kita. Tapi Deal deh gue mau nyoba naklukin hati bidadari gue,” jawab Bian.
“Gue yakin dia nggak bakal nolak gue,” tegas Rido.
“Ok deal, lo duluan yang maju dok. Tapi kalau lo kalah, lo yang harus bayar ke kita 500 ribu. Deal?” Tukas temannya yang lain.
“Deal!” mantap Rido.
Banyak notif chat yang masuk ke hp Rani membuat Zia kesal dan penasaran. Ia pun membaca kilas notif di hp sahabatnya itu.
“Wuihh....Woi Ke lo lihat ini! Si cowok sok kegantengan ngechat Rani,” teriak Zia kepada Keke.
“Apa sih Zi??? Si cowok sok kegantengan yang mana?” tanya Keke menghampiri temannya, Zia menunjukkan pesan tersebut dan mereka membacanya.
“Kucing garong?? Siapa sih Zi,” bingung Keke, ia tidak mengetahui siapa orang yang dimaksud kucing garong di kontak Rani tersebut.
“Si Rido Ke, pasti ada udang di balik bakwan ini. Kita harus kasih pelajaran nih orang.” Seringai Zia.
Mereka sudah tau bagaimana tipe cowok yang mengganggu sahabatnya tersebut. Dia adalah lelaki sok ganteng dan kegeeran di kelas sebelah. Memang sih wajah lelaki tersebut seperti bule, tapi perilakunya sangat jelek dan membuat orang lain kesal padanya. Zia dan Keke pun berniat untuk membalas pesan lelaki tersebut.
***
Isi pesan hp Rani
From Kucing garong:
Hy Ran, lagi apa?
P
Ran bales dong chat gue, gue mau ngomong sesuatu ke lo 🙃
Me:
Ada apa dok?
From Kucing garong:
Gue mau ngomong sama lo Ran. Boleh gue ke rumah lo?
Me:
Ya ngomong disini aja susah amat sih. Nggak boleh ke rumah gue!!!
From Kucing garong:
Nggak bisa di chat Ran, gue mau ketemu elo 😥😥😥
Me:
Yee, besok juga ketemu kok disekolah. Udah buruan lo mau ngomong apa nggak? Kalau nggak mau yaudah.
From Kucing garong:
Yaudah gue ngomong di sini aja. Gue mau kita jadian.
Ran, gue udah lama suka sama lo, lo itu cewek tercantik yang pernah gue temuin. Nggak cuman paras lo aja hati lo itu lembut, keibuan, penyayang. Gue pernah lihat elo lagi ngasih makan kucing di belakang sekolah, dan elo selalu lihatin tempat jalan semut dan membuatkan jalan baru buat mereka. Dari sana gue yakin kalau lo adalah tujuan akhir gue.
Zia dan Keke memutuskan untuk menerima ajakan Rido untuk jadian dengan Rani. Mereka ingin melihat betapa bucinnya Rido pada Rani nanti.
Me:
From Kucing garong:
Lo serius Ran? Thanks udah nerima gue. Love you.
Rido melihatkan balasan dari Rani tersebut pada teman-temannya, ia mengambil semua uang taruhan yang ada dan meninggalkan teman-temannya, dengan tawa bahagianya.
***
Zia dan Keke tertawa setelah membalas chat rido tersebut, mereka membayangkan bagaimana nasib si cowok malang itu besok.
Yah, sebenarnya dia memang pantas untuk diberi pelajaran tambahan yaitu menghargai wanita. Mereka menghapus semua hasil kerjaannya tanpa jejak. Karena mereka yakin, Rani tidak akan bisa diajak untuk berkompromi untuk membuat si cowok kegantengan itu malu.
Rani yang baru saja selesai shalat menghampiri kedua sahabatnya yang masih tertawa.
“Kenapa lo berdua? Bahagia banget,” heran Rani pada dua sahabatnya.
“Besok bakal ada hiburan menarik disekolah Ran.” Jawab Keke dengan dan diangguki semangat oleh Zia.
“Yaudah, ayok latihan lagi. Gue mau cepet pulang,” ajak Rani.
***
“Lo kenapa nggak masuk kemarin Ran? Kita nggak bisa liat drama cowok bucin jadinya.” tanya Zia.
“Tamu gue datang, males ke sekolah. Memangnya ada pementasan seni kemarin?” polos Rani kemudian duduk di bangkunya.
Rani ingin menanyakan kepada temannya kenapa Rido banyak mengirimi pesan padanya. Ya, walaupun Rani memang tidak mengindahkan pesan tersebut karena tamu bulanannya yang menciptakan sakit luar biasa di perutnya.
