Before I Found You

Before I Found You
BIFY 22



Pagi ini Rani mengeliatkan tubuhnya ke kiri dan kekanan sembari memegang kepalanya yang sedikit pusing.


“Mikul kepala serasa mikul batu, berat banget,” keluhnya menggelengkan kepalanya agar pusing yang ia rasakan sedikit berkurang.


Saat sudah bisa menyesuaikan berat kepalanya dan seluruh nyawa dalam badannya terkumpul, Rani keluar dari kamarnya dan melihat jam yang menunjukkan pukul 3.30 WIB pagi.


“Pantesan belum pada bangun,” Rani pun menuju ke kamar mandi dan melaksanakan shalat malamnya.


Usai melaksanakan shalat malamnya, Rani mencek handphone-nya. Ia membaca novel elektrik di hp nya.


“Lama-lama gue tulis juga deh semua khayalan tinggi gue di dunia. Wkwkwk,” dia tertawa sendiri membeca novel remaja tersebut.


Lelah membaca novel pun ia beralih ke aplikasi whatsapp, di sana ada undangan grup “Remaja Mesjid Mustaqim”. Rani pun bergabung dengan grup tersebut. Setelah itu, ia pun beranjak dari kasurnya dan membangunkan sang mama dan papa tercinta untuk sahur. Terakhir ia membangunkan adik-adik kesayangannya.


Mereka pun menikmati sahurnya pagi ini dengan telur bebek ceplok plus mie goreng ala chef Rita. Rani dan adik-adiknya memang sudah terbiasa makan apa yang ada, justru mereka sangat senang saat bisa memakan mie seperti saat ini. Biasanya sang papa akan terus marah ketika ada diantaranya yang memakan mie instan tersebut.


Entah itu memang dikarenakan sang papa bekerja di analis kesehatan, atau karena sebenarnya sang papa melarang yang lain makan mie karena dirinya tidak boleh memakan mie instan tersebut, karena penyakit mag yang di deritanya.


Itulah keluhan yang selalu diucapkan oleh adik bungsunya “Bilang aja kita nggak boleh makan mie karena kalau liat mie papa juga mau kan? Hahaha,” anak kecil tersebut mentertawakan sang ayah yang pagi ini hanya memakan telur bebek ceploknya.


Setelah menikmati sahurnya mereka menunggu waktu adzan subuh dengan menonton opera yang ada di tv, apabila sudah selesai shalat para anak dikeluarga ini akan kembali tidur. Sedangkan sang mama dan papa akan memulai aktifitas mereka.


***


Pagi harinya di sekolah Rani. Ia hanya mendengarkan sang guru dengan tidak semangat, karena bawaan guru pendidikan sosialnya itu juga kurang semangat. Mungkin sang guru yang sudah tua mendekati masa pensiunnya sangat kecapek-an untuk mengajar di bulan puasa.


Jam sekolah Rani pun saat bulan puasa akan lebih cepat, kelas akan berakhir pada pukul 13.00 WIB. Sepulang sekolah Rani akan kembali menghibernasikan badannya di kamar. Maklum kan hari-hari awal puasa.


Sore hari pun, Rani membantu mamanya untuk berjualan takjil di depan rumahnya. Lumayan menguntungkan dikarenakan rumah Rani berada di dekat lingkungan kampus islam negeri di Kota Batus tersebut.


Pukul 17.00 terdengar kembali himbauan dari mesjid, untuk memberitahukan agar para remaja mesjid berkumpul. Mama Rani yang mendengar himbauan itu pun menyikut anaknya yang sedang memainkan hpnya menunggu sang pembeli berikutnya datang.


“Ran, denger tuh. Sana ke mesjid biar mama yang jaga jualan,” titah sang Ratu.


“Hmm...males mah. Mulai besok aja deh,” keluh Rani bak anak kecil yang merengek pada orang tuanya.


“Eh, nggak boleh gitu dong. Sana pergi. Ganti baju pakai hijab,” ucap sang mama


Rani pun memenyunkan bibirnya dan berjalan ke dalam rumah dengan menghentak-hentaakkan kakinya, dia sangat-sangat tidak semangat untuk mengikuti kegiatan tersebut.


Kalau bukan karena orang tuanya, mungkin sekarang Rani akan tertawa dan semangat mengambilkan pesanan para pembeli takjil sang mama. Apalah daya, wong jadi anak mesti nurut kan.


Rani pun mengganti bajunya menjadi baju lengan panjang berwarna hijau pucuk dan mengenakan hijab yang senada dengan bajunya tersebut. Ia pun berpamitan pada sang mama yang sedang berjualan tersebut, dan melangkahkan kakinya ke mesjid yang hanya beberapa langkah dari rumahnya tersebut.


