
Saat pulang sekolah Rani dikagetkan dengan banyaknya panggilan masuk dari El. Gadis itu pun menelfon ulang lelaki itu.
"Halo bang, kenapa banyak banget nelfon?" ujar Rani.
"Assalammualaikum, El nya sedang sakit dek. Sekarang El lagi tidur..." ujar seorang wanita.
"Ehh maaf ya kak eh tante... Wa'alaikumussalam. Kenapa bang El bisa sakit ya kak atau tante?" ucap Rani.
"Haha... Ini kakaknya El jadi panggil kakak aja. El nya sakit karena kelelahan dek, jadi sekarang harus istirahat total. Coba deh kamu besuk, langsung sehat tuh anak," ujar Santun.
"Hmmm... Maaf ya kak karena mengajari Rani dan teman-teman tiap hari bang El jadi sakit," ucap Rani merasa bersalah.
"Enggak kok bukan karena kalian aja. Memang udah dasarnya tuh anak suka forsir belajar. Berkunjunglah ke rumah, siapa tau di beneran jadi sehat," ujar Santun.
"Hehe...Iya kak, makasih ya kak. Rani tutup dulu telfonnya," ujar Rani.
Rani pun mengabari para teman-temannya bahwa mereka tidak bisa belajar hari ini. Akan tetapi, mereka semua diwajibkan untuk ikut Rani membesuk El di rumahnya.
Tanpa menunggu lama teman-teman Rani pun sudah sampai di rumah Rani, Rani mengajak mereka membeli buah segar terlebih dahulu.
"Ran, itu mah kebanyakan!!!" ujar Keke.
"Heh! Kita semua mesti patungan. Gegara kalian semua tuh es batu jadi sakit. Udah gue bilang kalau nggak boleh tiap hari! Sakit kan tuh anak orang! Sekarang kita beli vitamin!" omel Rani.
***
"Wah Ra...Ini rumah atau kastil?" ujar Zia melongo.
"Jangan kumat! Perlihatkan bahwa kalian benar-benar merasa bersalah!" delik Rani pada dua sahabatnya.
"Siap mak!!!" ujar kedua sahabatnya.
"Assalammualaikum permisi..." ujar Zia.
"Itu ada bel nya beg*k!" ucap Keke memukul kepala Zia.
"Nggak kelihatan beg*k!!!" tuka Zia membalas Keke.
"Ehem..." tegur seseorang yang membukakan pintu.
"Maaf ya kak...Mereka memang jelmaan tom and jerry di kehidupan nyata. Jadi abaikan aja kak," ucap Rani.
"Haha..santai aja. Kamu kok nggak kabari dulu kalau datangnya sekarang?" ucap Santun.
"Iya kak...Soalnya kakak bilang datang aja kalau mau besuk bang El," ucap Rani menggaruk kepalanya. Ia pun menyerahkan buah tangan mereka pada Santun.
"Hehe, kamu benar adik ipar. Kenapa pakai repot-repot bawa ini segala... Ayok masuk! Kita ngomong di dalam," ujar Santun merangkul Rani.
Rani pun melirik kedua sahabatnya yang berjalan di belakang.
Sedangkan kedua sahabatnya berbicara tanpa suara, keduanya mengejek panggilan baru Rani yang diucapkan oleh Santun tadi.
"Ciee... adik ipar," ujar Zia dengan gerakan bibir.
"Ciee... di sayang sama kakak ipar," ujar Keke.
Keduanya pun tertawa, mereka tidak bisa mengontrol tawanya karena mendapatkan pelototan mata dari Rani.
"Kenapa kalian ketawa?" ujar Santun.
"Eh...Keinget kejadian lucu di sekolah tadi kak," ujar Zia dan Keke.
"Mereka kalau kehabisan obat suka kambuh kak," ujar Rani membuat Santun tertawa.
"Nah, itu kamar El di depan. Kalian duduk disini aja kalau mau lihat El langsung aja masuk ke kamar. Kakak mau ambil minum dulu," ujar Santun.
"Eh nggak usah repot-repot kak...Kita minum ini aja cukup," ujar Rani menunjuk air kemasan kecil yang ada di meja tamu itu.
"Oo yaudah...Hehe, Rani kamu masuk duluan aja ke kamar El," ujar Santun.
"Emm...Kenapa nggak barengan aja kak?" kikuk Rani.
"Ehh... Nggak apa nih kak?" tanya Rani.
"Masuk aja...El nggak makan orang kok," ujar Santun.
Rani pun masuk ke kamar El, saat masuk ke dalam kamar gadis itu akan berteriak. Akan tetapi, tangannya di bungkam oleh El. Rani pun menatap bola mata hitam yang ada di hadapannya, tidak ada jarak di antara keduanya. Detakan jantung keduanya terdengar kencang bahkan bisa di dengar.
