Before I Found You

Before I Found You
BIFY 25



“Terima kasih banyak ya pak, semoga ini jadi amalan di akhirat nanti,” ucap Iwing kepada lelaki yang memberikan sumbangan pada mereka.


“Aamiin, kapan acaranya?” tanya sang bapak.


“Aamiin, insyallah akan diadakan pada tanggal 17 Ramadhan. Jangan lupa datang ke mesjid ya pak,” Saut El.


“Hemm...baik. Semangat ya jadi panitia,” ucap sang bapak dan menepuk bahu El.


“Siap pak, terima kasih pak. Kami pamit dulu ya pak, mau lanjut ke rumah yang lain dulu pak,” ucap Alan.


“Baik-baik,” ucap sang bapak.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah tersebut, sama seperti tadi El kembali mengintili Rani.


“Bang, lo kenapa sih? Ngapain jalan deket banget ama gue,” ujar Rani menghentikan jalannya, dan membulatkan matanya pada El.


“Pufhtt....Mau itu mata keluar??” ucap El menahan tawanya.


Rani menghentakkan kakinya dan meninggalkan El.


***


Setelah sekian lama aku menunggu. Eh


Sekarang sudah pukul 17.00 mereka pun berjalan kembali ke mesjid. Di jalan teman-teman El terus memperhatikan gerak-gerik El yang memang sedari tadi terus mengganggu Rani.


Sesampainya di mesjid mereka menghitung jumlah sumbangan yang didapatkan hari ini.


“Alhamdulillah, teman-teman semua. Hari ini kita mendapatkan sumbangan cukup banyak yaitu kalau ditotalin jadi Rp 600.000 rupiah.” Ujar Noni selaku bendahara.


“Alhamdulillah,” ucap mereka serempak.


“Woahh...Bisa buber dong Non?” tanya Randi.


“Enak aja lo, uang warga ini.” Ucap Noni memolototi Randi.


Orang yang dipelototi pun menggaruk tengkuk lehernya, “Cuman becanda akutuh,” ujarnya.


“Becanda-becanda, dasar mata duitan!” timpal Mimi.


“Dasar Bucin!!!” tambah Zaza.


“Wihh, semena-mena lo pada. Gue ngomong satu, dijawabnya banyak ampe ke aib hidup gue,” tukasnya.


“Makanya, jadi panitia ini harus ikhlas. Bukan ngarepin imbalan!!!” Imbuh Desi.


Mereka semua pun tertawa, setelah itu diskusi masih dilanjutkan.


“List aja kebutuhan buat lombanya Non,” ucap Dodo.


“Tabanas kita kek biasa, untuk lomba cerdasa cermat juara 1 Rp 500.000, piala Rp 100.000, juara 2 Rp 300.000, piala Rp 50.000, juara 3 Rp 200.000 piala Rp 50.000, untuk lomba nasyid...” ucapannya terjeda.


“Wait Non, santai...slow..Satu-satu dulu,” tukas Tegar.


“Banyak banget mak, ini mah kita mesti dapat 4 jutaan.” Ucap Alan.


“Hmm, kalau begitu kita jalankan proposal ke perusahaan-perusahaan terdekat,” tambah El.


“Oke El, tapi ini kita tetap harus lebihin lagi. Mungkin besok harus ngejer deadline ke rumah-rumah supaya banyak rumah yang terkunjungi dalam sehari,” ucap Noni serius.


“Tumbenan nih anak serius, rada panas kali ya???” jawab Desi meletakkan keningnya di kening Noni.


“Sembarangan aja,” ucap Noni menyingkirkan tangan temannya itu.


“Oke-oke lanjut Non!” tukas El.


“Selanjutnya untuk lomba nasyid, kita cuman makai juara 1 dan dua. Jadi untuk juara 1 dapat tabans sebanyak Rp 400.000, trus juara 2 dapat tabanas Rp 200.000. Untuk pialanya kita pakai piala kecil kaca harganya Rp 20.000,” tambah Noni dan menarik nafas dalam.