Saat sampai di mesjid Rani menyipitkan matanya untuk mencari sosok yang akan menghilangkan jenuhnya. Siapa lagi kalau bukan best friend rumahnya sang Firman Illahi alias Iwing. Lama celingak celingukan, Rani pun melihat sosok lelaki yang dicarinya tersebut sedang duduk di dekat kerumunan kakak-kakak mesjid lainnya.


Rani pun memfokuskan mata pada berharap sahabatnya ini melihat ke arahnya.


And Lucky sang lelaki terssebut menoleh padanya. Rani pun dengan suuara yang tertahan menggerak-gerakkan bibirnya bak ikan lohan menyampaikan agar sahabatnya ini menemuinya. Selain itu, Rani juga mengatakan bahwa ia masih segan dengan kakak-kakak tersebut.


Mulut Rani yang mangap-mangap tersebut dapat dipahami oleh sahabatnya, memang dasar sahabat aneh. Iwing pun menghampiri Rani yang beradadi ambang pintu belakang mesjid, sedangkan posisinya dengan kakak-kakak tadi berada di pintu depan mesjid. Ia pun berjalan dengan anggunnya menghampiri ikan lohan tersebut.


“Nggak ah, malu gue,” jawab Rani singkap dan langsung mendudukkan bokongnya di lantai pintu tersebut.


“Gue tau, kalau lo tu malu-maluin. Tapi nggak apa-apa kok, sini biar kita deket sama kakak-kakak yang lain,” nasehat sahabatnya tersebut.


Rani pun kembali berdiri dan menghadap temannya tersebut, “Pokoknya nggak boleh jauh-jauh dari gue!” titah Rani.


“Iya bawel,” ucap Iwing dan menarik tangan sahabatnya ini ke kerumunan masa tersebut. Dan Rani hanya pasrah dengan tetap memberikan sedikit senyumannya walaupun terpaksa.


“Eh, ada Rani. Oh ya Wing yang dua orang lagi mana?” tanya Kak Desi.


“Ada kak, bentar lagi. Nah, Rani ini rada malu-maluin kak jadi nggak banyak ngomong di awal. Tapi kalau udah kenal mah, beh bawelnya bisa ngalahin si Ciripa Uya Kuya kak,” ujar Iwing membicarakan kejelekan di depan orangnya langsung. Tuturan sahabat Rani ini membuat para gadis di sana tertawa.


Rani pun menatap sahabatnya ini dengan senyuman kesalnya yang mirip devil. Ia pun membalas perkataan tersebut, “Iya kak, aku memang agak susah beradaptasi. Hehe. Kalau Iwing mah, mulutnya emang udah kayak mak-mak kompleks kak. Jadi jangan terlalu dianggap hati,” ujar Rani. Lagi-lagi orang-orang yang ada di sana tertawa.


Ia berhasil membalikkan skor menjadi seri antara keduanya, dan membuat sang sahabat mengerucutkan bibirnya dan menutupi wajah malunya dengan kain sarung yang bertengger di bahunya tersebut.


Rani pun menjadi pendengar yang baik di antara gurauan-gurauan yang sahabatnya lakukan dengan para gadis yang tua beberapa tahun dari mereka tersebut. Selang beberapa lama pun, para pemuda menghampiri mereka.


“Ayok teman-teman, kita mulai rapatnya,” ujar El selaku ketua, ia menatap Rani yang duduk sangat dekat dengan Iwing, bahkan bahu mereka tampak berdempetan.


Sedikit kesal, yah itulah yang dirasakan oleh El. Ia pun merangkul bahu Iwing, seakan-akan mengajak Iwing ke dalam mesjid.


Padahal mah, dalam hati. Nih anak bagusnya dicemplungin ke kali. Supaya nggak terlalu dekat sama gadis kecil gue.


“Assalammualaikum semuanya,....” El menyampaikan pembukaan dan dijawab serta disimak oleh yang lain.


“Baiklah pada kesempatan ini, ada baiknya kita memutuskan siapa yang akan menjadi bendahara dan sekretaris pada periode ini? Silahkan kalau ada yang mau mengajukan diri,” ucap El.


“Kayak biasa aja bro, Noni jadi bendahara. Kalau sekretaris mah harus dipilih ulang, soalnya embun nggak ada,” ujar Dodo kepada temannya, yang memang tahun kemarin juga menjabat sebagai wakil ketua.


“Gue ada usulan bang, biar si Rani aja jadi sekretaris. Dia mah udah pakarnya 6 tahun jadi sekretaris terus dari SD,” ucap Iwing dan di tatapan semua orang pun menuju Rani.


El pun menatap harap pada gadis kecilnya itu. Semoga aja dia mau, batin El.


Batin Rani, Sialan nih sahabat rasa musuh. Pengen rasanya gue telen idup-idup. Rani pun tersenyum dengan memegangi kepalanya.


.


.


.


.


Terima kasih udah baca ceritaku 😍😍😍💐💐💐💐


Jangan Lupa Like, Vote, and Commend yaaa readerss....