Before I Found You

Before I Found You
BIFY 45



“Konsumsi masih cukup kan Ran?” tanyanya.


“Masih bang. Mungkin besok bakal ada tambahan lagi dari ibuk-ibuk,” ujar Rani.


“Nyokap gue ada tambahan. Tadi gue nggak bisa ngebawanya sendiri, jadi sekarang lo ikut gue buat jemput makanannya ke rumah!” ucap El.


“Hah??? Gue ngga pernah boncengan sama cowok! Dan ngga boleh sama papa,” ujar Rani.


“Loh inikan tugas lo sebagai koor konsumsi,” ujar El.


“Kalau untuk ini gue minta maaf deh bang. Gue masih sayang sama nyawa,” ujar Rani.


“Lah trus kalau jalan kaki boleh?” ujar El sedikit kesal.


“Boleh, tapi sekarang kan udah malam. Jadi ngga boleh!” ucap Rani.


“Sama Noni aja deh El,” ucap Noni.


El pun melirik Rani. Ayok bilang mau, lo ngga mau kan cewek lain boncengan sama gue, batin El. Tatapan mata El tersebut tidak ditanggapi oleh Rani, toh memang dirinya selalu patuh akan peraturan dari sang papa.


El membulatkan matanya pada Rani. Rani pun membalas tatapan El dengan tatapan tajam lagi, El berkata tanpa bersuara, “Kamu mau aku pergi bareng dia?” kesal El.


Rani juga membalas ucapan El tersebut. “Pergi aja! Apa urusannya samaku?” heran Rani.


El mengepalkan tangannya, dan mengajak Noni untuk ke rumahnya. Sepanjang perjalanan El hanya mengingat gadis kecilnya itu. Cehh dia itu terlalu sulit ditaklukkan, gerutu El dalam hatinya.


Melihat El membonceng Noni, Rani pun kembali masuk ke dalam tempat konsumsi. Ia melakukan tugasnya kembali, sesekali melihat apakah peserta bertambah dan mengecek persedian konsumsi.


“Kak Ran, aku ngantuk,” lirih adik kecil tersebut.


“Hmm...kamu tidur aja di sana ya sayang,” ujar Rani dan membelai kepala adik kecil tersebut.


Adik kecil tersebut mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Rani, ternyata Keke dan Zia yang duduk di sana.


“Minggir lo berdua adek gue mau tidur,” usir Rani.


Kedua sahabatnya itu hanya menuruti permintaan Rani tanpa mendebatnya, “Ran lo udah deh jangan terlalu semangat. Lihat tuh ada peserta ganteng banget,” ujar Keke membelokkan kepala Rani untuk melihat peserta yang sedang mengikuti lomba cerdas cermat malam ini.


“Udah ganteng, pintar lagi.” Tambah Zia.


“Cowok ganteng aja otaklo berdua,” jengah Rani, dan menyentil kening kedua sahabatnya.


Tiba-tiba kedua temannya itu pindah ke luar dari area konsumsi, mereka terus melirik ketiga pria tampan dari kampung sebelah yang mengikuti lomba malam ini. “Rani, sini deh. Lo dari kemaren pasti ngga merhatiin dia kan?” bisik Zia menghampiri Rani.


“Yakali kerjaan gue sebanyak ini, masih sempat ngelirik cowok,” omel Rani, Rani pun meminta tolong kepada Zia untuk mengantarkan konsumsi kepada tiga pria yang dipuja oleh kedua sahabatnya itu.


“Ssst, Ke....Keke, Kita dapat jackpot nih...Buruan lu kesini!” bisik Zia dari balik tirai area konsumsi.


“Ngapain?” tanya Keke.


“Makanya kesini lo,” ujar Zia.


Keke pun menuruti keinginan Zia. “Nih lo bawain yang itu, dan gue bawa ini,” ujar Zia membawa piring berisi kacang rebus.


Mereka menghampiri ketiga lelaki tampan itu. “Maaf sebelumnya, apakah nama temanmu yang berada dibalik tirai itu Rani?” tanya salah satu dari mereka.


“Iya, lo kenal sama Rani?” tanya Keke.


“Boleh aku kesana?” tanya lelaki itu lagi.


“Mmm...boleh kayaknya,” ujar Zia.


Mereka bertiga pun menuju ke belakang tempat konsumsi. Rani sedang duduk sembari memainkan ponselnya.


