
Hangatnya sinar mentari yang masuk melalui celah-celah tirai jendela tak juga membangunkan gadis kecil itu. Merasa tidurnya terganggu, selimut adalah andalan gadis itu untuk menghalangi cahaya yang menerpa wajahnya.
"Ya Allah anak gadisku....... Rani Bangun! " ujar Rita melihat putri tercantiknya yang masih berada dibalik selimut.
Rani yang masih enggan membuka matanya, semakin mengeratkan selimut ke badannya. Rasa perih di paha ia alami karena cubitan panas dari sang mama.
"Sakit mam... iya iya.. ini Rani bangun, lagian ngapain sih mah? Kan hari ini aku libur?" ujar Rani yang sudah mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kamu ini, nggak capek apa kemarin habis di khutbahin adangmu? Sekarang mau mama tambahin lagi? Anak gadis itu libur atau engga harus tetap bangun pagi! Kamu mau rezekinya di patok ayam?" omel Rita sembari menarik selimut yang digunakan Rani dan melipatnya.
"Ahh mama kok gitu... Lagian rezeki Rani kan masih minta ke papa dan mama. Mana bisa dipatok ayam?" cengirnya dan bergegas berlari meninggalkan kamar.
Rita hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak gadisnya yang melebihi anak laki-laki. Rani lebih manja dibandingkan adik-adiknya.
Saat ini, keluarga besar itu sedang berada di meja makan. Gadis kecil ini hanya bersungut-sungut karena biasanya ia merasa nyaman dengan celana hawainya saat di rumah. Namun, mulai dari kemarin malam hingga masa negeri api menyerang di masa mendatang Rani akan menggunakan celana-celana panjang. Yah, memang setelah kejadian kemarin Rani sudah tidak memiliki stok celana hawai lagi. Jangan tanyakan mengapa, karena inilah kisah setelah ia keceplosan.
Flashback On
Rani yang tidak sengaja membuka kartu as nya kepada sang paman. Hanya bisa meringis melihat celana-celana hawai dan baju bola kesayangannya berakhir di tangan paman yang memegang gunting.
"Srett....Celana ini, seharusnya yang makai itu anak perempuan bukan lelaki!" satu celana dirobek.
"Kebalik Adang, yang benar itu. Celana pendek itu cocoknya untuk anak laki bukan perempuan," ujar Ihsyan meluruskan amarah Adangnya.
"Iya itu maksud Adang! Kalau sekarang semua perempuan menggunakan celana pendek dan terbuka seperti ini, siapa yang akan melindungi mereka dari tatapan lapar lelaki? Mereka sendiri yang membagikan!" omelan Yur.
"Adang, gimana kalau celananya Rani kasih ke Habil atau Ihsyan aja? mubazirkan dirobekin semuanya?" ujar Rani dengan memasang mata puppy eyes nya.
"Nggak bisa! Akal kancil kamu belum seberapa dengan otak dagang Adang!" ujar Yur menatap sinis pada Rani.
Aihh.. pasrah deh gue. Babay celana yang sudah menemaniku selama ini, batin Rani.
Usai merobek celana tersebut. Yur pun memasukkan kain robekan itu ke dalam kantong plastik bersamaan dengan baju bola Rani.
Baju-baju bola yang dibeli dari menyisihkan uang jajannya selama sebulan, kini berakhir di tangan bapak-bapak loak yang biasanya menanyai barang-barang bekas dengan mobil jadulnya mengelilingi komplek.
Yur menyuruh bapak loakan itu untuk menimbang harga yang cocok untuk barang-barang Rani tersebut. Alhasil, dari robekan kain dan baju-baju bekas itu bapak loakan menyerahkan uang sebanyak tiga belas ribu rupiah. Yur pun menyerahkan uang itu pada Rani.
"Nih buat jajan!" ujar Yur menepukkan uang itu ke dahi Rani.
"No no no. Terima sajalah atau awak tak nak bayar?" ujar si bapak loakan dengan logat Cina seperti Uncle Ah-Tong di film upin & ipin.
Rani hanya kembali pasrah dan memasuki kamarnya. Gadis itu pun merebahkan badannya dan tidak ingin ikut makan malam. Ketika membuka lemari ia hanya menatap celana panjang dan training serta rok. Hembusan nafas kasar dikeluarkan oleh gadis ini. Lama berada di atas kasurnya yang nyaman, gadis itu pun menuju alam mimpi.
Flashback off
"Kamu ada rencana apa hari ini Ran?" ujar Yur.
"Mau tanding ***... emm maksud Rani mau belajar sama temen Dang," jawab Rani dengan senyuman terlebarnya.
"Oo yaudah hati-hati. Adang juga mau balik ke rumah hari ini. Kamu ngga mau ikut?" ujar Yur.
"Engga bisa Dang, Rani harus belajar ekstra untuk ujian," cengirnya.
"Halah bergaya cakap nak belajar padahal nak tanding b... emmphh" belum selesai Habil berucap Rani sudah menyumpal mulut adiknya dengan roti tawar full mentega ke mulut adiknya.
Rani pun melirik tajam kepada sang adik. Untuk saja Adangnya tidak mendengar cicitan dari Habil. "Awas lo kalau berani bilang! Gue bakal suruh si embek nyeruduk badan lo yang buntal ini!" bisik Rani yang hanya bisa didengar oleh Habil.
Habil pun menelan kasar ludahnya dan mengangguk. Perintah Rani kepada sang kambing kesayangan akan selalu dipatuhi oleh piaraan tersebut. Entah bagaimana caranya seluruh binantang yang sudah dirawat oleh Rani akan menjadi patuh akan ucapan Rani. Mulai dari disuruh berlari, disuruh duduk, bahkan disuruh menjahili orang yang lewat dengan menciumi tubuh orang itupun dilakukan oleh si kambing.
Rani yang melihat adiknya melamun pun tertawa penuh kemenangan. Ia segera menghabiskan makannya dan menyalami seluruh orang tua disana.
"Rani mau ngajak si embek main di rumput dekat rumah Iwing dulu yah ma, assalammualaikum ...." teriaknya sembari keluar rumah.
Ia pun mengembalakan kambingnya sembari bernyanyi kecil dan menggosok punggung kedua kambingnya. Baru saja ia sampai di lokasi tujuan, ia sudah melihat teman-temannya nangring sembari memakan buah tebu yang ada disana.
.
.
.
.
Terima kasih udah mampir... terima kasih banyak atas dukungan dari para readersku 😉😉😉🥰🥰🥰