“Hehe, kalau yang lain mah belum ditarafin El. Besok deh,” ucapnya.


“Oke makasih, berarti kita semua mulai besok harus lebih cepat ke rumah warga,” ucap El.


“Kira-kira teman-teman semua bisanya jam berapa?” tambahnya.


“Kalau gue mah bisa kapan pun El,” ucap Dodo dan diangguki oleh geng mereka yang lainnya.


Rani yang hanya menunduk, karena tidak tau mau menjawab apa. Menjadi sasaran bagi El.


“Kalau Rani, kamu bisanya jam berapa?” tanya El.


Rani pun menegakkan wajahnya menghadap orang yang bertanya. Gila ni cowok, udah tau gue nggak tau mau jawab! malah gue jadi sasarannya, keluh Rani dalam batinnya.”Err, Rani bisa kapan aja kok kak,” jawabnya terbata.


“Oke, kita besok mulainya jam 2 siang,” jawab El memutuskan.


Ckk, yakali jam dua... udah panas, itam nih kulit putih gua. Dasar es batu. Nggak tau apa matahari lagi terik-teriknya jam segitu? Puasa pula. Rani merutuki lelaki yang notaben ketua panitia itu.


“Gimana Rani? Keberatan?” tanya El.


Ckk, cenayang tau aja dia gue ngomel dalam hati. “Emm, gini nih bang, gue. Eh Rani, kalau siang itu bantuin mama nyiapin masakan dan dagangan sore,” elaknya dengan senyuman kesalnya.


“Ohh, ada lagi yang lain yang kesulitan kalau siang?” tanya El menatap semua anggotanya.


“Biasanya emang rata-rata kita yang cewek ini pada masak jam segitu El,” ucap Desi.


“Kalau gitu yang cewek kira-kira bisanya jam berapa?” tanya El.


“Kalau gue jam 3 kayak tadi udah pas,” jawab Zaza dan diangguki oleh perempuan lainnya.


“Oke, berarti para cewek datang ke mesjidnya jam 3,” ucap El.


“Hehe, gue bisa tetep tidur siang dong, kan gue ngikut rombongan cewek,” ujar Alan.


“Memang siAlan lo, kagak ada. Cowok tetap jam dua ke mesjid!!!” ucap Tegar.


“Awas aja kalau lo ngebo’ besok, tuh kasur plus orangnya bakal gue rendam pake air sawah,” tukas Lande menatap tajam pada Alan.


Orang yang diancam bergidik ngeri. “ Oke-oke jam dua, jam dua dah. Daripada gue kena sembelih sama emak gara-gara Lande,” Randi memelankan perkataannya.


Setelah membereskan semuanya, mereka pun kembali ke rumah masing-masing.


“Ayok gengs,” ucap Sari merangkul Rani dan Wulan.


“Jumm...” tukas mereka serempak.


“Bener-bener, gue ini cuman remah-remah berlian,” ucap Iwing mengerucutkan bibirnya dan berjalan duluan di depan mereka.


“Cihh, ngambekan jadi orang,” cibir Wulan.


“Hahah, biarin aja. Nanti juga baikan lagi,” tambah Rani.


Merekapun berjalan beriringan menuju rumah Rani. Walau kaki lelah melangkah, mereka selalu mengutamakan Rani. Gadis ini bagi mereka adalah segalanya. Alasan lainnya mah, memang rumah Rani yang paling dekat.


hay readers....


Terima kasih yanh sebanyak-banyaknya 😍😍😍😍😍


Maafkan author yang jarang menulis akhir-akhir ini, dikarenakan satu dan lain hal... 🙏


Author sangat membutuhkan asupan energi dari kata-kata semangat para readers sekalian...


Tetap setia yah 😁😁😁😁😁😁😁😁😁