“Ceh,” desis lelaki itu, membuat Rani menatapnya tajam. Rani seperti mengenali wajah lelakiitu, tapi ia diam.


“Hai Nini, boyband datang nih.” sapa lelaki itu.


“Dika?” tanya Rani, ia kaget karena lelaki tampan yang dipuji oleh kedua sahabatnya adalah temannya dari zaman seperpopokan. Dan lebih kagetnya lagi, temannya itu sekarang tumbuh menjulang tinggi padahal dulunya tinggi Dika hanya sebatas dengkul Rani, eh sebahu lah ya.


“Kenapa? Kau tidak mengenaliku karena sekarang diriku jauh lebih tinggi darimu?” canda Dika.


“Ceh, sepertinya antara tinggi badan dan tingkat kepedeanmu berkorelasi sempurna!” ujar Rani kepada temannya itu.


“Kita keluar bentar yuk Ran?” tanya Dika.


“Ergr...kerjaanku masih banyak Dik,” tolak Rani.


“Gitu amat sama temen sedari bayi,” lirih Dika.


“Pergi aja deh Ran, Gue udah ketemu sama temen-temen dari mesjid gue noh. Jadi gue harus ke sana,” ujar Keke.


“Gue juga mau nyemangati bebeb gue yang sedang berjuang di depan,” ucap Zia menyengir kuda.


“Ternyata kalian memang harus kesini dengan maksud lain yah!!!” Rani memolototi kedua sahabatnya itu.


“Ehemmm ganteng, Kita sahabatnya Rani. Nama gue Keke dan ini Zia. Nih Rani nya lo bisa bawa keluar mesjid.Tapi cuman sampai halaman yah!” ujar Keke dan berlari kecil meningglkan Rani begitupun dengan Zia.


“Haiss.....iyadeh bentar!” keluh Rani. Ia memang tak tega melihat ekspresi temannya itu, mereka dulu berpisah saat kelas 1 sd karena tuntutan pekerjaan orang tua mereka harus berpindah.


Mereka memilih untuk makan di pekarangan mesjid. Yah walaupun hari sudah sangat larut, tetapi para penjual masih berjualan dikarenakan masih ada acara. Mereka menceritakan banyak hal. Rani tak menyangka ternyata keluarga Dika juga merantau ke kota ini.


“Rumahmu deket sini yah Ran?” tanya Dika.


“Noh disebelah!” ujar Rani menunjuk atap rumahnya.


“Besok aku kesana sama mama,” ujar Dika.


“Uhuk....uhuk, ngapain?” tanya Rani.


“Berkunjunglah! Pasti mama senang banget ketemu tante Rita,” ujar Dika tersenyum.


“Ooo,” ujar Rani membulatkan mulutnya.


“Pasti banyak lelaki buta yang mengejarmu ya?” ejek Dika.


“Temen si*lan!!! Ngehina gue terus hidupmu,” tukas Rani memukul lengan Dika.


“Eh....perilaku Nini nya udah keluar! Suka mukul-mukul orang,” cibir Dika.


Mendengar itu Rani memukul Dika kembali bukan dengan tangan melainkan menggunakan sarung yang melilit di leher Dika. Mereka pun tertawa bersama.


El yang sedari tadi sudah kembali mengambil tambahan konsumsi, pergi mengantarkan makanan dari bundanya ke tempat konsumsi. Akan tetapi, dirinya tidak menemukan Rani disana. Ia pun menanyakan kepda teman-temannya yang sedang berada di ruang konsumsi.


“Njay! Rani mana njay?” tanya El kepada Randi.


“Njay, njay pala lo! Nama gue Randi Maputra,” sinis Randi.


“Rani makan sate di depan noh El. Sama cowok Korea!” ujar Alan.


Tanpa ba bi bu El segera keluar dan menuju tempat sate. Dirinya melihat dan mendengar tawa riang gadis kecilnya dan lelaki yang memang sesuai dengan yang diucapkan oleh Alan. Seorang lelaki yang berperawakan Korea.


Cehh, katanya kalau malam ngga boleh dekat lelaki. Itu emangnya bukan cowok! Kesal El melihat tawa Rani dengan lelaki lain. Ia sangat ingin merutuki kebodohannya karena percaya bahwa Rani memang patuh akan orang tuanya, tetapi kini ia melihat gadis kecilnya itu sedang bersama lelaki seumuran dengan gadis yang telah memporak-porandakan hati dan pikirannya belakangan ini.