Before I Found You

Before I Found You
BIFY 56



Sore ini sepulang sekolah Rani dikejutkan oleh kehadiran lelaki yang ia anggap menyebalkan di gerbang sekolahnya. Rani berusaha menutupi wajahnya dengan buku pelajaran yang ada di genggamannya. Ia pun menarik tangan Zia dan Keke agar menutupi dirinya. Rani tidak ingin lelaki tersebut menyapa, memanggil, ataupun memaksanya kembali seperti kejadian lampau.


El yang memang sudah pegal karena berdiri terlalu lama di gerbang sekolah Rani meregangkan otot-otot lehernya. Ketika menoleh ke samping, dirinya melihat tas dari gadis kecil yang ia tunggu setengah jam yang lalu. Dasar gadis nakal, mau kabur dari gue. Lo lihat aja apa yang bakal gue lakuin! Batin El.


"Rani!" panggil El.


Rani justru mempercepat langkahnya dan menarik kedua sahabatnya agar segara menjauh dari lelaki tersebut. Apalah daya, langkah ketiga gadis yang menggunakan rok sekolah yang panjang tidak dapat menyaingi langkah kaki El yang lebar.


El menarik kencang tas Rani, sehingga gadis kecil itu terlepas dari dua sahabatnya. "Hari ini kita belajar di rumah lo kan?" tanya El dengan senyum devil.


Rani hanya melongo dengan pertanyaan El. Ia sangat kesal melihat senyuman mengerikan di wajah lelaki itu. "Kapan gue bilang gitu ke lo bang?" tanya Rani.


"Lo nggak mau ya temen-temen lo ikut belajar sama kita? Makanya pura-pura lupa?" ujar El dengan gaya berbisik pada Rani padahal suaranya keras sehingga terdengar oleh Zia dan Keke.


"Wah....Pelit amat lu Ran sama kita?" ujar Keke cemberut.


Zia pun tak menyangka bahwa sahabatnya akan belajar untuk persiapan ujian, namun tidak mengajak dirinya dan Keke. Ia hanya diam dan menatap Rani dengan tatapan kecewa.


"Nggak ada kok! Dia nih yang halu! Jangan percaya sama apa yang dia ucapin! Lo berdua harus percaya sama gue!" ujar Rani yang melihat kesedihan di wajah kedua sahabatnya.


"Karena Rani nggak keberatan kalian ikut kita belajar aja! Nanti gue ajarin privat. Gratis kok," ujar El tersenyum.


"Beneran nggak apa nih bang? Nanti kita gangguin lo PDKT sama Rani lagi," tanya Zia.


"Nggak ganggu kok. Tenang aja, iya kan Ran?" tanya El pada Rani.


Gila nih cowok, sembarangan aja kalau ngomong. Kapan pula gue ngajak dia belajar. Pakai acara bawak sahabat gue lagi! Awas lo nanti! Batin Rani.


"Boleh ya Ran? Kan lo tau kita berdua punya otak susah nangkep pelajaran," rengek Keke.


"Aihh....iya deh iya gue ngalah. Ayok ke rumah gue!" ajak Rani menarik kedua sahabatnya meninggalkan El.


Belum beberapa langkah, tas nya kembali di tarik oleh El. "Lo bareng sama gue ke rumah!" titah El.


"Lepasin tangan lo dari tas gue!" tukas Rani menatap el dengan tajam.


El yang ingin menyauti perkataan Rani, terhenti melihat wajah gadis itu memerah karena marah. Ia pun melepaskan tangannya dari tas Rani.


"Gue tau ya maksud lo apaan! Tapi jangan semena-mena ke gue! Gue bukan cewek lemah seperti yang lo kira, sekarang karena sahabat gue mau diajarin sama lo. Makanya gue nurut, tapi gue bakal ke rumah bareng mereka!" ujar Rani tegas. Ia pun menarik kencang tangan kedua sahabatnya dan segera mencari becak untuk mereka bertiga.


El terdiam mematung beberapa saat, ia merasa kecewa karena menaklukkan hati gadis kecil itu tidak semudah yang ia kira selama ini. El pun menaiki motornya dan segara menuju rumah Rani


***


Saat mereka sampai di rumah Rani, mereka pun menyalami Rita satu per satu.


"Tumben ada anak El?" heran Rita.


"Iya Tante, soalnya mau ngajarin Rani dan teman-teman belajar. Boleh kan tan?" tanya El.


"Hoo...tentu boleh! Ayok masuk, anggap aja rumah sendiri yah El," ujar Rita.


"Mama gitu yah, mentang-mentang ada cogan. Anak-anaknya yang cantik jelita ini dianggurin!" ujar Zia.


Mereka pun duduk lesehan di ruang tamu Rani. Sementara Rani, pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Rani tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh sahabatnya kepada El. Mereka bertiga asik bergurau dan tertawa karena kelemotan Keke dalam menanggapi yang disampaikan oleh El.


