Before I Found You

Before I Found You
BIFY 60



Hari demi hari melihat keseriusanmu saat mengajar menimbulkan getaran aneh dalam hatiku ~ Rani


"Baiklah sekarang kita belajar fisika tentang getaran dan gelombang," ujar El.


"Baik pak guru... Silahkan dilanjutkan!" ujar Rani dengan nada seperti anak sekolah dasar yang menjawab ucapan gurunya.


El hanya menggelengkan kepala akibat ulah gadis kecilnya itu. Ia pun mulai memberikan materi yang merupakan keahliannya. Getaran adalah gerakan bolak-balik suatu benda melalui titik seimbang, hal yang harus diingat dalam mempelajari getaran adalah simpangan, amplitudo, dan periode getaran.


Periode getaran adalah waktu yang diperlukan benda untuk melakukan suatu getaran. Periode getaran ini dilambangkan dengan huruf T. Periode getaran dapat dihitung dari waktu yang tercatat dibagi jumlah getaran.


El pun menuliskan segala rumus yang ia ketahui kepada tiga gadis ini. Mulai dari rumus biasa, rumus cepat, dan rumus kilat yang ia gunakan saat olimpiade fisika.


Melihat cara pengajaran El membuat mata Rani tak henti menatap wajah lelaki es yang sedang serius tersebut. Ia seperti terhipnotis dengan suara, gerakan tangan lelaki itu saat menuliskan contoh soal, bibirnya yang bergerak memberikan penjelasan. It's so perfect, batin Rani yang asik dengan lamunannya.


"Getaran cinta juga bisa diukur yah bang?" tanya Keke yang membuat lamunan Rani buyar seketika.


"Bukan temen gue ini!" ujar Rani menyipitkan mata kepada sahabatnya itu.


"Lo mau gue kasih tau rumus periode getaran cinta?" tanya El menanggapi gurauan Keke yang diangguki oleh si penanya tersebut.


"Rumusnya adalah waktu yang lo perlukan untuk mendapatkan getaran saat bertemu si doi, dibagi dengan jumlah getaran yang berasal dari detakan jantung saat bersamanya. Asekk," jawab Zia.


El pun mengacungi jempolnya kepada Zia. Ketiga manusia yang ada di depan Rani ini pun tertawa lepas. Entah darimana mereka menyimpulkan rumus fisika menjadi rumus cinta.


"Ahaha... Somplak bener gue punya sahabat!" ucap Keke mencubit pipi Zia dan di tepis olehnya.


Wajah Rani berubah menjadi merah seketika saat tatapannya bertemu dengan tatapan wajah El yang sedang tertawa. Sadar Ran, sadar... Ya Allah ampuni mata hamba-Mu ini, batin Rani.


El pun menghentikan tawanya karena menatap semu merah di wajah gadis kecilnya itu. Haduh, diabetes gue lama-lama ngeliatin nih bocah, ujar El dalam hatinya.


"Ehem...Oke next! Kembali ke meja! Kerjain nih soal-soal. Seperti biasa, bagi yang udah kelar boleh mojok ke ruang tv!" titah El.


Mendengar hal itu Rani pun kembali ke kesadaran awalnya, bahwa lelaki dengan titisan wajah arabian ini tetaplah si es batu, guru killer, guru pilih kasih, dan guru keterlaluan yang selalu senantiasa menyulitkan dirinya. Lenyap sudah kekagumannya terhadap lelaki di sampingnya ini.


"Lo udah jatuh cinta sama gue ya? Makanya ngelirik gue terus?" bisik El pelan ke arah telinga Rani.


Rani menoleh ke atas dan menatap lelaki itu dengan tajam, "Nggak usah kepedean lo bang! Dan jangan bisik-bisik di kuping gue! Udah kek setan aja lo pakai acara bebisikan segala!" ujar Rani dengan suara pelan.


"Wajah kek gini lo samain sama setan?" ujar El mengeraskan rahangnya saat bicara.


"Iya memang gue lirik lo! Lo juga sengaja ya makai baju kaus yang kek gini untuk menarik perhatian gue?" ucap El menatap ke baju kaus putih mickey mouse yang Rani gunakan saat ini. Baju itu adalah baju kaus putih tipis dengan hiasan gambar tikus disney di depannya dan lengan baju itu sangat pendek, sehingga memampangkan baju putih Rani yang mulus dan berkilau.


"Kalau ngomong itu jangan ngasal yah!" ujar Rani.


El pun tersenyum bahagia mendapatkan balasan amukan dari gadis kecilnya itu, sehingga wajah kesal terpampang jelas di hadapannya. El kembali menggoda Rani dengan sengaja menyenggol lengan Rani agar gadis itu mengalami kesalahan saat menulis.


Rani merasa kesal dan memilih untuk berpindah tempat duduk ke ujung meja, sehingga El tidak bisa mengganggu konsentrasinya. Materi ini sangat mudah terserap oleh daya ingat Rani, karena gadis ini sangat suka pelajaran yang hitung-hitungan.


Hampir dua jam mereka mengerjakan latihan-latihan soal yang diberikan oleh El, sekarang hanya tinggal Rani dengan tumpukan soal dihadapannya. Kedua sahabatnya itu seperti hari-hari sebelumnya yang selalu mendapatkan keringanan.


Tiba-tiba hujan deras turun disertai petir yang menggelegar, membuat Rani terkejut dan sontak berpindah duduk ke arah yang dekat dengan El.


"Cih... Ngomong aja nggak pernah takut-takutnya sama gue! Giliran denger geledek kek gini aja udah ciut!" ejek El.


"Bodo amat!" ucap Rani.


El pun tertawa kecil melihat gadis kecilnya itu memejamkan mata dan beristighfar untuk kesekian kalinya setiap bunyi petir terdengar.


Melihat El yang mentertawakan dirinya, Rani kembali menjadi fokus pada senyuman lelaki itu. Ampun... ganteng banget si es batu. Atau tingkat ketampanannya meningkat dikarenakan hujan ya? tanya Rani ada dirinya sendiri.


"Gue tau kalau gue itu ganteng. Tapi jangan diliatin terus! Nanti lo jadi ketagihan!" ucap El menekan kening Rani menggunakan pena yang ia gunakan.


"Emm..em...Udah gue bilang jangan kegeeran! Sikap narsis lo itu mending dikurangin deh bang!" delik Rani dan tidak ingin kembali terpegoki oleh El.


.


.


.


.


Sekian dulu yaa untuk malam ini, semoga menghibur 😘😘


Bantu Author dengan like,komen,dan vote yaa😋😋