***
Saat jam istirahat, Rani hendak keluar dari kelasnya. Namun di hadang oleh Rido yang diikuti oleh beberapa temannya.
“Hei, kalian semua denger ya! Rani si bidadari yang kalian puji-puji ini adalah cewek gue. Kita jadian cuman karena gue udah jadiin dia barang taruhan bareng teman-teman gue yang lain. Hari ini gue kesini mau mutusin dia,” sarkas Rido dengan keras sembari membusungkan dadanya karena ingin mempermalukan Rani di sana.
Suara bariton Rido mengundang perhatian banyak orang. Orang-orang sekitar pun mulai berbisik dan mengatakan bahwa Rani adalah cewek taruhan, hal ini membuat Rani melihat pada dua sahabatnya.
“Kapan kita jadian?” santai Rani.
“Halah nggak usah sok sok an ngeles deh Ran! Lo nggak mau malu kan makanya ngeles bilang kapan jadian. Kita jadian udah dua hari!!!” Jawab Rido
“Heh!!! Gue tanyain sekali lagi KAPAN KITA JADIAN? Kalau jadi orang jangan kelewatan halu!” sinis Rani.
Mendengar jawaban Rani, Rido tersulut emosi. “Nggak usah sok jual mahal deh Ran, asal lo tau gue nembak lo cuman untuk barang taruhan! Lo itu cuman cewek gampangan!!”
Kedua sahabat Rani tidak menduga bahwa Rido akan mempermalukan sahabatnya. Mereka pun memutar otak dengan meneriaki Rido
“Heh oncom. Lo buang aja tuh akal buaya lo. Asal lo tau ya, yang balas chat lo itu kita berdua, kita mau liat seberapa bucinnya lo jadi cowok. Mana mau Rani sama cowok kayak lo! Lo itu cuman cowok songong dan nggak pantes buat Rani,” Ucap Keke memandang remeh Rido.
Ucapan Keke tersebut membuat orang-orang memandang remeh Rido. “Satu lagi ya Rido Malik, lo perlu inget nih pesan gue, lo jangan pernah berpikir buat mempermalukan sahabat gue!! Lo liat kan sekarang lo udah mempermalukan diri sendiri. Kelakuan lo tu nggak ada baik-baiknya. Terus..... jangan sok-sok an taruhan deh, nggak cocok! Lo liat itu, para cewek mereka semua ilfil liat lo!!!” Ucap Zia mendorong bahu Rido, kemudian merangkul Rani dan Keke meninggalkan lelaki yang masih mematung disana.
“Wah berarti lo yang kalah dok, lo harus bayar kita 500 ribu, soalnya Rani nggak nerima lo.” Sorak Bian di belakang Rido.
Rido mengepalkan tangannya, ia sungguh dipermalukan. “Sial! Arghhh.” Rido melemparkan uang hasil taruhan dan tambahan 500 ribu itu ke wajah teman-temannya yang tertawa, dan pergi meninggalkan mereka.
***
Saat pulang sekolah kedua sahabat Rani menceritakan kronologi waktu itu ke Rani, dan beruntung mereka tidak mendapat amukan dari Rani. Setelah bercerita, mereka memutuskan untuk cuci mata sebentar ke pasar.
“Go girls...kita nikmati kemenangan hari ini, kita sukses membuat playboy cap kampung malu.” Ucap Zia dengan semangat.
Ketiga gadis ini berkeliling dan mencobakan beberapa aksesoris lucu dan aneh, Zia mencobakan topeng wajah tengkorak. Selain itu, Keke mencobakan topi kelinci dan menirukan gigi kelinci membuat mereka tertawa. Tawa bahagia ketiga gadis itu, membuat mata elang seorang lelaki dan kedua temannya melihat ke arah mereka.
“Bidadari deket sama kita bro,” lirih Kevin yang terpesona untuk pertama kalinya ia merasakan hatinya terbang seperti kupu-kupu.
“He emm, tawa mereka mewarnai hati gue bro, yang kanan itu udah mengetuk hati gue,” ucap Alan merangkul Kevin.
El yang juga melihat ke arah para gadis itu, juga merasakan percikan gejolak di jantungnya, terutama melihat gadis yang bermata cokelat. Mata elangnya terus mengikuti kemana arah ketiga gadis tersebut, pandangan itu terhenti sesaat, ia takut kecewa lagi.
“Ubah pikiran lo, jangan biarkan hati lo dingin, apalagi membeku.” Ucap Kevin merangkul pundak El.
.
.
.
.
Terima kasih udah mampir.
Vote and like yaa....😊😊😊