
“Ngapain lo nyuri-nyuri pandang ke Rani? Kualat lo kan jahat sama cewek baik kayak dia,” ujar seorang anak laki-laki pada Rido.
“Ngapain juga gue liatin dia, kurang kerjaan banget!” elak Rido.
Padahal sedari tadi Rido memang diam-diam memperhatikan Rani dikejauhan sedang membantu ibuk kantin membawakan dagangannya, ia terkesan dengan perbuatan gadis itu.
Ia merasakan debaran yang tidak seperti biasanya, detak jantungnya menjadi tidak normal setelah kejadian waktu itu, ia terus memperhatikan Rani untuk mencari kesalahan-kesalahan gadis ini, tapi tidak ia temukan. Justru ia menemukan banyak kebaikan dan hal unik dari gadis ini yang tidak pernah ia tau selama ini. Nyesel kan bang, baru nyadar kalau Rani itu hatinya baek 😋😋
“Songong nih anak, udah jelas padahal masih aja nggak ngaku,” ucap anak lelaki itu menoyor kepala Rido.
Tak jauh dari sana Rani melihat dua lelaki yang ada di pintu kelas, ia melirik kilas dan membuang wajahnya. Ia masih kesal dengan lelaki blasteran itu.
***
Di Kelas Sheijin
“Ran, hari ini kita jadi daftar kan?” tanya Keke pada Rani.
“Jadi, gue udah dapat izin,” semangat Rani. Ia sudah tidak sabar untuk mendaftar pelatihan tersebut.
Mereka pun melanjutkan pembelajaran pada hari ini, karena sebentar lagi akan diadakan try out.
***
Sepulang sekolah Rani dan kedua temannya menuju tempat pendaftaran pelatihan silat. Pelatihan ini diajarkan oleh seorang pelatih dan tetap dalam pengawasan guru kesenian mereka. Pukul 15.00 WIB, banyak dari siswa-siswi yang mendaftarkan diri, dari kelas 2 sampai kelas 3.
“Apa alasan kamu mngikuti pelatihan ini?” ujar sang pelatih pada Rani.
“Saya mau belajar bela diri pak, dan tidak ingin berada dalam kondisi yang tidak beraya ketika dihadapkan dengan bahaya,” tegas Rani. Ia sangat berharap untuk di terima.
Pelatih hanya tersenyum mendengar jawaban gadis kecil ini. Selang beberapa lama, Rani dan kedua sahabatnya ini menunggu antrian yang masih cukup panjang. Mereka ingin mendengarkan pengumuman hasil seleksi dan kelanjutan dari proses latihan ke depannya.
“Baiklah karena pada hari ini peserta yang terlalu banyak, maka hasil seleksi akan diumumkan besok setelah pulang sekolah, kalian bisa melihat nama yang lulus seleksi di mading sekolah!” ujar guru kesenian.
“Yah, ngapain kita capek-capek nunggu dari tadi,” kesal Keke.
“Udahlah, nggak apa-apa, sekarang kita pulang aja,” saut Rani yang melihat kekecewaaan di wajah kedua sahabatnya.
“Ran kita ke rumah lo yah, udah lama kita nggak ke batang asam” pinta Zia.
“Ini udah sore loh Zi...” keluh Rani yang memang sudah lelah daritadi.
“Belum kok Ran, masih jam empat kok,, ya ya ya?” rayu Keke. Ia memang sangat senang apabila mereka menghabiskan waktu bersama di rumah pohon tersebut.
Rani mendesah, ia tak mampu menolak kedua manusia ini, “Yaudah ayok, biar nggak terlalu sore. Tapi kita shalat dulu di rumah gue!” .
“Siap bos” ujar Keke dan Zia.
***
Setelah melaksanakan shalat, mereka pun mengganti sepatu sekolahnya dengan sendal rumah milik Rani. Kemudian menuju rumah pohon tersebut, sebenarnya itu bukanlah rumah pohon. Bisa dikatakan itu adalah batang asam jawa yang besar, diberi beberapa papan di dahannya sehingga bisa digunakan untuk duduk di atas pohon tersebut. Selain itu, para pemuda dan pemudi di sekitar juga menambahkan ayunan dari ban bekas disana. Inilah yang membuat ketiga gadis ini senang menghabiskan waktu disana, tempatnya yang rindang, berada di tengah-tengah sawah yang hijau, hembusan angin yang menari-nari membuat siapapun yang kesana mendapatkan kesejukan dan ketenangan pikiran.
“Hahah, makanya jangan tidur lo diayunan, nyemplung ke sawah baru nyahok lo,” Rani memang senang mengerjai temannya.
“Yah Ran, kok lo buang-buang sih stok cemilan gue,” Keke yang sedari tadi memetik buah asam untuk mereka jadikan cemilan. Asam jawa yang langsung dari batangnya memang memiliki rasa asam campur manis kecut, dan gurih. Itulah pendapat ketiga gadis ini.
