
"Uwah kenyangnya....." ujar Rani meneguk air mineral yang sudah disediakan oleh El.
"Ran, kamu nggak takut pergi jauh-jauh gini berduaan doang?" tanya El.
"Kenapa mesti takut?" tanya Rani.
"Barangkali abang mau nyulik kamu gitu." ujar El tersenyum lebar.
"Jangan ngadi-ngadi deh bang. Abang mau Rani bilangin ke abang polisi ganteng yang duduk disana?" tunjuk Rani pada seorang lelaki dengan seragam dinas kepolisian.
"Tampang begitu kamu bilang ganteng?" ujar El dengan nada tinggi.
"Iyalah kek oppa-oppa korea. Hidung mancung, mata sipit, senyumnya ada cekungan kecil lagi." ujar Rani memanas-manasi El.
"Ceh! Kakek-kakek aja dibanggain!" decak El.
"Hahaha... Bau-bau angus di sekitaran sini sangat kentara nih." ujar Rani tertawa.
El hanya menaikkan sebelah alisnya dan memasang tampang kecut pada Rani.
"Dasar ABG!" ujar El.
"Dih! Sendirinya dia nggak nyadar, siapa yang cemburuan nggak ketulungan kek baru jatuh cinta aja! Wleek," ujar Rani memeletkan lidahnya pada El.
"Kalau memang iya kenapa?" tanya El menatap Rani.
"Hah?! Umur udah segini baru ngerasain jatuh cinta? Sungguh kebohongan yang nyata..." ujar Rani menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Serius loh Ran..." ujar El.
"Beneran bang?" ujar Rani memastikan. Tidak mungkin ada manusia lain selain dirinya yang tahan dengan godaan jatuh Cinta sampai seumuran dengannya apalagi seumuran El.
"Tapi boong! Yahahaha," ujar El tertawa lepas.
"Asem banget sih jadi orang! Dasar bocil!!!" delik Rani dan melemparkan bekas kulit pensi tadi ke El secara bertubi-tubi.
"Kok dibilang bocil?" tanya El heran.
"Ya iyalah. Kata-kata tadi itu cuman ucapan para bocil di game FF!!!" delik Rani kesal.
"Kamu main game online Ran?" tanya El heran.
"Nggak lah! Ngga sudi ketemu lawannya bocil. Udah bocil masih aja ngeyel!" tukas Rani berapi-rapi.
"Selow... Terus darimana kamu tau tentang para bocil?" ujar El penasaran.
"Dengerin Keke sama Zia kalau lagi mabar. Bawaannya kesal melulu gegara bocil! Gue, eh aku aja yang nggak main juga ikutan kesel!" ujar Rani menggelengkan kepalanya.
El pun mengangguk paham. Ternyata gadisnya tidak memasuki dunia hitam tahun 2021 bagi para pencinta game online itu.
"Kita mau kemana lagi bang?" tanya Rani.
"Kemana aja boleh," jawab El.
"Ke neraka mau ikut bang?" ujar Rani menjawab candaan El.
"Neng duluan aja ke sana. Kalau menarik, jemput saya balik tapi tetap aja saya nggak bakal tertarik untuk ke sana!" ujar El mengangguk.
"Enak aja!" tukas Rani. Gadis itu pun berdiri dan diikuti oleh El.
Mereka pun membayar pesanan pada penjaga warung dan menyusuri pantai sekali lagi.
"Bang itu ada penangkaran penyu. Kita ke sana yaa?" bujuk Rani dan mengeluarkan mata kucingnya.
"Tatapan kucing yang keknya udah nggak makan berbulan ini mana bisa ditolak!" dengus El.
"Hehehe... Let's go!" ujar Rani senang.
"Suka-suka gue lah thor!"
"Maharanisya! Hati-hati kalau jalan!" ujar El menarik tangan Rani.
Gadis itu hampir saja menginjak pasir pantai yang tergenang lumpur. Keduanya bertatapan, El pun secara perlahan melepaskan genggaman tangannya.
"Besok-besok kalau jalan itu lihat ke bawah!" delik El.
Rani hanya meringis karena mendapatkan siraman kutbah dari El.
"Ya maaf bang. Habisnya udah nggak sabar ketemu penyu yang unyu-unyu," ujar Rani.
El pun meneruskan jalannya mendahului Rani. Akhirnya mereka pun sampai di penangkaran tersebut dan Rani sangat bahagia melihat hewan yang hampir menjadi langka itu.