"Jangan teriak, nanti gue dikira apa-apain lo!" ujar El pelan. Rani pun mengangguk, dan lepas dari El.
Glek
Rani menelan kasar ludahnya karena sangat gugup. Saat ini ia melihat El hanya menggunakan sarung tanpa memakai baju. Bagian atas lelaki itu nampak jelas, ada enam kotak di perut, dua bola di lengan. Mirip seperti atlit basket...
"Hufftt....Gimana keadaan lo bang?" tanya Rani.
"Gue udah agak baikan kok. Paling besok udah bisa ngajar lagi," ujar El merebahkan badannya di kasur king sizenya.
"Nggak boleh! Lo harus istirahat!" titah Rani.
"Gue nggak betah tidur lama-lama. Ini aja gegara sakit, gue jadi nggak bisa ikut TO hari ini!" ujar El kesal.
"Hah!!! Lo TO bang? terus nggak ikut gegara sakit?" ujar Rani memastikan, kemudian gadis itu menunduk.
"Emm...Iya tadi gue nggak bisa ikut To karena sakit. Tapi lo tenang aja, walau nggak ikut To nilai gue nggak akan jelek-jelek amat. Palingan cuman remedi," ujar El membujuk Rani.
"Hiks...Maafin gue ya bang. Lo jadi sakit karena ngajarin kita terus. Atau mungkin karena makan makanan pinggiran kayak semalam makanya lo jadi sakit?" ujar Rani sedih, air mata pun sudah tergenang di matanya.
"Lo kira gue selemah itu. Masak cuman gara-gara makan di pinggir jalan jadi sakit! Ini udah fase tubuh yang butuh istirahat, udah dong jangan nangis," ujar
El menggosok pelan kepala Rani yang saat ini tidak menggunakan hijab. Kemudian, lelaki ini merasa kedinginan dan ingin mengambil selimut untuk menyelimuti badannya.
Rani yang melihat El kesulitan memakai selimut pun membantu menyelimuti lelaki itu. Wajah El pun tersenyum melihat perhatian kecil yang diberikan oleh Rani.
"Lo cepat sembuh ya," ucap Rani.
"Gue senang kalau sakit. Seperti sekarang, gue bisa lihat kalau sebenarnya lo ada perasaan untuk gue," ujar El menangkap tangan Rani.
"Cih!!! Masih aja sanggup becanda," ujar Rani mendorong tangannya ke arah badan El karena ingin memukul lelaki es yang sedang lemah tak berdaya itu.
Terlihat jelas di wajah El yang biasanya berseri, saat ini berubah menjadi pucat. Bibir yang biasanya merah merona, kini berubah sedikit kebiruan.
El pun menahan tangan Rani agar tetap di dadanya. Lelaki itu menggenggam kuat tangan Rani menggunakan tangannya.
"Tangan lo hangat. Gue suka," ucap El.
Rani yang dapat merasakan lelaki di hadapannya sangat kedinginan karena telapak tangannya seperti berada di dalam kulkas. Ternyata lelaki es tersebut memang bisa sedingin es seperti sekarang ini. Rani pun membiarkan tangannya di genggam oleh El.
Rani pun melihat bahwa perlahan mata El tertutup. Sepertinya lelaki itu akan terlelap lagi, tangan Rani yang satunya lagi ia gunakan untuk mengusap kepala lelaki itu.
"Cepat sembuh my teacher!" ujar Rani dengan suara kecil.
"Hemm... Terusin ngelus kepala gue. Nyaman," jawab El.
Rani pun kaget, karena ternya El belum tidur sepenuhnya. Wajah Rani pun tersipu malu karena ketahuan mengelus kepala lelaki itu saat terlelap, ia pun menghentikan perbuatannya. Akan tetapi El kembali meletakkan tangan Rani di atas kepalanya.
"Dih manjanya sama kek kucing gue kalau lagi sakit!" ejek Rani tersenyum.
El pun tersenyum mendengar ucapan Rani. Lelaki itu pun benar-benar masuk menuju alam mimpinya.
Sedangkan di depan pintu, tiga orang perempuan sedang tertawa kecil melihat keromantisan yang ada di hadapan mereka. Sebenarnya mereka ingin masuk, akan tetapi Santun melarang karena ia ingin melihat seberapa rasa sayang adiknya terhadap gadis kecil yang selalu ia dengar dari cerita sang adik.
Keke yang ingin mengolok sahabatnya itu pun, memotret suasana di atas kasur itu. Di mana Rani duduk di pinggiran kasur sebelah kiri dan El tiduran di sebelah kanan. Tangan kiri Rani mengelus kepala lelaki itu, sedangkan tangan kanannya di genggam oleh El di dada lelaki itu.
.
.
.
Terima kasih udah mampir.. 🥰🥰🥰