“Udah kelebihan lo makannya Ke,” Zia ikut memanjat dan duduk diatas pohon dengan kedua temannya. “Mengalahkan ibuk ibuk yang ngidam,” tambah Zia mengeleng-gelengkan kepalanya, karena sedari tadi temannya yang satu ini tidak henti memakan asam tersebut. Ia juga merampas satu buah asam yang ada di tangan Keke.
“Heh, kayak kalian nggak makan aja,” Keke memutar bola matanya melihat kelakuan kedua temanya ini yang hanya membully dirinya.
Begitulah mereka kalau sudah berkumpul, pertengakaran kecil dapat memulihkan energi yang sudah terkuras seharian. Mereka menikmati udara sore hari dari atas pohon tersebut, mendengar hembusan angin, dan memperhatikan langit biru yang berangsur menjingga diatasnya.
“Sore Pak,” saut Rani yang melihat bapak-bapak yang memikul pangkul di bahunya, memang setiap sore para petani akan pulang dan melewati batang asam tersebut.
“Mana orangnya ndul?” tanya bapak tersebut karena tidak melihat orang yang memanggil mereka.
“Diatas Pak,” saut Rani dengan cengirannya. Ia sangat ingin mengerjai orang tua tersebut, tapi takut kualat.
“Ya ampun Ranii......kamu itu udah gadis bukan anak kecil lagi, masih aja manjat-manjat pohon,” Saut pak Ad kepada gadis yang sudah ia kenal sejak Rani pindah ke daerah tersebut.
“Hehe, asamnya enak pak,” ujar Rani melihatkan buah asam yang ia ambil sedari tadi.
“Yasudah kalian buruan pulang, para petani udah pulang semua, wong gadis masih disini sore-sore!” ujar bapak satunya lagi kepada gadis-gadis kecil tersebut.
“Iya pak, hati-hati di jalan pak,” ramah Keke dan Zia yang tersenyum pada bapak-bapak tersebut.
Mereka pun turun dari pohon tersebut bergantian. Kalau kalian nanya, kenapa mereka bisa manjat padahal pakai rok panjang, its simple. Para gadis bangor ini selalu menggunakan training di dalam rok mereka, selain itu pohon ini juga sudah dibuatkan tangga kayu yang menempel disana sehingga memudahkan pijakan untuk memanjat. Hehe, begitulah masa muda, kita bisa melakukan apapun sesuka hati tanpa ada yang melarang ini itu, kamu itu gadis, kamu harus feminim, kamu harus anggun, itu semua tidak berlaku untuk tiga orang gadis ini. Toh mereka masih melakukan hal dibatas wajar tidak melanggar agama ataupun melakukan hal-hal yang tidak pantas 😊😊😊
“Zi, ayunin gue,” pinta Keke karena sedari tadi ayunan tersebut dikusai seorang diri oleh Zia.
“Pegang yang kuat, kalau lo jatuh ke sawah gue nggak tanggung jawab yah,” ujar Zia yang siap-siap mengayunkan temannya dari belakang.
Awalnya ayunan itu masih normal, lama kelamaan semakin tinggi dan terus meninggi. Keke pun panik, ketika ia menoleh kebelakang Rani dan Zia sudah tertawa karena berhasil menjahili Keke, mereka berdua berusaha menarik tali ayuanan setinggi mungkin agar Keke berayun melambung tinggi.
“Huaaa....awas yah lo pada, kalau gue masuk sawah gue tarik lo bedua,” Keke yang berusaha menghentikan ayunannya, tapi apalah daya kakinya tak sampai.
Rani dan Zia tertawa keras melihat teman mereka panik. Wajah panik sahabatnya sambil berkomat-kamit ini adalah hiburan tersendiri bagi mereka. Karena lelah menjahili temannya, Rani pun menahan ayunan itu agar kembali bergerak perlahan.
“Astagfirullah, hilang jantung gue lama-lama gara-gara kalian,” kesal Keke yang turun dai ayunan. Ia pun memukul lengan dua sahabatnya ini.
Kesenangan ketiga gadis ini diperhatikan oleh seorang lelaki menggunakan seragam putih abu-abu di seberang sawah. Lelaki ini hendak mengunjungi ketiga gadis tersebut.
“Oh, s**it!!! Kenapa jugak nih tanah sawah lembek gini,” lelaki itu menarik kaki kananya yang terpeleset ke dalam sawah karena tidak mengetahui adanya lubang di pematang sawah tersebut. Niat awalnya yang ingin mengunjungi ketiga gadis kecil yang sedang bahagia itu ia urungkan dan memilih untuk pulang ke rumahnya.
“Ya ampun El......celana kamu kenapa? kamu kok bawak-bawak lumpur ke rumah sihh,” Omel mama El.
“Tadi jatuh disawah maa,” jawab El pada mamanya, dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan bekas lumpur di kakinya.
“Ngapain tuh anak kesawah, nggak kayak biasanya...Aduh nambah kerjaan aja,” Keluh mama El sambil membersihkan sisa lumpur dilantai rumah mereka.
Jangan lupa vote,comment,and like yaa😇😇🤗