Rani yang saat ini memilih baju. Ia pun memutuskan untuk menggunakan baju kaus lengan pendeknya berwarna pink dengan legging hitam. Rambutnya ia biarkan terikat ke atas dengan tidak beraturan, poni gadis itu dibiarkan kesamping dan beberapa rambut tak beraturan berada di pelipisnya. Ia tidak peduli dengan ikatan rambutnya yang tidak beraturan. Dalam pikiran Rani saat ini hanya ingin cepat menyelesaikan pembelajaran yang akan diberikan oleh lelaki es menyebalkan itu.


Rani pun keluar dari kamar dengan wajah datarnya. El yang melihat kedatangan Rani hanya termenung, ia beberapa kali menggelengkan kepalanya karena merasa sangat penuh dengan wajah Rani. Meskipun gadis kecilnya itu menunjukkan kekesalannya pada El, justru dirinya menganggap bahwa dengan wajah datar Rani memberikan kesan gadis dewasa di pikirannya, bukan gadis kecil yang biasanya ia lihat.


"Ehem... mangap lo bang! Kemasukan lalat tuh mulut kalau nggak mangap!" sarkas Rani. Ia pun duduk di samping Zia.


Posisi mereka saat ini yaitu El di atas kursi tamu, sedangan Rani dan sahabatnya lesehan di karpet. Awalnya El juga lesehan di karpet, tapi karena akan memantau pengerjaan dari anak didiknya membuat El harus berada di atas.


El pun memberikan pengajaran dengan mudahnya. Rani yang awalnya cuek, setelah mendengarkan cara El menerangkan materi-materi membuatnya kagum. Ia tidak menyangka bahwa lelaki es itu sangat berbakat menjadi seorang guru. Rani memperhatikan bagaimana cara El mengajarkan apa yang tidak dimengerti oleh kedua sahabatnya. Rani pun menjadi tersenyum ketika menatap wajah El yang meredam emosi karena Keke sangat susah menerima penjelasan yang diberikan oleh El.


El yang merasa Rani memperhatikannya, menjadi sedikit bahagia di hatinya. Ia melihat senyuman tipis di wajah gadis kecilnya itu. Namun, ia tidak ingin menatap ke arah Rani lebih lama karena ia ingin terlihat cool di mata Rani.


Hampir 3 jam mereka belajar. Lebih tepatnya satu setengah jam belajar, 30 menit memberikan pencerahan kepada Keke karena sangat lama dalam menangkap penyelesaian masing-masing soal. Satu jamnya lagi mereka habiskan untuk bercengkrama dan mendengarkan El tentang kisah hidupnya sampai bisa masuk ke SMA unggul di Kota Batus tersebut.


Waktu magrib yang hampir masuk, membuat mereka memutuskan untuk pulang. Mereka pun pamit kepada Rita.


Rita sangat senang ketika rumahnya ramai seperti tadi, dan anaknya mendapatkan pelajaran gratis dari lelaki yang menurutnya pintar. Saat anak-anak tersebut belajar, diam-diam Rita memperhatikan bagaimana kesabaran El dalam mengajari Rani dan kedua sahabatnya.


Mereka pun keluar dari rumah Rani. Kedua sahabat Rani telah berjalan menuju gang rumah Rani untuk menunggu ojol. Sedangkan Rani saat ini sedang mengantarkan El ke depan.


"Emm...Terima kasih! Lo udah ngajar dimana aja memangnya bang?" ujar Rani.


"Iya sama-sama... Emm maksud lo?" tanya El sembari memasang helm di kepalanya.


"Ya... Lo keliatan berbakat aja jadi guru privat. Emm..,gue kira lo ngajar dimana gitu. Makanya bisa sabar ngadepin Keke," ujar Rani menunduk dan menautkan kedua kuku ibu jari tangannya.


"Hoo.. Nggaklah! Kalian murid pertama gue, gue juga cuman mau berbagi ilmu ke kalian. Maaf juga tadi gue maksa lo," ujar El.


Rani pun menatap El, ia melihat ketulusan di mata lelaki yang biasanya sedingin es itu, "Iya nggak apa-apa," ujar Rani.


"Kalau gitu gue pulang dulu ya," ujar El menaiki motornya.


Rani pun mengangguk, mereka berdua pun terdiam beberapa saat. Rani merasa bersalah karena telah jutek ke lelaki es dihadapannya ini. Padahal ia hanya ingin berbagi ilmunya.


"Maaf untuk perilaku gue yang tadi," cicit Rani yang terdengar oleh El.


"Santai aja. Gue berangkat ya?" ujar El dan diangguki oleh Rani. Ia pun menyalakan mesin motornya dan berlalu meninggalkan pekarangan rumah Rani.


.


.


.


.


Terima kasih udah mampir


Berikan dukungan untuk author yaa readersku 🥰🥰🥰