"Mereka lucu banget... Pak, ini kenapa mesti di angetin pakai lampu?" tanya Rani heran.
"Karena waktu itu induknya sudah mati karena penyakit nona," ujar petugas yang menjaga penangkaran itu.
"Sedih amat jadi mereka. Masih dalam bentuk telur, nanti pas keluar nggak dapat lihat emak sama bapak. Nanti pas kalian udah gede, Rani aja yang gantiin emaknya," ujar Rani dengan polosnya.
Petugas tersebut hanya tersenyum mendengar ucapan Rani. Sementara El kembali tersenyum melihat tingkah Rani yang memang masih kecil sesuai dengan umurnya. Kenapa dirinya bisa menyukai gadis kecil yang jauh dari kata dewasa ini.
"Nona ingin memelihara mereka?" tanya petugas itu.
"Memangnya boleh pak?" tanya Rani antusias.
"Boleh saja asal nona merawat mereka dengan baik. Meskipun laut adalah rumah mereka sebenarnya. Akan tetapi, saat ini laut telah tercemar dan membuat mereka kesulitan untuk bertahan hidup. Kira-kira 1 minggu lagi mereka akan menetas." ujar petugas itu.
Rani pun menatap El penuh harap. Gadis itu se akan membujuk El agar mau kembali ke sana untuk mendapatkan bayi penyu yang lucu seperti bayi-bayi sebelumnya.
"Iya boleh. Asalkan merawatnya dengan benar. Kasih makan tepat waktu dan tentunya kandangnya mesti bersih selalu!" ujar El.
"Siap bos!" ujar Rani gembira.
Petugas itu pun tersenyum. Ia sebenarnya juga mengkhawatirkan penangkaran di sana, karena saat ini ia sendiri sudah memasuki usia senja. Sementara, di desa sana tidak ada pemuda yang sukarela menggantikan dirinya untuk memelihara hewan laut itu.
"Kami akan merawat penyu yatim piatu ini pak. Seminggu lagi kita bakal balik kesini yah pak. Penyu nya jangan dilepas dulu ke laut!" ujar Rani tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
"Baik nona." ujar petugas.
"Janji yah pak? Dua bayi penyu itu punya saya loh. Jangan dikasih sama yang lain," ujar Rani memastikan.
"Bapaknya kan udah janji Maharanisya. Jangan di ancam segala!" ujar El menarik kuping Rani.
"Auhh... Iya bang, ampun deh..." ringis Rani.
El pun melepaskan jewerannya. Lelaki itu pun mengajak Rani untuk menemui para penyu tua yang sudah berumur seratus tahun bahkan lebih yang ada di penangkaran itu.
"Mereka kok tua amat yah bang?" tanya Rani mencolek-colek cangkang penyu itu menggunakan rerumputan panjang yang ada di sana.
"Coba tanya mereka aja Ran," ujar El gemas dengan tingkah Rani.
"Itumah abang yang beg*k. Masak penyu di ajak wawancara, Mana bisa dia jawab!" ujar Rani mengerucutkan bibirnya.
"Bercanda doang. Jangan masukin ke hati! cukup hatimu terisi dengan namaku, Eaa!" ujar El mengedipkan matanya.
"Ya Allah. Bang El kesambet setan gombal lagi!" ujar Rani merinding dan berjalan meninggalkan El sendirian di sana.
"Rani! Hei... Jangan kabur kamu ya!" ujar El mengejar Rani yang sudah mempercepat langkah menjauhi dirinya.
Kedua sejoli ini pun telah merasa lelah karena berputar-putar di area penangkaran. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. El mengantarkan Rani dan baru menuju rumahnya sendiri.
"Beginikah rasanya Cinta di masa muda?" ujar El tertawa sendiri. Ia tidak menyangka bahwa hatinya tercampur aduk, kadang akan dengan cepat emosian karena terbakar api cemburu. Kadang berbunga-bunga saat berada di dekat gadis kecilnya yang tampil apa adanya.
Sementara Rani, juga berguling-guling di kasurnya karena masih sulit meredam luapan kembang api di dalam hatinya yang muncul sedari tadi dirinya pergi bersama El. "Hah, Maharanisya... Lo akhirnya ke makan omongan sendiri," ujar Rani menggelengkan kepalanya.