
Malam ini langit dihiasi oleh gemerlap cahaya bintang. Usai melaksanakan shalat tarawih, para panitia dipulangkan untuk mengganti pakaian sesuai ketentuan panitia. Hari pertama ini mereka menggunakan tema hijau dan batik.
Rani sudah menggunakan pakaian batik muslim senada dengan hijabnya. Seperti biasa ia akan tampil apa adanya, toh dirinya sudah cantik. Jadi nggak perlu ribet untuk menyesuaikan segala hal. Selain itu, tampilannya bagaimanapun tidak ada urusannya dengan orang lain, orang itu masu suka atau mau komplain, ngga ada faedahnya buat Rani. Tubuh ini miliknya, it’s my style. Itu pendapat Rani akan dirinya.
“Oke udah pas,” Rani masih berputar kekiri dan kekanan melihat bajunya.
Selang beberapa lama tiga orang biang onar masuk ke kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Iwing, Sari, dan Wulan.
“Ya Allah Ran........lo mau kek gini aja?” tanya Wulan memastikan.
“Iyalah. Masak gue pakai kebaya? Kan gue nggak nikahan!” ujar Rani.
“Ya tuhan.....kenapa engkau mengirimkan kepada hamba cewek-cewek tomboy ini,” ujar Iwing menadah tangannya seakan berdoa.
“Raga kita ketukar waktu bayi kali, Hahahaha” tawa Sari.
“Diem lu Sar! Heh, maimunah. Sini lo gue rapihin tuh hijab!!!” ujar Wulan.
“Nggak ah, gini aja. Temen kalian ini kan udah syantik,” ucap Rani bangga.
“Syantik dari lubang sedotan iya!” ucap Iwing memutar bola matanya.
Ucapan Iwing dibalas tatapan menusuk oleh ketiga gadis di kamar itu. “Ya maaf, makanya kalian itu dandan dikit kek biar kayak cewek!” omel Iwing.
“Sini dah Ran. Kita itu lagi jadi panitia sayang, jadi harus dipermak dikit biar beda sama peserta,” ujar Wulan.
“Yah, kan gini udah beda....Gini aja yah Lan?” rengek Rani.
“Gue tadi juga jadi korban. Nurut aja deh biar cepet,” ujar Sari.
“Tapi nggak gini juga kali,” Rani masih belum terima.
Akan tetapi, ketiga orang tersebut sudah membungkam Rani. Rani pun hanya pasrah wajahnya diorak-arik oleh Wulan dan Iwing.
Selang beberapa lama, hijab yang tadinya dibiarkan oleh Rani terurai kebawah, kini sudah menggantung sempurna seperti hati. Wajah Rani yang tadinya hanya memakai bedak bayi, kini sudah ditambahi dengan sedikit perona pipi, dan untuk bibir munyil yang memang sudah merona, dipertegas dengan lip gloss.
“Wah...wah, kita ini mau jadi panitia atau kondangan siii?” keluh Rani.
“Diem dulu yaa nona. Lihat tuh di cermin!” Iwing menghadapkan wajah Rani ke cermin yang ada di kamar Rani tersebut.
Ranipun menghapus lip gloss yang menurutnya terlalu tebal, dan mamakai ulang sendiri dengan tipis. Tidak dapat dipungkiri, walaupun kedua orang ini mengesalkan. Mereka memiliki keajaiban di tangannya. Ketiga gadis ini tampak kembaran karena tata letak hijab mereka sama. Bahkan wajah mereka pun menggunakan alat make up yang sama. Itu semua disponsori oleh Wulan.
Usai berdandan ria, keempat umat manusia inipun masih sempat-sempatnya berselfie ria. Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka semua, orang tua Rani hanya menggeleng kepala melihat tingkah remaja ini.
Mereka berempat pun dikagetkan oleh panggilan atas nama mereka dari mesjid.
“Kepada panitia ramadhan Rani, Sari, Wulan, dan Firman. Diaharapkan untuk segera ke mesjid dan menyudahi acara kodak-kodaknya,” ucap pemilik suara.
“Sialan tuh si bg Ranjai. Bikin malu aja!!!” ujar Wulan.
“Darimana mereka tau kita foto-foto disini?” tanya Sari.
“Tuh lo liat. Mereka aja ngetawain kita sekarang!!!” ucap Iwing menunjuk sekumpulan pria yang sedang duduk di teras mesjid yang pas menghadap ke arah mereka berempat berfoto ria.
Mereka berempat pun berjalan menuju mesjid.
“Wah bidadari dari khayangan sampai datang ke acara kita ini,” ujar Alan menaik turunkan alisnya.
“Bidadari dari khayangan? Khayalan lo yang ketinggian bang!” ucap Sari menginjak keras kaki Randi.
“Auwhhh...sakit beb,” ujar Randi meringis kesakitan.
“Makasih ya bang udah bilang gue bidadari. Tapi sayang, gue nggak minat sama cowok modelan begini!!!” ujar Wulan yang juga dengan sengaja menginjak keras kaki Randi sebelahnya.
Sementara itu Rani dan Iwing hanya menyaksikan perselisihan tersebut. Saat Rani sedang mengedarkan pandangannya matanya bertemu dengan manik elang milik El. Dia semakin cantik setelah hampir sebulan kami bertemu, batin El. Ia pun tersenyum kepada Rani.
Hahh, dia senyum? Nggak salah lihat nih mata gue? tanya Rani pada dirinya. Iapun mengucek-ngucek matanya berulang kali untuk memastikan pemandangan langka di depannya.
“Lu kenapa Ran? Ngucek-ngucek mata?” bisik Iwing.
“Gue habis ngeliat setan senyum,” jawab Rani spontan dan didengar oleh semua orang di sana.
“Hantu Ran?” ujar Alan ketakutan.
“Iya bang. Masak dia senyumke gue? kesambet kali yah.” Ucap Rani dan melenggang santai meninggalkan orang-orang di sana.
“Huaa....Merinding gue,” ujar Tegar.
Semua orang yang ada di sana pun sontak beranjak dari sana karena perkataan Rani. Dasar badan aja yang gede, sama hantu aja pada ciut. Lagian mana ada hantu pas bulan puasa!!! batin Dodo. Ia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya. Lain halnya dengan El,ia menyeringai karena gadis kecilnya itu berani mengatakan dirinya sebagai setan.
Rani yang sudah berada didaerah kekuasaanya, alias tempat konsumsi dikumpulkan. Mengingat senyuman dari El yang menurutnya sangat manis. Ckk, dasar ****! Ngapain dah ni otak mikirin senyum devil, ujar Rani dan memukul kepalanya pelan.
“Ran, tadi itu seriusan setan?” Tegar yang datang tiba-tiba dibelakang Rani, ia berniat untuk memastikan kepada Rani.
“Astagfirullah setan!” Rani kaget karena tiba-tiba ada orang di belakangnya.
“Ma..mana setannya Raniii...?” ucap Tegar yang juga kaget karena Rani.
“Lo setannya bang!” ujar Rani. Ia pun meninggalkan Tegar dan fokus untuk mengisi makanan ke dalam wadah yang telah disediakan.
.
.
.
Vote
Like
Commend
Please....🥰🥰🥰